
Aaron yang baru saja masuk ke dalam ruangan kamarnya, sama sekali tidak berniat untuk beristirahat karena dipikirannya saat ini tengah bergulat dengan apa yang terjadi di ruangan sebelah beberapa saat lalu bersama dengan sosok wanita yang sangat dicintainya.
Antara bahagia, terharu serta kerinduan yang saat ini dirasakan seolah bercampur menjadi satu dan menjadi sebuah kesatuan yang menyiksanya. Ia terdiam dan mengingat tentang perkataan dari gadis itu yang mengatakan jika nanti malam ada pertemuan dengan klien bisnis dari sang kakek.
Hingga ia saat ini tengah memikirkan sesuatu untuk mencari cara membuat kejutan demi wanita yang sangat dicintainya dan ingin dinikahi.
"Apa aku melamarnya di depan para rekan bisnis kakeknya saja? Aku akan menganggap jika mereka semua menggantikan posisi kakeknya yang saat ini sedang dirawat di rumah sakit. Apa begitu saja?" Aaron masih mempertimbangkan apa yang akan dilakukannya pada Anindya.
Ia memikirkan cara yang paling romantis agar bisa membuat sosok wanita yang tadi mengusirnya, akan makin tergila-gila padanya.
Hingga ia pun saat ini meraih ponsel miliknya di saku celana dan berniat untuk menghubungi asisten pribadi Anindya. Ia memang mempunyai nomor pria itu setelah meminta sang ibu mencari tahu dari Anindya.
Kini, iya langsung memencet tombol panggil dan menunggu jawaban dari seberang telepon Namun, sama sekali tidak mendapatkan jawaban dan membuatnya mengerutkan kening.
"Apa dia tidak mengangkat telepon karena nomor tidak terdaftar dan menganggap hanyalah penipuan? Aku harus berbicara padanya untuk mencari tahu tentang semua hal yang berhubungan dengan acara pertemuan klien bisnis nanti malam."
Aaron berpikir harus menyuruh orang untuk mendekorasi ruangan yang akan dijadikan tempat pertemuan tersebut, jadi harus segera mengetahui dari sang asisten yang mungkin bisa membantunya.
Merasa tidak mempunyai waktu banyak, ia pun saat ini bangkit berdiri dari sofa dan langsung berjalan keluar menemui sang asisten yang menginap di ruang sebelah kiri, sedangkan ia di sebelah kanan.
Kini, ia sudah berada di depan ruangan kamar sang asisten dan mengetuk pintu tanpa berbicara. Namun, belum kunjung dibuka dan membuatnya merasa ragu apakah pria itu berada di dalam.
Kini, ia kembali mengetuk pintu selama beberapa saat dan menunggu. Niatnya adalah ingin kembali ke kamarnya setelah beberapa kali mengetuk pintu di hadapannya tersebut.
"Kenapa tidak dibuka juga? Apakah pria itu tidak ada di dalam kamar? Bagaimana jika aku tidak bisa berbicara dengannya untuk membahas mengenai kejutan lamaran yang akan kulakukan pada Anindya?" lirih Aaron yang saat ini berniat untuk kembali ke ruangan kamar, tapi tidak jadi melakukannya begitu indra pendengaran menangkap suara pintu yang dibuka.
Refleks wajahnya berubah berbinar begitu melihat pria paruh baya yang ternyata seperti baru saja bangun dan ialah yang menjadi penyebab terganggunya waktu istirahat.
Ia seketika membungkuk hormat untuk memohon maaf karena saat ini telah membuat pria itu tidak nyenyak saat beristirahat.
"Maaf karena mengganggu waktu istirahat Anda." Ia yang baru saja menutup mulut, sama sekali tidak ditanggapi dan malah melihat pria paruh baya tersebut masuk ke dalam tanpa menyuruhnya untuk masuk, tapi pintu dibiarkan terbuka.
Aaron seketika masuk ke dalam karena merasa itu adalah sebuah kode untuknya dan kebetulan memang harus berbicara mengenai hal penting pada pria paruh baya tersebut.
Hingga ia melihat sang asisten kini menguap beberapa kali sambil mendaratkan tubuhnya di atas sofa.
Ia bahkan masih berdiri tak jauh dari pria itu karena merasa bersalah. Hingga mendengar suara bariton pria yang membuatnya merasa sangat malu.
"Duduklah, Tuan. Apa yang ingin anda inginkan dariku untuk membuat nona menerima Anda?" Sang asisten yang tadinya merasa sangat terganggu dan ingin marah dengan siapa yang mengganggu waktu istirahatnya, tidak jadi melakukannya begitu melihat melalui lubang pintu.
