
Jasmine beranjak keluar dari mobil dan menatap penuh curiga pada sosok pria yang seperti tidak ingin membahas mengenai masalah sepupu yang membuatnya merasa sangat aneh.
Bahkan saat ia menatap ke arah iris mata berkilat itu, membuatnya merasa sangat heran dan makin curiga karena Aaron malah memalingkan wajah. Seolah tidak ingin dilihat jika melakukan sebuah kebuk bohongan yang bisa diketahui dari tatapan mata.
'Fix, Aaron saat ini tengah menyembunyikan sesuatu dariku mengenai sepupunya. Kenapa tiba-tiba saja sepupunya tinggal di rumahnya? Padahal dari dulu aku tidak pernah sekalipun bertemu dengannya setelah menjalin hubungan selama bertahun-tahun dengan Aaron.'
Jasmine saat ini berjalan di dekat pria yang kembali menggenggam erat tangannya dan ia menoleh sekilas. "Sayang, memangnya Anindya itu adalah anak dari siapa? Maksudku, dari keluarga mamamu atau papamu?"
Masih berusaha untuk mencari tahu sesuatu yang membuatnya merasa curiga akan kebenaran dari cerita calon mertuanya, kini Jasmine menunggu hingga Aaron mau bercerita dengannya.
Namun, semuanya tidak seperti harapannya karena Aaron kembali mengalihkan pembicaraan.
"Aku tidak ingin membahas hal lain selain kita di butik ini. Aku tadi sudah ke sini bersama dengan mama dan Anindya, lalu membanting hp-ku saat marah karena jika tidak mungkin akan menghancurkan semua yang kulihat."
Aaron tidak mungkin bisa menjawab pertanyaan Jasmine karena hanya akan menambah daftar kebohongannya dan ia tidak ingin itu membuatnya merasa bersalah pada calon istri karena menyembunyikan tentang perihal Anindya.
Jadi, memilih untuk tidak membahas mengenai gadis kecil yang mengalami kecelakaan karena ayahnya hingga berakhir amnesia. 'Aku tidak pernah ingin berbohong pada Jasmine, tapi mungkin akan bercerita setelah kami menikah nanti.'
'Apalagi kami akan tinggal bersama dalam satu rumah dan agar tidak ada kesalahpahaman. Tapi sepertinya aku juga harus meminta izin terlebih dahulu pada mama dan papa untuk menceritakan hal sebenarnya mengenai Anindya.'
Aaron yang saat ini kembali disambut oleh pegawai butik yang langsung mempersilahkan masuk menuju ke ruangan di mana gaun pengantin berada.
Ia kita akan memberikan kode dengan mata agar wanita itu tidak mengatakan apapun pada Jasmine jika gaun tadi sudah dicoba pertama kali oleh Anindya.
Sebenarnya Jasmine merasa sangat kecewa karena Aaron tidak mau menceritakan apapun dan memilih untuk mengalihkan pembicaraan. Namun, tidak mungkin terus memaksa sang kekasih menceritakan mengenai sepupu yang dianggapnya abal-abal.
Ia tetap merasa yakin dengan feelingnya bahwa gadis itu bukanlah sepupu Aron dan merupakan karangan semata. Namun, meskipun mencari jawabannya, tetap tidak menemukan karena berpikir bahwa saat ini Aaron tengah memikirkan sesuatu yang tidak bisa diceritakan padanya.
Karena tidak ada pilihan lain selain menuruti perintah dari Aaron, kini Jasmine sudah berjalan mengikuti wanita yang menunjukkan gaun pengantinnya berada.
"Kamu pasti akan terpesona melihatku saat memakai gaun pengantinnya, Sayang." Jasmine benar-benar ingin membuat sang kekasih merasa senang hanya dengan melihatnya memakai gaun pengantin.
Bahwa ia akan pergi dengan kenangan indah karena Aaron sudah melihatnya memakai gaun rancangan desainer terkenal yang merupakan sahabat dari orang tua sang kekasih.
Aaron saat ini melepaskan genggaman tangannya dan menunjuk ke arah gaun yang tadi dikenakan oleh Anindya. "Aku tahu bahwa kamu akan terlihat sangat cantik memakai gaun itu."
"Itu akan disempurnakan sesuai dengan bentuk tubuhmu. Jadi, coba pakai sekarang karena aku ingin melihatnya. Apakah calon istriku makin cantik memakai gaun indah itu?" Aaron kemudian memberikan kode pada para pegawai wanita yang dari tadi hanya diam tanpa banyak bicara dan membuatnya lega.
