
"Aaron, berhenti! Kamu mau ke mana?" teriak Jennifer yang beberapa saat lalu melihat putranya keluar dari ruangan kamar pengantin setelah menolak mentang-mentang saran darinya.
Ia sangat kecewa pada putranya yang tidak mau menuruti perintahnya yang dianggap merupakan jalan terbaik untuknya. Bahwa ia merasa sangat yakin jika putranya akan hidup bahagia jika menikah dengan Anindya yang dianggap merupakan gadis baik.
Apalagi setelah 1 bulan tinggal bersama dengan gadis itu, mengetahui sifat-sifatnya yang baik dan selalu sopan pada orang tua. Sangat berbeda dengan Jasmine yang dari pertama sudah tidak disukai karena tidak bisa menghormati orang yang lebih tua.
Kini, ia menatap ke arah Anindya yang baru saja mengusap lengannya untuk memberikan sebuah ketenangan.
"Nyonya, jangan memaksa tuan Aaron karena saat ini hatinya sedang terluka. Biarkan tuan Aaron menenangkan diri karena masalah hari ini sangatlah berat untuknya." Anindya benar-benar tidak tega melihat ibu dan anak tersebut sama-sama terluka.
Ia ingin memberikan suntikan semangat agar sedikit mengobati perasaan terluka karena dikhianati oleh orang yang dipercaya. "Jangan semakin menambah beban pikiran dari depan Aaron yang sedang patah hati dengan memaksa menikah denganku."
Saat baru saja menutup mulut untuk memberikan sebuah penghiburan pada seorang ibu yang terluka melihat putranya menderita di hari pernikahan, seketika menelan ludah dengan kasar begitu mendapatkan pertanyaan serupa yang dari tadi belum dijawabnya.
"Anindya, aku tahu bahwa saranku tadi terdengar sangat egois, ingin mengetahui jawabanmu. Apakah kamu bersedia menikah dengan putraku yang terluka? Jadilah penyembuh untuk luka di hati Aaron karena dikhianati oleh Jasmine." Jennifer berbicara tanpa memperdulikan pasangan suami istri yang merupakan orang tua Jasmine.
Ia saat ini hanya ingin mengetahui seperti apa perasaan Anindya untuk putranya karena berpikir jika menyetujui keinginannya, perasaan pada Aaron. Namun, juga berpikir sebaliknya.
Bahwa jika Anindya menolak untuk menikah dengan Aaron, berarti sama sekali tidak mempunyai perasaan apapun pada putranya. Sebelum melangkah terlalu jauh, Jennifer ingin mengetahui jawaban dari gadis di hadapannya tersebut.
Karena tidak bisa melarikan diri dari pertanyaan wanita yang sudah dianggap seperti ibu kandungnya sendiri tersebut, akhirnya Anindya mengungkapkan jawabannya.
"Saya melihat bahwa tuan Aaron adalah seorang pria yang baik dan tidak akan keberatan menikah dengan putra Anda, Nyonya Jenny." Anindya saat ini merasa lega setelah mengungkapkan jawaban jujur dari hatinya.
Refleks Jennifer seketika memeluk erat tubuh gadis mungil yang sudah tinggal bersamanya dan rumah keluarga Jonathan lebih berwarna setelah kedatangannya.
"Terima kasih, Anindya. Aku merasa bahwa kamu adalah malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk mengobati luka di hati Aaron yang sudah tertulis di takdirnya. Bahwa di hari pernikahan, putraku akan patah hati karena dikhianati oleh wanita yang dicintai."
Jennifer saat ini sudah berkaca-kaca bola matanya ketika merasa tidak tega pada keadaan putranya yang pasti merasa hancur hari ini karena dipermalukan sekaligus dikhianati.
Bahkan ia menatap tajam ke arah pasangan suami istri yang dari tadi hanya diam saja, seolah menyadari kesalahan yang diperbuat oleh putrinya.
Ia pun melepaskan pelukan pada Anindya dan beralih mengumpat untuk melampiaskan amarah. "Mulai hari ini, hubungan di antara kita sudah berakhir dan tidak akan pernah ada jalinan hubungan antara keluarga Jonathan dengan kalian."
"Bahkan Aaron sangat tulus mencintai putri kalian dan rela menanggung semua biaya pernikahan dengan merogoh uang pribadinya untuk menunjukkan keseriusan pada Jasmine. Namun, apa yang putraku dapatkan sekarang?"
