Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Tidak berjodoh



Jasmine mengerjapkan mata karena seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar. Ia bahkan saat ini menatap ke arah layar ponsel yang sudah berubah gelap karena sambungan telepon telah terputus beberapa menit lalu.


"Aku sama sekali tidak bermimpi, kan? Aaron menyuruhku datang ke rumahnya? Apa tidak salah?" Refleks ia mencubit lengannya karena ingin memastikan jika saat ini tidak sedang bermimpi ataupun berhalusinasi.


"Aku benar-benar berada di dunia nyata," ucapnya sambil meringis menahan rasa nyeri karena tadi mencubit sangat keras demi memastikan jika ia tidak sedang bermimpi.


"Aarrh ... ini benar-benar merupakan kenyataan yang harusnya membuatku senang. Dasar bodoh!" sarkas Jasmine yang beralih menepuk jidat beberapa kali untuk menyadarkan jika responnya sangat konyol.


Ia tidak ingin membuang waktu dan refleks langsung bangkit dari ranjang. "Jika tahu Aaron akan menyuruhku datang ke rumahnya, aku pasti sudah mandi dari tadi. Aku makan dari tadi bermalas-malasan di atas ranjang karena hujan turun cukup deras dan membuat hawa dingin menusuk tulang tanpa memakai AC." Ia berbicara sambil melepaskan gaun tidur yang dipakai dan masuk ke dalam kamar mandi.


Bahkan tidak berhenti tersenyum bahagia mengungkapkan perasaannya saat ini. Ia bahkan sudah berdiri di bawah shower dan mandi air hangat agar tidak menggigil kedinginan.


'Aku harus tampil cantik agar Aaron makin jatuh cinta padaku. Aku akan mengeluarkan kemampuanku untuk merias diri demi Aaron. Aaah ... rasanya sangat senang sekali karena sebentar lagi kami akan kembali seperti dulu lagi. Menjalin asmara dan kali ini pasti Aaron akan jauh lebih romantis,' gumam Jasmine yang saat ini sudah menggosok tubuhnya dan busa telah memenuhi kulitnya mulai dari ujung kaki hingga pundak.


Ia biasanya selalu mandi cukup lama, tapi kali ini tidak bisa melakukannya karena ingin cepat bertemu dengan mantan kekasih yang masih sangat dicintai.


"Aaron, i love you," ucap Jasmine sambil membilas tubuhnya.


Ia bahkan ingin waktu cepat berlalu dan segera menemui pujaan hati. Hingga beberapa saat kemudian ia keluar dari kamar mandi setelah memakai kimono.


"Kemarin aku sudah keramas dan sekarang masih wangi. Aku harus buru-buru," ucapnya yang langsung berjalan menuju ke arah ruangan walk in closet dan tentu saja kini sudah menatap ke arah banyaknya pakaian koleksi yang dimiliki dan tergantung rapi di lemari kaca raksasa.


"Pakai baju yang mana, ya?" Jasmine bahkan butuh waktu beberapa menit untuk memilih pakaian yang pantas dikenakan ketika menemui mantan kekasih untuk pertama kali ketika disambut dengan sangat baik.


Hingga tatapannya jatuh pada gaun selutut berwarna merah maron favoritnya yang dulu dibeli dari desainer terkenal di Paris. "Aaron pasti makin tergila-gila padaku begitu melihatku memakai ini."


Ia pun langsung bergerak melepaskan kimono yang dipakai dan mengganti dengan pakaian dalam serta gaun paling favorit. "Papa dan mama pasti sangat senang mendengar kabar ini. Apakah aku suruh saja mereka untuk menyiapkan pesta pernikahan?"


Jasmine memikirkan itu sambil senyum-senyum sendiri karena membayangkan jika tak lama lagi Aron pasti akan menikahinya dan ia tidak akan pernah kabur lagi dan berusaha menjadi seorang istri yang baik.


Kemudian melangkah keluar ruangan dan langsung merias diri agar tampil cantik mempesona di hadapan pria yang menurutnya adalah pria paling tampan di dunia.


