
"Ampun, Tante! Ya ampun, telingaku bisa putus jika Tante dari tadi menjewernya. Aku sama sekali tidak bermaksud apapun karena hanya ingin melihat seperti apa ruangan kamar seorang putri mahkota keluarga Kusuma. Itu saja, Tan!" Erick saat ini mencoba untuk melindungi telinganya dengan tangannya agar tidak terus dijewer.
Berbeda dengan Jennifer yang tadinya merasa sangat terkejut dengan ulah dari Erick ketika tiba-tiba masuk saat Anindya menyusui. "Kau tahu jika perbuatanmu itu benar-benar sangat keterlaluan, Erick! Anindya bahkan sedang menyusui putranya. Apa kau tidak tahu malu dengan masuk ke dalam tanpa permisi?"
Ia sangat kesal karena putranya saja tidak pernah mencuri kesempatan untuk melihat kamar dari Anindya. Padahal jelas-jelas merupakan ayah kandung dari Kenzie.
Jadi, kali ini tidak akan mentolerir perbuatan Erick karena bisa mengulanginya untuk kedua kali jika dibiarkan.
Erick saat ini menyatukan kedua telapak tangan dan menampilkan wajah memelas karena benar-benar sangat menyesal dengan apa yang dilakukannya.
"Aku benar-benar tidak tahu itu, Tan. Aku tidak akan mengulanginya. Aku janji," ucapnya dengan mengarahkan dari telunjuk ke depan agar wanita yang sudah seperti ibu kandungnya sendiri tersebut mau mempercayainya.
Namun, kali ini tidak ada ampunan untuk Erick karena benar-benar sangat kesal. Ia efek mengibaskan tangannya. "Lebih baik kamu menginap saja di hotel karena berbahaya berada di sini. Bisa-bisa nanti malah tiba-tiba masuk ke kamar Anindya dan memperkosanya."
Erick yang sama sekali tidak pernah sekalipun ada keinginan untuk itu, refleks membekap mulut serta membulatkan kedua mata karena sangat terkejut dengan pemikiran dari wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik tersebut.
Ia bahkan sudah mengusap beberapa kali dadanya untuk menyabarkan diri sendiri agar tidak merasa kesal. "Astaghfirullah, Tante. Aku bahkan tidak pernah berpikir seperti itu, yang ada malah Aaron melakukannya pada Zea. Jangan samarkan aku dengan putra Tante yang mesum itu karena telah memperkosa Zea."
Ia benar-benar sangat kesal dan ingin menyadarkan jika dirinya tidak sebesar putra wanita itu. Apalagi meskipun ada kesempatan sering berduaan dengan Zea dulu, tidak pernah sekalipun melakukan hal yang memicu hal-hal intim karena khawatir jika gadis itu akan menganggapnya tidak tahu sopan santun dan akan menjauh serta membencinya.
Tentu saja Jennifer saat ini merasa tertampar dengan apa yang baru saja didengarnya, tapi tidak mau kalah berdebat karena ingin segera mengusir dari rumah itu.
"Aaron melakukannya karena dipengaruhi oleh minuman beralkohol saat patah hati. Ia tidak mungkin melakukannya dalam keadaan sadar karena mengetahui seperti apa putraku. Akulah yang mengandung 9 bulan serta melahirkannya dan merawat dengan baik."
"Jadi, jangan menjelekkan Aaron hanya gara-gara melakukan satu kesalahan akibat efek minuman keras," ucapnya dengan takut wajahmu merah dikuasai oleh amarah.
Saat ia merasa sangat marah pada Erick, mendengar suara Anindya yang baru saja keluar dari kamar karena mendengar teriakannya yang menimbulkan kebisingan.
"Kebetulan Anindya datang. Biar dia yang mengambil keputusan dan kau harus mematuhinya!" sarkasnya yang kiri menuju ke arah Erick ketika berbicara dengan Anindya.
"Oke, siapa takut!" Erick yang tadinya ingin meladeni perkataan dari wanita itu, beralih menatap ke arah Anindya untuk menjelaskan apa yang dilakukannya tadi tidak mempunyai niat buruk apapun.
"Anindya, maafkan aku karena tiba-tiba masuk. Tadi aku hanya ingin mengetahui seperti apa ruangan kamarmu, itu saja. Sama sekali tidak ada niat buruk yang lain. Apalagi kamu sudah berubah menjadi Cinderella dan tidak sama seperti yang dulu."
