
Saat ini, Candra Kusuma menatap ke arah sosok pria yang baru saja datang dan terlihat tidak bersahabat karena seperti curiga padanya. 'Sepertinya dia menganggap aku adalah orang jahat. Jadi, bersikap tidak sopan pada orang tua. Dasar anak muda bodoh! Jika menyukai cucuku, seharusnya kau bersikap baik pada kakeknya.'
'Jika begini sikapmu pada kakeknya, mana mungkin bisa mendapatkan cucuku? Lihat saja nanti, aku akan memberikannya pelajaran,' gumamnya yang kini berakting menunjuk ke arah sawah yang terhampar di depan rumah cucunya tersebut.
"Apa kamu tahu siapa pemilik sawah yang ada di depan itu? Aku berencana untuk membelinya untuk bisnis properti di daerah ini. Lagipula pemandangan di sini sangat indah dan udara juga bersih karena bebas dari polusi, jadi berpikir untuk membuat perumahan mewah di depan sana."
Candra Kusuma kini memang asal membuat alasan, tapi setelah dipikir-pikir, ia merasa jika idenya tersebut cukup menarik. Bahwa apa yang baru saja dikatakan bisa membuatnya benar-benar membuat cluster mewah di area hamparan sawah luas itu.
Zea yang sama sekali tidak mengetahui apapun karena juga baru tinggal di kampung selama beberapa minggu, refleks menggelengkan kepala. Ia tahu jika penampilan pria di hadapannya tersebut memang menegaskan bukan orang sembarangan.
Ia tahu dari outfit yang dikenakan merupakan barang-barang mahal seperti yang dikenakan oleh keluarga Aaron. Tentu saja hanya dipandang sekilas mata saja sangat jelas perbedaan antara kasta rendahan dengan kasta berkelas seperti pria paruh baya tersebut.
Saat ia hendak membuka mulut, mendengar suara Erick yang terlebih dahulu menjawab dan membuatnya langsung mengarahkan cubitan pada pinggang kokoh pria itu.
"Zea baru saja tinggal di sini selama beberapa minggu, jadi tidak tahu menahu tentang siapa pemilik sawah di depan itu. Jika Anda ingin tahu, lebih baik bertanya pada tetangga sekitar." Erick tadi meringis menahan rasa nyeri pada pinggangnya dan tidak memperdulikan tatapan dari Zea.
"Ayang, aku kan hanya mengatakan yang sebenarnya. Memangnya kamu tahu siapa pemilik sawah itu?" tanya Erick yang saat ini tengah menatap tajam Zea balik.
Zea kini menggaruk tengkuk belakang dan menggelengkan kepala. "Tidak."
Kemudian ia beralih menatap ke arah pria paruh baya itu. "Anda tanya saja pada ketua RT. Rumahnya sekitar 509 meter di sebelah timur dari sini. Pasti nanti diberitahu oleh pak RT."
Karena apa yang dikatakan hanyalah sebuah alasan semata, Candra Kusuma kini berpura-pura mengangukkan kepala. Ia tadi membawa kotak berisi kue yang dibeli di Resto hotel dan menyerahkannya pada gadis dengan rambut dikepang dua tersebut.
"Baiklah. Aku akan datang ke sana. Oh ya, kebetulan tadi aku membeli ini untuk sarapan, tapi ternyata terlalu manis. Orang tua tidak boleh makan makanan yang terlalu manis. Jadi, buatmu saja karena kamu pasti suka dengan kuenya." Candra Kusuma sebenarnya sangat kesal melihat tatapan aneh mengintimidasi dari pria muda yang ada di sebelah cucunya.
Namun, ia menahan diri agar tidak meluapkan emosi. 'Jika biasanya tidak ada yang berani padaku. Bahkan hanya memandang saja tidak berani, tapi anak muda ini sangat percaya diri sekali karena berani bersikap tidak sopan padaku. Lihat saja apa reaksinya setelah mengetahui jika aku adalah kakek gadis yang disukainya.'
