
"Jadi, berapa kamu ingin punya anak dariku?" ucap Aaron yang saat ini berada di mobil menuju ke arah butik.
Ia tadinya berpikir tidak akan melakukan fitting gaun pengantin karena kesal pada sang kekasih, tapi saat ini sudah berbaikan dan membuatnya ingin melihat seperti apa wanita yang sangat dicintainya itu mengenakan gaun indah berwarna putih yang tadi sempat dipakai oleh Anindya yang dianggap hanyalah seorang anak kecil.
Ia masih penasaran dengan pembahasan mereka yang tadi belum dilanjutkan saat berada di restoran. Bahkan hubungan mereka saat ini jauh lebih romantis karena terlihat Aaron dari tadi tidak melepaskan genggaman tangannya.
Bahkan memindahkan perseneling mobil dengan tangan masih menggenggam erat Jasmine. Seolah mereka tidak akan pernah terpisahkan oleh apapun.
Jasmine tadinya merasa sangat bahagia dan senang saat Aron bersikap lebih romantis dari hari-hari sebelumnya, mendadak berubah mood karena pembahasan anak lagi.
Padahal ia tadi sudah mengalihkan itu dengan alasan ingin segera bercinta, tapi sepertinya gagal karena rasa penasaran Aron yang terpaksa harus dijawabnya.
Namun, ia menjawab tidak sesuai dengan isi hati yang sebenarnya. Karena jika mengatakan hal sebenarnya bahwa belum ingin memiliki anak karena fokus pada karir, sudah dipastikan Aaron akan kembali murka padanya jauh lebih dari yang terlihat tadi
Jadi, pilihan aman membuatnya berbohong ingin memiliki banyak anak. Kini, ia menatap ke arah sang kekasih yang fokus mengemudi sambil sesekali menatapnya dan tentu saja telapak tangannya dari tadi sekali tidak dilepaskan oleh Aaron.
"Aku akan menuruti keinginanmu ingin punya anak berapa. Jadi, kita tidak akan berdebat atau bertengkar lagi karena aku sangat tidak suka dengan sikapmu yang tadi marah-marah padaku. Apalagi melihat wajah masam yang biasanya selalu tampan berubah menjadi jelek, membuatku kesal."
Jasmine kemudian bergerak mendekati sang kekasih dan mencubit pipi putih dengan rahang tegas itu dengan tangan kirinya.
"Tapi sekarang kekasihku berubah lebih ganteng dengan cahaya berbinar di wajahnya saat makin cinta padaku. Memangnya lebih tepatnya kamu ingin punya anak berapa, Sayang?" tanya Jasmine memutar balik pertanyaan dari kekasihnya agar tidak terus mendesaknya memberikan jawaban mengenai masalah anak.
Berpikir itu akan jauh lebih aman daripada ia sendiri yang mengungkapkan jawaban karena jujur saja pikirannya saat ini belum mengarah pada keturunan.
'Aku bahkan masih sangat muda dan karir mulai meroket. Jika aku membiarkan tubuhku hamil benih Aaron, yang ada akan berubah tidak menarik lagi untuk dilirik oleh perusahaan. No, aku tidak ingin itu terjadi.'
Jasmine bahkan sering melihat para wanita yang sudah memiliki anak berubah menjadi lebar dengan banyak lipatan lemak di mana-mana. Meskipun ia selama ini suka berolahraga dan menjaga asupan makanan, tetap saja takut jika tubuhnya yang seksi berubah dan tidak lagi menarik.
Ia berpikir bahwa Aaron tidak akan mempermasalahkan tubuhnya yang berubah setelah melahirkan, tapi saat ini yang ada di pikirannya hanyalah karir. Sebelum ia berada di puncak karirnya, tidak akan berhenti.
Apalagi ia tahu bahwa karir keartisan dan juga model sangat beresiko untuk terjun ke bawah secara drastis karena munculnya beberapa bibit baru dalam dunia itu.
Karena suatu saat nanti ada bakat-bakat terpendam yang pastinya dimiliki oleh orang-orang yang lebih muda darinya. Jadi, ia ingin memanfaatkan kesuksesannya sampai ke puncak dan tidak akan pernah menyesal setelah berhasil merasakannya.