"Pasti ada perbedaan dan ingin kuketahui. Kamu percaya padaku jika aku tidak memiliki niat buruk padamu, kan?" Erick merasa yakin jika Zea jauh lebih bisa mengerti dirinya daripada wanita paruh baya yang tak jauh dari tempatnya berdiri tersebut.
Berbeda dengan Khayra yang tadi menidurkan putranya lagi setelah selesai menyusui, menyuruh untuk ibunya Aaron masuk ke dalam.
Ia ingin berbicara empat mata dengan Erick karena tadi mendengar perdebatan mereka.
"Nanti kalau Kenzie menangis, panggil aku, Ma," ucap Khayra begitu melihat raut wajah kesal ibunya Aaron ketika seperti tidak mau meninggalkannya.
Hingga ia pun kini melihat wanita itu hanya menganggukkan kepala tanpa membuka suara saat masuk ke dalam ruangan kamar. Kemudian beralih menatap ke arah Erick yang terlihat seperti tidak terima dituduh macam-macam.
"Ayank."
"Erick!"
"Iya, Ayank," lirih Erick dengan perasaan tidak karuan karena takut jika terjadi kesalahpahaman karena perbuatannya yang ceroboh dan tidak bermaksud apapun. "Maafkan aku, ya."
Refleks Khayra berjalan mendekat dan langsung mengarahkan tangannya untuk memberikan sebuah hukuman, yaitu mencubit pinggang kokoh Erick karena tadi sudah diberikan hukuman dengan menjewer telinga, jadi sengaja menambahnya.
"Jangan pernah mengulanginya lagi! Aku tidak akan pernah memaafkan jika berani masuk ke kamarku lagi! Kamar adalah ruangan pribadi seorang wanita, Erick!" sarkas Khayra yang saat ini merasa sangat puas bisa meluapkan kekesalannya pada pria yang dianggap sangat ceroboh.
Saat Erick tadinya berpikir jika Zea mungkin akan memberikan hukuman yang sama dengan ibunya Aaron, kini meringis kesakitan ketika rasa nyeri pada bagian pinggangnya ketika dicubit sangat kuat.
"Aduh! Ayank, sakit!" Ia bahkan tidak menyangka jika perbuatan dari gadis itu benar-benar meninggalkan rasa nyeri luar biasa hingga membuatnya meringis kesakitan.
Sampai pada akhirnya ia merasa sangat lega ketika kali ini sudah tidak merasakan sakit lagi saat dilepaskan.
"Makanya jangan suka berbuat seperti itu lagi!" Khayra yang tadinya berniat untuk berkemas karena besok harus berangkat pagi-pagi sekali, kini dan ingin mengungkapkan apa yang ada di otaknya.
"Iya, maaf, Ayank. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Ia melakukan hal sama dengan memberikan jari kelingking agar kali ini gadis itu mau mengaitkan dengan yang.
Namun, merasa kesal karena perbuatannya sama sekali tidak ditanggapi. Hingga ia membulatkan mata karena tidak menyangka akan mendengar perkataan menyakitkan.
"Pulanglah ke Jakarta sekarang. Naik bus saja jika tidak ada tiket pesawat mendadak. Lagipula aku besok berangkat pagi-pagi sekali ke bandara. Atau aku carikan kau tiket sekarang untuk kembali ke Jakarta." Ia kapan niat untuk mengambil ponsel miliknya di saku celana, tapi melihat Erick menggelengkan kepala dengan raut wajah kecewa, sehingga tidak jadi melakukannya.
"Ayank, tega banget sih sama aku. Aku bahkan baru datang, malah disuruh pulang hanya gara-gara melakukan sedikit kesalahan. Aku kan sudah janji tidak akan mengulanginya lagi." Berpikir jika gadis itu sudah masuk dalam pengaruh ibunya Aaron, sehingga saat ini berpikir negatif jika telah berubah sikapnya.
Ia bahkan dari dulu selalu melihat Aaron yang mendapatkan sikap sinis dari Zea, tapi kali ini malah diri sendiri yang merasakannya dan sangat tidak nyaman. "Apakah kamu mau bilang aku tidak boleh datang ke sini lagi?"
