
"Syukurlah kalian tidak apa-apa!" ucap Jennifer begitu melihat Aaron dan Anindya tiba di rumah pukul tujuh pagi.
Respon yang sama ditunjukkan oleh pria paruh baya yang tak lain adalah Jonathan yang merasa lega begitu putranya kembali dengan selamat bersama dengan Anindya.
"Dari semalam papa mencari informasi mengenai keadaan di puncak dan sangat khawatir pada kalian begitu mengetahui jika terjadi longsor serta banjir. Yang terpenting sekarang adalah kalian baik-baik saja dan pulang dengan selamat." Menepuk bahu lebar putranya dan melihat jika sang istri memeluk erat Anindya.
Aaron saat ini hanya tersenyum simpul ketika melihat kekhawatiran dari orang tuanya yang menandakan sangat menyayanginya dan juga Anindya. "Iya, Pa, Ma. Alhamdulillah kami bisa kembali dengan selamat dan tidak terkena longsor."
"Gara-gara tidak ada jaringan dari semenjak sore, sehingga tidak bisa menghubungi kalian agar tidak khawatir. Nasib baik aku langsung berinisiatif untuk pergi ke hotel karena hujan sangat deras dan berpikir tidak akan terang." Aaron pun kemudian menjelaskan semua hal yang terjadi semalam.
Hanya saja, ia berbohong pada orang tuanya ketika mengatakan memesan dua kamar dan melihat Anindya menatapnya.
"Jadi, kami berangkat masih dengan keadaan sekitar gelap dan jalan masih sepi, nggak bisa tiba di Jakarta dengan cepat." Aaron bisa melihat tatapan mengejek dari Anindya ketika ia sedang berbohong pada orang tua.
Bahkan hanya bisa mengumpan di dalam hati ketika Anindya seperti mengejeknya hanya dengan sebuah tatapan.
'Bocil pasti saat ini telah mengumpatku dalam hati karena menipu orang tua. Awas saja jika berani mengungkapkan pada papa dan mama, benar-benar akan kutarik rambutnya,' gumam Aaron yang saat ini mendengar suara penuh kelegaan dari orang tuanya
"Yang terpenting adalah kalian selamat dan bisa kembali tanpa kekurangan suatu apapun." Baiklah, lebih baik kita sarapan dulu karena pasti kalian sangat lapar setelah menempuh perjalanan cukup jauh." Jennifer merangkul Anindya dan mengajak ke ruang makan.
Begitu juga dengan Jonathan dan Aaron yang berjalan mengikuti dua wanita itu. Hingga Begitu tiba di meja makan ya sudah tersaji menu sarapan berupa nasi goreng kambing, duduk saling berhadapan.
Mereka melakukan ritual sarapan dengan sesekali membicarakan mengenai hujan deras kemarin di puncak yang membuat beberapa titik tertentu longsor.
"Oh ya, apakah Erick juga pulang bersama kalian tadi? Semalam mamanya sangat khawatir dan menelpon. Bahkan semalaman kami mengkhawatirkan kalian." Jennifer menyerahkan piring yang sudah diisi dengan nasi goreng kepada sang suami dan juga Anindya.
Namun, ia membiarkan putranya melakukan sendiri dan tidak memperdulikan Aaron menampilkan wajah masang karena tidak diabaikannya.
Sementara itu, Zea yang saat ini ditatap oleh wanita paruh baya tersebut, merasa kebingungan menjawab karena ia dilarang menelpon Erick oleh Aaron yang masih belum mengembalikan ponselnya.
Anindya memilih untuk berbicara jujur dengan mengendikkan bahu. "Kami belum menghubunginya semenjak tidak ada jaringan, Nyonya. Mungkin Erick juga sudah pulang." Menatap kesal pada sosok pria di hadapannya yang tengah menyuapkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulut.
"Kenapa tidak meneleponnya, Sayang? Sana, cepat telpon Erick untuk bertanya apakah sudah berada di Jakarta atau belum." Jennifer saat ini ikut merasa khawatir karena semalaman mendengarkan keluh kesah ari sahabatnya yang mengkhawatirkan keadaan putranya.
