
"Sialan!" umpat Aaron yang saat ini masih menegang ponselnya saat baru saja menelpon Erick, tapi tiba-tiba dimatikan sepihak.
Ia tadi memang tidak mengatakan hal sebenarnya mengenai apa yang dilakukan pada Zea karena tidak mungkin jujur memperkosa gadis itu.
"Mana mungkin aku bilang telah merenggut kesucian Zea saat mabuk ketika Zea sendiri memilih untuk menyembunyikannya. Jika Zea mengatakan kejadian sebenarnya, tidak mungkin aku mengelak, kan?" gumam Aaron yang saat ini mencoba untuk kembali memencet tombol panggil.
Hingga ia pun kini kembali mengumpat begitu mengetahui nomornya diblokir. "Berengsek! Cecunguk ini akan kuhabisi jika aku sudah pulang ke Jakarta!"
"Nomorku diblok lagi. Sialan!" Aaron yang merasa sangat kesal, kini ikut memblokir nomor Erick karena tidak mau kalah dari pria yang bahkan jauh lebih muda darinya.
"Sialan! Baru kali ini aku di blok bolak-balik oleh orang. Mana sama si cecunguk itu, lagi. Sepertinya dia kesal karena aku tidak berbicara jujur dan malah meminta nomor Zea." Aaron yang saat ini tengah berpikir tentang sesuatu, kini memilih untuk mengetik pesan dan mengirimkan pada sang ibu.
Ia sengaja tidak menelpon karena mengetahui jam-jam pagi seperti sekarang ibunya sangat sibuk. Mulai dari memeriksa pelayan memasak, melayani sang ayah sampai berangkat kerja dengan menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan.
"Pasti mama tahu nomor Zea dan papa juga sudah berusaha untuk mencari lokasi Zea dari ponselnya." Aaron kini meminta nomor Zea pada sang ibu dan dengan sabar menunggu jawaban dari wanita yang sangat disayanginya tersebut.
Hingga ia yang merasa sangat bosan diam di kamar, kini memilih berjalan keluar. Ia berencana untuk joging di halaman saja karena memang cukup luas.
"Bolak-balik lari berkeliling di halaman sudah membuatku sama saja dengan joging di sekitar rumah." Aaron yang baru saja membuka pintu rumah dengan desain lawas itu, kini mulai berjalan menuju ke halaman.
Sebelumnya ia menghirup udara yang masih sangat bersih dan melakukan pemanasan sambil memanjakan kedua mata dengan hamparan tanaman padi yang masih hijau.
"Ternyata seperti ini sensasi tinggal di desa. Sangat nyaman, udara bersih, pemandangan benar-benar sangat menyejukkan hati. Mungkin jika aku tidak mengurus perusahaan keluarga, akan memilih untuk hidup di sini saat berkeluarga bersama Zea. Pasti akan sangat menyenangkan."
Bahkan saat ini Aaron sudah tersenyum kala membayangkan bisa hidup bersama sebagai keluarga bahagia dengan Zea. "Memiliki anak perempuan yang cantik dan lucu serta anak laki-laki yang tampan dan menggemaskan, pasti adalah sebuah anugrah tak ternilai harganya."
Aaron yang melakukan pemanasan sebelum joging sambil senyum-senyum sendiri, sama sekali tidak menyadari jika ada seseorang yang dari tadi memperhatikannya.
Dari arah timur, beberapa saat lalu seorang pria berjalan mengikuti beberapa pekerjanya yang membawa alat untuk menyemprot tanaman padi di sawahnya.
Ia yang baru saja tiba di area sawah, mulai memberikan perintah pada tiga pekerja mengenai pekerjaan menyemprot. Kemudian menatap para pekerja sambil memegangi pinggang.
"Karena sudah tua, aku tidak bisa melakukannya sendiri. Memang yang terbaik adalah menjualnya seperti kata putraku. Memangnya apa yang kucari selain bisa berkumpul dengan anak, menantu serta cucu? Semoga kakeknya mbak Zea itu jadi membeli sawahku."