Baru kemudian memikirkan masalah pribadi yang berhubungan dengan pernikahan serta anak dan lain-lainnya. Hingga ia pun kini melihat wajah tampan sang kekasih yang selalu diliputi oleh senyuman.
Menunjukkan jika pria dengan pahatan sempurna tersebut saat ini sangat bahagia karena memilikinya. Hingga ia melihat sang kekasih memberikan tangan yang merupakan jawaban.
"Bagaimana kalau empat anak, Sayang? Aku ingin lebih dari dua karena itu terlalu sedikit. Namun, lima menurutku terlalu banyak dan kasihan padamu harus hamil dan melahirkan. Tapi tenang saja karena aku akan jadi suami siaga serta ayah yang baik bagi anak-anakku nanti."
Aaron masih fokus mengemudi dan sesekali melirik ekspresi wajah wanita dengan paras cantik yang sangat dipujanya tersebut. Ia hari ini merasa melihat sesuatu yang berbeda dari wanita yang sangat dicintainya setelah tadi memarahi.
Ia berharap Jasmine akan terus menjadi wanita yang semakin dewasa dan membuat sang ibu bisa menyayangi seperti putri kandung sendiri setelah menjadi istrinya.
Apalagi nanti akan tinggal bersama di rumah keluarga besarnya dan akan sering berinteraksi dengan sang ibu, jadi tidak ingin hubungan antara menantu dan mertua tidak baik karena sama-sama egois.
Ia awalnya sudah mengatakan pada Jasmine bahwa setelah menikah akan mengajak tinggal di rumahnya karena merupakan anak tunggal dan tidak mungkin rumah besar keluarganya kosong jika membeli rumah baru.
Sebenarnya bukan masalah uang untuk membeli rumah baru karena baginya sama sekali tidak masalah, tapi yang dipikirkannya adalah orang tuanya yang sudah berkali-kali mengatakan agar tetap tinggal di rumah utama meskipun sudah menikah.
Karena rumah besar itu akan semakin sepi jika hanya ditempati oleh orang tuanya saat Ia memutuskan untuk membeli rumah baru demi tinggal berdua dengan istri.
Akhirnya Aaron menuruti perintah sang ibu dan saat membicarakan pada sang kekasih, masih baik tidak mendapatkan penolakan ataupun mempermasalahkan hal tersebut.
Meskipun sebenarnya merasa heran karena Jasmine langsung menerima tanpa merasa keberatan ataupun protes ingin tinggal berdua dengannya, Aaron merasa sangat senang dan berpikir jika itu menjadi sebuah kebahagiaannya dalam berumah tangga.
Ia ketika tertawa melihat sikap menggemaskan yang ditunjukkan oleh sang kekasih yang akan menjadi istrinya dalam beberapa hari ke depan. Bahkan tinggal menghitung hari pernikahan yang akan dilangsungkan di sebuah ballroom hotel dan dihadiri oleh banyak rekan sesama bisnis, keluarga serta teman.
Jasmine langsung mengangkat dua ibu jari sambil tersenyum. "Oke, aku tidak keberatan memiliki empat anak karena dari dulu suka anak kecil. Anak-anak kita pasti akan sangat cantik dan tampan karena mewarisi gen orang tuanya."
Namun, di dalam hati sibuk mengumpat karena tidak ingin memiliki empat anak. Jika boleh, hanya ingin satu anak saja dan tidak mempermasalahkan tentang jenis kelamin.
'Bagiku, yang penting aku sudah memberikan anak untuk suami. Itu sudah lebih dari cukup dan tugasku sebagai seorang istri sudah gugur setelah mempunyai anak satu.'
'Membayangkan punya anak satu saja sudah repot setengah mati, ini malah minta 4. Memangnya aku kucing, apa yang sebentar-sebentar bunting dan brojol,' sarkas Jasmine yang hanya bisa mengungkapkan kekesalannya di dalam hati.
Bahwa saat ini antara isi hati dan bibirnya sama sekali tidak sinkron karena yang terpenting baginya hanyalah bisa membuat pria di balik kemudi itu merasa senang karena sudah diiyakan keinginannya.
