Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Tidak akan pernah kulupakan



Saat ini, Jenny dan Zea sudah berada di dalam mobil yang membelah kemacetan ibukota. Mereka ini dalam perjalanan pulang menuju ke rumah setelah seharian berada di Mall.


Dari tadi Aaron menahan rasa kesalnya pada sang ibu yang telah mengeluarkan izin dengan mudahnya ketika Erick berniat untuk membawa Anindya pergi jalan-jalan ke puncak dan pastinya banyak dampak negatif pada seorang gadis.


Apalagi kebanyakan yang datang adalah para pria dan membuatnya selalu saja berpikiran negatif, yaitu Anindya akan diperkosa bergilir oleh Erick dan teman sesama geng motor.


Namun, tadi memang tidak berbicara di food court karena khawatir jika teman mamanya akan tersinggung jika sampai ia melarang.


Namun, karena saat ini sudah berada di dalam mobil yang melintasi jalanan ibukota, Aaron melirik ke arah spion untuk bisa berbicara dengan sang ibu dan kembali menatap ke arah jalanan.


"Mama ceroboh sekali memberikan izin untuk Erick membawa Anindya ke puncak. Bagaimana jika terjadi sesuatu hal yang buruk pada bocil ini yang bahkan tidak tahu namanya. Ia pasti juga akan bingung karena tidak tahu apapun." Aaron yang baru saja menutup mulut, kini bertambah semakin kesal saat dia menyaut.


"Sepertinya benar apa yang dikatakan nyonya Jenny bahwa aku perlu refreshing untuk menyegarkan pikiran agar tidak stres dan berharap bisa mengingat kembali masa laluku yang hilang." Zea masih bercanda karena memang tidak ingin pergi.


Ia tadi diminta nomornya oleh Erick agar bisa menghubunginya jika jadi pergi ke puncak pada hari Minggu. Jadi, rencananya akan menelpon pria itu agar membatalkan niat untuk mengajaknya karena memang sama sekali tidak tertarik untuk ikut acara semacam itu.


Bahkan ia jauh lebih suka dengan healing di dalam kamar karena ada banyak hal yang bisa diketahuinya. Ia suka melihat informasi-informasi apapun untuk menambah pengetahuannya dan juga jika bosan sering menonton film luar berbau action.


Jadi, sekarang hanya berakting untuk membuat Aaron semakin kesal karena menjadi orang yang paling mengkhawatirkannya karena berpikir macam-macam.


'Rasanya sangat suka sekali diperhatikan oleh tuan Aaron, sehingga rasa sukaku padanya semakin bertambah besar hari ini karena mendapatkan perhatian luar biasa darinya ketika melarang untuk pergi.' gumam Zea yang saat ini menjadi seorang wanita yang beruntung karena mendapatkan perhatian dari pria yang disukai.


"Tenang saja karena mama sudah punya rencana dan tidak melepaskan Anindya begitu saja pada Erick." Jenny berbicara sangat santai sambil membuka paper bag yang berisi pakaian untuk Anindya karena tadi membelikannya.


"Sayang, apa kamu suka dengan baju ini? Tadi aku melihatnya dipajang dan terlihat sangat sporty, jadi mengingatmu. Berpikir akan sangat pantas kamu kenakan nanti saat acara anak motor." Kemudian mencoba untuk memasang di depan tubuh Anindya.


Anindya yang saat ini merasa jika memakai Hoodie tersebut, akan merasa gerah, sebenarnya tidak suka dan tidak berniat untuk ikut sunmori. Namun, ia tidak mungkin menolak pemberian wanita cantik itu dan berpura-pura tersenyum senang menerimanya.


"Iya, sangat cocok untukku, Nyonya. Kenapa kebetulan sekali Nyonya membelikan ini untukku? Seolah sudah mengetahui bahwa aku akan pergi dengan Erick pada acara Sunmori." Zea berbicara sambil melirik sekilas ke arah depan untuk mengetahui reaksi dari Aaron.


Sementara itu, Jenny yang hanya terkekeh geli mendengarnya, kini menceritakan perbincangannya dengan temannya tadi ketika ingin membelikan pakaian untuk putranya.


