Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Ejekan Aaron



Aaron yang saat ini menunggu di luar ruangan ganti bersama sang ibu yang dari tadi mengatakan sudah tidak sabar untuk melihat gadis kecil itu memakai gaun pengantin yang harusnya dikenakan Jasmine hari ini.


Bahkan ia hanya geleng-geleng kepala melihat respon dari sang ibu yang sangat berlebihan ketika mengungkapkan semangatnya.


"Pasti Zea akan sangat cantik memakai gaun itu meskipun tidak secantik Jasmine karena ia memang merupakan seorang model." Jenny sebenarnya ingin melanjutkan perkataannya, tapi tidak ingin putranya bertambah kesal.


Jadi, ia hanya bisa mengumpat di dalam hati untuk mengungkapkan apa yang tidak disampaikan pada putranya.


'Percuma cantik jika hanya bisa membuat sakit hati dan emosi. Tapi putraku tidak mengerti itu karena sangat mencintai Jasmine. Seolah mata batinnya sudah tertutup oleh cinta buta pada wanita keras kepala itu.'


'Semoga putraku akan hidup bahagia setelah menikah bersama Jasmine. Meskipun aku sangat yakin jika nanti Aaron hanya akan menahan amarah seperti ini setiap hari,' ucap sosok wanita yang saat ini menatap ke arah ruangan ganti dan berharap pintu segera terbuka agar bisa melihat sosok gadis polos yang masih belia itu keluar dari sana.


Hingga suara bariton dari putranya membuatnya menoleh di sebelah kiri dan melihat wajah putranya yang seperti mengungkapkan sebuah ejekan.


"Kita lihat saja nanti seperti apa bocil itu setelah mengenakan gaun pengantin Jasmine. Aku sangat yakin jika yang terlihat nanti adalah anak dibawah umur itu akan sangat lucu karena ia sangat pendek dan pasti gaun pengantin Jasmine akan kebesaran."


Saat Aaron baru saja menutup mulutnya, di saat bersamaan, pintu ruangan ganti terbuka dan memperlihatkan gadis yang tadi dibicarakan.


Ia dan sang ibu seketika menatap ke arah gadis yang memakai gaun pengantin modern yang identik dengan sentuhan-sentuhan unik yang memadukan potongan feminin dan aksen mewah, menjadikan perpaduan gaya klasik dan modern dalam satu busana pernikahan yang elegan.


Gaun pengantin modern dengan konsep off the shoulder wedding dress itu memang menjadi pilihan Jenny dan merasa jika gaun tersebut cocok sekali digunakan oleh Jasmine yang punya leher jenjang dan selalu ingin terlihat sexy di pesta pernikahannya.


Gaun off the shoulder itu punya bentuk gaun panjang dengan potongan A line. Bahkan menambah kesan manis dengan menggunakan veil yang diletakkan di kepala.


Jenny memilih itu saat desainer menjelaskan tentang awal mulanya. Bahwa Gaun off the shoulder itu terinspirasi dari gaun yang digunakan oleh karakter Belle di Beauty and The Beast.


Di dalam kartun itu, Belle menggunakan gaun berwarna kuning dengan model gown dan off the shoulder. Dari gaun tersebut akhirnya, desainer terinspirasi untuk membuat gaun off the shoulder namun dengan sentuhan lebih modern.


Namun, ia merasa jika gaun yang memang seharusnya dipakai oleh Jasmine itu sama sekali tidak cocok dikenakan oleh Anindya yang memiliki postur tubuh lebih pendek dan tidak mempunyai leher jenjang seperti calon menantunya.


Refleks Jenny bangkit berdiri dari tempatnya dan berjalan mendekati Zea agar bisa melihat dari dekat. Sebenarnya ia ingin mengatakan bahwa gaun itu sangat tidak cocok dikenakan oleh Anindya.


"Wah ... kamu sangat cantik mengenakan gaun pengantin ini, Sayang." Jenny yang baru saja menutup mulut, seketika menoleh ke arah belakang karena putranya kini tertawa terbahak-bahak dan membuatnya mengarahkan tatapan tajam.


Sementara Zea yang tadinya hendak mengucapkan terima kasih atas pujian yang diungkapkan oleh wanita di hadapannya tersebut, seketika menampilkan wajah masam dengan bibir mengerucut.


Karena tanggapan dari pria yang duduk di atas sofa tersebut seperti tengah mengejeknya habis-habisan hanya dengan tertawa.


Ia padahal berpikir jika akan menjadi seperti tokoh utama di film-film romantis yang dilihatnya. Bahwa tokoh utama pria selalu terpesona dan tidak berkedip saat tokoh utama wanita mengenakan gaun pengantin.


'Sadarlah, Zea! Kamu bukan tokoh utama di film ini karena nona Jasmine-lah yang menjadi tokohnya. Kamu sama sekali tidak bisa mengalahkan kecantikan calon istri tuan Aaron karena hanyalah gadis culun cupu yang selalu dikatain oleh semua teman,' gumamnya di dalam hati.


Akhirnya Zea memilih untuk mengunci rapat bibirnya saat kalimat bernada ejekan kini lolos dari bibir pria yang bangkit berdiri dari sofa dan berjalan menuju ke arahnya.


Aaron yang tadinya menatap ke arah pintu yang terbuka dan menampilkan gadis kecil itu mengenakan gaun pengantin milik Jasmine, seketika merasa sangat aneh dan berpikir jika itu sangat tidak cocok untuk dikenakan gadis dengan postur mungil itu.


Ia beberapa saat lalu tidak bisa berhenti tertawa sambil memegangi perut ketika melihat gadis pendek memakai gaun menjuntai tinggi. Karena merasa sangat tidak puas dengan apa yang dilihatnya, refleks Aaron menjelaskan penilaiannya agar gadis itu sadar diri.


"Mama lihat ini, bukan? Bukankah Semua yang kukatakan barusan benar? Bahwa si bocil yang merupakan gadis di bawah umur ini tidak cocok mengenakan gaun pengantin milik Jasmine."


Refleks Jenny langsung meninju lengan kekar putranya agar tidak melanjutkan ejekan pada gadis yang sudah masam wajahnya. "Sudah, diam! Aku akan memplester mulutmu jika berbicara lagi."


Jenny bahkan kembali mengarahkan tatapan tajam agar putranya bisa diam dan tidak lagi berbicara karena khawatir akan menyinggung perasaan Anindya.


Namun, putranya seolah tidak peduli padanya karena kembali berbicara dan membuatnya ingin sekali mengarahkan pukulan sekali lagi, tapi tidak jadi. Itu karena apa yang disampaikan oleh Aaron benar adanya.


"Mama ... Mama, lebih baik jujur daripada berbohong. Bukankah itu yang selalu Mama ajarkan padaku? Jadi, putramu ini menjadi tidak suka berbohong dan selalu mengatakan hal yang sebenarnya. Memangnya aku salah?"


Kemudian Aaron berjalan meninggalkan ibu dan juga Anindya dan menuju ke arah deretan gaun pengantin yang berada di ruangan sebelah.


To be continued...