Ia bisa mengalami masalah jika sampai beberapa pegawai wanita yang ada di hadapannya tersebut mengatakan hal yang berhubungan dengan Anindya.
"Mari, ikut kami, Nona. Kami akan membantu Nona untuk memakainya." Salah satu pegawai wanita berseragam hitam tersebut mempersilahkan dengan membuka tangannya agar calon mempelai wanita segera masuk.
"Baiklah." Jasmine kini beralih menatap ke arah Aaron. "Tunggu kejutannya." Tertawa saat pekerjaan mengikuti pegawai wanita yang memasuki ruangan ganti dan menutupnya.
Sementara itu, Aaron yang saat ini berjalan menuju ke arah tempat duduk dan mendaratkan tubuhnya di sana untuk kesekian kali seperti tadi.
Ia terdiam menatap ke arah ruangan ganti yang tertutup itu dan mengingat Anindya yang tadi memakai gaun pengantin. Bahkan sang ibu juga langsung membeli gaun yang dipilihkannya tadi.
"Mama ini ada-ada saja karena belum jelas juga ia kapan menikah, malah sudah dibelikan gaun pengantin. Konyol sekali! Bagaimana Jika ia menikah saat badannya melar? Mana mungkin gaun itu bisa dipakai."
"Aah ... sepertinya tetap akan muat karena belum disesuaikan dengan ukuran lingkar tubuh pengantin." Aaron saat ini terdiam saat mengingat tentang Anindya yang dianggapnya memiliki nasib malang karena masih muda sudah mengalami kecelakaan yang membuatnya berakhir amnesia.
Hingga ia mengingat jika beberapa saat lalu Jasmine seolah ingin menginterogasinya mengenai Anindya. 'Jika Jasmine mengetahui bahwa Anindya bukanlah sepupuku, tetapi dengan bebas tinggal di rumah, pasti akan berpikir macam-macam.'
'Jika ia berpikir macam-macam padaku akan berbuat sesuatu pada Anindya, itu hanya akan membuat hubungan kami renggang dan keromantisan yang sudah terjalin beberapa saat lalu, bisa hancur.'
Aaron saat ini menggelengkan kepala karena menurutnya memang lebih baik untuk tidak memberitahu mengenai masalah Anindya sebelum mereka menikah.
Beberapa menit sudah menunggu sang kekasih yang tengah mencoba gaun pengantin. Hingga saat ia menatap ke arah ruangan gaji tersebut dan berapa detik kemudian terbuka.
Menampilkan sosok wanita yang sangat dicintai sudah mengenakan gaun pengantin yang sangat cantik. Bahkan ia seketika bangkit berdiri dari sofa dan berjalan mendekat untuk semakin jelas melihat calon istrinya.
Aaron benar-benar tidak berkedip menatap wanita dengan gaun pengantin berwarna putih dan hiasan di kepala. Refleks ia bertepuk tangan sebagai applaus atas apa yang dilihatnya.
"Wah ... luar biasa! Calon istriku bahkan terlihat seperti bidadari turun dari kahyangan. Sayang, kamu benar-benar sangat cantik hari ini. Bahkan nanti saat kamu sudah berada di singgasana, akan ada banyak orang yang memujiku. Bahwa aku sangat beruntung bisa memiliki istri yang sangat cantik ini."
Bahkan Aaron merasa sangat terharu bisa melihat wanita yang dicintai akhirnya memakai gaun pengantin. Saat ini, ia seperti merasa sudah menjadi seorang suami yang sangat beruntung karena akhirnya cintanya berlabuh pada Jasmine yang akan menjadi ibu anak-anaknya.
Sementara itu, Jasmine yang tadi sudah melihat penampilannya di depan cermin ketika berada di ruang ganti, sudah menduga bahwa Aaron akan sangat terpesona padanya setelah melihatnya memakai gaun pengantin.
"Aku kan sudah bilang jika calon istrimu ini adalah seorang wanita yang sangat cantik dan banyak dikagumi oleh orang lain, baik itu pria maupun wanita yang iri pada kecantikanku. Apalagi kamu yang sangat mencintaiku dan tergila-gila padaku."
Jasmine berbicara dengan terkekeh geli saat merasa konyol dengan perkataannya sendiri karena ia hanya mengimbangi apa yang ditunjukkan oleh Aaron agar terlihat natural dan bahagia.