"Tadi kebetulan memang teman ingin membelikan pakaian sunmori untuk anaknya. Kamu tahu, itu Erick sebenarnya adalah anak yang sangat manja karena tidak pernah sekalipun membeli baju sendiri. Jadi, semuanya diurus oleh sang ibu," ucap Jenny yang sudah punya rencana mengenai kekhawatiran dari Aaron.


"Karena itulah tadi kepikiran untuk membelikanmu juga, siapa tahu diajak pergi Sunmori dan ternyata benar. Jadi, nanti biar Aaron yang menjagamu jika ikut Sunmori bersama Erick." Melirik ke arah depan dan terkekeh melihat ekspresi wajah putranya dari spion.


Bahkan mendengar suara memekakkan akan telinga ketika putranya berteriak untuk mengungkapkan rasa terkejut atas idenya karena menyuruh untuk menjaga Anindya saat pergi bersama Erick.


Aaron bahkan saat ini memijat pelipis begitu mengetahui ide dari sang ibu yang ternyata tenang-tenang saja membiarkan Anindya pergi dan malah merepotkannya.


"Apa? Menjaganya pergi bersama anak manja itu? Apa Mama tidak salah? Memangnya aku kurang kerjaan, apa? Lagipula aku pun harus persiapan karena akan menikah."


"Mana mungkin malah sibuk mengurus bocil ini berkencan dengan si Playboy itu!" Aaron benar-benar sangat kesal pada sang ibu yang berpikir konyol.


"Tidak ... tidak! Aku tidak akan jadi obat nyamuk untuk bocil ini pacaran dengan si playboy kampus itu!" Aaron sekilas menatap ke arah spion untuk bisa berbicara dengan Anindya.


"Lebih baik kamu tolak saja ajakan dari Erick dan katakan saja aku yang melarangnya pergi! Dah selesai, case ditutup!" umpat Aaron yang saat ini benar-benar sangat kesal karena sang ibu seperti mengumpankannya.


Karena berpikir apa yang dikatakan oleh Aaron benar dan memang iya tidak tertarik untuk ikut Sunmori, akhirnya Zea menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan.


"Iya, Tuan Aaron. Aku nanti akan menelpon Erick untuk tidak menjemputku karena tidak tertarik pergi sunmori bersamanya. Seperti itu, kan?" Zea masih menatap ke arah depan untuk melihat seperti apa jawaban dari Aaron.


Hingga ia tersenyum simpul melihat pria di balik kemudi tersebut mengangkat ibu jari sebagai tanda persetujuan.


"Ya, benar seperti itu. Lagipula acara itu akan ada banyak laki-laki dan sangat membahayakan gadis kecil sepertimu yang tidak tahu apapun. Bagaimana jika tiba-tiba kau hilang karena tidak tahu arah pulang dan akhirnya tersesat di hutan?"


Aaron sengaja menakut-nakuti karena tidak mungkin mengatakan kekhawatirannya mengenai hal yang dipikirkannya tadi.


Hingga ia pun berkomentar pada sang ibu yang mendukung Erick seolah tengah berusaha menjodohkan dengan Anindya. "Mama tahu kan seperti apa Erick? Tapi sepertinya ingin menjodohkan dengan Anindya yang tidak tahu apa-apa ini."


Zea seketika mengerjapkan kedua mata begitu mengetahui yang dimaksud oleh Aaron karena sama sekali tidak menyangka sampai ke arah sana. Apalagi ia berpikir masih sangat muda dan tidak berpikir mengenai jodoh-jodohan ataupun menikah muda.


Meskipun ia akan setuju jika yang mengajak menikah adalah Aaron. Namun, jika orang lain, tidak akan pernah bermimpi untuk menikah muda.


"Apa benar Nyonya berniat untuk menjodohkan ku dengan Erick?" tanya Zea dengan sorot mata penuh pertanyaan dan menunggu jawaban wanita di sebelah kanannya tersebut.


Sementara itu, Jenny geleng-geleng kepala karena kesalahpahaman yang dipikirkan oleh putranya serta Anindya.