"Tidak perlu repot-repot karena ayangku sama sekali tidak suka dengan makanan manis," sahut Erick yang merasa khawatir jika ada sesuatu yang dimasukkan ke dalam makanan itu.
Namun, ia membulatkan kedua matanya kala melihat Zea malah menerima dan sudah mengambil kotak berisi kue tersebut.
"Terima kasih atas kuenya, Tuan. Kebetulan saya juga belum sarapan dan lapar. Maafkan teman saya karena dia selalu over thinking pada semua orang yang belum dikenal, tapi sebenarnya dua baik." Zea memberikan kode pada Erick agar diam dengan menatap tajam.
Namun, ia merasa kesal ketika Erick malah membuatnya tidak enak pada pria paruh baya itu.
"Astaga, Ayang! Kalau kuenya ada racunnya gimana? Atau obat tidur agar kamu tidak sadarkan diri dan kemudian diculik bagaimana? Kamu harus selalu waspada pada siapapun tanpa melihat orang itu masih muda atau tua." Erick berniat untuk menyadarkan Zea agar tidak gegabah dan lebih berhati-hati.
Namun, ia melihat sosok pria paruh baya itu seolah mematahkan asumsinya saat berbicara pada Zea.
"Tolong ambilkan satu kue, biar aku memakannya untuk membuktikan jika tidak ada racun maupun obat bius di makanan itu. Jika aku mengambil sendiri, pasti masih dicurigai oleh anak muda ini." Sengaja ia melakukan itu agar anak muda tersebut tidak terus menerus curiga padanya.
Zea yang sebenarnya merasa tidak enak, mau tidak mau menuruti perintah pria paruh baya itu untuk menyelesaikan masalah. Kemudian mengambil acak kue dari kotak yang dibukanya.
"Ini, Tuan. Sekali lagi maafkan teman saya yang terlalu over thinking pada Anda." Zea kini melihat pria paruh baya itu langsung menggigit kue donat dengan toping keju di atasnya.
Ia yang tadi mengetahui jika pria tersebut tidak suka manis, sengaja mengambil rasa keju yang pastinya rasa gurih lebih mendominasi. Kemudian menatap tajam sosok pria yang ada di sebelahnya.
"Cepat minta maaf! Kalau tidak, kita tidak jadi pergi karena kamu sudah mempermalukanku!" Sengaja ia mengarahkan tatapan tajam agar Erick patuh pada perintahnya.
"Ayang! Aku kan melakukan ini karena peduli dan khawatir pada keselamatanmu. Kenapa harus minta maaf segala, sih!" Erick yang merasa kesal, masih tidak berniat untuk meminta maaf.
Hingga ia merasa sangat lega begitu pria paruh baya tersebut mengangkat telpon dan berbicara terlebih dahulu pada Zea.
"Tidak perlu meminta maaf karena seperti yang kamu katakan tadi, anak muda ini hanya ingin menjagamu. Aku salut padamu, Anak muda. Terus jaga gadis ini agar tidak ada yang bisa berbuat jahat padanya." Candra Kusuma lalu berbalik badan dan berjalan menuju ke arah mobil.
Begitu masuk ke dalam mobil, langsung menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar perkataan dari sang pengacara yang mengurus tentang surat wasiatnya.
Mobil pun melaju meninggalkan area tempat itu setelah sang supir mendapatkan perintah dari majikan untuk pergi.
Sementara di teras rumah, Zea kini mendaratkan tubuhnya di kursi dan ingin menikmati kue donat kesukaan. Apalagi tadi begitu membuka kotak itu, banyak donat dengan aneka toping yang membuatnya menelan saliva.
Saat ia mengambil donat coklat kesukaan dan mengunyahnya, merasa sangat risi kala mendengar suara bariton dari Erick yang berdiri menjulang di hadapannya.
