Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Berpamitan



Beberapa saat lalu, Aaron yang tadinya ingin melanjutkan minumnya, tidak jadi melakukannya begitu tiba-tiba Erick datang dan langsung menunjukkan video tentang gadis yang selama ini membuatnya gila.


Hingga ia seketika langsung mengetik untuk berkomentar di video yang diunggah oleh salah satu staf di perusahaan yang tak lain adalah Kusuma Grup.


Anindya atau pun Zea, bagiku kamu tetaplah bocilku dan hanya akan menjadi milikku seorang. Ingat itu baik-baik. Bahkan meskipun pada kenyataannya kamu ternyata adalah seorang cucu konglomerat, tidak akan pernah membuatku menyerah karena selama satu tahun lebih aku benar-benar gila karena kepergianmu.


Memang ia cukup panjang berkomentar di video itu dan begitu mendengar Erick akan pergi ke Surabaya untuk menemui gadis yang selama ini sangat dirindukannya, refleks bangkit berdiri dari sofa.


"Aku memang mabuk, tapi masih bisa dengan jelas melihatmu dan juga video tentang Anindya atau Zea. Memangnya kau mau ke sana naik mobil? Harusnya pesan tiket pesawat dulu, bego!" sarkas Aaron yang kini langsung mengambil ponsel miliknya di saku jasnya.


Tentu saja untuk memesan tiket pesawat ke Surabaya. Hingga saat ia sibuk mencari tiket dari Jakarta ke Surabaya, indra pendengaran menangkap suara bariton Erick, tapi sama sekali tidak ditanggapi.


"Aku awalnya berencana naik mobil karena ingin lama berada di Surabaya, tapi setelah dipikir-pikir, sekarang Zea adalah cucu dari seorang pengusaha sukses di Surabaya yang pastinya punya banyak mobil dan bisa dipinjam. Baiklah, kamu pesan dua tiket pesawat ke sana," ujar Erick yang saat ini berniat untuk berkemas.


Ia berpikir masih punya banyak waktu untuk berkemas karena memang belum memesan tiket pesawat. Bahkan kini menatap ke arah Aaron yang masih fokus pada layar ponsel.


"Kabari aku jika nanti sudah booking tiketnya. Aku pulang dulu untuk berkemas." Saat Erick berjalan keluar, ia menghentikan langkahnya kala mengingat sesuatu.


Bahwa Aaron juga mencintai Zea, sama sepertinya. Jadi, berpikir jika pria itu mungkin bisa saja akan mengkhianatinya demi bisa mendapatkan gadis yang selama ini sama-sama dicari bersama.


"Aaron!"


"Apa?"


"Awas saja jika kau menusukku dari belakang setelah aku memberitahumu karena menghargai usaha bersama selama ini. Jika ingin bersaing, pakai cara sportif, baru itu disebut pria gentleman!" Erick sengaja menyindir agar Aaron tidak berani bermain belakang.


Sementara itu, Aaron yang awalnya hanya ingin mencari tiket untuk dirinya saja, merasa seperti tertampar dengan ejekan Erick dan akhirnya ia menaikkan pandangan dari ponsel ke wajah Erick.


"Mana mungkin aku pergi sendiri saat kau lah yang memberitahuku? Sudah sana pergi! Setelah memesan tiket pesawat, aku pun akan pulang untuk berkemas juga." Aaron kembali mencari tiket pesawat untuk hari ini.


"Baguslah kalau kau sadar akan informasi penting yang kubawa." Erick pun kini melambaikan tangan dan berlalu pergi.


Berbeda dengan Aaron yang masih mencoba untuk mencari, tapi setelah beberapa menit berlalu, napas kasar terdengar jelas karena mewakili perasaan saat ini.


"Sepertinya harus ke Bandung seperti dulu saat aku mendadak ke Jogja untuk mencari gadis yang sangat ingin kunikahi ini," gumam Aaron yang kini langsung memesan tiket pesawat ke Surabaya untuk dua orang.


"Aku sangat yakin jika Anindya atau Zea, mungkin juga Khaysila itu akan lebih memilihku daripada Erick yang selalu bertepuk sebelah tangan." Aaron kini mulai keluar dari ruang tengah sahabatnya dan berpamitan.


To be continued...