
Aaron sudah banyak mengetahui tentang sepak terjang dari putra kedua dari teman sang ibu yang selama ini sering membuat banyak masalah di luar. Bahkan sering terlibat perkelahian antar geng dan keluar masuk kantor polisi.
Namun, meskipun perbuatannya tidak baik, tetap saja menjadi incaran banyak gadis muda yang suka dengan anak motor. Ia juga mengetahui jika Erick adalah pria yang gemar bergonta-ganti kekasih setelah bosan.
Jadi, benar-benar sangat khawatir jika sampai gadis polos di hadapannya akan terkena rayuan dari seorang playboy itu. Apalagi Erick adalah seorang mahasiswa cerdas yang membuatnya menjadi kebanggaan di Universitas.
Ia bahkan merasa heran bagaimana bisa Erick yang banyak tingkah itu memiliki otak cerdas. Padahal banyak membuat ulah dengan berkelahi jika bertemu musuh atau orang yang membuat masalah dengannya.
Aaron yang saat ini sudah duduk di hadapan Anindya yang sama sekali tidak merasa bahwa ia tengah melindunginya, saat ini mengatakan sesuatu hal untuk menyadarkannya.
"Aku tidak mencari mama, tapi mencarimu karena khawatir ia akan berhasil membawamu kabur," ucap Aaron yang saat ini mengarahkan jari telunjuk kepada pria yang malah terkekeh mendengar ejekannya.
"Bisa saja, Brother!" sahut Erick saat ini hanya tertawa dan menganggap bahwa Aron terlalu berlebihan jika berpikir ia akan berbuat jahat pada Anindya.
"Tenang saja, Brother. Aku tidak akan menyakiti gadis polos seperti Anindya yang bahkan merupakan keponakan dari teman mamaku." Erick tahu ke mana arah pembicaraan dari Aaron yang terlihat sangat curiga padanya.
Ia pun langsung membuat klarifikasi agar tidak ada kesalahpahaman. "Bahkan jika aku macam-macam dan merugikan Anindya, kalian bisa datang ke rumah untuk meminta pertanggungjawaban karena aku tidak akan kabur."
Aaron yang sama sekali tidak suka dengan anak motor, tidak ingin gadis polos seperti Anindya jatuh ke tangan pria seperti Erick yang pasti hanya bisa membuat sakit hati. Ia saat ini malah khawatir jika perkataan sang ibu akan menjadi kenyataan.
Bahwa saat membelikan gaun pengantin untuk Anindya, olah mempunyai feeling jika gadis itu akan menikah dalam waktu dekat. Jadi, ia berpikir apakah Anindya akan benar-benar menikah dan calonnya adalah pria di hadapannya yang bahkan menurutnya hanya bisa membuang-buang uang orang tua.
'Jika benar apa yang kupikirkan, hidup Anindya hanya akan sengsara dan sakit hati jika mempunyai seorang suami seperti Erick. Sepertinya aku harus memberitahunya agar berhati-hati pada anak motor yang suka bergonta-ganti pasangan.'
Aaron tidak menanggapi perkataan dari Erick yang seolah sangat percaya diri akan bertanggung jawab jika sampai melakukan kesalahan pada Anindya. Ia akan berbicara empat mata dengan Anindya agar tidak sampai jatuh cinta pada Erick yang suka tebar pesona.
Ia saat ini beralih menatap ke arah Anindya yang dari tadi hanya diam saja. Seolah sama sekali tidak bisa mengerti akan kekhawatirannya pada gadis itu.
"Apa kamu menyukai Erick dan ingin pergi dengannya?" tanya Aaron yang ingin memastikan apa yang dipikirkan oleh Anindya.
Sementara itu, Sebenarnya Zea saat ini tengah berusaha untuk menormalkan perasaannya yang tidak karuan karena mendapatkan perhatian dari pria yang disukai.
Meskipun ia sadar bahwa itu hanyalah sebuah bentuk perhatian pada gadis yang tengah hilang ingatan, tetap saja hatinya berbunga-bunga dan rasa sukanya pada Aaron semakin bertambah besar.
Padahal ia tahu bahwa Aaron adalah seorang pria yang sangat mustahil untuk ia gapai ataupun miliki karena sebentar lagi menikah dengan wanita yang dicintai.
