
"Aku tidak akan kembali ke Jakarta tanpamu dan Kenzie!" sarkas Aaron yang merasa sangat kesal karena gadis di hadapannya tersebut sangat keras kepala dan tidak mau membuka hati ataupun memaafkan perbuatannya di masa lalu.
Ingin sekali ia mengumpat untuk menyadarkan Anindya agar tidak mengandalkan keegoisan, tapi sadar jika selama ini ia tidak berbuat apapun untuk gadis yang telah berjuang membesarkan putranya.
'Anindya sebenarnya bisa menggugurkan kandungan setelah mengetahuinya karena memang tidak berstatus sebagai istri ataupun mempunyai suami yang bertanggung jawab, tapi ia memilih untuk mempertahankan dan membesarkan putra kami.'
'Bahwa ia mempertahankan hasil dari kesalahanku. Jadi, aku tidak boleh seenaknya sendiri memaksa untuk menerimaku sebagai suami,' gumam Aaron yang saat ini menghembuskan napas kasar dan mau tidak mau harus menerima keputusan tersebut dengan besar hati.
Namun, di depan gadis itu dan Erick, ia bersikap seolah-olah sangat keberatan dan tidak setuju untuk kembali ke Jakarta. Padahal ia sebenarnya leluasa tidak tega pada sang ayah karena harus mengurus perusahaan pusat dan anak cabang.
Faktanya, ia tetap harus kembali ke Jakarta karena hidupnya tidak melulu dengan masalah Anindya semata. Bahkan sangat sadar jika kewajiban sebagai seorang anak yang meneruskan perjuangan sang ayah untuk membesarkan perusahaan.
"Baiklah. Aku akan menerima keputusan Ayang jika Aaron juga kembali ke Jakarta," ucap Erick yang saat ini sedikit merasa lega dengan keputusan Zea yang tidak berpihak salah satu dari mereka dan tentu saja membuatnya tenang.
"Mama saja yang menasihatinya." Khayra kini beralih menatap ke arah Aaron setelah sebelumnya mendapatkan persetujuan dari wanita paruh baya yang sudah dianggapnya sebagai ibu kandung sendiri.
"Iya, Mama akan menyuruhnya kembali ke Jakarta. Biar Mama yang tinggal di sini untuk merawat cucu." Jennifer melanjutkan memberikan sebuah petuah pada Aaron.
Namun, tidak jadi melakukannya karena mendengar suara dari ponsel milik Aaron, sehingga memilih untuk menunggu sampai putranya selesai mengangkat telepon.
Aaron yang dari tadi tidak mengalihkan perhatian dari Anindya, berniat untuk marah pada sang ibu karena lebih membela dan mendukung gadis itu daripada dirinya yang merupakan putra sendiri. Hingga ia melihat sang ibu yang menyuruh untuk mengangkat telepon karena sebenarnya sangat malas.
Ia mengerutkan kening karena ternyata nomor tidak terdaftar yang menelpon. Bahkan ia saat ini masih menatap benda pipih di tangannya dan beberapa saat kemudian panggilan tersebut mati.
"Lebih baik angkat saja, Aaron! Suara dering ponselmu benar-benar sangat berisik dan mengganggu tidur cucuku!" seru Jennifer yang berpikir bahwa mungkin itu adalah telepon penting dan berharap putranya mau mengangkat.
"Iya, angkat saja. Bisa saja itu adalah telepon penting." Khayra juga merasa terganggu dengan suara dari ponsel Aaron.
Terpaksa Aaron menuruti perintah dari dua wanita yang sangat cocok menjadi ibu dan anak tersebut dengan menggeser tombol hijau ke atas. Namun, ia membulatkan kedua matanya begitu mendengar suara yang sangat tidak asing baginya.
Bahkan mengepalkan tangan kanan untuk menahan diri.
"Halo, Aaron. Apa kamu masih mengingatku?"
"Kau ...." Aaron yang saat ini tidak bisa melanjutkan perkataannya karena mendengar suara dari sang ibu. Bahkan saat ia melirik Anindya, sangat jelas sangat penasaran dengan siapa ia berbicara.
"Telpon dari siapa, Aaron?" Jennifer merasa sangat aneh melihat wajah putranya tiba-tiba berubah memerah.
Sementara Khayra saat ini menunggu jawaban dari Aaron dan menoleh ke arah Erick yang penasaran.
"Kenapa wajahmu berubah seperti itu, Aaron? Siapa yang berhasil membuat wajahmu semerah ini?" Erick yakin jika ada sesuatu yang tengah disembunyikan oleh Aaron sehingga ia refleks merebut ponsel tersebut dan langsung mengaktifkan loudspeaker.
To be continued...