"Ayang marah sama aku? Bukannya kita mau pergi jalan-jalan keliling kota Jogja? Aku sudah sewa motor pak RT lho! Apa kita nggak jadi jalan-jalan?" Erick yang merasa khawatir Zea kesal dan membatalkan acara hari ini, masih tidak menyerah untuk membuat gadis itu segera bangkit dari kursi dan jadi pergi.
Hingga ia membulatkan kedua mata kala mendapatkan serangan tiba-tiba dari Zea.
"Rasakan ini! Dasar cowok cerewet banget! Apa aku tidak boleh makan donat ini sebentar saja? Astaga. Aku bahkan hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja untuk makan kue donat ini, tapi kamu malah membuatku hilang mood!"
Zea pun kembali duduk dan berniat untuk melanjutkan ritual menikmati kue donat yang menurutnya sangat empuk dan enak. Berbeda dengan kue donat pinggir jalan yang sering dibelinya dulu di sekolah.
Ia sebenarnya ingin tertawa kala melihat ekspresi wajah Erick kala dibungkam dengan donat dan hanya diam saja. Namun, ia menahan diri agar tidak terbahak karena ingin Erick mengira jika ia marah padanya.
'Erick ... Erick, dia selalu menyebalkan, tapi sekaligus lucu. Rasanya tidak ada dia, selalu sepi. Saat nanti dia pulang, pasti rumah ini akan kembali sunyi dan sepi karena tidak ada yang menemaniku lagi,' gumam Zea yang kini hanya melirik sekilas ke arah Erick saat mendaratkan tubuh di sebelahnya sambil mengunyah donat yang memenuhi mulut.
Erick yang tidak ingin Zea kembali kesal dan marah, akhirnya hanya diam dan membiarkan gadis itu puas menikmati donat. Ia bahkan merasa jika donat itu sangat enak dan membuatnya mengambil lagi dari kotak.
"Ternyata donatnya sangat enak, Ayang. Pria itu membeli di mana ya kira-kira? Pasti sangat laris." Erick kini memeriksa kotaknya dan mencari indikator di sana.
Begitu ia membaca toko bakery-nya, langsung membuka ponsel untuk mencari alamatnya. "Ternyata ada di area hotel bintang lima yang ada di kota, Ayang. Pasti ini harganya sangat mahal."
Di sisi lain, Zea kini terdiam sambil menatap ke arah kotak tersebut. Ia sama sekali tidak memperdulikan perkataan dari Erick karena pikirannya saat ini tengah memikirkan sesuatu yang mengganjal.
"Kenapa kebetulan sekali pria paruh baya itu memberikan donat saat itu adalah kue favoritku? Seperti tahu saja jika itu adalah makanan kesukaan aku." Zea menatap ke arah Erick untuk meminta pendapat pria itu.
Berbeda dengan Erick yang menganggap Zea sangat berlebihan berpikir sampai ke sana. "Ini hanya kebetulan saja, Ayang. Tidak perlu berpikir sejauh itu."
Zea awalnya berpikir seperti itu, tapi suatu kebetulan yang membuatnya berpikir aneh, sehingga masih merasa ragu. Namun, bibirnya mengungkapkan jika ia ingin memaklumi sebuah kebetulan tersebut.
"Ya, kamu benar. Ini hanyalah sebuah kebetulan semata. Cepat habiskan karena ini enak sekali. Baru kita jalan-jalan ke kota. Aku ingin membeli baju juga karena hanya punya baju ganti beberapa saja." Kemudian Zea kembali mengunyah kue yang baru digigitnya.
Erick yang akhirnya bernapas lega karena bisa pergi berdua dengan Zea, berharap gadis itu tidak badmood lagi padanya. "Nanti biar aku yang belikan. Angga saja aku membayarmu sebagai tour guide untukku. Kamu pasti tidak mau dikasih uang kan? Jadi, aku belikan pakaian saja."