Sementara itu, Khayra saat ini hanya terdiam karena pria di hadapannya tidak paham dengan apa yang dimaksud. Hingga ia kini ingin Erick mengerti dengan menepuk lengan kekar di hadapannya.
"Pulanglah karena saat ini aku kesal padamu. Mungkin nanti sudah tidak kesal lagi, mengizinkanmu datang. Anggap saja ini adalah hukuman karena melakukan hal yang tidak aku sukai." Ia pun sudah mengarahkan tangannya untuk menunjuk ke arah anak tangga.
"Pergilah!"
Erick memang tidak melihat raut wajah memerah dari Zea, tapi melihat keseriusan dari ekspresinya, sehingga membuat ia menelan saliva dengan kasar karena tidak bisa membantah ataupun merengek seperti biasanya.
"Baiklah. Aku akan pergi sekarang. Hubungi aku jika nanti emosimu sudah hilang. Salam juga pada tante Jennifer." Erick yang biasa selengek'an di depan Zea, kini sudah tidak berani melakukannya.
Saat gadis itu hanya menganggukkan kepala tanpa membuka suara, ia berjalan menuruni anak tangga sambil menatap ke arah penampilannya saat ini ketika memakai pakaian kakek dari Zea.
'Masa aku pulang dengan berpakaian seperti ini? Mana di luar masih hujan, pula. Tega sekali ayank memberikan hukuman sekeras ini padaku hanya gara-gara masuk ke dalam kamarnya tanpa izin. Padahal aku tidak melakukan apapun padanya.'
Saat ia baru saja menapaki anak tangga terakhir, mendengar suara dari wanita yang berada di lantai atas dan membuatnya mendongak.
"Biar sopir yang mengantarkanmu pergi!" teriak Khayra yang saat ini langsung menelpon sopir untuk bersiap dan berlalu dari pandangan Erick.
"Itu adalah hukuman agar kamu tidak mengulanginya lagi, Erick! Jangan berpikir jika aku baik padamu, sehingga membuatmu berani berbuat sesuka hati." Ia pun kini kembali masuk ke dalam kamar untuk berkemas.
Sementara di lantai dasar, Erick masih berdiri di tempat semula dan belum beranjak dari sana. Ia menepuk jidat berkali-kali untuk merutuki kebodohannya sendiri karena ceroboh dan akhirnya membuat gadis yang disukai marah padanya hingga mengusir.
"Ini buat pelajaran untukmu, Erick! Mentang-mentang Zea selalu baik padamu, sehingga membuatmu berbuat sesuka hati," gumamnya yang kini berjalan menuju ke arah kamar dan mengambil dompet serta jam tangan miliknya.
Ia sengaja meninggalkan tas serta pakaian ganti yang tadi basah dan dicuci oleh pelayan. Berharap nanti saat boleh datang ke sana lagi bisa untuk iya ganti.
Saat baru saja keluar dari ruangan kamar, sudah disambut oleh pria paruh baya yang membungkuk hormat padanya.
"Tuan Erick, nona Khayra menyuruh saya untuk mengantarkan Anda." Sang supir yang tadinya merasa sangat terkejut dengan pakaian yang dikenakan oleh pria muda tersebut adalah milik tuan besar, menahan diri untuk tidak tertawa.
Ia benar-benar merasa penampilan pria itu seperti majikannya, tapi dalam versi muda. "Anda mau diantarkan ke mana, Tuan?"
Awalnya Erick berniat untuk pergi ke Mall, membeli pakaian ganti, tapi tidak jadi melakukannya karena ingin terus memakai baju milik kakeknya Zea dan mempostingnya di sosial media dengan hastag perusahaan Kusuma.
Ia ingin berkeliling di kota Surabaya untuk mengetahui apa saja keunikan di kota pahlawan itu. Kini, kenapa tajam ke arah sang sopir yang ia ketahui ingin menertawakannya.
"Jika tertawa, aku akan melaporkan pada tuan Kusuma jika sadar nanti. Antarkan aku berkeliling kota Surabaya dan nanti terakhir akan pergi ke hotel. Sekarang aku booking tempat dulu " Ia tetap ingin pulang besok karena sudah membeli tiket.
Membayangkan pulang sekarang dengan naik bus membuatnya serasa mau muntah karena pasti akan sangat lama sekali dan tubuhnya akan pegal-pegal merasakan capek di dalam kendaraan darat.
