Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Bertelanjang dada



Ini adalah hari Minggu dan terlihat para pelayan di rumah mewah keluarga Jonathan sibuk dengan tugasnya masing-masing saat para penghuni rumah masih larut dalam alam bawah sadar karena cuaca di luar diliputi gemericik suara air hujan.


Apalagi dinginnya udara yang menusuk tulang di pagi hari ini sangat nyaman untuk bersembunyi di balik selimut tebal yang ada di ruangan kamar masing-masing.


Seperti yang dilakukan oleh Aaron saat ini terlihat masih tidur pulas di atas tempat tidur dengan selimut tebal yang melindungi tubuhnya.


Sementara di jarak satu ruangan, terlihat sosok gadis yang tak lain adalah Zea tengah berdiri di dekat jendela kaca sambil melihat tetesan air hujan yang jatuh membasahi bumi di pagi hari ini.


Apalagi suara gemericik hujan dianggap nyanyian paling merdu yang menembus gendang telinganya karena seolah mengingatkannya tentang sesuatu yang lama tidak dia lakukan.


Dulu, ia sering main hujan dengan ayahnya setelah sang ibu meninggal. Awalnya, ia selalu bersedih dan sering menangis di dalam kamar karena mengingat kepergian sang ibu saat usianya masih belia.


Hingga pada suatu hari, sang ayah yang baru pulang kerja, berteriak memanggilnya karena tubuhnya basah kuyup, sehingga tidak mau masuk ke dalam rumah melalui pintu depan.


Zea saat itu mendengar suara sang ayah, langsung keluar dari kamar dan berniat untuk bertanya kenapa pria paruh baya yang disayanginya tersebut tidak cepat masuk ke dalam rumah.


Namun, belum sempat ia bertanya, tangannya sudah ditarik oleh sang ayah dan main hujan-hujanan bersama seperti anak kecil. Awalnya ia sangat terkejut dengan perbuatan sang ayah yang mengajaknya hujan-hujanan.


Padahal biasanya ia dilarang atau dimarahi saat pulang dalam keadaan basah kuyup dan selalu disuruh menunggu sampai hujan reda. Namun, saat itu berbeda karena ayahnya yang belum menikah lagi tersebut benar-benar mengajaknya bercanda tawa di bawah guyuran air hujan.


Meskipun hanya hujan-hujanan di depan rumah serta samping bagian kiri, ia di saat itu merasa sangat bahagia karena mendapatkan perhatian dari sang ayah yang mengatakan sangat menyayanginya.


Bahkan menghiburnya agar tidak tidak terus-menerus bersedih saat memikirkan sang ibu yang telah meninggal. Bahwa semuanya sudah menjadi takdir Tuhan dan tidak perlu disesali.


Namun, harus selalu mendoakan sang ibu yang sudah bahagia di surga dan tidak bersedih terlalu berlebihan karena itu akan membuat susah almarhumah yang telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.


Semenjak saat itu, Zea sering main hujan-hujanan karena menganggap bisa membuatnya terlepas dari kesedihan. Seolah ingin memperlihatkan wajahnya yang ceria pada sang ibu yang sudah meninggal.


Ia selalu ceria saat main hujan-hujanan dan berharap dari atas sana bisa dilihat oleh wanita yang telah melahirkannya.


Kini, Zea membuka pintu yang terhubung dengan balkon agar bisa merasakan rintik hujan di telapak tangannya. Karena tidak mungkin ia main hujan-hujanan di pagi hari ini saat tubuhnya belum pulih sepenuhnya.


Apalagi saat ini berada di rumah keluarga besar Jonathan yang sangat baik hati dan tidak ingin membuat ulah untuk mempermalukan keluarga dengan dipenuhi orang-orang yang baik tersebut.


Zea melangkahkan kaki telanjangnya menuju ke arah balkon dan menatap ke arah pepohonan serta rumput-rumput yang sudah basah.


Bahkan ia kemudian membuka telapak tangannya untuk merasakan dinginnya air hujan yang menyirami bumi dan membuat semua penghuni rumah merasakan hawa dingin yang menusuk tulang.


