
Aaron yang saat ini memilih menunggu di hotel tentang kabar tempat tinggal sosok wanita yang menolaknya mentah-mentah dan mengusir serta tidak ingin bertemu dengannya lagi.
Ia sama sekali tidak berniat untuk pergi ke Rumah Sakit setelah mengetahui jika Erick langsung ke sana. "Percuma saja aku bertemu dengan Anindya jika masih ada cecunguk itu. Anindya pasti akan terpengaruh dengan perkataan Erick seperti yang tadi dilakukannya."
Aaron saat ini mengingat ekspresi wajah Anindya saat marah padanya dan tidak ingin bertemu dengannya lagi. Hingga ia pun mulai berjalan menuju ke arah balkon untuk menghilangkan rasa bosannya karena harus berdiam diri di dalam kamar.
Ia saat ini melihat ke arah bawah, di mana di sana ada banyak orang yang tengah bersantai di dekat kolam renang. Bahkan tengah membayangkan bisa duduk berdua dengan gadis yang dicintai itu, lalu menghabiskan waktu dengan berenang bersama.
"Seandainya bisa berlibur dengan Anindya, pasti akan sangat menyenangkan. Seperti saat dulu menginap di puncak ketika turun hujan deras. Bahkan dia saat itu takut gelap ketika listrik tiba-tiba mati." Aaron membayangkan bagaimana Anindya yang dulu memeluknya dengan sangat erat.
Bahkan momen saat di penginapan tersebut tidak pernah dilupakan olehnya. Hanya saja karena akan menikah dengan Jasmine, sehingga berusaha untuk melupakan karena berpikir jika mengkhianati wanita yang pernah sangat dicintainya tersebut.
Meskipun sekarang hanya tersisa kebencian semata karena tidak lagi memiliki perasaan sedikitpun pada wanita yang telah menyia-nyiakan cinta tulusnya. "Aku seharusnya saat itu menuruti perintah papa dan mama untuk menikahi Anindya ketika Jasmine kabur."
"Aku benar-benar sangat bodoh karena larut dalam kesedihan saat mengetahui Jasmine kabur dari pernikahan." Aaron saat ini sudah berkali-kali menepuk jidat untuk merutuki kebodohannya.
"Seandainya aku bisa memutar waktu dan memperbaiki semuanya, tapi hanya angan semu dan sekarang harus berusaha dengan keras untuk mengambil hati Anindya yang benar-benar membenciku," ujar Aaron yang saat ini tengah menatap ke arah jam mahal di pergelangan tangan kiri.
Ia masih berusaha untuk berpikir positif bahwa orang yang tadi disuruhnya bisa memberikan informasi tentang alamat yang dibutuhkannya. "Aku akan pergi ke rumah Anindya saat malam hari karena pasti sudah pulang. Seperti ketika semalam datang ke rumah sakit dan dia sudah pulang, jadi lebih baik ke sana jam segitu."
Saat memikirkan pergi ke rumah keluarga konglomerat yang jauh lebih kaya dari keluarganya, ia terdiam memikirkan tentang sesuatu hal. "Nanti membawa apa saat pergi ke sana? Aku tidak mungkin ke rumahnya dengan tangan kosong."
Aaron saat ini terdiam karena tengah mengingat-ngingat hal apa yang paling disukai oleh Anindya. Namun, karena dulu tidak terlalu memperhatikan apa yang disukai dan tidak disukai oleh gadis itu.
"Sial! Gara-gara aku dulu tidak memperdulikan perasaanku pada Anindya karena setia pada Jasmine, sehingga sekarang menyesal karena tidak tahu apapun tentang gadis yang kusukai." Aaron yang tidak menemukan sesuatu yang disukai oleh Anindya, kini memilih menelpon sang ibu untuk bertanya.
"Semoga mama tahu apa yang disukai Anindya agar saat ke rumahnya, bisa sedikit mengambil hatinya." Kemudian Aaron meraih ponsel yang ada di saku celana dan membuatnya langsung menekan tombol panggil untuk berbicara dengan sang ibu.