"Arrhh ... rasanya aku tidak sabar ingin dilamar serta dinikahi oleh Aaron," lirih Jasmine yang saat ini sudah mengaplikasikan eye shadow dan menatap ke arah cermin untuk memastikan tidak ada cela dari penampilannya hari ini.


"Sabar, Aaron. Aku akan datang sebentar lagi," gumamnya sambil terus merias wajahnya agar tampil sempurna dan membuat Aaron makin terpesona pada kecantikannya.


Sudut bibirnya melengkung ke atas bak bulan sabit ketika merasa jika saat ini semakin cantik. "Perfect. Oke, sekarang saatnya pergi menemui pangeranku."


Dengan mengambil tas kemarin yang diletakkan di atas laci, ia pun kini tidak berhenti mengulas senyuman ketika keluar dari ruangan kamar menuju ke lantai dasar.


"Mau ke mana hujan-hujan begini, Sayang?" tanya seorang wanita paruh baya yang kini menatap menelisik pada penampilan putrinya yang seperti hendak pergi berkencan. "Kamu berpenampilan cantik seperti itu, mau menemui seorang pria?"


Jasmine yang kebetulan memang ingin berpamitan pada sang ibu, langsung berjalan mendekat dan mencium pipinya. "Iya, Ma. Doakan putrimu yang cantik bagai princes ini segera mengakhiri masa lajang."


"Siapa? Kenapa kamu tidak menceritakan pria itu pada Mama dan papa? Ceritakan siapa pria yang berhasil membuatmu move on dari Aaron?" tanya sang ibu yang saat ini menahan dengan putrinya agar tidak pergi sebelum mengatakan sebenarnya.


Namun, ia merasa sangat kesal karena mendengar bisikan dari putrinya.


"Nanti Mama juga tahu karena aku akan membawanya ke sini. Aku benar-benar buru-buru dan harus segera pergi karena dia sedang menungguku. Bye, Ma." Ia kini kembali mencium pipi sang ibu untuk meluapkan kebahagiaannya saat ini.


Kemudian berlalu pergi tanpa memperdulikan jika raut wajah wanita yang telah melahirkannya tersebut mengungkapkan kekesalan. Ia takkan hanya melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang lagi begitu berjalan keluar dari pintu utama rumah dan masuk ke dalam mobil.


"Astaga, Jasmine! Kenapa membuat Mama merasa penasaran seperti ini? Dasar anak bandel! Dari dulu susah banget dibilangin," ucap wanita dengan gaun di bawah lutut tanpa motif berwarna Sage tersebut.


Ia bahkan tidak berkedip menatap putrinya yang terlihat sangat bahagia. "Siapa pria yang berhasil membuat putriku move on dari Aaron? Bahkan ia satu tahun tidak mencari pengganti dan hanya fokus pada karirnya."


"Aaron bahkan sampai saat ini juga belum mempunyai pasangan. Bukankah sebenarnya mereka sangat cocok karena masih belum bisa move on dengan memutuskan tanpa memiliki pasangan setelah berpisah?" Ia bahkan merasa sangat yakin jika putri serta Aaron yang gagal menjadi menantunya tersebut masih memiliki perasaan mendalam.


Apalagi sudah menjalin hubungan cukup lama. "Padahal aku sangat menyukai Aaron dan ingin menjadikannya satu-satunya menantu karena merupakan seorang pria sempurna tanpa cela. Sayangnya sepertinya mereka tidak berjodoh di dunia."


Ia yang baru saja menutup mulut dan mendaratkan tubuhnya di atas sofa karena ingin melanjutkan untuk membaca novel, tidak jadi melakukannya begitu mendengar suara bariton sang suami.


"Hujan-hujan begini, Jasmine mau pergi ke mana?" tanya pria yang baru saja menuruni anak tangga dan langsung menghampiri sang istri.


Kemudian sang istri langsung menjelaskan apa yang tadi dikatakan oleh Jasmine dan tentu saja membuatnya kesal karena tidak mengetahui sosok dari pria yang menjalin hubungan dengan putrinya.


To be continued...