
"Ayank?" Erick yang tadinya tengah duduk-duduk di sofa yang ada di ruangan perawatan terbaik di salah satu rumah sakit terbesar di kota Surabaya, seketika membulatkan mata karena sangat terkejut melihat gadis yang tadi mengusirnya dari rumah telah datang.
Ia melirik ke arah paper bag berukuran besar yang ditenteng oleh tangan kanan gadis itu dan berpikir jika itu adalah untuk untuknya.
Hingga ia pun kini seketika tersenyum begitu apa yang dipikirkan benar setelah mendengar Zea berbicara.
"Ini untuk makan jika lapar. Kenapa tidak menginap di hotel saja? Apa kau tengah menjiplak perbuatan Aaron?" Khayra saat ini meletakkan paper bag berisi 3 kotak makanan yang terpisah antara nasi sayuran lauk pauk serta buah yang sudah dipotong-potong itu di atas meja.
Meskipun ia tadi marah dan mengusir Erick yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar, kini bisa melihat jika raut wajah pria itu seketika berbinar. Berbanding balik dengan yang tadi terlihat saat berada di rumah karena sangat murung setelah ia cuekin.
"Issh ... Mana ada aku menjiplak Aaron. Aku memang berniat untuk menjenguk kakekmu. Jadi, sekalian di sini saja daripada menginap di hotel karena malas bolak-balik. Lagipula ruangan perawatan kakekmu sudah seperti hotel karena memiliki fasilitas lengkap."
"Jadi, bisa menganggap jika aku saat ini tengah menginap gratis di sini. Terima kasih karena masih peduli padaku dengan membawakan makanan." Erick tidak mau membahas tentang kesalahan yang tadi karena takut jika gadis itu kembali bersikap dingin padanya.
Bahkan merasa sangat aneh melihat gadis itu pertama kali bersikap seperti itu. Jadi, sengaja memilih aman tanpa membahas lagi. Apakah sudah memaafkan atau belum, tidak dipikirkan karena yang penting saat ini sudah mendapatkan perhatian.
Khayra saat ini berjalan mendekati sang kakek tanpa berniat untuk menanggapi Erick karena tidak keberatan jika pria itu berada di sana. "Terima kasih."
Ia berbicara tanpa menatap ke arah Erick karena sudah mendaratkan tubuhnya di dekat sang kakek dan mencium punggung tangan serta kening.
"Aku datang, Kek. Bagaimana kabar Kakek sekarang? Apa Kakek sama sekali tidak merindukanku dan Kenzie? Kapan Kakek bangun? Rumah bahkan terasa sangat sepi tanpa kehadiran Kakek." Ia yang saat ini memegang erat telapak tangan yang sudah terlihat keriput tersebut, tidak berkedip menatap intens sang kakek yang masih betah memejamkan mata.
Jika biasanya ia selalu menangis jika berada di hadapan sang kakek dan berharap pria paruh baya tersebut mendengar dan merasa iba padanya, sehingga bangun dari koma.
Namun, yang terjadi tidaklah demikian karena sampai sekarang belum ada perkembangan signifikan dan membuatnya merasa bingung. Apakah harus membawa sang kakek ke luar negeri untuk berobat atau tetap di sana.
Bukan masalah uang yang menjadi kendala, tapi ia tidak akan bisa setiap hari melihat sang kakek jika dibawa ke luar negeri. Jadi, masih bimbang harus bagaimana dan rencananya adalah ingin berkonsultasi dengan dokter serta orang-orang terdekat untuk memberikannya saran terbaik.
"Apa perlu aku membawa kakek berobat di luar negeri agar bisa segera sembuh? Jika satu bulan lagi tidak ada perkembangan, apakah lebih baik pindah rumah sakit saja?" Khayra yang saat ini masih tidak mengalihkan perhatiannya, kini merasakan sesak di dada.
Dulu, harapannya sangat besar untuk sang kakek sembuh dari penyakit kronis yang diderita. Ia makan sama sekali tidak menyangka jika ternyata pupus dan membuatnya dilanda kekhawatiran setiap hari.
Ia setiap hari tidak pernah bisa tidur nyenyak karena takut jika mendapatkan kabar buruk dari rumah sakit kawasan kakek mengembuskan napas terakhir. Apalagi selama ini sudah melihat kematian orang-orang yang disayangi dan selalu meninggalkan luka mendalam di hatinya.