Jasmine bahkan berpikir jika sampai nanti menikah dengan Aaron setelah kembali dari Paris, akan sedikit-sedikit mengancam meninggalkannya jika sampai suami macam-macam atau punya keinginan yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Saat ini berpikir bahwa ia tidak akan pernah sudi punya 4 anak dan membiarkan tubuhnya longgar semua. Jadi, akan membicarakan masalah anak jika benar-benar sudah sah menjadi istri Aaron.
Meskipun ia tidak tahu kapan bisa menjadi istri pria tampan serta mapan yang menjadi idaman para wanita, tapi hanya memilihnya dan akan selamanya mencintainya sampai kapanpun.
Karena merasa sangat lega hari ini sang kekasih benar-benar telah berubah lebih dewasa dan tidak kekanakan seperti yang dikatakan oleh sang ibu, Aaron berniat untuk memberikan hadiah.
Jasmine saat ini langsung mengarahkan tangannya membentuk simbol hati sambil tersenyum lebar mengungkapkan kebahagiaannya. Padahal sebenarnya ia dari tadi sibuk melihat jam karena khawatir fitting gaun pengantin lebih dari waktu yang ditentukan.
Ia membiarkan pria itu masuk ke dalam toko bunga dan kini sibuk mengumpat di dalam mobil. "Astaga! Kenapa harus membeli bunga segala, sih! waktuku tinggal 3 jam. Nanti tidak akan mengacaukan jadwal pemotretan selanjutnya, bukan?"
Jasmine tadi menyuruh supir untuk kembali ke rumah karena ia akan pergi dengan Aaron dan diantarkan langsung ke studio pemotretan setelah selesai fitting gaun pengantin.
"Ini sudah jam 3 dan aku belum sampai juga di butik hanya gara-gara mampir ke toko bunga. Aaron saking bahagianya sampai ingin memberikanku hadiah begitu melihatku berubah menjadi seorang wanita seperti yang diinginkannya."
Jasmine bahkan memijat pelipisnya sambil menghembuskan napas kasar untuk meluapkan semua yang dirasakan saat ini. "Semoga tidak lama membeli bunganya. Padahal aku tidak berharap ia membelikan bunga padaku sebagai bukti cinta."
"Aku sebenarnya hanya butuh effort yang jelas, yaitu mendukung karirku. Tapi semuanya hanyalah angan semu semata karena saat ini ia tidak tahu apa yang aku inginkan." Jasmine menunggu di dalam mobil sambil sesekali melihat jam tangan favoritnya yang merupakan hadiah ulang tahun dari Aaron satu tahun yang lalu.
Ia saat ini berpikir bahwa ulang tahunnya tahun ini tidak akan bersama dengan Aron karena waktunya adalah 2 bulan lagi dan berada di Paris.
"Aaron tidak akan bisa memberikan hadiah untukku karena akan tinggal di Paris sampai waktu yang tidak bisa ditentukan." Jasmine berniat untuk memutuskan komunikasi tanpa menghubungi Aron selama berada di Paris karena ia ingin fokus dan tidak ingin terganggu.
Apalagi mengetahui bahwa Aron bisa melakukan apapun dan datang ke Paris untuk memintanya kembali, tapi ia akan merahasiakan semuanya agar Aaron tidak bisa menemukannya.
Mungkin setelah ia terkenal, Aaron akan bisa menemukannya dengan mudah tanpa ia harus memberitahu. "Aaron, bersabarlah karena aku akan kembali dan berjanji tidak akan pernah tertarik pada pria lain."
"Karena sama sepertimu, Aku sama sekali tidak tertarik pada pria lain dan hanya ingin menikah denganmu. Kamu adalah pria pertama yang mencintaiku sangat luar biasa."
"Jadi, aku tidak akan membuang rasa cintaku dan memberikannya pada pria lain yang bahkan belum tentu bisa mencurahkan cinta sebesar rasa cintamu padaku."
Jasmine merasa sangat lega ketika melirik ke sebelah kanan terlihat pria yang dari tadi digumamkannya itu sudah keluar dengan membawa buket bunga berukuran cukup besar.
Begitu melihat Aaron masuk ke dalam mobil dan langsung memberikan buket bunga mawar kepadanya, seketika wajahnya berbinar.
