
Beberapa saat lalu, Aaron melajukan motor dengan kecepatan tinggi karena ingin segera tiba di lokasi. Ia ingin segera mengajak Anindya pulang karena khawatir jika Erick berbuat macam-macam.
Hingga beberapa waktu berlalu, ia sudah tiba di lokasi yang menjadi acara Sunmori. Di mana ada banyak motor sport terparkir memenuhi area tersebut. Begitu memarkirkan kendaraan miliknya, kini Aaron berjalan sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari Anindya.
Bahkan ia sengaja tidak melepaskan helm karena berpikir akan langsung pergi sebelum hari gelap dan jalanan berkelok berbahaya bagi pengendara motor. Tidak hanya itu saja, ia melihat di bawah sana tadi mendung.
Khawatir jika membuang waktu terlalu lama, mungkin akan turun hujan. Apalagi ia tidak membawa jas hujan dan harus berteduh jika sampai hujan karena tidak mungkin akan nekad hujan-hujanan.
"Di mana Anindya?" Aaron masih mengedarkan pandangan untuk mencari sosok gadis mungil dengan mengenakan Hoodie berwarna putih.
Ia sangat hafal dengan penampilan sosok gadis mungil yang menguncir rambut ke atas tersebut. "Apa perlu aku menelponnya untuk bertanya di mana keberadaannya?"
Saat Aaron hendak mengambil ponsel miliknya dari saku celana, tidak jadi melakukan itu saat ia mendengar suara beberapa orang yang sangat ramai dan menatap kerumunan para pria yang duduk melingkar.
Hingga ia melihat satu gadis di sana dan sangat yakin jika itu adalah Anindya, sehingga langsung memanggilnya. Bahkan ia seketika melambaikan tangan sambil berjalan mendekat.
"Brother!" seru Zea yang kini memanggil seperti itu karena tidak ingin dicurigai oleh semua orang.
'Nasib baik aku tadi tidak keceplosan tadi memanggil tuan Aaron,' gumam Zea yang saat ini bangkit berdiri dari posisinya yang awalnya duduk di sebelah Erick.
Sebelum pergi, ia menatap ke arah pria yang kini ikut bangkit berdiri sepertinya. "Aku pulang dulu karena brother sudah menjemput. Kamu lanjut aja sama yang lain."
Sementara itu, wajah Erick yang tadinya berbinar karena selalu memanggil ayang di depan para temannya, kini merasa sangat kesal begitu melihat pria yang sudah berdiri di hadapannya.
"Brother benar-benar seperti tidak pernah muda saja. Padahal tadi aku bilang akan menjagamu dengan baik dan mengantar pulang tanpa kekurangan suatu apapun." Erick menatap tajam ke arah Aaron dan ingin melampiaskan apa yang memenuhi hatinya.
Berbeda dengan Erick, yang dirasakan oleh Aaron saat ini adalah rasa lega sekaligus senang ketika akhirnya berhasil menjemput Anindya. Hingga ia pun kini tersenyum simpul dan menepuk pundak kokoh Erick yang menatap penuh ketidaksukaan.
"Terima kasih karena sudah menjaga Anindya dengan baik, tapi sayangnya dia harus pulang sekarang. Papa dan mamanya tidak mengizinkan kelayapan terlalu lama, jadi aku khusus menjemputnya agar dia tidak mendapatkan omelan." Aaron kini langsung merangkul pundak gadis mungil yang berdiri di sebelahnya.
"Ayo, kita pulang sekarang sebelum turun hujan karena di bawah sana mendung. Jika sampai hujan, kita bisa kemalaman nanti karena harus berteduh terlebih dahulu." Aaron kini melambaikan tangan pada Erick yang masih masam karena melihatnya.
Sementara itu, Zea yang memang merasa sangat senang karena akhirnya bisa pergi dari tempat itu ketika dari tadi khawatir jika saudara tiri yang dibenci melihat dan mengenalinya.
Ia pun mengangukkan kepala. "Iya, Brother." Kemudian beralih menatap ke arah Erick. "Aku pulang." Melambaikan tangan sebagai salam perpisahan.