Apalagi ketika sang ayah yang pergi saat ia masih berada di sekolah. Kini, Khayra menaruh punggung tangan sang kakek di pipinya dan beberapa kali menggerakkannya.
"Aku besok pergi ke New York, Kek. Aku akan berusaha menaklukkan hati wanita itu agar mau menanamkan modal di perusahaan kita. Aku akan membuktikan bahwa pantas menjadi cucumu." Saat ia mengingat sesuatu, ini bergerak menoleh ke arah pria yang masih diam di atas sofa.
Jam berapa kamu besok berangkat ke bandara? Biar diantarkan oleh sopir. Aku besok sudah berangkat pagi hari, jadi akan mengatakannya sekarang pada sopir agar mengingat-ingat untuk mengantarkanmu." Ia mengerutkan kening karena melihat raut wajah Erick yang tadinya berbinar, kini berubah masam.
Tadinya ia hanya ingin diam melihat Zea berbicara dengan sang kakek, tapi saat membahas masalah New York, seketika mengingat pesan yang dikirimkan oleh Aaron.
Ia saat ini merasa sangat kesal membayangkan jika besok gadis yang disukainya tersebut akan bertemu dengan pria yang sangat dibencinya. 'Apa Zea tahu akan bertemu dengan Aaron di New York? Tapi kenapa terlihat sangat datar wajahnya?'
Erick yang saat ini masih memikirkan kemungkinan yang ada di otaknya, bingung untuk mencari tahu. Hingga suara Zea berhasil membuyarkan lamunannya.
"Erick, kenapa diem? Apa yang saat ini kamu pikirkan?"
"Aku sedang memikirkan Aaron karena kamu tadi membahasnya." Erick sengaja memancing untuk mencari tahu apakah gadis itu akan masuk dalam jebakan.
Namun, usahanya sia-sia dan sangat yakin jika Zea sama sekali tidak tahu apapun.
"Itu karena kamu memutuskan untuk menginap di sini seperti yang dilakukannya. Sudah, jangan membahasnya. Lebih baik kamu makan itu karena cukup untuk makan siang serta malam. Sayur serta lauknya aku sendiri kan, jadi tidak basi." Khayra kini beralih menggeser tubuhnya untuk kembali menatap sang kakek.
Ia kini merapalkan doa sebisanya untuk kesembuhan pria paruh baya yang sangat disayanginya tersebut dan menjadi satu-satunya keluarga yang tersisa.
Di sisi yang berbeda, Erick masih terdiam dan keyakinannya makin besar setelah melihat respon gadis itu. 'Sepertinya benar. Zea sama sekali tidak tahu jika Aaron besok juga pergi ke New York. Apa lebih baik aku kasih tahu saja sekarang agar dia waspada dan berhati-hati pada pria mesum itu?'
Semenjak mengetahui jika Aaron telah memperkosa Zea hingga berakhir hamil, selalu menyebut dengan julukan itu. Ia merasa kesal ketika tadi dibandingkan dengan Aaron yang bahkan memaksa Zea untuk melayani ketika mabuk.
Hingga ia pun berpikir jika saat ini ingin membalas dendam dengan memberitahukan rahasia itu. Namun, sebelum melakukannya, ia menikmati makanan yang dibawa Zea karena mengetahui jika gadis itu tengah sibuk merapat doa untuk sang kakek.
Selama ia makan, sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya dari gadis yang cukup lama tidak bergerak sama sekali. Seolah larut dalam doa yang dipanjatkan untuk pria paruh baya yang masih betah memejamkan mata.
Ia menyuapkan satu sendok ke dalam mulutnya dan merasa sangat bersyukur bisa menikmati makanan yang sangat lezat.
Hingga setengah jam telah berlalu dan Erick yang sudah kekenyangan, kini menatap ke arah cucu dan kakek tersebut. Ia masih bersabar untuk menyampaikan apa yang diketahuinya dan juga ingin melihat seperti apa ekspresi wajah gadis itu.
Hingga beberapa saat kemudian melihat pergerakan Zea dan mulai bersiap untuk membuka pembicaraan untuk membahas tentang Aaron yang ternyata juga akan pergi ke New York.
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu?"