Padahal sejatinya adalah ia sangat khawatir jika Aaron nanti murka sampai menyakiti diri sendiri saat ia pergi tanpa pesan. 'Tidak! Kamu akan baik-baik saja saat aku pergi, bukan? Kamu harus tetap baik agar kedepannya kita bisa menikah, tapi bukan beberapa hari lagi.'
Jasmine yang ingin mengabadikan momen ia memakai gaun pengantin, kini menatap ke arah pegawai wanita yang tadi membantunya.
"Pakaian untuk mempelai pria apa sudah disiapkan? Aku ingin calon suamiku segera memakainya dan mengambil foto untuk mengabadikannya," ucap Jasmine yang mungkin nanti akan sering menatap foto itu jika sudah berada di Paris nanti.
"Sudah disiapkan di ruangan sebelah kiri, Nona." Kemudian berani menatap ke arah mempelai pria. "Mari ikut saya, Tuan!" Pegawai wanita itu perjalanan menuju ke arah ruangan sebelah.
Aaron yang saat ini langsung mengikuti pegawai wanita itu setelah memberikan kode pada Jasmine agar menunggu beberapa menit karena ia akan cepat memakainya.
Tentu saja sangat berbeda ketika memakai gaun pengantin wanita yang pastinya membutuhkan waktu lebih dari pria yang hanya mengenakan setelan 3 potong berupa jas celana dan kemeja.
"Silakan, Tuan. Apakah Anda membutuhkan bantuan dari pegawai laki-laki? Saya akan memanggil kan jika anda menginginkannya."
Aaron yang sama sekali tidak menginginkan bantuan karena bisa sendiri, refleks langsung gelengkan kepala dan masuk ke dalam ruangan ganti.
Ia berdiri di depan cermin besar dan mulai melepaskan satu persatu pakaian yang membalut tubuhnya dan menggantinya dengan pakaian yang akan digunakan untuk acara resepsi resepsi.
Bahkan ia menatap penampilannya sendiri di depan cermin dan merasa sangat percaya diri karena bisa mendapatkan Jasmine yang sebentar lagi akan dinikahinya.
"Akhirnya aku sebentar lagi akan berubah status dari bujang menjadi suami seorang foto model yang sangat cantik dan terkenal." Aaron merasa bahwa sikapnya saat ini sangat berlebihan dan lebay.
Tapi yang dirasakannya adalah sebuah bentuk kebahagiaan ketika akhirnya bisa mengakhiri masa lajang dengan seorang wanita yang sangat dicintai.
"Rasanya aku ingin waktu segera cepat berlalu agar bisa segera sah menjadi suami Jasmine." Aaron bahkan saat ini mengingat ketika Jasmine mengatakan ingin segera bercinta dengannya dan membuat tubuhnya menghangat seketika.
"Aaah ... sial! Otakku sekarang jadi travelling kan jadinya. Ini semua gara-gara pulang nakal calon istriku yang dari tadi menggodaku habis-habisan demi bisa mendapatkan maaf dariku."
Karena tidak ingin semakin berpikir hal-hal yang bersifat intim, Aaron yang sudah memastikan bahwa penampilannya telah sempurna, kini keluar dari ruangan ganti dan menghampiri calon istri yang masih memakai gaun pengantin indah itu.
Ia membuka tangannya dan memperlihatkan pakaian yang akan dikenakan dalam resepsi. "Bagaimana, Sayang? Aku tampan, kan? Sangat pantas bersanding dengan seorang model terkenal sepertimu?"
Jasmine yang beberapa saat lalu sibuk selfie dengan mengenakan gaun pengantin sebagai kenang-kenangan, kini seketika berbinar wajahnya melihat Aron yang semakin menawan ketika memakai pasangan dari gaunnya.
"Iya, Sayang. Kamu ganteng banget!" ucapnya dengan wajah berbinar dan langsung mengarahkan ponselnya untuk beberapa kali mengambil gambar Aaron.
'Aku pasti akan sangat merindukanmu saat berada di Paris nanti, Sayang. Ini akan menjadi kenang-kenangan berharga yang menyembuhkan rasa rinduku padamu saat kita tidak bisa bertemu.'
Jasmine yang sudah mengambil beberapa gambar, saat ini memilih untuk mengecek satu persatu apakah ada yang tidak jelas gambarnya dan akan langsung dihapus.