"Kamu seperti selembar kertas yang putih dan masih bersih karena tidak ada sedikit tinta pun yang menghiasinya. Jadi, aku berpikir untuk sedikit memberikan hiasan pada lembar kertas itu agar lebih terlihat berwarna dan tidak kosong."


Ia khawatir jika kehampaan akan merongrong jiwa Anindya yang masih muda itu. Apalagi mengetahui jika gadis muda akan lebih sering galau atas hal apapun. Jadi, berniat baik dengan berencana seperti itu dan menyuruh putranya menemani.


Zea terdiam seolah meresapi penjelasan dari wanita itu. Sebenarnya ia ingin sekali membantahnya karena berpikir lebih menyukai dirinya yang sekarang.


Bahwa kekosongan yang dikhawatirkan wanita itu tidak dirasakan setelah tinggal di rumah keluarga Jonathan yang sangat baik karena menganggapnya seperti keluarga sendiri.


'Kalau bisa, aku tidak ingin kembali ke masa lalu kelamku dan tetap menjadi selembar kertas putih yang bersih dan tidak ternoda sedikit pun. Apalagi kertas itu hampir saja koyak dan tidak bisa diselamatkan jika sampai rencana dari dua wanita jahat itu berhasil,' gumamnya dengan perasaan membuncah tidak karuan.


Melihat Anindya hanya diam saja, Aaron khawatir jika gadis kecil itu terlalu memfosir otaknya untuk mengingat masa lalu yang dilupakan karena efek kecelakaan.


"Lebih baik kita akhiri saja pembahasan mengenai Sunmori karena Anindya sudah tidak berniat untuk pergi dengan Erick." Saat Aaron membelokkan mobil ke pintu gerbang rumah keluarganya, kini kembali dikejutkan oleh pernyataan sang ibu yang sekali lagi membuatnya mengembuskan napas kasar.


Jenny saat ini mempunyai ide dan berpikir bahwa itu merupakan jalan tengah. "Kalau memang tidak ingin membahas mengenai Sunmori, mungkin kamu sekali-kali mengajak Anindya pergi berkeliling Jakarta agar tidak boring di rumah."


"Mumpung kamu belum menikah karena setelah nanti berkeluarga dengan Jasmine, mungkin tidak akan keluar kamar karena asyik dengan istrimu," ucapnya sambil menatap putranya yang malah tertawa.


"Wah ... kalau itu sudah pasti, Ma. Aku tidak akan keluar kamar karena asik bermesraan dengan istriku setelah menikah nanti," sahut Aaron yang saat ini mematikan mesin mobil setelah memarkir kendaraan di garasi.


Ia tidak berencana untuk tidak keluar lagi karena tadi Jasmine tidak ingin dijemput. Jadi, pernyataan untuk menghabiskan waktu malam ini dengan beristirahat.


Namun, saat sang ibu memberikan ide untuk mengajak Anindya jalan-jalan agar bisa sedikit refreshing dan siapa tahu bisa mengingat tentang masa lalu, kini melepaskan sabuk pengaman dan menoleh ke arah belakang.


"Apa kamu ingin jalan-jalan keliling Jakarta untuk mencoba mengingat sesuatu yang kamu lupakan mengenai dirimu?" tanya Aaron yang masih belum mengalihkan pandangannya pada gadis yang baru saja melepaskan sabuk pengaman.


Jenny yang saat ini menepuk lengan Anindya karena melihat raut wajah serius dari putranya yang seperti mau membantu gadis itu. "Iyain saja, Sayang. Mumpung Aaron belum menikah. Jadi, manfaatkan saja dia sepuasnya."


Aaron saat ini hanya geleng-geleng kepala mendengar perkataan sang ibu yang seolah mendukung sekali untuk dimanfaatkan.


"Mama ... Mama, Baru kali ini ada seorang ibu yang sangat rela dan sangat senang hati anaknya dimanfaatkan orang lain." Bahkan ia sampai menepuk jidat melihat kekonyolan dari wanita yang telah melahirkannya tersebut berubah total setelah adanya Anindya yang sangat disayangi.