Erick hanya mengangguk perlahan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun karena jujur saja ia sangat kesal melihat interaksi antara Anindya dengan Aaron. Apalagi tangan pria itu merangkul pundak Anindya, benar-benar membuatnya sangat cemburu.
Hingga ia mendengar suara bariton dari beberapa teman yang bertanya sambil makan buah durian.
"Itu sepupu ayangmu, Bro?"
"Sepertinya sepupunya sangat over protektif, ya?"
"Sepertinya kau harus bersabar karena ayangmu memiliki sepupu yang sangat menyebalkan."
"Iya, itu sepupu paling menyebalkan yang tidak bisa melihat orang senang saja, tapi sebenarnya itu jauh lebih baik karena menandakan jika pacarku adalah anak rumahan yang sangat dijaga dengan baik oleh keluarganya."
"Jadi, tidak sembarangan bisa keluar dari rumah. Gadis yang seperti ini sangat langka, jadi tidak boleh disia-siakan. Oh ya, kabar baiknya adalah besok pacarku mulai masuk ke kampus."
"Jadi, masih ada banyak waktu untuk kami berduaan." Erick kembali mengambil durian khusus untuknya dan mengunyahnya hingga melumer di mulut.
Hingga kekesalannya kini berubah menjadi rasa bahagia kala membayangkan jika besok bisa kuliah di kampus yang sama dengan gadis incarannya tersebut. Bahkan hanya tertawa ketika mendapatkan candaan dari beberapa teman-temannya.
"Ciiee ... yang kini punya ayang."
"Dunia serasa milik berdua dan yang lain ngontrak."
"Siap-siap iri dan gigit jari saja kita besok."
Beberapa candaan dari beberapa pria yang menggoda sahabatnya, kini membuat Erick sudah membayangkan esok hari. Bahkan dari tadi sudut bibirnya melengkung ke atas karena merasa sangat senang.
"Kalau kalian iri, cepat cari ayang sana," ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak.
Hingga semua orang yang duduk melingkar itu langsung dengan kompak berbicara dengan lantang. "Wanita hanya pembawa bencana."
"Di awal-awal bahagia, tapi di akhir menderita karena galau," sahut pria yang duduk di barisan paling ujung kiri.
"Iya, itu benar dan tidak diragukan lagi." Salah satu pria dengan tubuh gemuk langsung menanggapi karena berpikir jika para wanita itu biasanya menyakiti perasaan laki-laki.
Apalagi ia dulu pernah sangat tulus mencintai seorang wanita, tapi berakhir diselingkuhi dan membuatnya malas berhubungan lagi dengan wanita. Selain itu, malas membuka hati untuk orang baru yang mungkin berakhir sama, yaitu mendapatkan luka.
Hingga beberapa pria yang mengetahui bagaimana nasib percintaan temannya tersebut, memilih untuk menghibur dengan mengusap punggung lebar sahabatnya.
"Tenang, Bro. Semoga kamu menemukan penggantinya yang jauh lebih baik dan tahu caranya menghargai perasaan pasangan."
Erick hanya geleng-geleng kepala melihat temannya malah murung karena teringat mantan kekasih. "Kalian bilang saja iri padaku. Pake berpendapat yang tidak-tidak, pula! Mau, aku suruh bayar Duriannya?"
Refleks semua orang langsung menggelengkan kepala. "Sorry, Bro! Kami hanya bercanda."
Salah satu pria kini tengah mewakili yang lain karena tahu tidak ingin kehilangan uang dan lebih suka yang gratis.
Hingga Erick hanya mengangkat tangan mengepal ke hadapan para sahabatnya. "Makanya kalian harus terus dukung aku agar bisa mendapatkan gadis itu. Dia benar-benar sangat susah ditaklukkan. Untung sikap kalian tadi tidak mencurigakan, jadi dia patuh padaku."
"Beres, Bro. Serahkan pada kami soal itu karena hanya masalah kecil. Kami akan terus membantu teman agar berhasil dan sukses, meski nasib kami sendiri tidak jelas."
Refleks semua orang tertawa terbahak-bahak karena merasa kalimat terakhir itu sangat konyol dan terlihat mengenaskan.
To be continued...