
Aaron yang saat ini berada di dalam taksi menuju ke rumah karena ia berniat untuk mengambil motor sport miliknya dan melakukan touring ke berbagai kota untuk menghilangkan stres hari ini karena perbuatan dari wanita yang paling dicintai.
Ia ingin menghilang dari semua orang yang mengetahui pernikahannya hari ini gagal karena ditinggalkan mempelai pengantin wanita. Kini, ia menatap ke arah sang supir yang saat ini mengemudi di antara kemacetan ibukota.
Apalagi mobil tidak bisa melaju dengan kencang karena kemacetan itu dan membuatnya tidak sabar untuk segera keluar dari hal yang paling membosankan tersebut.
"Aku berhenti di sini saja," ucap Aaron yang saat ini tengah menatap ke arah sang supir agar tidak melajukan kendaraan di antara kemacetan tersebut.
"Baik, Tuan," yang saat ini mengetahui bahwa penumpangnya tersebut bosan dengan kemacetan hari ini.
Aaron segera beranjak keluar dari taksi setelah membayar ongkos dan berjalan di antara kendaraan yang memenuhi jalan raya. Ia saat ini meraih ponsel yang ada di saku celana dan memesan ojek online karena berpikir lebih cepat daripada naik taksi.
"Kenapa aku tadi tidak naik ojek online saja. Dasar bodoh! Pantas saja kamu ditinggalkan oleh wanita sialan itu!" sarkas Aaron yang saat ini fokus memesan ojek online.
Kemudian menunggu selama beberapa menit dan ojek yang dipesannya datang, lalu langsung membelah kemacetan dengan mencari jalan pintas.
Selama dalam perjalanan menuju ke rumah yang saat ini sangat sepi karena semua orang berada di hotel, hingga beberapa saat kemudian ia tiba.
Aaron yang baru saja turun dari motor, mendapatkan tatapan aneh dari security yang berada di depan rumah dan membuatnya langsung berbicara dengan tegas dan penuh rasa kesal.
"Tuan Aaron, Anda sudah pulang?" tanya pria dengan seragam hitam yang sudah 5 tahun ini bekerja di rumah keluarga Jonathan menatap heran majikannya yang harusnya berada di hotel.
"Aku gagal menikah karena calon istriku kabur. Jika orang tuaku menelepon untuk bertanya, aku sudah berada di rumah dengan selamat dan tidak mengalami kecelakaan ataupun bunuh diri karena patah hati ditinggalkan wanita sialan itu!" sarkas Aaron yang saat ini langsung berjalan masuk setelah pintu gerbang terbuka.
Sementara itu, pria berusia 35 tahunan tersebut merasa sangat terkejut sekaligus iba melihat wajah muram dari sang majikan yang ternyata ditinggalkan oleh calon pengantin wanita.
'Kasihan sekali tuan Aaron. Bagaimana mungkin pria sempurna sepertinya ditinggalkan oleh wanita yang terlihat sangat mencintainya? Sebenarnya apa yang terjadi pada hubungan mereka yang selama ini terlihat baik-baik saja?'
Karena tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya, pria tersebut berniat menghubungi salah satu pelayan untuk bertanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
Di sisi lain, yaitu di dalam rumah keluarga besar Jonathan, saat ini terlihat Aaron tengah mengemas beberapa pakaian untuk ganti saat melakukan touring demi menenangkan diri.
Ia tidak tahu akan berapa lama pergi meninggalkan rumah dan semua hal yang mengingatkannya pada wanita yang telah kabur meninggalkannya tanpa pesan.
'Aku akan meninggalkan pesan untuk orang tuaku agar mereka tidak khawatir jika putra mereka bunuh diri karena patah hati. Rasanya aku sekarang ingin meninggalkan semuanya dan kota ini dengan tinggal di tempat baru.'
'Sayangnya aku tidak bisa melakukannya karena akan membuat orang tuaku khawatir. Papa, mama, maafkan aku karena telah mempermalukan keluarga gara-gara mencintai Jasmine,' lirih Aaron yang baru saja menyelesaikan packing pakaian dan langsung keluar dari ruangan kamarnya.
Ia tidak ingin bertemu dengan keluarganya saat terpuruk. Apalagi ia tidak tega melihat sang ibu yang tadi terpukul melihat kehancurannya. Kini, Aaron sudah berjalan menuruni anak tangga sambil membawa tas di punggungnya.
Tidak terlalu berat karena hanya ada beberapa lembar pakaian. Ia ingin menenangkan diri di tempat yang baru dan tujuannya adalah puncak. Ia ingin menginap di hotel yang sama dengan tempat berteduh bersama Anindya.