"Siap, Tuan. Saya akan mengantarkan kemanapun Anda ingin pergi. Saya sebenarnya bukan ingin menertawakan penampilan Anda ketika memakai baju milik tuan besar, tapi sekarang rasanya seperti melihat tuan Kusuma versi muda. Apalagi dulu saat muda tidak kalah tampan dengan Anda."
Kemudian saat ini menunjukkan foto di masa lalu ketika masih berusia sangat mudah dan sudah bekerja menjadi sopir untuk pria itu. "Bahkan saya masih menyimpan foto tuan Kusuma saat mamanya nona Khayra remaja."
Erick yang seketika merasa tertarik untuk melihat foto tersebut, kini meminta ponsel sang supir dan meskipun foto masih hitam putih, terlihat aura ketampanan dari kakeknya Zea.
"Wah ... ternyata benar jika tuan Kusuma merupakan pria yang tampan di masa muda. Apa aku boleh meminta foto ini. Kirimkan pada nomorku." Erick merasa senang karena sang sopir menganggukkan kepala tanda setuju dan mengetikkan nomornya.
Bahkan juga langsung mengirimkan sendiri foto dari galeri tersebut ke nomornya. 'Aku akan mengirimkan ini pada Aaron. Bahkan fotoku yang memakai pakaian tuan Kusuma. Pasti dia sangat cemburu.'
Erick saat ini berubah pikiran untuk pergi berkeliling kota karena ingin ke rumah sakit menjenguk kakeknya Zea. Ia mengungkapkan pada sang sopir dan mengatakan jika ingin tidur di Rumah Sakit.
'Biar Zea tidak marah lagi padaku karena aku berbaik hati menjaga kakeknya,' gumamnya ketika masuk ke dalam mobil dan dilindungi sang sopir memakai payung agar tidak kehujanan.
Saat sudah duduk di dalam mobil yang kini telah keluar dari pintu gerbang, kini ia mulai melaksanakan rencananya untuk mengirimkan pesan pada Aaron.
Aku dan tuan Kusuma sepertinya sama-sama tampan memakai pakaian seperti ini.
Kemudian ia selfie dan mengirimkan pada Aaron. Setelah menunggu beberapa saat, ia mendapatkan pesan balasan dan tidak sabar ingin membacanya karena berpikir Aaron kesal.
Namun, seketika ia mengepalkan tangan dengan wajah memerah begitu membaca pesan dari Aaron. "Aaah ... tidak mungkin. Dia pasti sedang mengada-ngada untuk membuatku cemburu."
Erick kembali membaca untuk kedua kali. "Terserah apa yang kau lakukan di Surabaya karena besok aku dan Anindya akan terbang ke New York dan menginap di hotel yang sama. Inilah yang namanya jodoh. Garam di laut, asam di gunung, pasti ketemu juga di kuali ketika di masak."
Ia bahkan merasa sangat marah melihat emoticon tertawa yang sangat banyak seolah menertawakannya. "Berengsek! Aaron benar-benar sangat menyebalkan."
Saat ini, Erick ini memastikannya sendiri dengan bertanya pada Zea, tapi ketika mengingat jika wanita itu masih marah padanya, sehingga tidak berani melakukannya dan memilih untuk diam.
Bahkan seketika menggambar bersandar pada jok mobil dan memejamkan mata sambil mengacak frustasi rambut.
'Sial! Kenapa aku sangat apes sekali hari ini? Zea marah padaku dan sekarang Aaron malah akan pergi ke New York dan bertemu dengannya di sana. Berengsek!' umpat Erick yang saat ini meninju pahanya sendiri dan membuatnya meringis kesakitan.
Hingga ia mendengar suara dari sang sopir yang menatapnya dari spion untuk memastikan jika tidak apa-apa.
"Tuan, apa yang Anda lakukan? Kenapa menyakiti diri sendiri?" tanya sang supir yang saat ini merasa jika perbuatan dari pria tersebut sangatlah aneh.
Ia bertugas untuk memastikan keselamatan pria tersebut seperti perintah dari sang majikan, sehingga merasa khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk.
"Aku baik-baik saja karena saat ini hanya sedang kesal. Fokus saja mengemudi
menuju ke rumah sakit," ucapnya yang saat ini kembali memejamkan mata sambil mengembuskan napas kasar untuk menenangkan pikirannya yang dikuasai oleh amarah.
To be continued...