'Tuan Aaron, kenapa kau malah membuatku gamon seperti ini? Bagaimana aku bisa menghilangkan perasaanku jika sikapmu selalu seperti ini padaku? Aku ingin menjaga hatiku agar tidak tersakiti, yang ada malah seolah ingin merasakan rasa sakit saat melihatmu bersatu dengan nona Jasmine.'
Lamunan Zea seketika buyar ketika merasa terkejut dengan sentuhan dari tangan dengan buku-buku kuat itu pada lengannya.
"Hey, malah melamun! Apa yang sebenarnya sedang kamu pikirkan?" Kemudian mengarahkan jari telunjuk pada Erick yang dari tadi juga diam memperhatikan. "Apa saat ini kau tengah mempertimbangkan untuk berhubungan dengan dia?"
Aaron benar-benar sangat kesal melihat Anindya seperti galau hanya karena digoda oleh seorang playboy seperti Erick.
'Anindya sangatlah polos dan tidak tahu apa-apa, sehingga mudah untuk dibodohi oleh pria sekelas Erick. Tidak! Ini tidak boleh dibiarkan karena akan menjadi kehancuran hidup Anindya jika sampai memiliki hubungan dengan seorang playboy dan pria pembuat onar ini.'
Aaron yang saat ini sibuk memikirkan cara untuk membuat Anindya sadar bahwa Erick bukanlah pria yang pantas untuk disukai, sehingga membuatnya ingin berbicara empat mata setelah pulang dari Mall.
Hingga ia mendengar suara Anindya yang membuatnya semakin bertambah kesal karena gadis kecil itu terlihat sangat santai berbicara.
Zea kini memilih untuk berakting membiarkan semua perkataan dari Aaron karena ingin melihat tanggapan pria yang disukainya jika berhubungan dengan pria lain.
Meskipun ia sebenarnya hanya mengerjai Aaron, tetap saja ingin tahu seperti apa ekspresi wajah pria itu. "Iya, aku dari tadi sedang mempertimbangkan sesuatu."
"Apakah sebaiknya menerima tawarannya atau menolak kesempatan yang diberikannya. Aku pasti akan sangat populer di kalangan anak motor jika sampai mau diajak jalan." Zea saat ini beralih menatap ke arah Erick yang tadi seolah ingin tahu banyak hal tentangnya.
"Oh iya, aku ingin tanya itu yang sering acara anak motor, apa namanya?" tanya Zea yang lupa dengan istilah ketika anak motor berkumpul.
Erick saat ini menghembuskan napas kasar karena melihat perubahan sikap dari gadis di hadapannya begitu ada Aaron. Ia saat ini sudah bisa menebak jika Anindya hanya sedang mencari sebuah perhatian.
'Sial! Ia malah mencari perhatian dari orang lain daripada padaku. Padahal mengetahui bahwa itu adalah sepupunya sendiri dan sebentar lagi akan menikah. Dasar gadis bodoh! Kenapa iya menolakku hanya gara-gara pria seperti Aaron yang akan menikahi wanita lain?'
Erick saat ini hanya bisa mengumpan di dalam hati untuk meluapkan amarah yang membuncah di dalam hati akibat melihat Anindya yang berubah sikap manis padanya begitu ada Aaron.
Ia yang ingin mengerjai Aaron, akhirnya mengikuti permainan yang diciptakan oleh Anindya. "Aaah ... maksudmu, Sunmori?"
Refleks Zea seketika menganggukkan kepala dan menjentikkan tangannya untuk membenarkan. Ia memang gadis cupu di sekolah, tapi sebenarnya mengetahui banyak hal untuk berbagai macam riset mengenai hobi banyak orang ketika mendapatkan tugas sekolah dulu.
Apalagi sunmori adalah hal yang selalu dilakukan anak-anak muda saat mengisi waktu luang. Bahwa sunmori artinya Sunday Morning Ride, yang mana secara harfiah dapat diartikan sebagai kegiatan berkendara di minggu pagi bersama dengan teman atau komunitas.
Bahkan ia dulu pernah mencari tahu semua hal mengenai Sunmori. Bahwa itu adalah istilah yang pertama kali muncul dari komunitas motor di daerah.