Hingga begitu suara wanita dari seberang telepon terdengar sangat bersemangat karena ingin mengetahui apa yang terjadi. Akhirnya ia menjelaskan apa yang dilakukan Anindya padanya dan malah memilih daripada lamarannya.
Apalagi ia mengetahui jika Anindya sering curi-curi pandang ketika menatap ke arah Aaron yang sangat arogan dulu. Berbeda saat bersama dengan Erick, sama sekali tidak ada rasa gugup dan terlihat sangat biasa.
Sama sekali tidak menunjukkan sesuatu hal yang membuatnya berpikir jika Anindya menyukai Erick. Jadi, merasa sangat heran begitu mendengar cerita putranya yang ditolak saat melamar. Padahal itu sebagai bentuk pertanggungjawaban setelah merenggut kesucian gadis yang sudah dianggap seperti putri kandungnya sendiri.
"Aku tidak tahu, Ma. Tapi aku tidak akan menyerah semudah itu hanya karena ditolak satu kali. Sebelum aku mendapatkan kata maaf dari Anindya, tidak akan pernah menyerah. Aku baru berhenti jika dia sudah berstatus sebagai istri pria lain." Ia yang menyadari bahwa menghubungi sang ibu untuk menanyakan sesuatu, sehingga kembali memijat pelipis.
"Oh iya, Ma. Apa Mama tahu apa yang disukai Anindya? Aku tidak tahu sama sekali karena dulu tidak memperhatikan." Kemudian ia menceritakan jika nanti malam akan datang ke rumah keluarga Anindya setelah mendapatkan kabar dari orang suruhannya yang merupakan pegawai dari perusahaan Kusuma.
"Dasar bodoh! Kau dari dulu terlalu fokus pada wanita itu, sehingga menutup mata pada Anindya dan sekarang menyadari kebodohanmu, bukan?" ejek Jennifer yang saat ini ingin sekali menjewer telinga putranya agar sadar dan tidak lagi melakukan kesalahan yang sama berulang kali karena mencintai wanita yang salah.
Aaron hanya meringis menahan rasa malu atas kebodohannya selama ini saat dibutakan oleh cinta begitu dalam pada wanita yang salah dan menyia-nyiakan ketulusan cintanya.
"Ma, lebih baik katakan jika mengetahuinya dan jika tidak, aku akan mencari tahu sendiri." Meskipun kalimat terakhir sebenarnya membuatnya ragu, tetap saja ia tidak berniat untuk mencari tahu sendiri.
Hingga ia seketika merasa sangat senang dan lega begitu mendengar jawaban dari sang ibu mengenai kesukaan Anindya.
"Mama saat itu melihat Anindya membawa donat sepulang kuliah. Jadi, langsung bertanya dan dia bilang sangat menyukai donat. Mungkin dia menyukai donat semenjak kecil, tapi tidak menjelaskan pada mama karena kita tahu bahwa Anindya berpura-pura amnesia." Jennifer saat ini mengingat kejadian ketika melihat Anindya dengan lahap menikmati dua donat dengan rasa coklat dan keju.
Aaron yang saat ini merasa sangat lega karena berpikir bahwa ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk membawakan makanan kesukaan Anindya nanti malam.
"Terima kasih, Ma. Aku akan membelikan donat untuk Anindya," ucap Aaron yang saat ini berniat untuk mengakhiri panggilan. Namun, perkataan dari sang ibu membuatnya membulatkan mata.
"Mama akan ke Surabaya dan ingin bertemu dengan Anindya karena sangat merindukannya. Mama juga ragu kamu bisa mengambil hati Anindya, jadi akan membantumu. Kirimkan alamat rumah Anindya setelah mengetahuinya," seru Jennifer yang saat ini langsung mematikan sambungan telepon tanpa berniat untuk menunggu tanggapan dari putranya tersebut.
To be continued...