Kemudian ia merasakan bahwa Aron saat ini tengah melingkarkan tangan pada pinggangnya ketika ia fokus pada layar ponsel.
"Kamu tumben sekali mengambil banyak gambarku? Apa aku terlihat sangat tampan dan menawan?" Aaron yang jarang berfoto, kini merasa aneh melihat sang kekasih yang biasa memutarnya satu dua kali saja, kini berkali-kali dan ada banyak fotonya di galeri ponsel itu.
Sementara itu, Jasmine merasa bahwa hasil jepretannya sangatlah sempurna karena tidak ada satu pun yang jelek dan tidak ada yang dibuangnya. Ia kini menatap ke arah pria yang terlihat sangat serius memeriksa hasil jepretannya.
"Karena kamu terlihat sangat tampan dan aku jago memotret," ucapnya dengan beralih menatap ke arah pegawai wanita yang masih berdiri tak jauh dari hadapannya.
Jasmine mengulurkan ponsel miliknya pada wanita itu. "Mbak, tolong potret kami yang bagus dan sesuaikan dengan Angel ya?"
"Baik, Nona," ucap wanita yang saat ini langsung melaksanakan perintah setelah calon mempelai suami istri tersebut beraksi dengan beberapa macam gaya, baik serius maupun santai.
Jasmine dan Aaron terlihat sangat bahagia di depan kamera dan memperlihatkan keromantisan mereka. Seolah mereka adalah pasangan yang akan hidup berbahagia selamanya.
Jasmine tiba-tiba mengecup pipi dengan rahang tegas sang kekasih dan terlihat jepretan beberapa kali dari pegawai wanita itu.
Hingga beberapa saat kemudian, galeri ponsel milik Jasmine sudah dipenuhi oleh foto-foto indah mereka.
"Silakan di cek, Nona. Nanti jika ada yang kurang, saya akan kembali memotret lagi." Pegawai butik itu langsung menyerahkan ponsel yang berada di tangannya pada mempelai wanita yang diakuinya terlihat sangat cantik.
Meskipun ia saat ini bertanya-tanya dengan siapa gadis imut yang tadi dikepang dua.
Jasmine langsung mengambil ponselnya dan mengecek. Saat sibuk menatap ke arah banyaknya foto di galeri miliknya, ia beberapa kali tertawa dengan Aaron jika melihat foto yang sangat konyol dari mereka.
Aaron saat ini menuju ke arah foto yang dianggap sangat pas dan membuatnya terlihat tampan serta Jasmine pun sangat cantik. "Kirimkan ini padaku nanti. Aku akan membeli ponsel setelah mengantarmu ke studio nanti."
"Maafkan aku karena telah membuatmu membanting ponsel mahalmu itu, Sayang. Apa perlu aku yang membelikannya sebagai permohonan maaf dariku?" bujuk Jasmine yang saat ini kembali bereaksi untuk merayu sang kekasih agar melupakan perbuatannya.
Padahal ia sudah tahu apa reaksi dari Aaron saat ia menawarkan itu. Hingga membuatnya tertawa mendengar jawaban dari sang kekasih.
"Apa kamu mau mengejekku, Sayang? Daripada kamu membeli ponsel untukku, lebih baik membeli orangnya saja." Aaron tersenyum menyeringai dan mengedipkan mata untuk menggoda sang kekasih yang juga tengah tertawa melihat sikapnya.
"Dasar nakal!" seru Jasmine yang saat ini kembali mencubit pinggang kokoh pria yang membuatnya merasa gemas. "Aku tidak perlu membelimu karena kamulah yang membeliku dengan menyuap orang tuaku."
"Benar juga. Kalau begitu, bersiaplah untuk melayaniku, Sayang. Kamu harus menjadi istri yang baik dan ibu dari anak-anakku." Aaron saat ini mengecup pipi putih wanita yang sangat dicintai untuk mengungkapkan rasa cintanya.
Sementara itu, Jasmine yang saat ini berakting bahagia, kini merasa bersalah karena tidak bisa melakukannya dalam waktu dekat. "Siap, Bos. Aku pasti akan menjadi istri yang baik dan ibu dari anak-anak kita."
Saat ia baru menutup mulut, mendapatkan sebuah pelukan hangat dari sang kekasih yang meluapkan kebahagiaannya dan membuatnya semakin merasa bersalah.
Namun, tidak bisa berbuat apa-apa selain berakting di depan pria yang sangat mempercayainya melebihi apapun.
To be continued...