"Ya, terserah kamu. Aku tidak akan menolak rezeki. Lagipula jika aku menolak, pasti kamu akan protes dan mengatakan aku tidak adil karena menerima pemberian pria yang tidak dikenal itu, sedangkan kamu tidak."
Refleks Erick langsung mengangkat ibu jarinya dan tersenyum simpul pada gadis yang sangat menggemaskan itu. "Ayang memang benar-benar pinter rupanya."
Zea hanya mengerucutkan bibirnya menanggapi Erick dan ia menatap hamparan sawah di depan rumahnya. "Jika depan rumahku jadi perumahan elite, bukankah di sini jadi tidak indah lagi?"
"Kalau aku yang punya sawah luas itu, tidak aiah menjualnya agar kampung ini tetap alami dan asri. Apalagi melihat tanaman padi yang hijau dan lama-kelamaan menguning, rasanya seperti pemandangan indah yang memanjakan mata," ucap Zea yang kini memikirkan masa depan tentang nasib pemandangan alami nan indah itu.
Hingga ia menoleh ke arah Erick yang berbicara sambil mengunyah kue di mulut.
"Semua akan kalah dengan uang, Ayang. Jika pemiliknya tergiur dengan uang yang ditawarkan, pasti tidak akan membuang waktu untuk menjual. Itu ibaratnya aku tergiur padamu, jadi sama sekali tidak perduli dengan anak pak RT yang kecentilan dan cari perhatianku."
Erick bergidik ngeri mengingat semalam saat ia keluar kamar karena mau kencing, malah melihat anak pak RT yang baru keluar dari kamar mandi hanya mengenakan tank top tanpa bra.
Bahkan hot pants sepaha menunjukkan paha putih mulus yang malah membuatnya takut diperkosa oleh gadis itu. Ia kini, menatap ke arah Zea yang masih fikus pada hamparan sawah luas itu.
"Ayang, aku semalam benar-benar takut diperkosa sama anak pak RT. Mana semalam kelihatan jelas saat dia tidak pekai bra." Erick bahkan kembali bergidik hingga tubuhnya bergetar kala mengingat kejadian semalam, tapi malah mendapatkan sebuah cubitan dari Zea.
Zea yang merasa sangat malu sendiri saat Erick membahas tentang masalah pribadi kaum wanita, sehingga refleks memberikan sebuah hukuman.
"Dasar pria mesum! Mana ada perempuan memperkosa laki-laki? Yang ada, malah kamu yang memperkosa abai pak RT!" Zea akhirnya kembali mengingat saat Aaron memperkosanya dan membuatnya bangkit berdiri dari kursi.
"Aku mau ambil minum!" teriaknya untuk membuat alasan pada Erick dan buru-buru berjalan masuk ke dalam rumah dengan bola mata berkaca-kaca.
Di sisi lain, Erick yang sebenarnya ingin membantah tuduhan Zea, tidak jadi melakukannya karena sudah ditinggal pergi. "Padahal meskipun gadis itu telanjang bulat di depanku, aku benar-benar tidak nafsu padanya."
"Sepertinya ayang perlu ditunjukkan berita mengenai perempuan yang memperkosa anak dibawah umur dengan kedok digratiskan bermain PS. Biar ayang tahu kalau perempuan itu bis memperkosa, bukan hanya laki-laki yang memperkosa." Erick kemudian mengetik di mesin pencarian.
Begitu menemukannya, ia berteriak agar Zea bisa segera melihatnya. "Ayang, buruan minumanya. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu!"
Erick menunggu selama beberapa menit, tapi tak kunjung mendengar jawaban dari dalam rumah. Karena tidak sabar ingin menunjukkan pada Zea, akhirnya bangkit berdiri dan melangkahkan kaki panjangnya menuju ke dalam rumah untuk memeriksa.
Namun, begitu tiba di dapur, ia seketika membulatkan mata begitu melihat sosok gadis yang dicarinya tersebut.
"Ayang?"
To be continued...