Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Siapa kamu



Candra Kusuma yang saat ini masih memegang erat telapak tangan dari cucunya, menatap dengan penuh permohonan dan berharap apa yang diharapkannya dipenuhi karena hanya itu satu-satunya yang diinginkan saat ini.


"Ikutlah pulang bersama Kakek ke Surabaya, Cucuku. Rumah di sana sangat menantikan kehadiranmu karena selama ini seperti mati dan tidak ada nyawa di sana saat Kakek tinggal sendirian." Candra Kusuma akan berkaca-kaca ketika berbicara penuh penyesalan saat mengingat dulu mengusir putrinya tanpa belas kasih.


"Dulu Kakek sangat percaya diri karena berpikir bahwa ibumu akan kembali karena tidak kuat hidup miskin bersama dengan ayahmu. Kakek pikir akan langsung menerima jika ibumu kembali ke rumah, ternyata Kakek dikalahkan oleh ayahmu."


"Bahwa kekayaan yang melimpah dengan mudahnya dikalahkan cinta tulus dari seorang pria sederhana seperti ayahmu." Candra Kusuma benar-benar merasa sangat bersalah sekaligus berdosa ketika menatap wajah yang selalu mengingatkannya pada putrinya yang dulu diusir dari rumah.


Ia bahkan sampai sekarang tidak bisa melupakan ekspresi wajah percaya diri saat putrinya memutuskan meninggalkan rumah tanpa menoleh lagi ke belakang untuk sekedar menatapnya.


"Ibumu saat itu sangat percaya diri dan seolah ingin membuktikan pada Kakek jika pemikiranku salah. Bahwa ia akan selalu hidup bahagia bersama dengan pria yang dicintainya dan benar-benar membuktikan jika pilihannya tidak salah karena bertahan sampai akhir hingga berakhir meninggal." Ia sama sekali tidak menyangka jika akan didahului oleh putrinya.


Hingga ia hidup menderita karena kesepian dan menyadari jika Itu adalah sebuah hal yang sangat menyiksa karena tidak ada siapapun yang berada di sisinya. Bahwa kekayaan melimpah yang dimiliki sama sekali tidak berarti saat kesepian hidup di dunia sendirian tanpa ada siapapun yang menemani.


Zea yang dari tadi terdiam mendengar semua cerita dari sang kakek tentang sang ibu yang sangat disayangi, merasa sangat bangga pada wanita yang telah melahirkannya karena berhasil merobohkan sikap arogan dari sang kakek yang sangat egois karena hanya mementingkan harta semata.


"Kenapa Anda bisa lebih mementingkan harta daripada putri sendiri? Aku tahu bahwa penyesalan selalu datang di akhir dan sama sekali tidak berguna, apa Anda lama sekali sadar? Semua itu tidak berarti karena mama telah meninggal dan ayah juga menyusulnya." Zea berbicara dengan suara serak karena menahan agar tidak ikut menangis ketika membayangkan orang tua yang telah meninggalkannya.


Ia hanya sendirian di dunia ini dan tidak punya sanak saudara lagi ataupun kerabat yang bisa diandalkan. Namun, datang tiba-tiba dari pria yang merupakan kakeknya tersebut membuatnya seolah merasa jika orang tuanya ingin menunjukkan bahwa ia tidak sedang sendirian.


Bahwa seorang kakek yang menyayangi cucunya dan berharap bisa mencurahkan kasih sayang padanya. Kini, ia kembali mendengar pengakuan yang menyayat hati dan membuatnya merasa bersalah.


"Kakek sudah berusaha untuk mencari kalian, tapi tidak berhasil menemukan info apapun karena kakek dan nenekmu menyembunyikan keberadaan orang tuamu di Jakarta. Mereka yang mengetahui bahwa hubungan putranya tidak kurestui, merasa dendam padaku. Sepertinya mereka sangat takut jika aku memisahkan mereka yang saling mencintai."