"Hadiah untuk calon istriku yang saat ini sudah berubah menjadi seorang wanita dewasa." Aaron tadi memesan buket bunga mawar merah berukuran besar karena ingin memperlihatkan jika itu mewakili rasa cintanya.
"Wah ... cantik sekali, Sayang. Terima kasih," sahut Jasmine yang saat ini sudah mengendus aroma mawar merah yang terlihat sangat indah itu.
Ia sebenarnya dari dulu sangat menyukai semua hal yang dilakukan oleh Aaron karena merupakan pria romantis. Namun, akhir-akhir ini ia merasa ilfil dengan sikap protektif dan selalu memaksakan kehendak padanya.
Begitu melihat bunga mawar dalam jumlah banyak yang berada di pangkuannya, menyembuhkan rasa ilfil-nya selama ini.
"Terima kasih, Sayang. Aku jadi makin cinta sama kamu ini!" ucapnya sambil terus mengendus aroma wangi dari bunga mawar itu.
"Sama-sama, Sayang. Aku juga akan merasa semakin bertambah mencintaimu jika kamu terus seperti ini." Aaron saat ini kembali mengemudikan kendaraan setelah menyalakan mesin mobi.
Kemudian ia fokus menatap ke arah jalanan ibu kota yang hari ini tidak terlalu macet karena bukan jam pulang kantor.
Sementara itu, Jasmine saat ini hanya tertawa melihat sikap yang ditunjukkan oleh pria yang sangat bahagia melihatnya menjadi orang lain.
'Ia tahu bahwa cinta bisa menerima kekurangan, bukan karena melihat perubahan demi menuruti keinginan pasangan. Tapi sepertinya itu tidak berlaku pada Aaron karena ia lebih suka melihatku berubah menjadi orang lain.'
Jasmine sebenarnya merasa tidak terima karena Aaron menginginkan ia berubah, sedangkan pria itu menurutnya sama sekali tidak berubah menjadi pria yang diinginkannya.
Berpikir jika itu sangat tidak adil dan berat sebelah, Jasmine tapi tidak bisa berkomentar apapun karena kembali berpikir jernih untuk tidak membuat pria itu berubah buruk mood-nya.
Meskipun berpikir jika itu adalah egois, tapi tidak bisa mendebatnya saat ini. Hingga beberapa saat kemudian melihat mobil sudah berbelok ke area butik yang tadi didatangi dan langsung keluar dengan perasaan berkecamuk dan marah.
Hingga ia pun seketika menoleh ketika arang bertanya padanya dan membuatnya bingung harus menjawab.
"Sayang, dari mana kamu tahu kalau aku tadi ada di restoran?" Tiba-tiba Aaron mengingat ketika ia keluar dari butik dengan perasaan dipenuhi oleh kemurkaan dan mengingat pertanyaan yang ingin ditanyakan pada Jasmine.
Kini, Jasmine tidak langsung menjawab karena ingin mencari alasan yang tepat. Namun, berpikir untuk berbicara jujur adalah jalan terbaik menurutnya.
"Oh ... itu tadi aku mendapatkan sebuah pesan dari salah satu teman sesama model yang mengirimkan sebuah video."
"Video? Memangnya video apa?" tanya Aaron yang saat ini memicingkan mata.
"Video kejar-kejaran antara calon suamiku dengan sepupunya," ucap Jasmine yang saat ini merasa cemburu dengan gadis yang rambutnya dikepang dua. "Apa gadis itu akan lama tinggal di rumahmu?"
Aaron sama sekali tidak tahu karena semua itu tergantung kapan Anindya sembuh dari amnesia yang dialami. Jadi, ia hanya mengendikkan bahu dan berniat untuk tidak menjawab.
"Ayo, kita turun!" Aaron saat ini beranjak dari mobil dan berjalan memutar untuk membuka pintu sang kekasih.
Sementara itu, Jasmine saat ini merasa heran saat melihat sikap aneh dari Aaron ketika membahas sepupu yang merupakan gadis dengan rambut dikepang dua tersebut.
'Apa yang terjadi pada Aaron? Kenapa ia seperti malas menjelaskan padaku mengenai sepupunya? Apa gadis itu benar-benar sepupunya atau hanya sebuah karangan semata?' gumam Jasmine ya saat ini merasa ragu kebenaran dari pernyataan calon mertuanya.
To be continued...