"Aku mau jika kapan-kapan diajak pergi Sunmori. Bukankah biasanya dilakukan pukul 6 pagi atau 7 pagi. Memangnya apa saja yang dilakukan saat Sunmori?" Zea berpura-pura bertanya pada Erick.
Erick saat ini melirik sekilas ke arah pria yang membuat Anindya banyak bertanya padanya. Hingga saat melihat jika gadis itu seperti benar-benar menyukai sepupu sendiri, membuat harga dirinya hancur seketika.
'Sial! Ternyata seperti ini rasanya ditolak cewek? Aku selama ini tinggal tunjuk mana yang ingin ku ajak jalan, tapi pertama kali ditolak, rasanya aku seperti tidak punya harga diri di depan Anindya,' umpat Erick yang saat ini benar-benar merasa sangat kesal, tapi tidak bisa menunjukkannya dan hanya bisa menahan diri agar tidak meluapkannya.
Kini, ia mulai menjelaskan hal yang ingin diketahui oleh gadis di hadapannya demi bisa membuat wajah Aaron semakin bertambah kesal sepertinya.
"Pada awalnya kegiatan Sunmori dilakukan oleh komunitas-komunitas motor dengan tujuan untuk menjalin tali silahturahmi demi memperluas pertemanan dan mempererat kekompakan."
'Kegiatan berkendara yang di lakukan oleh para pemotor di minggu pagi sangat menyenangkan dan kamu pasti senang jika ikut. Kebetulan minggu depan acaranya ada di daerah puncak. Nanti aku jemput kamu di rumah, oke!"
Erick bahkan akan mengeluarkan motor andalannya yang merupakan ngabers level tertinggi dan paling diincar oleh para cewek-cewek yang ingin bergaya untuk upload story.
"Aku biasa memakai Kawasaki ZX-25R dan selalu dibilang teman-teman adalah motor ngabers level tertinggi ini. Mereka bilang suara mesin empat silinder membuatku menjadi pusat perhatian di jalanan. Nanti kamu juga akan langsung terkenal di kalangan anak motor."
Erick benar-benar menceritakan semuanya agar Anindya tertarik ikut minggu depan bersamanya. Bahkan ia berencana untuk memberikan pelajaran pada gadis itu yang berani menolaknya.
Erick mempunyai sebuah rencana yang akan dilakukan pada gadis itu. Namun, saat ini masih menunggu jawaban iya dari Anindya. Seolah ia seperti menunggu putusan hakim saja karena dari tadi gadis itu belum mengiyakan ajakannya.
Hingga ia merasa sangat kesal karena Aaron ikut campur dan turun tangan untuk melarang Anindya ikut bersamanya.
Aaron dari tadi memang diam saja mendengar pembicaraan dua anak muda di hadapannya. Hingga begitu selesai berbicara, ia langsung mengarahkan kepalan tangan pada Anindya agar tidak mengiyakan ajakan Erick.
'Aku tidak akan membiarkan gadis polos sepertinya masuk dalam anak geng motor yang mayoritas adalah laki-laki. Bisa-bisa malah ia nanti diperkosa bergilir,' gumam Aaron yang saat ini bergidik sendiri membayangkan itu terjadi pada gadis polos seperti Anindya yang bahkan tidak tahu siapa dirinya.
Ia yang masih mengarahkan bogem mentah di hadapan Anindya dan menatap tajam. "Awas saja jika kamu berani melakukannya! Aku bilangin mama jika kamu ingin membuat ulah saat papa dan mamamu tidak ada di Jakarta."
Aaron sengaja mengarang kebohongan pada kalimat terakhir untuk membuat Erik tidak berani lagi mengajak Anindya yang sangat polos dan tidak tahu apa-apa mengenai anak motor.
"Aaarggh ... takut!" seru Anindya yang berakting seperti ketakutan saat mendapatkan kepalan tangan dari Aaron. "Iya ... iya, Aku tidak akan ikut dan akan patuh padamu, Sepupu." Zea yang memang sama sekali tidak tertarik untuk ikut sunmori bersama dengan Erick, kini menoleh pada pria itu.
"Maaf. Aku tidak bisa ikut karena tidak diizinkan sepupuku." Zea sebenarnya merasa sangat senang melihat raut wajah kesal dari Aaron yang melarangnya karena menunjukkan perhatian padanya.
