Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Meluluhkan hati



Jasmine seketika menutup mulut karena kalimat penuh penekanan yang bagaikan tombak tajam menancap di jantungnya telah membuat perasaan bergejolak tidak menentu. Apalagi begitu melihat iris tajam berkilat yang kini seperti anak panah tepat sasaran melukainya.


'Aaron, kamu tidak tahu jika aku benar-benar mengumpulkan niat serta keberanian untuk menemuimu sekarang demi bisa meminta maaf atas kesalahan yang ku perbuat padamu di masa lalu.'


'Namun, sepertinya kamu hanya fokus pada kesalahanku dan membenciku karena aku bisa melihat dari tatapan matamu,' gumam Jasmine yang sibuk menormalkan perasaan tidak menentu sambil menelan ludah dengan kasar.


Sementara itu, Aaron yang saat ini baru saja berbalik badan untuk melihat sosok wanita yang telah melukai harga dirinya di hari pernikahan, bisa melihat jika Jasmine berubah semakin lebih cantik.


Bahkan ia saat ini seperti sedang melihat seorang Dewi kecantikan karena semua kesempurnaan ada pada diri mantan kekasihnya yang dulu sangat dicintai, tetapi ada satu kekurangan yang membuat hatinya kini sudah mati rasa.


Mungkin jika ia adalah Aaron yang dulu dan belum mengenal Anindya, sudah dipastikan memaafkan kesalahan Jasmine dengan mudah karena merasa terpesona dengan kecantikan wanita yang berdiri cukup jauh darinya tersebut.


Hanya saja, sekarang pintu hatinya telah tertutup rapat untuk Jasmine karena telah berpindah hati pada seorang Anindya yang telah melahirkan benihnya. Bahkan ia berpikir jika Anindya selamanya tidak mau menerimanya, tidak akan menikah dan hanya fokus pada putranya.


Ia hanya ingin menjadi seorang ayah yang baik untuk putranya dan bertanggung jawab penuh dalam hal apapun mengenai darah dagingnya.


Hingga saat pertama kali melihat mantan kekasih yang terlihat semakin lebih cantik serta berisi, ia berpikir bahwa Jasmine selama 1 tahun ini hidup dengan baik dan tidak memikirkan kesalahan yang dilakukan padanya.


Kini, ia bertepuk tangan sekaligus tertawa lebar. "Wah ... jadi tuan putri sekarang kembali ke Jakarta rupanya? Mau apa? Apakah ingin mengemis maaf dariku seperti di telpon?"


Tatapan tajam Aaron seperti membuat suara Jasmine tercekat di tenggorokan. Melihat mantan kekasih yang bahkan jauh lebih kurus dibandingkan setahun lalu dan penampilan tidak serapi dulu, semakin membuatnya merasa bersalah.


"Aku ...." Jasmine tidak bisa melanjutkan perkataannya begitu suara bariton Aaron menguraikan suasana penuh ketegangan di ruangan kerja tersebut.


"Lalu, apa kau bahagia setelah mengejar mimpimu untuk menjadi supermodel internasional? Seharusnya kau sekarang menikmati masa-masa kejayaanmu itu dan jangan pernah menampakkan wajahmu di hadapanku lagi! Oke, aku akan memaafkanmu, tapi bukan berarti aku mau melihatmu lagi." Kemudian ia mengibaskan tangan dan kembali berbalik badan menuju ke arah kaca raksasa yang ada di sudut kanan.


Tanpa berniat untuk menoleh ke belakang karena ia tidak ingin menambah beban berat di pikirannya saat ini. 'Cukup masalah Anindya membuat kepalaku serasa mau pecah.'


'Aku tidak ingin wanita sialan ini membuang-buang energiku karena sangat muak,' gumam Aaron dengan tangan kanan masuk ke saku celana dan menghilangkan rasa pusing di kepalanya ketika mengembuskan napas kasar.


"Aaron, aku benar-benar sudah menyadari kesalahanku dan sama sekali tidak bahagia hidup tanpamu. Aku ingin kita memulai lembaran baru untuk kisah perjalanan cinta kita yang sempat berhenti di tengah jalan."


"Bukan hanya maafmu yang kuinginkan karena aku ingin kita kembali bersama seperti dulu lagi. Aku masih sangat mencintaimu dan tidak pernah berhubungan dengan pria lain. Maukah kamu menikah denganku?" Jasmine sudah menyiapkan segalanya untuk mengetuk pintu hati pria yang ia sakiti.


Hingga ia kini semakin berjalan mendekat dan mengambil kotak perhiasan berisi sepasang cincin yang dibelinya di Paris ketika akan pulang ke tanah air, lalu memperlihatkannya pada Aaron.


"Aaron, mau kan kamu membuka lembaran baru bersamaku?" Jasmine menampilkan wajah memelas untuk mencuri perhatian dari pria yang kini menoleh ke arahnya dan berharap bisa meluluhkan kerasnya hati yang terluka karena perbuatannya.


To be continued...