Ia saat ini memakai sweater tebal karena memang cuaca hari ini sangat dingin. Hingga tangannya yang tadinya kering, kini sudah dipenuhi oleh air yang turun dari langit.


"Papa, mama, kalian bisa melihatku masih baik-baik saja di sini, kan? Kalian tidak perlu mengkhawatirkan aku karena sampai saat ini masih sehat dan rencana jahat wanita itu tidak terjadi."


"Jika dua wanita jahat itu tidak dihukum di dunia, aku yakin di akhirat nanti akan mendapatkan balasan dari perbuatan jahatnya padaku." Zea masih tidak berkedip menatap telapak tangannya yang sudah basah oleh air hujan.


Ia sebenarnya merasa kedinginan berada di balkon sambil melihat hujan yang cukup deras. Namun, ia merasa bahagia jika melihat hujan karena selalu mengingat sang ayah yang dulu mengajaknya main hujan-hujanan dengan penuh canda tawa.


"Ini adalah hari Minggu dan semua orang pasti akan berada di rumah. Aku tidak ingin terus berada di kamar. Aku hari ini ingin berinteraksi dengan para penghuni rumah ini agar bisa bekerja dengan baik setelah nanti sehat. sepenuhnya."


Zea mengembuskan napas kasar karena memikirkan rencananya. "Semoga tuan dan nyonya tidak melarangku untuk membantu para pelayan di sini. Aku akan bosan jika hanya menjadi beban di rumah ini dengan tidak melakukan apa-apa."


Saat Zea baru saja menutup mulut, ia mendengar suara ketukan pintu dan membuatnya menolehkan kepala. Saat berniat untuk memeriksa siapa yang datang, apakah itu nyonya rumah atau pelayan, kini ia mendengar suara yang sangat dihafalnya.


"Anindya!" teriak Jenny yang tadinya melangkah masuk setelah menjedanya beberapa saat karena ingin membuat Anindya tidak terkejut atas kedatangannya.


Begitu tidak melihat gadis yang dicarinya di atas ranjang, Jenny berpikir jika Anindya berada di dalam kamar mandi, tapi pertanyaannya terjawab sudah begitu melihat siluet yang keluar dari pintu balkon.


"Ya, Nyonya Jenny." Zea segera menutup pintu karena tidak ingin dinginnya cuaca hari ini masuk ke dalam ruangan kamar.


"Nah, benar kan? Kamu terlihat kedinginan." Langsung mengambil selimut dan berniat untuk melindungi tubuh kurus Anindya agar tidak kedinginan.


"Aku tidak apa-apa, Nyonya. Hanya saja, saat masuk tadi memang angin yang berhembus berhasil menembus tebalnya sweater ini." Anindya berniat untuk menolak apa yang dilakukan oleh wanita yang masih terlihat sangat cantik itu.


Namun, ia tidak bisa melakukannya karena saat ini tubuhnya sudah terlanjur ditutupi oleh selimut tebal begitu mendaratkan pantatnya di atas ranjang.


"Terima kasih, Nyonya. Anda sangat baik dan membuatku mengingat tentang mama yang sudah meninggal. Mamaku dulu juga sangat perhatian padaku. Bahkan bisa dibilang sangat over protektif ketika menjagaku agar tidak sakit."


Zea selalu mengingat kata-kata sang ibu yang membuatnya selalu berurai air mata. 'Jangan sakit, Sayang. Lebih baik Mama saja yang sakit daripada melihatmu sakit.'


Meskipun kalimat itu sering diungkapkan oleh para ibu untuk anak-anaknya, tetap saja merasa bahwa perkataan itu sangat mewakili kasih sayang wanita yang telah melahirkannya ke dunia.


Zea kini mendongak menatap ke arah wanita yang tersenyum ke arahnya ketika membicarakan sang ibu yang sudah meninggal.


"Aku baik-baik saja dan sekarang merasa sudah jauh lebih sehat karena tidak pusing lagi seperti kemarin, Nyonya."