Khayra yang baru saja mengusap telapak tangan pada wajahnya, kini menoleh pada Erick, sama sekali tidak membuka suara karena ingin mendengar langsung.
"Aku tadi mendapatkan pesan dari Aaron."
Namun, ia sangat terkejut ketika mendengar lanjutannya.
"Aku membahasnya karena ingin kamu tahu bahwa dia besok juga akan pergi ke New York. Pasti dia sudah merencanakannya. Bukankah pria mesum itu sangat licik?" sarkas Erick yang saat ini sangat kesal membayangkan jika gadis yang disukai akan berduaan dengan pria yang berhasil membuatnya melahirkan seorang anak.
'Aku sangat takut jika kamu pulang-pulang dari New York malah hamil lagi gara-gara diperkosa lagi oleh Aaron. Pria itu sangat licik dan kamu pasti tidak bisa melawannya,' gumam Erick di dalam hati karena tidak mungkin mengatakan hal itu secara langsung di depan Zea.
Berpikir jika akan mendapatkan pukulan ataupun hukuman yang lain jika sampai gadis itu mengetahui pikiran buruknya.
Berbeda dengan Zea saat ini yang seketika membulatkan mata karena kembali merasa terkejut dengan kenyataan yang dialami berkali-kali.
"Apa? Dia juga akan pergi ke New York besok? Apa dia sendiri yang mengatakannya padamu? Mungkin saja dia hanya mengerjaimu semata untuk membuatmu kesal." Ia masih mencoba untuk berpikir positif agar tidak terbawa rasa kesal dengan kabar yang belum tentu benar.
Saat ini mengingat tentang kelakuan dari ibunya Aaron ketika tadi bertanya mengenai di mana hotel tempat menginap. Padahal jika dipikir-pikir, itu tidak perlu ditanyakan karena masih belum tiba di New York.
'Apa mama menanyakan itu karena ingin memberitahu pada Aaron di mana aku menginap? Jika benar, besar kemungkinan jika pria itu juga menginap di hotel yang sama denganku besok,' lirih Khayra yang saat ini sibuk bertanya-tanya tentang kebenaran dari apa yang baru saja didengar olehnya.
Erick seketika bangkit berdiri dan berjalan mendekat karena ingin menunjukkan pesan yang dikirimkan oleh Aaron padanya tadi saat dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.
"Kalau kamu tidak percaya pada kata-kataku, lihat saja sendiri jika aku tidak berbohong." Kemudian menyerahkan ponsel miliknya dan berharap bisa segera dilihat oleh Anindya.
Saat membaca pesan dari Aaron pada Erick yang percaya diri mengatakan akan ke New York dan bertemu dengannya, entah mengapa ada perasaan aneh yang dirasakan saat ini.
Seolah hanya dengan membaca pesan tersebut, bisa melihat raut wajah Aron yang bahagia karena bisa bertemu dengannya di New York.
Hingga diam-diam hatinya bergetar karena tidak dipungkiri merasa senang dan ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh pria itu padanya saat bertemu di New York sebagai saingan bisnis.
'Sepertinya dia merasa sangat senang bisa bertemu denganku di sana sebagai saingan bisnis. Apakah ia berencana untuk melawanku memperebutkan investor itu? Ataukah mengikhlaskannya tanpa berusaha karena ingin mendapatkan perhatianku?'
Ia disibukkan dengan berbagai macam pertanyaan yang menari-nari di otaknya dan tentu saja tidak bisa menemukan jawaban sebelum mengalaminya sendiri.
Hingga suara bariton Erick membuyarkan lamunannya ketika membayangkan jika besok akan bertemu dengan pria yang pernah sangat dicintainya.
"Ayank, benar kan apa kataku jika Aaron adalah pria yang licik? Aku takut jika kamu tergoda dengan rayuan pria mesum itu. Lalu, aku bagaimana?" Wajah memelas ditujukan oleh Erick.
Seolah ia menjadi seorang pengemis cinta di hadapan gadis yang sudah lama disukai. Ia ingin sekali memberikan pesan macam-macam agar gadis itu melindungi diri dan tidak terpengaruh pada apapun yang dilakukan oleh Aaron.
Akan tetapi, malah merasa khawatir jika dianggap meremehkan seorang Zea yang selama ini berjuang sendiri tanpa Aaron. Jadi, hanya bisa meratapi nasib yang malang karena harus mengetahui hal itu.