"Maafkan perbuatan putri kami. Ini pasti ada kesalahpahaman. Kami akan menyelesaikannya setelah nanti menemukan Jasmine." Pria paruh baya tersebut berusaha untuk menyelesaikan masalah, tapi menyadari jika respon wanita itu sangatlah buruk.
Ia sebenarnya tahu jika mereka juga dibohongi oleh putri mereka, tetap saja tidak bisa mentolerir keluarga mereka yang telah membuat putranya hidup menderita.
"Hanya pengkhianatan dari putri kalian dan membuatnya benar-benar hancur. Jika sampai terjadi sesuatu pada putraku karena masalah ini, aku benar-benar akan menghancurkan kalian semua." Jennifer kemudian langsung menarik pergelangan tangan Anindya untuk keluar dari ruangan tersebut.
Ia tidak ingin berlama-lama berada di hadapan orang tua Jasmine karena khawatir malah akan menghancurkan dua orang itu. Hingga begitu berada di dalam lift, untuk menghubungi sang suami untuk menceritakan semuanya dan membatalkan pernikahan.
Anindya dari tadi tidak berhenti mengusap lembut lengan wanita itu. 'Semoga keluarga Jonathan diberikan kekuatan untuk menghadapi sebuah ujian besar dari Tuhan.'
Hingga ia yang teringat pada pria yang sangat disukai, mencoba untuk menghubungi dan bertanya sedang ada di mana. 'Aku kita akan menghibur tuan Aaron agar tidak terpuruk menghadapi masalah besar ini.'
Anindya merasa sangat kecewa karena ternyata nomor pria yang sangat dikhawatirkan sudah tidak aktif. Hingga ia mendengar suara dari wanita di sebelahnya tersebut.
"Nomor Aaron tidak aktif. Aku benar-benar sangat mengkhawatirkan putraku," ucap Jennifer yang saat ini masih beberapa kali mencoba menghubungi putranya setelah tadi menjelaskan pada saat suami yang juga terdengar sangat murka begitu mengetahui yang terjadi hari ini.
Namun, menyadari bahwa nasi sudah menjadi bubur dan tidak bisa dikembalikan lagi seperti yang diinginkan, sang suami akhirnya bisa menerima dengan bijak dan membubarkan acara pernikahan yang pastinya akan mempermalukan keluarga besar Jonathan.
Setelah menghubungi sang suami untuk memberitahu apa yang terjadi, langsung menelpon putranya untuk mencari tahu di mana keberadaannya. Namun, menoleh ke arah Anindya yang juga mengatakan hal serupa.
"Iya, Nyonya. Saya juga baru saja menelpon tuan Aaron dan nomornya tidak aktif." Anindya saat ini menunjukkan bekas panggilannya yang tidak terjawab.
Kini, Jennifer benar-benar merasa sangat lemas karena khawatir pada keadaan putranya. Ia yang habis jatuh terujung ke sebelah kanan, langsung ditahan oleh Anindya.
"Ke mana putraku sekarang? Aku sangat yakin jika dia sudah meninggalkan hotel. Jika ia menonaktifkan ponselnya, di mana kami bisa mengetahui gimana keberadaannya serta bagaimana keadaannya saat ini yang pasti sangat terluka karena dikhianati oleh wanita sialan itu." Jennifer kini mencoba untuk menebak-nebak di mana keberadaan putranya.
Di sisi lain, Zea yang merasakan hal sama dengan wanita paruh baya tersebut, sangat mengkhawatirkan keadaan Aaron.
'Tuan Aaron, Anda sekarang ada di mana? Aku harap Anda baik-baik saja di suatu tempat. Semoga Anda menenangkan diri di tempat yang nyaman dan tidak berpikir untuk menyakiti diri sendiri karena terpuruk oleh perbuatan nona Jasmine.'
Zea yang hanya bisa bergumam sendiri di dalam hati, kini sibuk merapal doa untuk keselamatan pria yang terakhir kali terlihat sangat mengenaskan karena gagal menikah.
'Lindungi dia, ya Allah. Jangan sampai terjadi sesuatu hal yang buruk pada pria sebaik tuan Aaron. Aku benar-benar sangat membenci nona Jasmine karena tega menyakiti pria sebaik tuan Aaron yang sangat mencintainya.'
'Wanita itu adalah iblis berkepala manusia karena tidak punya hati saat pergi di hari pernikahan tanpa memikirkan perasaan tuan Aaron. Nona Jasmine akan mendapatkan karma dari perbuatannya yang menyakiti pria baik seperti tuan Aaron yang sangat mencintainya.'
To be continued...