"Oh ya, sepertinya kuncinya ada pada mbak Zea karena pria itu bilang akan berbicara dengan cucunya dulu. Semoga mbak Zea tidak menghalangi kakeknya untuk membeli sawah ini karena jarang orang yang mau membeli sawah seluas ini." Mengingat itu, ia kini berbalik badan menatap ke arah rumah tua yang merupakan tempat tinggal sang cucu pria itu.
Namun, ia seketika mengerutkan kening kala merasa heran ada seorang pria berada di depan rumah. Awalnya ia berpikir jika itu adalah kakek Zea karena pandangan kabur, jadi memilih untuk berjalan mendekat.
Ia pun kini melangkahkan kaki panjangnya memasuki area halaman rumah tua yang bagian depannya sangat luas dan ada banyak tanaman perdu.
Saat makin mendekat dan membuatnya bisa jelas melihat jika itu adalah pria berusia masih muda dan bukan sang kakek yang berbicara dengannya, seketika bertanya karena penasaran.
"Mas siapa?"
Sementara itu, Aaron yang tadinya baru selesai pemanasan sebelum memulai jogging, kini tidak jadi melakukannya begitu melihat pria paruh baya tersebut.
Ia menatap penampilan dari pria yang memakai celana panjang dan kemeja lusuh. Meski heran, ia kini berusaha sopan untuk menyapa dan mengulurkan tangannya sambil membungkuk hormat.
Menganggap itu adalah ada yang baik untuk berbicara dengan orang tua, lalu mulai memperkenalkan diri. "Selamat pagi, Pak. Saya adalah calon suaminya Zea. Semalam saya menginap di sini karena baru datang dari Jakarta."
Meskipun ia tahu jika ada beberapa orang di sekitar sana mengetahui jika Erick-lah yang mengaku sebagai pacar, tapi sama sekali tidak perduli.
'Calon suami lebih kuat dibandingkan status pacar. Mana lebay lagi panggilan cecunguk itu pada Zea. Ayank ... ayangk, memang kepala peyang!' umpat Aaron yang hanya bisa di dalam hati karena tidak mungkin berteriak meluapkan emosi saat mengingat semua hal tentang Erick.
Sementara di sisi lain, pria paruh baya itu kini makin dibuat bingung akan apa yang baru saja didengarnya. Ia bahkan tahu kabar dari beberapa orang jika pacar Zea datang dan menginap di rumah pak RT.
Bahkan sudah sekilas melihat seperti apa pacarnya yang juga berasal dari Jakarta itu. Kini, ia menyambut uluran tangan itu dan memperkenalkan diri. "Oh ... jadi mbak Zea punya pacar dan calon suami?"
"Hari Sabtu, pacarnya datang dan disarankan menginap di tempat pak RT karena dikhawatirkan akan berbuat terlarang jika tinggal bersama. Apalagi mbak Zea tinggal sendirian di rumah," ucap pria itu yang kini mengerutkan kening melihat ekspresi wajah dari pria muda di hadapannya.
Wajah Aaron seketika berbinar kala mendengar cerita pria yang ternyata adalah pemilik hamparan sawah di depan rumah Zea. 'Wah ... aku baru saja mendapatkan sebuah kabar luar biasa. Sebuah kabar baik tentang cecunguk tidak berguna itu semakin membuatku merasa adalah seorang pemenang untuk Zea.'
'Si bocah menyebalkan itu ternyata tidak tidur di rumah ini karena tinggal di tempat pak RT. Aku harus berterima kasih pada pak RT kalau begitu nanti sebelum kembali ke Jakarta.' Aaron kini mulai menegaskan tentang hubungannya dengan Zea agar tidak ada sebuah kesalahpahaman.
"Jadi, begini, Pak. Sebenarnya Zea tidak mempunyai hubungan dengan pria itu. Pria itulah yang dari dulu berusaha mengejar-ngejar calon istri saya. Sebelum pindah ke sini, Zea marah pada saya karena sempat bertengkar." Aaron tidak ingin dianggap bermimpi dengan mengatakan Zea adalah calon istri.