Akhirnya mau tidak mau langsung membuka pintu dan ingin mengetahui apa yang diinginkan oleh pria yang tergila-gila pada majikannya.
Ia bahkan berdaun sejenak untuk menormalkan perasaannya sebelum berbicara. "Ehm ... sebenarnya ada sesuatu hal penting yang ingin saya bicarakan. Ini mengenai acara nanti malam dengan klien bisnis kakeknya Anindya."
Sang asisten saat ini mengerutkan kening karena merasa jika acara itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan pria di hadapannya. "Memangnya ada apa dengan pertemuan itu? Apa yang akan Anda lakukan?"
"Saya sebenarnya berniat untuk melamar Anindya secara resmi malam ini di depan rekan bisnis sang kakek dan menganggapnya menggantikan Tuan Kusuma agar menjadi saksi keseriusan padanya. Apakah Anda mau membantu saya?" Aaron saat ini masih menunggu pria tersebut membuka suara.
Ia benar-benar sangat berharap jika sang asisten mau bekerja sama dengannya dan membantu acara lamaran agar benar-benar sukses.
Sementara itu, pria paruh baya yang saat ini mengerti, turut senang karena akhirnya ada yang bisa menjaga dan mencintai atasannya yang selama ini membutuhkan seseorang untuk berkeluh kesah dan menyampaikan semua perasaan karena menjadi seorang wanita dengan beban berat di usia yang masih muda.
"Katakan saja apa yang harus saya lakukan, pasti akan membantu. Acara pertemuan itu akan dilakukan di salah satu restoran mewah yang tak jauh dari sini. Nanti Anda bisa langsung ke sana untuk bekerjasama dengan pihak restoran jika menginginkan mendekorasi ruangan agar terlihat lebih romantis."
Sang asisten mengetahui bagaimana cara para kaum muda yang selalu bersikap romantis untuk melamar pasangan.
Jadi, mengerti kira-kira apa yang akan dilakukan sosok pria di hadapannya tersebut.
Aaron yang saat ini merasa lega sekaligus senang karena akhirnya bisa bekerja sama dengan sang asisten untuk melamar gadis yang dipujanya malam ini.
"Terima kasih, Om. Saya benar-benar merasa sangat bahagia karena anda mau membantu saya." Kemudian Aaron mulai menceritakan semua rencananya malam nanti dan berharap acara berjalan dengan lancar serta membuat Anindya merasa bahagia sekaligus terharu atas keseriusan yang ditunjukkan.
Aaron terdiam karena niatnya adalah ingin mengatakan jika sebenarnya sudah melamar gadis itu di kamar dengan menggunakan penutup minuman kaleng.
Namun, tidak jadi melakukannya karena khawatir jika pria paruh baya tersebut berpikir macam-macam padanya karena berani masuk ke dalam ruangan kamar seorang wanita.
'Lebih baik aku rahasiakan saja ini agar tidak ada orang yang tahu. Bahkan nanti Anindya merasa malu dan nama baiknya akan tercemar jika sampai diketahui oleh orang lain jika aku tadi masuk ke ruangan kamarnya,' gumam Aaron yang saat ini bangkit berdiri dari sofa dan berniat untuk pergi ke toko bunga.
Ia bahkan saat ini mengulurkan tangannya untuk berterima kasih karena telah dibantu. "Sekali lagi terima kasih karena mau membantuku, Om."
Sang asisten kini menyambut uluran tangan pria itu dan tersenyum simpul. "Tolong bahagiakan nona karena berhak mendapatkan pasangan yang bisa meratukannya dan saya yakin Anda lah orangnya."
Kini, ia mengingat sosok atasannya yang masih belum sadarkan diri dan selalu merasa bersedih jika mengingatnya. "Tuan Kusuma pasti merasa sangat senang jika mengetahuinya dan semoga saja bisa melihat kebahagiaan kalian."
Aaron yang ikut merasa bersedih ketika mengingat tentang pria paruh baya yang sangat disayangi oleh Anindya. Ia seketika mengaminkan doa tulus dari pria itu agar suatu saat nanti benar-benar terjadi.
"Kakek akan melihat cucunya bahagia bersamaku saat menikah nanti," ucap Aaron yang saat ini menginginkan jika perkataannya akan menjadi kenyataan dan tentu saja sudah diaminkan oleh sang asisten yang ada di hadapannya.
To be continued...