Saat mengingat ketika di masa lalu mendapatkan ancaman dari orang tua menantunya, ia ingin cucunya mengerti bahwa dulu juga sudah berusaha untuk mencari keberadaan dari putrinya. Namun, saat menemukan, semua sudah terlambat karena putrinya telah meninggal.


"Cucuku, izinkan kakek menebus semuanya dan memberikan semua yang terbaik untukmu. Kamu tahu, semua aset yang dimiliki Kakek akan kamu miliki karena hanya kamu yang berhak mendapatkan semuanya." Ia masih menatap intens wajah mungil dan imut cucunya yang sangat diharapkan mau menerimanya dengan memaafkan.


Hingga poin terakhir yang diungkapkan adalah sebuah harapan agar cucunya kelak meneruskan jejak perjuangannya saat ia sudah meninggal nanti.


"Bagaimana, Cucuku? Apakah kamu mau ikut bersama Kakek ke Surabaya?" tanya Candra Kusuma yang berharap keluh kesahnya bisa diterima dan mendapat sebuah apresiasi dari cucunya, untuk ikut bersamanya pulang ke Surabaya yang merupakan tanah kelahiran dari sang ibu.


Sementara itu, Zea yang masih merasa bingung harus ikut atau tetap tinggal di sana meskipun sudah mengetahui jika kakeknya memiliki penyakit kronis. Ia kini melepaskan tangannya yang dari tadi digenggam oleh sang kakek.


"Aku butuh waktu untuk berpikir. Berikan aku waktu sejenak untuk berpikir." Kemudian Zea sakit berdiri dari sofa dan berjalan meninggalkan pria paruh baya tersebut menuju ke arah ruangan kamarnya.


Selama di dalam ruangan pribadinya tersebut, Zea berjalan mondar-mandir karena kebingungan untuk mengambil keputusan. Hingga ia pun kini berpikir bahwa keputusannya harus dipikirkan matang-matang karena ini menyangkut dengan nyawa pria paruh baya itu serta kebahagiaan yang.


Karena tidak ingin menyesal dengan keputusannya, Zea kini berjalan menuju ke arah ranjang dan mengambil ponsel miliknya di atas nakas. Ia ingin mencari semua informasi mengenai penyakit kanker hati agar bisa tahu seperti apa yang dirasakan oleh sang kakek saat ini.


Cukup lama ia membaca perihal penyakit kanker hati stadium akhir yang diderita oleh sang kakek. Bahkan bisa melihat jika beberapa gejala kanker hati stadium akhir terdapat pada sang kakek.


Tadi ia melihat sekilas sang kakek memegangi perut. Itu karena terjadi Pembengkakan perut dan kehilangan nafsu makan karena selalu merasa kenyang setelah makan hanya sedikit. Itulah kenapa memberikan donat padanya karena memang tidak bisa makan banyak.


"Jika benar laporan kesehatan dari kakek, berarti akan ada cairan di perut dan menguningnya kulit serta bagian putih mata. Bahkan akan mual karena efek pembesaran hati. Yang paling buruk adalah muntah nyeri di tulang belikat kanan dan pembesaran limpa serta penurunan berat badan."


Zea kini bangkit berdiri dari ranjang karena tidak kuat membaca artikel mengenai penyakit hati yang bisa menyebabkan kematian. Apalagi jika sudah berada di stadium 4, kemungkinan hidup hanyalah sekitar 5 sampai 11 bulan saja.


Meskipun semua sudah ditakdirkan oleh Tuhan, tapi ia tidak ingin berpangku tangan dan berniat untuk membuat sang kakek berobat ke rumah sakit terkenal agar bisa sembuh. Bahwa saat ini ia memiliki keyakinan jika Tuhan tidak akan mengubah nasib dari hambanya yang tidak mau berusaha.


"Kalau perlu, aku akan membawa kakek berobat ke luar negeri Karena seperti yang dikatakan jika ia memiliki uang banyak, untuk berobat daripada pasrah menunggu kematian."


Zea saat ini sudah bertekad bulat untuk merawat sang kakek agar bisa berumur panjang dan menjadi cucu yang baik serta mendapatkan kasih sayang dari pria paruh baya itu yang belum pernah didapatkan.