Saat naik ke motornya dan berniat untuk melajukan motornya keluar dari garasi, melihat security yang berjalan mendekat dan sudah menduga apa yang terjadi.
Pria berseragam hitam tersebut untuk menghalangi kepergian dari majikannya karena sudah mendapatkan ultimatum dari sang Tuhan besar untuk menghentikannya.
Sementara itu, Aaron yang saat ini ingin segera pergi agar tidak bertemu dengan orang tua dan siapapun yang dikenal, sebutkan perkataan dari pria yang berdiri tak jauh dari hadapannya.
Kemudian ia menyalakan mesin motor dan memanasi sebelum melaju meninggalkan rumah menuju ke puncak.
Ia berbicara dengan suara yang sangat keras agar security mendengarnya.
"Katakan saja pada orang tuaku bahwa aku tidak bisa dihentikan dan sudah pergi untuk menenangkan diri. Aku akan kembali setelah lebih baik." Kemudian Aaron menarik kopling serta menginjak pedal gas dan motornya kini berlalu pergi meninggalkan security yang berteriak dan mengejar untuk menghentikannya.
Namun, ia hanya melirik sekilas ke arah spion ketika security berlari mengejarnya dan tidak mungkin bisa menyusul kecepatan motor yang dikendarai sudah meninggalkan pintu gerbang.
'Dasar bodoh! Buat apa berlari hingga capek mengejarku jika sudah tahu hasilnya akan sia-sia karena tidak mungkin melawan kecepatan motor sport kesayanganku ini,' gumam Aaron yang saat ini makin menambah kecepatan membelah jalanan kota menuju ke daerah puncak.
Bahkan saat ini ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya setelah kehilangan wanita yang sangat dipercaya dan dicintai. Namun, satu hal yang pasti adalah ingin melupakan dan membenci Jasmine karena telah kabur dari pernikahan tanpa mengucapkan apapun padanya.
Bahkan saat ini iya tertawa terbahak-bahak ketika mengingat beberapa hari ini sering menelpon Jasmine dan tidak ada yang mencurigakan ketika berbicara di telepon.
Ia memang beberapa hari ini tidak bisa menemui Jasmine karena memang calon pengantin tidak boleh bertemu sebelum akad nikah.
'Jasmine ... Jasmine, kau benar-benar adalah seorang wanita yang luar biasa karena bisa berakting sebagus itu di depanku hingga sama sekali tidak mengetahui rencana besarmu ini. Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika kau akan kabur di hari pernikahan saat tidak ada masalah di antara kita.'
Aaron saat ini mencoba untuk mengingat apa kesalahan yang diperbuatnya pada Jasmine, sehingga sang kekasih memutuskan untuk kabur di hari pernikahan dan mempermalukannya sekaligus keluarga besarnya.
Namun, ia tidak menemukan apapun karena mengetahui bahwa hubungan mereka selama ini baik-baik saja. "Kau bahkan bersikap sangat manis akhir-akhir ini dan ternyata itu adalah akal licikmu untuk mengelabuiku."
"Ternyata aku hanyalah seorang pria bodoh yang mempercayai wanita sepertimu. Kau satu-satunya wanita yang membuatku merasa hanyalah menjadi sampah terbuang yang tidak pantas didekati." Aaron benar-benar tidak bisa berpikir jernih saat ini, semakin menambah kecepatan ketika melajukan kendaraan.
Bahkan ia seolah tidak takut nyawanya terancam jika sampai mengalami kecelakaan saat melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi.
"Jika aku mati, apakah kau puas melihatnya, Jasmine? Tapi aku tidak akan mati hanya demi wanita sialan sepertimu. Aku tidak akan membuat orang tuaku semakin menderita hanya karenamu." Aaron masih fokus menatap ke arah jalanan menuju ke puncak.
"Aku akan tetap hidup dan menjalani semuanya seperti biasa setelah menenangkan diri selama beberapa hari," ucap Aaron yang saat ini tidak memikirkan apapun selain menghilang dari hadapan semua orang selama beberapa hari ke depan.
"Pa, Ma, biarkan aku hidup tenang selama beberapa hari ini dan jangan khawatirkan putramu karena aku akan baik-baik saja dan kembali setelah siap menghadapi semuanya." Aaron kini sudah memasuki area menuju ke puncak dan fokus melajukan kendaraan.
Ia ingin menghirup udara segar yang tidak tercemar oleh polusi seperti di daerah kota yang selalu macet. Berharap dengan begitu, perasaannya akan jauh lebih tenang dan tidak terpuruk karena memikirkan Jasmine yang telah mengkhianati kepercayaannya.
To be continued...