'Mungkin jika aku tidak datang ke sini, mana mungkin akan mengetahui kabar buruk ini. Harusnya aku tidak datang ke Surabaya, agar hidupku tenang dan tidak dipenuhi oleh pikiran negatif,' gumam Erick yang masih diam menunggu respon dari gadis yang juga terlihat bingung dan melamun.
Saat tidak ingin dianggap sebagai seorang wanita lemah kini Khayra seketika bangkit berdiri dan menepuk bahu kekar Erick.
"Aku harus pergi sekarang. Tolong jaga kakekku. Mengenai masalah pria itu, aku sama sekali tidak memperdulikannya karena tujuanku datang ke New York adalah untuk bekerja, bukan sekedar liburan." Kemudian ia melepaskan tangannya yang seolah memberikan suntikan semangat agar pria itu tidak negatif thinking padanya.
Meskipun sebenarnya di dalam hati juga tidak yakin apakah bisa melakukan seperti apa yang baru saja diungkapkan pada Erick.
"Ayank, kenapa buru-buru pergi, sih! Aku kan belum selesai berbicara denganmu?" teriak Erick yang saat ini merasa lemas tubuhnya seperti kehilangan tenaga begitu melihat respon dari Zea yang seolah menghindar atas pertanyaannya.
"Jangan sampai ketakutan yang kurasakan benar-benar terjadi." Ia takkan saat ini sudah mengacak frustasi rambutnya untuk meluapkan perasaan membuncah yang dirasakannya.
Mungkin jika ia adalah seorang anak kecil, sudah merengek dengan berguling-guling di lantai untuk menghentikan gadis yang baru saja menghilang di balik pintu.
Namun, tidak mungkin melakukannya karena merasa malu pada diri sendiri jika sampai seperti itu. "Sial! Rasanya aku seperti melepas peliharaan kesayanganku ke kandang singa dan tidak mungkin bisa keluar dari cengkraman raja hutan itu."
Erick yang merasa kehilangan daya, kini segera berjalan ke arah sofa agar bisa mengempaskan tubuhnya di sana sebelum terjatuh ke lantai karena seperti tenaganya terkuras habis memikirkan nasibnya.
"Nasib ... nasib. Kenapa aku hari ini merasa sangat apes. Mulai dari kekesalan Zea dan Aaron yang juga datang ke New York dan bisa berduaan. Aaaah ... menyebalkan sekali!" teriak Erick yang saat ini tengah merasa lemas hingga menjatuhkan tubuhnya dengan berbaring di sofa.
Sementara itu di luar ruangan perawatan, Khayra yang baru saja berjalan menuju ke arah lift, terlihat senyum-senyum sendiri ketika mengetahui jika Aaron datang ke New York.
Ia bahkan sudah membayangkan akan kembali dilamar oleh pria itu di tempat romantis dengan suasana yang spesial. Bahkan menganggap dirinya seperti tokoh utama wanita yang ada di televisi.
"Kira-kira apa yang akan dilakukannya saat pertama kali bertemu denganku di New York? Sepertinya aku berpura-pura saja tidak tahu apapun jika dia juga berada di sana. Apalagi pasti menginap di hotel yang sama denganku karena mama bertanya." Saat berada di dalam lift yang membawanya ke lobby Rumah Sakit, seolah ia ingin segera melaju ke waktu besok.
Merasa jika waktu terasa lambat hari ini dan membuatnya ingin segera berada di New York. Hingga ia menyadari sikap konyol yang dilakukan saat beberapa orang yang melihatnya seperti berbisik-bisik ketika menatapnya.
Refleks ia tersadar dari kebodohannya dan saat ini bersikap seperti biasa dan berusaha untuk tidak tersenyum seperti orang gila.
'Kenapa aku jadi seperti ini, sih? Malah berjalan dengan senyum-senyum sendiri seperti orang gila saja.'
'Pantas saja yang melihatku merasa aneh,' gumamnya dan langsung masuk ke dalam mobil yang dikomunikasikannya sendiri karena hari ini memang tidak memakai supir setelah mengetahui pria paruh baya tersebut tiba-tiba sakit perut dan sakit bolak-balik ke kamar mandi.
To be continued...