Ia pun kini mengambil tas besar yang tadi dibeli dengan Erik dan membuatnya seperti mempunyai feeling akan pergi jauh dengan membawa semua pakaiannya.


"Jadi, ini alasanku untuk membeli tas besar ini? Bahkan tadi Erick mendukungku untuk membelinya agar tidak kesulitan jika sewaktu-waktu pindah karena membutuhkan tas besar untuk membawa barang-barang yang mayoritas pakaian.


Ia memang keluar dari rumah keluarga Jonathan tidak membawa satupun pakaian agar tidak ketahuan, tapi begitu tiba di Jogja, langsung membeli untuk pakaian ganti dan hari ini dibelikan cukup banyak oleh Erick.


Zea memasukkan pakaiannya ke dalam tas besar karena ingin secepatnya bisa membawa sang kakek berobat. Ia berpikir jika lebih cepat lebih baik karena tidak ingin menunda sesuatu yang sudah berada di fase akhir dan sangat berbahaya karena bisa menyebabkan kehilangan nyawa.


Buru-buru ia berjalan keluar dan memeriksa apa yang ditakutkannya dan benar saja yang saat ini terlihat adalah sang kakek baru saja keluar dari kamar mandi di dapur dengan wajah makin pucat setelah muntah-muntah.


"Kakek muntah?" Zea kini segera memapah sang kakek yang terlihat sangat lemas dan gejala kanker hati yang tadi dibacanya benar-benar dialami oleh sang kakek yang tidak berbohong.


Bahwa pria paruh baya tersebut benar-benar sakit kronis dan jika tidak ditangani oleh para aparat medis, akan berdampak buruk.


"Aku sudah biasa muntah-muntah seperti ini. Jadi, jangan khawatir, Cucuku." Candra Kusuma kini kembali duduk di sofa dan melihat jika ada tas besar di dekat sana.


Ia seketika menatap cucunya karena berpikir bahwa gadis mungil itu telah mengambil keputusan untuk ikut bersamanya pulang ke Surabaya. "Apa kamu sudah memutuskan untuk ikut bersamaku, Cucuku?"


Zea yang saat ini tidak lagi ingin membuat sang kakek berpikir macam-macam padanya, seketika menganggukkan kepala untuk membenarkan bahwa ia akan menemani pria itu di sisa usia.


"Aku akan pulang bersama Kakek dengan satu syarat." Zea berharap syaratnya bisa dipenuhi oleh sang kakek agar tidak pasrah.


"Syarat apapun pasti akan Kakek lakukan asalkan kamu selalu bersama dengan kakek sebelum ajal menjemput." Candra Kusuma benar-benar mengungkapkan apa yang saat ini ada di pikirannya agar cucunya mau mengerti jika ia tidak merasa keberatan.


Bahkan tanpa bertanya karena berpikir usahanya tidak sia-sia jauh-jauh datang dari Surabaya ke Jogja.


Zea kini bisa melihat raut wajah bahagia dari sang kakek begitu mengetahui keputusannya untuk ikut pulang ke ke Surabaya. "Baiklah. Aku sangat senang karena Kakek mau memenuhi syarat dariku."


"Memangnya apa syaratnya, Cucuku? Kakek sangat senang karena kamu sudah bisa memanggilku Kakek karena dari dulu sangat memimpikannya." Ia berpikir jika cucunya akan meminta sesuatu yang dengan mudah dibeli olehnya karena punya banyak uang, terkejut begitu cucunya menyebutkan syaratnya.


"Kakek harus berobat sampai sembuh karena aku ingin melihat kakek berumur panjang. Ada banyak rumah sakit terkena yang bisa menyembuhkan penyakit Kakek, jadi Jangan hanya pasrah dan diam menunggu maut menjemput tanpa berusaha untuk sembuh." Zea sudah tahu ekspresi wajah dari sang kakek yang pastinya dipenuhi oleh penolakan.