"Syukurlah," sahut Jenny yang saat ini memikirkan sesuatu. "Kamu pasti merasa bosan berada di dalam kamar dari kemarin. Bagaimana kalau kita turun untuk minum sesuatu yang hangat sambil menikmati kudapan?"


Hal yang dari dulu diimpikan oleh Jenny adalah bisa bersantai dengan anak perempuan sambil menikmati kopi ataupun susu hangat di teras atau di taman sambil membahas sesuatu.


Ia memiliki harapan menjadi sosok ibu yang baik sekaligus bisa dijadikan teman berkeluh kesah oleh putrinya, tapi itu hanyalah angan semu karena hanya memiliki satu anak laki-laki.


Sementara itu, Zea yang memang merasa bosan dan berniat untuk turun, seketika menganggukkan kepala dan tersenyum untuk mengiyakan ajakan dari samping rumah yang dianggapnya sebagai malaikat penyelamat.


"Iya, Nyonya. Aku pun sangat bosan hanya diam di dalam kamar seperti ini," sahut Zea yang saat ini segera bangkit dari ranjang dan berniat untuk merapikan selimut di atas tempat tidur.


Refleks Jenny yang tidak ingin melihat Anindya kecapean karena belum pulih sepenuhnya, seketika menahan tangan gadis itu. "Biarkan saja para pelayan yang menyelesaikan tugas untuk membereskan kamar."


"Ayo, kita keluar sekarang. Aku sangat yakin jika suamiku sudah berada di bawah karena tadi mengatakan ingin minum kopi di teras depan." Jenny saat ini melingkarkan tangannya pada pundak gadis mungil itu dan mengajaknya berjalan keluar.


Zea terlihat sangat patuh, membiarkan wanita itu berbuat sesuka hati. Hingga ia pun mengerutkan kening karena langkah kaki terhenti di depan sebuah kamar.


"Ada apa, Nyonya?"


"Sebentar, aku ingin Aaron juga ikut bersama kita. Rasanya pasti sangat menyenangkan mengganggu tidur nyenyaknya di cuaca dingin yang membuat semua orang malas." Jenny saat ini mengetuk pintu dan menunggu hingga putranya menjawab.


"Sayang, Bangun! Sudah jam sembilan!" Bahkan ia beberapa kali menggedor pintu beberapa kali agar putranya segera bangun dan membuka pintu.


Tanpa memperdulikan jika nanti putranya pasti akan marah karena ini masih pukul tujuh. Hanya saja, cuaca masih cukup gelap karena efek mendung ketika hujan.


Sedangkan Zea saat ini hanya berdiri terpaku di belakang wanita cantik dengan kulit putih yang masih menggunakan jubah tidur satin yang sangat indah itu.


'Kenapa nyonya harus mengajak tuan Aaron yang sangat arogan itu, sih? Ia pasti akan kembali mengejekku atau marah seperti kemarin,' gumam Zea yang saat ini merasa sangat gugup jika berhadapan dengan pria yang membuatnya melakukan kesalahan serta dipecat di restoran.


Ia merasa sangat tenang sekaligus lega karena pria itu tidak mengingatnya meski sempat berkata pernah melihatnya.


Hingga ia seketika membulatkan mata begitu melihat pria yang membuatnya gugup itu membuka pintu dengan bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana boxer.


Bahkan terlihat sangat-sangat berantakan dan muka bantal khas bangun tidur itu. Refleks Zea memalingkan wajah karena tidak ingin melihat pemandangan yang berhasil menodai matanya yang masih perawan.


'Astaga! Tuan Aaron tidak tahu malu membuka pintu tanpa memakai baju. Bahkan aku yang melihatnya saja merasa sangat malu, tapi yang bersangkutan malah sama sekali malu,' gumam Zea yang saat ini sudah memunggungi pria yang baru bangun tidur tersebut memperlihatkan tubuh sixpack dengan otot-otot perut yang kencang.


To be continued...