Hingga ia pun mengerutkan kening begitu melihat Anindya menatap ke arah Aaron dan tidak langsung menjawab.
Anindya merasa kesal ketika serasa di pojokan oleh ibu dan anak tersebut yang memerintahkan hal berbeda. Ia tidak ingin mengambil pusing untuk menjawab dan langsung mengarahkan jari telunjuk pada Aaron yang telah mengunyah makanan.
"Tadi Tuan Aaron yang mengatakan akan menelpon Erick setelah tiba di Jakarta." Anindya memilih untuk mengikuti pria itu berbohong karena tidak mungkin mengatakan jika tadi berniat untuk menelpon Erick, yang disebut oleh Aaron.
Sementara itu, Aaron yang masih menikmati sarapan karena merasa sangat lapar setelah memforsir tenaga untuk melajukan kendaraan dari puncak sampai ke Jakarta selama beberapa jam.
"Nanti juga mamanya menelpon dan mengabarkan jika putranya sudah tiba di rumah dengan selamat." Aaron bahkan tidak mau ambil pusing dan tidak mau menghubungi Erick.
Ia tersenyum menyeringai pada Anindya yang baru saja menjebaknya. Bahkan tidak tertarik untuk bertanya pada Erick apakah sudah kembali ke Jakarta atau belum.
"Dasar laki-laki arogan!" Jennifer hanya geleng-geleng kepala melihat sikap dari putranya yang sangat arogan. "Biar Mama nanti yang bertanya nanti pada ibunya Erick. Rasanya tidak pantas jika tidak bertanya karena Anindya kemarin berangkat bersamanya."
Anindya aku juga berpikir demikian tadi, tapi malah dilarang oleh calon dan membuatnya sampai sekarang tidak mengetahui bagaimana kabar Erick, tapi berharap pria itu baik-baik saja dan sudah tiba di rumah dengan selamat
"Semoga Erick dan teman-temannya sudah pulang dengan selamat." Jonathan mengungkapkan doa penuh ketulusan karena juga khawatir jika sampai terjadi sesuatu karena hujan deras di puncak.
Semua orang yang ada di meja makan tersebut menganginkan doa dari Jonathan. Hanya saja, Aaron hanya mengaminkan di dalam hati karena mulutnya penuh dengan makanan.
'Aku sangat yakin jika ia beserta teman-temannya juga sudah tiba di Jakarta. Nanti juga Anindya bisa melihatnya ketika bertemu di kampus,' gumam Aaron yang saat ini memikirkan sesuatu.
"Nanti berangkat bersamaku saja menuju ke kampus karena kita searah. Pulangnya biar sopir yang menjemput." Aaron yang baru saja menghabiskan makanan, air putih di sebelahnya tinggal habis.
Sementara itu, Anindya yang merasa tidak berhak menolak perintah dari Aaron, kini hanya menganggukkan kepala tanda setuju dan tidak berniat untuk mengeluarkan suara karena tengah mengunyah makanan di mulutnya.
Aaron bangkit berdiri dari kursi. "Aku mandi dulu dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor, Pa, Ma."
"Iya," sahut pasangan suami istri yang dengan kompak menjawab putranya.
Berbeda dengan Anindya yang hanya menjawab di dalam hati saja dan melanjutkan sarapan karena harus bersiap juga jika ingin berangkat dengan Aaron.
'Bahkan tuan Aaron belum mengembalikan ponselku. Pasti ia lupa. Nanti aku harus mengingatkannya,' gumam Anindya yang tidak ingin ponselnya dibawa kerja oleh Aaron.
Beberapa saat kemudian, Anindya sudah menyelesaikan makannya. Ia pun bangkit berdiri dan menatap pada pasangan suami istri tersebut untuk bersiap-siap ke kampus.
"Aku ke atas dulu, Tuan dan Nyonya." Anindya pun sudah lu pergi setelah melihat pasangan suami istri tersebut menganggukkan kepala.
Bahkan saat ini ia yang menaiki anak tangga, merasa gugup ketika membayangkan pertama kali masuk kuliah.