Ia menggelengkan kepala agar sang kakek tidak langsung menolak permintaan darinya yang menyuruh untuk berobat. "Aku sama sekali tidak menerima penolakan dan seperti janji Kakek tadi, harus ditepati."


Kemudian Zea kini menatap ke arah sekeliling dan berpikir jika akan menyerahkan pada tetangga sebelah agar disewakan. "Sebelum pergi, aku akan menitipkan kunci ke tetangga agar nanti jika ada yang membutuhkan tempat tinggal, bisa menyewanya."


Saat ia bangkit berdiri dari posisinya, tangannya ditahan oleh sang kakek yang menatap dengan wajah muram. "Kakek sudah tua dan tidak ingin membuang-buang uang ataupun tenaga hanya untuk berubah di rumah sakit yang belum tentu bisa menyembuhkan penyakit ini, Cucuku."


"Apa tidak ada syarat yang lain yang ingin kamu minta dariku selain itu?" Ia tidak ingin semakin tersiksa berada di rumah sakit hanya untuk berobat ketika nyawanya sudah diprediksi tidak lama lagi dan tinggal beberapa bulan.


Zea refleks langsung menggelengkan kepala karena hanya itu syarat yang diinginkan karena ia bukanlah tipe orang yang mudah menyerah dan pasrah begitu saja saat menghadapi apapun. Makanya ia bisa meninggalkan Aaron tanpa pikir panjang karena sangat membenci pria itu yang masih mencintai wanita yang telah pergi di hari pernikahan.


"Jika Kakek tidak bisa memenuhi syaratku, aku akan memasukkan kembali pakaianku ke dalam lemari dan tidak jadi ikut bersama ke Surabaya. Bagaimana?" Zea takkan merasa sangat yakin jika sang kakek akan memenuhi persyaratan darinya karena tidak ada pilihan lain.


Hingga seketika bibirnya melengkung ke atas begitu melihat sosok pria paruh baya itu menganggukkan kepala dengan sangat lemah.


"Baiklah. Kakek akan mematuhi semua perintahmu karena sudah tidak ada lagi yang bisa kupikirkan selain hidup bersama denganmu, Cucuku." Setelah dengan terpaksa mematuhi keinginan dari sang cucu, ia melihat gadis itu pergi meninggalkannya menuju ke rumah tetangga.


"Itu adalah pilihan yang bagus," ucap Zea dengan masih mengulas senyuman.


Sementara itu, Candra Kusuma pun mengambil ponsel yang ada di saku celana dan menelpon supir yang tadi disuruhnya pergi menikmati kopi di warung sebelah saat ia berbicara dengan cucunya.


'Akhirnya aku bisa menebus dosa-dosaku pada kalian, putri dan menantuku. Kalian bisa melihatnya dari sana, bukan? Putri kalian tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik dan baik karena mau memaafkan kakeknya yang sangat berdosa dan hina ini.'


Saat ia berkeluh kesah di dalam hati untuk mengungkapkan kebahagiaan luar biasa yang hari ini didapatkan karena berhasil membuat cucunya pulang bersamanya, mendengar suara ketukan pintu dan langsung menoleh ke arah belakang.


Ia yang tidak mengenal orang yang datang, kini menghampiri dan ingin Katanya siapa serta mempunyai keperluan apa, sehingga datang ke rumah cucunya. Seperti yang tadi ditunjukkan oleh pria muda bernama Erick ketika tidak percaya pada orang asing, sehingga kini merasa curiga pada pria di hadapannya tersebut.


'Cucuku tidak akan pernah aman jika tinggal sendirian di kampung ini. Nasib baik ia langsung memenuhi keinginanku untuk pulang ke Surabaya dan tinggal di rumah mewah tanpa mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu dipikirkan,' gumam Candra Kusuma yang kini langsung mencari tahu.


"Siapa kamu?" tanya Candra Kusuma yang saat ini memicingkan mata begitu melihat orang yang berdiri di hadapannya tengah tersenyum simpul.


"Selamat siang, Tuan. Perkenalkan, saya adalah ...."


To be continued...