Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Semoga tidak menyalahkan



Aaron yang bisa melihat ketakutan di wajah sosok gadis yang duduk di atas ranjang, hanya tersenyum sinis dan ingin menghilangkan kekhawatiran yang dirasakan karena kedatangannya saat tiba-tiba masuk ke dalam ruangan kamar.


"Sepertinya kau merasa takut saat aku masuk ke sini. Tenang saja karena aku tidak akan berbuat macam-macam padamu. Aku adalah pria baik-baik dan kau pun bahkan bukan seleraku." Aaron bahkan hanya geleng-geleng kepala ketika merasa bahwa kekhawatiran gadis di hadapannya itu sangat berlebihan.


Apalagi saat ini gadis itu menumpang di rumahnya dan mendapat kebaikan dari orang tuanya. Jadi, mana mungkin ia berbuat macam-macam saat orang tuanya menganggap gadis itu seperti putri sendiri.


"Andai saja kau tahu calon istriku 100 persen jauh lebih cantik darimu, mungkin tidak akan berani memperlihatkan wajah ketakutan seperti itu padaku."


Zea benar-benar merasa tertampar dengan kalimat bernada ejekan dari pria yang tersenyum sinis padanya. Tentu saja ia bisa mengerti pemikiran pria tampan dan berasal dari keluarga konglomerat seperti Aaron.


Hanya saja, semenjak kejadian di hotel, ia benar-benar tidak bisa tidur nyenyak karena selalu mimpi buruk. Bahkan ketika di rumah sakit pun, sering memimpikan pria dengan perut besar serta kepala botak itu yang tersenyum jahat padanya ketika hendak memperkosanya.


Nasib baik saat selalu ditanya oleh perawat khusus yang menjaganya karena tidak mungkin pasangan suami istri paruh baya tersebut menunggunya selama 24 jam, ia beralasan mimpi buruk ketika mengalami kecelakaan.


Jadi, ia sama sekali tidak dicurigai dan merasa lega. Bahkan seperti hari ini saat diejek oleh pria dengan paras rupawan tersebut dan membuatnya hanya bisa berbohong untuk kesekian kali.


"Maafkan saya, Tuan Aaron. Bukan karena saya merasa cantik di depan Anda, tapi bukankah pria dan wanita yang bukan mahram tidak boleh berada di dalam satu ruangan karena yang ketiga adalah setan."


"Saya hanya mengingat itu dari apa yang ada di pikiran saat ini. Bahwa hanya ada hal buruk ketika pria dan wanita berada di dalam satu ruangan. Apakah saya salah mengatakan itu?" tanya Zea yang tidak ingin disalahkan sepenuhnya dengan pemikiran bahwa ia hanyalah seorang gadis tidak pantas berpikiran buruk pada pria di hadapannya tersebut.


'Aku memang hanyalah seorang gadis tidak menarik di mata siapapun itu, tapi apa tidak boleh aku merasa trauma ketika berada di dalam ruangan kamar bersama seorang pria?' gumam Zea yang saat ini ingin sekali pria di hadapannya tersebut segera meninggalkannya sendirian karena benar-benar butuh ketenangan.


Nasib baik ia tadi tidak menutup pintu karena memang tidak ingin ada kesalahpahaman. Meskipun demikian, tetap saja mendapatkan sebuah petuah bijak yang dianggapnya sangat berlebihan.


"Tuan Aaron? Saya mengantarkan makan malam untuk nona Anindya. Tadi nyonya juga menyuruh saya untuk memanggil Anda agar segera turun untuk makan bersama, Tuan Aaron."


"Baiklah, aku akan turun sekarang. Aku tadi hanya ingin berbicara sebentar padanya. Oh ya, jangan bilang mama dan papa kalau aku di sini karena nanti pasti akan salah paham," sahut Aaron dengan tatapan tajam.


Sementara itu, pelayan wanita itu mengangguk perlahan dan kini melihat majikannya memberikan sebuah kode agar ia cepat masuk, terlebih dulu membungkukkan badan.


Kemudian menyapa gadis muda yang masih duduk di atas ranjang dengan meletakkan menu makan malam di atas nakas. "Saya taruh di sini, Nona."


"Terima kasih, Bik." Zea hanya menyahut singkat dan sekilas bisa melihat sosok wanita yang ada di dekat pintu itu telah berlalu pergi, sehingga membuatnya lega.


'Syukurlah ia sekarang pergi dari kamar ini. Rasanya aku seperti tidak bisa bernapas saat mendapatkan tatapan tajam dari tuan Aaron,' gumam Zea yang kini merasa bersalah karena tidak bersikap sopan pada putra dari orang tua yang baik padanya.


'Semoga tuan dan nyonya tidak menyalahkanku karena membuat mood tuan Aaron berubah buruk,' gumam Zea yang kini beranjak dari tempat tidur karena ingin pergi ke kamar mandi dan menyuruh pelayan meninggalkan ruangan karena bisa sendiri.


To be continued...