Meskipun ia tahu bahwa itu bukanlah cinta, tetap saja berhasil membuat hatinya berbunga-bunga karena bisa diperhatikan oleh seorang Aaron—pria yang selama ini ia sukai dan diam-diam menjadi pujaan hati.
'Rasanya tidak ada kebahagiaan setelah kematian ayah, selain hari ini yang bisa melihat perhatian tuan Aaron padaku,' gumam Zea yang mendengar suara wanita paruh baya menyapa.
"Sayang, kamu ternyata sudah berada di sini dengan Anindya?" tanya Jenny yang baru saja kembali dengan sahabatnya membawa beberapa paper bag yang dibeli dan ditaruh di lantai dekat kursi putranya.
"Wah ... Aaron sang calon pengantin makin tampan saja," ucap Nilna yang saat ini langsung menepuk pundak putra sahabatnya yang sudah lama tidak ditemui.
Aaron yang seketika bangkit dan memberi hormat pada sahabat mamanya, kini tersenyum simpul atas pujian yang didapatkan.
"Terima kasih, Tante." Kemudian beralih menatap ke arah wanita yang sangat disayanginya. "Aku kebetulan tadi membeli ponsel di lantai bawah, Ma. Jadi, tadi menelpon Mama dan diangkat oleh Anindya."
Jenny saat ini menatap ke arah Anindya yang tadi memang sengaja ditinggalkan agar bisa berduaan dengan putra temannya. Ia berpikir bahwa Anindya butuh teman yang mungkin sebayanya atau sedikit di atasnya agar bisa berkomunikasi lebih mudah.
Bahkan tadi sempat berbicara dengan sahabatnya untuk menjodohkan mereka jika sampai memiliki rasa saling tertarik.
"Jadi, kamu yang menerima telepon dari Aron? Harusnya tidak usah diangkat jika mengetahui itu dari Aron agar tidak mengganggumu berduaan dengan Erick." Kemudian menatap ke arah putra sahabatnya. "Bagaimana?"
"Bagaimana apanya, Tante?" tanya Erick yang saat ini mengerutkan kening dan berpura-pura bersikap bodoh. Padahal sudah mengetahui apa maksud dari wanita itu.
Jenny seketika menepuk lengan kekar di balik ke meja lengan pendek tersebut. "Astaga! Masa harus tante jelaskan, sih! Maksudnya, apakah kalian sudah saling berbagi nomor telpon? Atau Apakah sudah berniat untuk keluar bersama di lain hari?"
Zea sebenarnya tidak suka didekatkan dengan Erick, tapi tidak bisa menolak kebaikan wanita itu. Jadi, hanya membiarkan dan diam saja. Hingga ia seketika membulatkan matanya ketika Erick meminta izin.
"Justru itu, Tante. Aku ingin meminta izin pada tante untuk mengajak Anindya ikut bersamaku pada acara hari Minggu nanti." Erick tidak ingin menyerah untuk bisa mengajak Anindya pergi dan menggunakan kelemahan sahabat dari mamanya.
Tanpa mempedulikan jika Anindya tidak berniat pergi karena diancam oleh Aaron. 'Aku ingin pergi bersama Anindya dan memberinya pelajaran di sana agar tidak berani menolakku lagi.'
Hingga ia segitiga tersenyum begitu mendengar jawaban dari wanita paruh baya tersebut.
"Tentu saja boleh! Tante percaya padamu karena merupakan putra dari temanku dan tidak akan pernah menyakiti Anindya. Kamu boleh pergi hari Minggu nanti agar Anindya tidak bosan hanya berada di dalam rumah saja." Jenny saat ini tersenyum pada Anindya untuk melihat ekspresi gadis itu.
Sementara itu, Aaron seketika mencubit lengan sang ibu karena benar-benar tidak suka dengan keputusan yang diambil secara mendadak dan membahayakan Anindya.
'Astaga, Mama. Kenapa malah mengizinkan Erick membawa Anindya pergi. Apa ini kelakuan seorang ibu pada anak perempuan yang mengizinkan putrinya pergi bersama pria yang merupakan anak motor yang sangat meresahkan?'
To be continued...