Hingga ia pun merasa seperti anak tiri ketika berhadapan dengan gadis kecil itu. "Sebenarnya di sini anak kandung Mama aku atau dia, sih?"


"Kalian punya tempat masing-masing di hati Mama. Jadi, tidak perlu khawatir," ucap Jenny yang saat ini mengarahkan daku ke depan untuk bertanya pada Anindya apakah mau mengiyakan tawaran dari putranya. "Bagaimana?"


Sementara itu, Zea yang sebenarnya senang-senang saja pergi berkeliling Jakarta dengan pria yang disukai, tapi benar-benar takut jika ia semakin mencintai pria itu dan akan benar-benar terluka ketika melihat Aaron menikah nanti.


'Apa yang harus kulakukan? Aku sangat menyukai tawaran ini karena tidak akan datang dua kali, tapi takut jika semakin patah hati saat menyadari tidak bisa memiliki tuan Aaron,' gumam Zea yang saat ini belum membuka suara karena tengah mempertimbangkan dengan baik tawaran dari pria itu.


Hingga ia menyadari jika kesempatan emas itu tidak akan terulang kedua kali, sehingga ingin bersikap egois dengan menikmati semua yang bisa didapatkannya.


Akhirnya Zea mengangguk setuju dan mengungkapkan apa yang diinginkannya dari dulu jika mempunyai seorang kekasih. Ia ingin mempraktekkannya saat pergi berdua dengan Aaron.


"Aku mau berkeliling kota Jakarta saat malam hari seperti apa. Oh iya, juga ingin makan atau minum di angkringan seperti yang dilakukan anak-anak zaman sekarang." Zea sering melihat teman-temannya yang nongkrong sambil ngopi dan berbincang.


"Aku ingin merasakan semua hal yang belum pernah atau mungkin sama sekali tidak pernah kulakukan dulu," ucapnya yang kini sangat bersemangat karena berharap bisa melakukan hal yang tidak pernah dilakukannya karena dulu asyik belajar dan belajar demi mendapatkan prestasi agar bisa kuliah di Universitas terbaik dan mendapatkan beasiswa.


Namun, impiannya harus sirna karena ulah sang ibu tiri yang menghabiskan dana tunjangan dari sang ayah. Ia tidak menyesal karena tidak bisa melanjutkan kuliah, tapi satu hal yang pasti adalah akan membalaskan dendam saat ia mempunyai kekuatan.


Aaron yang saat ini melihat wajah berbinar dari gadis belia itu, kini menganggukan kepala dan menyetujuinya.


"Kalau begitu, nanti pukul 7 kita berangkat keliling kota Jakarta sambil ngopi di angkringan seperti keinginanmu." Aaron tidak menunggu jawaban dari Anindya karena sekarang sudah keluar dari mobil dan berniat untuk beristirahat sebentar.


Sementara itu, wajah Zea seketika berbinar saat bisa melakukan hal-hal yang belum pernah dilakukan. "Hore! Aku senang sekali bisa berkeliling kota Jakarta di malam hari karena sudah melupakan atau mungkin belum pernah merasakannya."


Jenny yang saat ini terkekeh geli melihat kebahagiaan sederhana dari Anindya, kini seperti melihat seorang anak kecil yang sangat senang ketika dibelikan permen oleh ibunya.


"Kamu pasti dulunya adalah seorang gadis yang sangat manis dan penurut serta pintar. Pasti banyak orang yang menyukaimu, Anindya karena kamu sangat ceria dan selalu mengatakan apa adanya." Jenny mengusap lembut lengan Anindya.


"Sana istirahat dulu sebentar dan nanti pergi lagi bersama Aaron." Ia tersenyum simpul begitu melihat wajah polos dari Anindya.


"Iya, Nyonya. Terima kasih karena memberikan kenangan yang tidak akan pernah kulupakan," ujar Zea yang saat ini memeluk erat tubuh wanita cantik itu untuk mengungkapkan kebahagiaannya karena mendapatkan semua kebaikan saat dunianya hampir hancur tak tersisa.


To be continued...