Tidak hanya itu saja karena juga sangat bersemangat ketika bisa melanjutkan pendidikan yang sangat diimpikan dari dulu, kesempatan ketika masih menjadi anak tiri dari wanita jahat yang menjualnya.
Zea yang baru saja masuk ke dalam kamar, langsung mengunci pintu dan masuk ke dalam kamar mandi setelah melepaskan semua pelindung tubuhnya.
Antara perasaan senang sekaligus terharu kini memenuhi dirinya dan senyumnya tidak dari bibirnya ketika membayangkan bisa melanjutkan pendidikan di kampus paling bergengsi yang ada di Jakarta yang tentu saja biayanya sangat mahal.
Beberapa saat kemudian, Zea sudah menyelesaikan ritual nanti dan memilih pakaian yang akan digunakan untuk kuliah di hari pertama hari ini.
Ia akan merasa bingung harus memakai baju yang bagaimana karena ada banyak pakaian yang dibelikan oleh Jennifer. "Kira-kira mana yang cocok untuk dipakai pertama kuliah? Apalagi aku tidak tahu mengenai fashion para anak muda."
Saat mengedarkan pandangan ke arah baju-baju yang digantung di hadapannya, kini Anindya menemukan satu yang cocok dan diambilnya.
"Menurutku ini sangat cocok. Semoga tidak ada yang mengejek penampilanku hari ini." Zea memegang setelan berwarna hitam putih, langsung mengenakan pakaian pilihannya di tubuhnya.
Kemudian merias tipis wajahnya agar tidak terlihat pucat. Hingga beberapa saat kemudian sudah siap dan di saat bersamaan mendengar suara ketukan pintu dari luar.
Zea langsung berjalan menuju ke arah pintu dan menebak jika yang mengetuk pintu adalah Aaron. Benar saja, ia saat ini melihat pria dengan penampilan sangat rapi mengenakan setelan jas berwarna hitam sudah berdiri di hadapannya.
Bahkan ia bisa mencium aroma khas maskulin dari sosok pria yang sangat dikaguminya tersebut. "Apa akan berangkat sekarang, Tuan Aaron?"
Aaron yang saat ini sengaja datang ke kamar Anindya, kini meraih ponsel di saku jas dan menyerahkan pada gadis yang sudah terlihat rapi memakai setelan panjang berwarna hitam putih yang semakin menambah kesan cantik.
"Barusan Erick menelpon dan sudah kuangkat. Dia baru saja tiba di Jakarta dan langsung menghubungimu untuk bertanya apakah kamu pulang dengan selamat." Aaron ingin Anindya tidak memikirkan Erick karena sudah jelas-jelas tiba di rumah dengan selamat seperti mereka.
Bahkan juga akan memberitahu sang itu agar tidak menunggu telepon dari orang tua Erick. "Dia dan teman-temannya semalam juga menginap di salah satu penginapan yang ada di puncak. Aku akan menunggumu di bawah. Jika sudah siap, kita berangkat."
Anindya yang baru saja menerima ponsel miliknya, bernapas lega karena kekhawatirannya tidak terjadi. "Syukurlah kalau mereka sudah tiba di rumah masing-masing dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun."
"Aku akan mengambil tas dan juga menyiapkan buku dulu, Tuan Aaron. Aku akan turun beberapa menit lagi." Kemudian Anindya melihat Aaron menganggukkan kepala dan berjalan meninggalkannya menuruni anak tangga.
Hingga ia pun kembali ke dalam kamar dan mempersiapkan semua yang akan dibawa hari ini. Bahkan dari tadi senyumnya mengembang karena rasa bahagia menyelimuti dirinya hari ini.
"Terima kasih, Tuhan karena aku tidak menderita lagi seperti beberapa tahun terakhir setelah papa menikah dengan wanita jahat itu. Aku seperti mendapatkan kehidupan baru serta orang tua baru ketika berada di sini."
"Aku akan membalas budi mereka semua yang baik padaku." Zea kemudian merasa semuanya sudah siap dan langsung berjalan keluar menemui pria yang sudah menunggu untuk mengantarnya.
