Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Tidak ada gunanya



Zea diam saja saat pergelangan tangan kirinya berada dalam kuasa pria yang saat ini masih berjalan di hadapannya menuju ke arah motor yang terparkir rapi di tempatnya. Ia benar-benar merasa sangat lega karena tidak ada hal yang membuatnya ketahuan jika benar berasal dari SMA 1.


'Syukurlah aku selamat dan tidak mendapatkan kecurigaan dari tuan Aaron, sehingga tidak akan dikembalikan pada dua wanita jahat yang menjadi penyebab aku berakhir kecelakaan,' gumam Zea yang saat ini hanya melihat pria di hadapannya tersebut mengambil helm miliknya dan langsung memakaikan pada kepalanya.


Zea benar-benar merasa sangat senang karena tidak perlu repot-repot memakai helm saat sudah dipakaikan oleh pria yang saat ini malah seperti seorang kekasih yang penuh kasih sayang ketika memakaikan pelindung kepala.


'Aaarrrh ... rasanya aku ingin sekali berteriak saat ini karena merasa sangat senang dan bahagia hari ini karena tuan Aaron memperlakukan aku sangat manis seperti yang sering kulihat di televisi,' gumam Zea yang kini mengingat perkataan dari para murid perempuan saat di kelas.


Saat pasangan memakaikan helm, menurunkan pijakan kaki, mengusap kaki saat berkendara. Itu merupakan contoh kecil yang sangat berarti bagi para perempuan yang merasa sangat berharga saat pria melakukan hal seperti itu.


Dulu Zea hanya bisa mendengar pembicaraan dari para murid perempuan yang membahas tentang harapan mereka jika punya pacar, sedangkan ia dulu selalu menghabiskan waktu belajar dan tidak pernah berpikir sampai ke sana.


Bahkan ia merasa jika hari ini seperti mimpi dan membuatnya tidak percaya jika bisa diperlakukan dengan baik oleh pria yang kini sudah naik ke atas motor.


"Cepat naik karena aku tidak ingin laki-laki tadi membuntuti kita! Aku sangat yakin jika dia hanya ingin mencari perhatianmu dan berharap bisa berkenalan." Aaron bahkan berbicara sambil menoleh ke arah pria yang tadi bertanya pada Anindya.


Bahkan saat ini ia bisa melihat jika laki-laki muda itu masih tidak mengalihkan pandangan darinya dan yakin jika Anindya-lah yang menjadi pusat perhatian.


Hingga ia pun beralih menoleh ke arah Anindya yang baru saja naik ke atas motor. "Jangan lupa berpegangan yang kuat karena aku mau ngebut!"


Aaron yang tadi naik ke atas motor, langsung menurunkan postep agar memudahkan Anindya saat naik dan ingin segera pergi dari tempat yang membuat gadis itu menjadi incaran para laki-laki muda di angkringan.


Sementara itu, Zea yang awalnya juga melihat ke arah kakak kelasnya seperti yang dilakukan oleh Aaron, kini langsung memalingkan wajah karena tidak ingin jika Sony mengingat jika ia adalah gadis cupu dan culun di SMA.


Hingga ia seketika senyum-senyum sendiri kala mendapatkan perintah. Tanpa ragu, Zea langsung memeluk erat perut sixpack pria yang membuatnya merasa jantungnya seperti hendak meledak saat itu juga.


Bahkan Zea sampai memejamkan mata agar bisa merasakan kenyamanan serta kehangatan dari sosok pria idamannya. "Jalan, Tuan Aaron. Aku sudah berpegangan dengan kuat ini!"


Aaron yang kini menunduk menatap ke arah tangan dengan jemari lentik yang melingkar di perutnya, sebenarnya merasa sangat aneh karena kedekatan mereka. Namun, berusaha memenuhi pikiran dengan hal-hal positif bahwa ia hanya menganggap Anindya seperti adik sendiri, sehingga berusaha bersikap biasa.


Berbeda dengan seseorang yang masih duduk di atas tikar, tak lain adalah Sony dan sahabatnya dari tadi melihat pasangan yang baru saja pergi.


"Gue benar-benar sangat yakin jika gadis itu adalah anak SMA 1, sama seperti kita." Sony kini memegangi pelipis sambil memejamkan kedua matanya.


Ia saat ini tengah berusaha untuk mengingat-ingat sosok gadis muda yang menurutnya sangatlah tidak asing.


Sementara di sisi lain, laki-laki dengan kaos casual berwarna putih, kini hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya yang menurutnya sangat berlebihan.


"Tumben Lo tertarik dengan orang lain. Padahal selama ini selalu cuek pada para gadis cantik yang melirikmu, tapi ini malah membuang waktu hanya untuk berusaha mengingat gadis pendek tidak penting itu." Masih menatap intens wajah sahabat yang tiba-tiba langsung membuka mata dan menjentikkan jari.


"Pendek! Lo benar, Bro. Astaga! Kenapa aku tadi tidak mengingat jika gadis itu sangat pendek?" Sony menepuk jidat berkali-kali begitu mengingat semuanya.


Sementara itu, laki-laki yang kini memicingkan mata saat sahabatnya terlihat seperti baru saja menemukan berlian ketika merasa sangat lega.


"Memangnya Lo tadi tidak lihat jika dia berdiri di hadapanmu hanya sepundakmu?"


Refleks Sony menggelengkan kepalanya untuk membantah karena tadi ia terlalu fokus pada wajah tidak asing yang diyakininya pernah ditemui.


"Apa Lo ingat gadis cupu berkacamata dengan rambut dikepang dua? Dulu sering di-bully oleh banyak murid perempuan di sekolah." Sony saat ini berusaha untuk mengingatkan sahabatnya agar sependapat dengannya.


"Maksudmu gadis pendek tadi adalah si cupu berkacamata yang ada di sekolah?" Memicingkan mata karena merasa seperti ada keanehan dari sikap sahabatnya.


"Iya. Sial! Kenapa tadi aku tidak mengingatnya? Sekarang dia sudah pergi dan mungkin aku tidak akan bertemu lagi dengannya." Sony kini memijat pelipis karena merasa jika hal yang baru saja diingat sudah percuma dan tidak akan membuatnya lolos dari tuduhan pria tadi.


To be continued...