Kemudian mengarang cerita agar terdengar logik dan Erick yang terkenal sebagai pacar Zea bisa hilang ditelan kabar darinya. "Jadi, Zea memilih pergi dan saya ke sini setelah mendapatkan alamatnya di Jogja karena merahasiakan dari saya."
Kini, pemilik sawah itu manggut-manggut karena mulai paham apa yang sebenarnya terjadi. "Oalah ... jadi begitu ceritanya? Tapi kasihan sekali berarti anak muda itu. Dia terlihat baik dan benar-benar menyayangi mbak Zea, tapi kata orang-orang, jodoh di tangan Tuhan itu memang nyata."
"Semoga kalian bisa segera menikah dan bahagia sampai maut memisahkan. Oh ya, apa Mas-nya tahu nomor telpon kakeknya mbak Zea?" Tetap saja ia tidak ingin menyerah untuk mencari tahu karena berpikir bisa mengetahuinya dari pria itu.
"Bukannya kakek Zea sudah meninggal dunia lama?" tanya Aaron yang merasa bingung pada kalimat terakhir pria yang dianggap mengigau itu.
Hingga ia pun makin dibingungkan atas apa yang baru saja didengarnya dan membuatnya benar-benar shock tidak berdaya.
"Itu kalau kakek nenek dari pihak ayah. Ini adalah kakek dari pihak ibunya karena tadi saya bertanya dan kakeknya yang bilang adalah dari pihak sang ibu. Apa Mas tidak tahu? Gimana sih Mas? Sama keluarga dekat calon istri saja tidak tahu." Saat ia geleng-geleng kepala karena pria muda itu seperti tidak tahu apapun, malah mendapatkan beragam pertanyaan."
Aaron seperti baru saja mendapatkan oase di Padang pasir dan membuatnya berpikir jika itu adalah sebuah hal yang sangat berharga. Refleks ia memegangi tangan pria tersebut.
"Maaf, Pak. Tolong bisa jelaskan tentang kakek Zea? Saya benar-benar tidak mengerti karena memang Zea tidak menceritakannya. Dia marah dan tiba-tiba menghilang tanpa kabar." Ia berharap dengan bertanya, bisa mengetahui ke mana perginya Zea.
Meskipun merasa bingung sekaligus aneh, tetap saja pria paruh baya tersebut langsung menceritakan tentang pembicaraan dengan kakek Zea yang berencana untuk membeli sawahnya.
"Jadi, tuan itu bilang jika ia adalah kakek nona Zea dari pihak ibunya dan sudah lama kehilangan. Tapi sama sekali tidak menjelaskan bagaimana bisa itu terjadi, lalu kami membahas tentang harganya." Ia tidak menceritakan semuanya karena khawatir akan mendapatkan kemurkaan.
Apalagi tahu jika pria itu pastinya bisa melakukan apapun untuk melindungi dirinya karena sangat kaya. 'Apakah sebaiknya aku beritahu kartu nama pria itu atau tidak pada pria ini, ya?'
Saat ia tengah mempertimbangkan keputusannya, kini melihat pria di hadapannya tersebut berpikir sama dengannya.
"Apa Anda tahu siapa nama kakek Zea? Jika ia berniat untuk membeli hamparan sawah luas milik Anda, berarti adalah seorang pria yang kaya raya." Aaron kini bingung dengan cerita pria itu, tapi tetap berusaha untuk terus mencari tahu hal yang sebenarnya mengenai kakek Zea.
'Zea masih punya keluarga, yaitu kakeknya dari pihak ibu. Itu berarti dia kemarin pergi bersama kakeknya. Lalu, ke mana mereka pergi?' gumam Aaron yang kini mendengar suara bariton dari pria yang berdiri di hadapannya tersebut dan memasang telinga lebar-lebar.
To be continued...