Ia pun menuruni anak tangga dan mencari keberadaan Aaron dengan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang di lantai satu. Hingga ia merasa sangat terkejut ketika mendapatkan sebuah tepukan ringan pada pundaknya.
Begitu melihat wanita yang merupakan nyonya rumah utama tersebut tepat berdiri di belakangnya, kini ia tersenyum simpul. "Nyonya mengagetkan saja. Oh ya, saya akan berangkat sekarang bersama dengan tuan Aaron."
Jennifer yang tadi baru saja menyiapkan pakaian kerja sang suami yang saat ini masih mandi, kini mengeluarkan uang dari sagu gaun yang dikenakan. "Ini uang sakumu selama satu minggu ini."
Zea mengerjapkan mata begitu melihat tumpukan uang berwarna merah yang tidak bisa ditebak berapa nominalnya, tapi yakin jika itu menurutnya sangat banyak.
"Nyonya, bukankah ini terlalu banyak untuk satu minggu?" Zea mengingat saat dia masih duduk di bangku SMA dan hanya diberikan uang saku yang bahkan hanya cukup untuk membeli satu piring nasi.
Ia sadar jika sang ayah tidak mungkin memberikan uang saku segitu padanya, tapi tetap saja tidak pernah protes pada ibu tirinya yang lebih memanjakan Aurora daripada dirinya yang merupakan anak sambung semata.
Namun, hari ini dibuat shock dengan uang saku selama satu minggu. Bahkan Anindya merasa jika uang itu cukup untuk uang saku selama sebulan lebih karena ia juga selalu berhemat dan tidak suka jajan berlebihan.
Meskipun mendapatkan semua kebaikan dari keluarga Jonathan dan bisa berbuat sesuka hati tanpa memikirkan nominal uang, tetap saja ia tidak ingin memanfaatkan hal itu untuk mencari keuntungan pribadi.
"Ini bisa digunakan satu bulan karena aku tidak suka jajan, Nyonya Jennifer." Zea bahkan masih menunggu tanggapan dari wanita itu, tapi di saat bersamaan mendengar suara bariton dari Aaron yang berada di pintu utama.
"Sampai kapan aku harus menunggumu?" Aaron yang tadi menunggu di dekat mobil, tidak sabar karena Anindya tidak kunjung datang dan ternyata malah tengah asyik bersama dengan sang ibu dan membuatnya kesal.
"Mama, kami harus segera berangkat agar tidak terlambat!" teriak Aaron jam berharap sang ibu tidak lagi mengganggu Anindya.
"Sudah sana pergi! Aaron sudah mengeluarkan mode cerewetnya. Mengenai uang saku itu terserah mau kamu habiskan berapa hari, Sayang. Belajar yang baik di kampus, ya. Semoga kamu bisa menjadi salah satu mahasiswi terbaik di kampus nanti."
Jennifer mengakhiri doa dengan mengaminkannya.
Hingga ia pun kini melihat Anindya menganggukkan kepala dan berjalan ke arah putarannya yang menunggu di dekat pintu utama setelah Zea mengaminkan doanya.
Zea saat ini sudah berjalan mengikuti di belakang pria yang sangat wangi tersebut. Kemudian sudah di depan bersama Aaron. Ia melirik sekilas ke arah pria dibalik kemudi yang mulai mengemudikan kendaraan meninggalkan rumah keluarga Jonathan.
"Tuan Aaron, aku benar-benar gugup masuk kuliah pertama. Apa Anda nanti mau mengantarku sampai di depan kelas?" Zea tahu bahwa permintaannya sangat konyol, jujur saja ia merasa mengalami Dejavu dibully.
Jadi, berniat untuk meminta bantuan pria itu agar membuatnya tidak gugup dengan pemikiran negatif yang memenuhi kepalanya saat membayangkan dibeli oleh para mahasiswa lama dan juga senior.
'Aku benar-benar sangat takut jika apa yang kukhawatirkan terjadi. Namun, jika tuan Aaron mau memenuhi keinginanku, aku pasti akan kuat dan percaya diri,' gumamnya dengan perasaan penuh harapan pada sosok pria yang dari tadi tidak membuka suara.
To be continued...