Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Mematuhi segala perintahku



Aaron beberapa saat lalu merasa kesal karena Anindya mematikan sambungan telepon secara sepihak ketika ia masih berbicara. "Sial! Kenapa Anindya tiba-tiba memutuskan pembicaraan saat aku belum selesai?"


"Harus dengan cara apa aku meluluhkan hatinya yang sekeras batu itu! Aaaarggghh!" Aaron akan meluapkan amarahnya tanpa memperdulikan jika suara teriakannya di balkon didengar oleh para pelayan yang ada di lantai dasar.


Namun, ia sedikit tertolong dengan suara gemericik hujan yang seolah mewakili perasaannya saat ini. "Anindya ... Anindya! Kenapa kamu sangat keras kepala? Aku sudah menunjukkan keseriusanku padamu dengan bertanggung jawab menikahimu dan menjadi ayah yang baik untuk Kenzie."


Aaron yang saat ini mengingat jika beberapa hari ini Jasmine selalu mengirimkan makan siang untuknya dengan menitipkan pada resepsionis. Awalnya ingin memberikan sendiri padanya, tapi saat asisten pribadinya melapor, ia menolak mentah-mentah dan menyuruh untuk mengusir dari perusahaan.


"Apa kamu akan terus menolakku setelah mengetahui jika aku sama sekali tidak tertarik untuk kembali pada Jasmine? Bahkan meskipun dia kembali dengan semua hal terbaik, aku bahkan hanya fokus padamu." Aaron yang baru saja menutup mulut, kemudian mendengar suara notifikasi.


Saat melihat jika itu adalah dari sang ibu yang tadi pesannya dipegang oleh Anindya, berharap jika yang mengirimkan pesan adalah wanita yang tidak pernah lekang dari pikirannya selama ini.


Buru-buru ia langsung membuka pesan yang berupa video dan membuatnya mengerutkan kening. "Video apa ini?"


Kemudian Aaron langsung menekan tombol play dan seketika membulatkan mata sambil mengepalkan tangan kanannya begitu melihat sosok pria yang sangat dibenci karena menjadi saingan terberat untuknya mendapatkan Anindya sudah berada di Surabaya.


"Berengsek! Kenapa cucunguk itu sudah berada di sana? Bahkan sekarang main hujan-hujanan bersama dengan Anindya yang tadi mengatakan tidak ingin melakukannya bersamaku." Aaron yang merasa sangat kesal sekaligus murka, kini seketika tertawa terbahak-bahak.


Bahkan ia masih terngiang dengan kata-kata dari Anindya yang tadi menolaknya mentah-mentah dan seolah tidak merasa tertarik dengan tawarannya.


Ia kini memilih untuk membuka daftar panggilan dan mencari nomor Jasmine yang belum disimpan saat menelponnya ketika berada di Surabaya. "Jika kamu bisa bersama Erick, aku pun juga bisa melakukannya dengan Jasmine."


"Aku ingin melihat bagaimana reaksimu," sarkas Aaron yang saat ini menyimpan nomor Jasmine dan langsung memencet tombol panggil.


Bahkan ia tidak perlu menunggu lama ketika sambungan telepon langsung dijawab oleh Jasmine.


"Halo, Aaron? Ini benar-benar kamu, kan?" Jasmine yang masih berada di bawah selimut karena bermalas-malasan ketika suasana di luar masih turun hujan.


Jasmine yang dari tadi scroll media sosial, seketika membulatkan mata karena merasa tidak percaya jika Aaron menelponnya dan langsung diangkat tanpa pikir panjang. Bahkan ia kembali merasa syok begitu mendengar perkataan dari Aaron.


"Datanglah ke rumah sekarang!" Aaron yang tidak ingin menjelaskan apa maunya, refleks langsung mematikan sambungan telepon.


Ia merasa sangat yakin jika Jasmine akan segera datang. Kemudian kembali menatap ke arah hujan yang masih membasahi area sekitarnya. "Jika kamu memiliki Erick yang selama ini tergila-gila padamu dan kamu banggakan, aku pun juga memiliki Jasmine yang pastinya akan mematuhi segala perintahku."


To be continued...