Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Penolakan



"Apa bibik yang memanggilmu untuk makan malam?" tanya Jenny yang kini menatap ke arah saat baru saja mendaratkan tubuh di hadapannya.


Ia mengerutkan kening karena melihat wajah putranya yang masam dan membuatnya penasaran dengan apa yang terjadi. "Apa ada masalah dengan Jasmine? Hingga kamu sangat masam seperti jemuran kusut?"


"Biasalah, Ma. Ada beberapa hal yang tidak sepaham dari pemikiran kami," ucap Aaron yang terpaksa berbohong pada sang ibu karena tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya bahwa ia saat ini tengah kesal pada Anindya.


Melihat wajah ketakutan dari gadis itu yang berpikir macam-macam padanya, tentu saja membuat harga dirinya terhina. Apalagi ia selama ini sangat mencintai sang kekasih yang bahkan sebentar lagi akan dinikahinya.


Hingga ia mengorbankan nama sang kekasih demi menutupi rasa kesal pada gadis kesayangan orang tuanya. Sampai ia menatap ke arah sang ayah ketika menasihatinya panjang kali lebar.


"Hal seperti itu biasa terjadi, Aaron. Apalagi ketika mendekati pernikahan. Pasti ujian akan lebih berat karena itu sebuah awal untuk membuat hubungan kalian semakin kuat. Apakah cinta kalian akan semakin kuat atau rapuh."


Jonathan memberikan piring pada sang istri setelah memberikan petuah bijak agar putranya paham bagaimana cobaan sebelum menikah. Apalagi dulu ia juga merasakannya sendiri dan ingin putranya tidak mengalami hal buruk sepertinya dulu.


"Mama bisa jelaskan pada Aaron mengenai ujian kita dulu sebelum menikah." Kemudian menerima piring yang sudah berisi nasi dan mulai mengambil sayuran serta lauk.


Sementara itu, Jenny yang kini melakukan hal serupa pada putranya, kini menambahkan nasi dan menceritakan sebuah rahasia yang selama ini ditutupi.


"Mama dulu mengatakan pada papamu untuk membatalkan pernikahan satu minggu sebelum hari H. Biasa, kaum wanita lebih sensitif dalam hal apapun yang berhubungan dengan persiapan pernikahan. Kemudian nenekmu murka pada ibu dan berniat untuk membatalkan."


Jenny sebenarnya merasa malu pad putranya saat menceritakan keburukannya, tapi berpikir itu baik untuk Aaron yang sebentar lagi akan menjadi mempelai pengantin pria dan membina biduk rumah tangga.


"Padahal saat itu Mama hanya terbawa amarah saja, tapi malah sampai terdengar ke nenekmu yang sangat arogan itu. Makanya nenekmu sampai sekarang tidak suka pada Mama dan hanya sayang padamu."


Aaron yang kini mendengarkan sambil mengunyah makanan, kini mengerjapkan mata karena baru mengetahui tentang hal itu. Tentu saja ia makin penasaran dengan lanjutan ceritanya.


"Dari dulu memang aku sangat heran dengan sikap nenek, tapi tidak berani bertanya pada Mama. Ternyata itu sebabnya? Lalu, bagaimana akhirnya Papa dan Mama akhirnya jadi menikah dan terlahir putra setampan ini?"


Meskipun mual mendengar pujian pada diri sendiri, Aaron saat ini mengunyah makanan di dalam mulut dan menoleh pada sang ayah karena berharap pria yang sangat dihormati serta kagumi itu mau menjawabnya.


Benar saja, Jonathan hanya mengatakan kalimat pendek yang mewakili semuanya. "Karena cinta. Memangnya apa lagi? Papa cinta mati pada mamamu dan tidak ingin wanita lain. Bahkan meskipun dilarang oleh nenekmu, tetap Papa terjang!"


"Wah ... Papa memang keren dan akan selalu menjadi panutanku. Aku juga sangat mencintai Jasmine dan hanya ingin menikahinya, Pa, Ma. Doakan acara pernikahan kami lancar." Aaron sebenarnya mengingat pembahasan ketika ia berada di restoran saat melamar sang kekasih.


***


Satu bulan lalu, Aaron datang ke restoran dengan penampilan rapi serta membawa cincin serta buket bunga mawar merah. Ia hari ini akan memberikan sebuah kejutan pada sang kekasih dengan melamarnya untuk menunjukkan keseriusan.


Kini, ia sudah duduk di kursi khusus yang selama ini menjadi tempat mereka menghabiskan waktu di salah satu restoran favorit dengan konsep ala cafe tersebut.


Namun, tiba-tiba ia merasa marah pada salah satu pegawai wanita dengan penampilan yang menurutnya sangat kampungan memakai kaca mata besar menumpahkan air di kemejanya.


Hingga ia menuntut manager restoran dan meminta untuk mengganti pakaiannya karena basah. Tentu saja ia tidak ingin bertemu dengan sang kekasih dalam keadaan kacau saat melamar.


Bahkan menyuruh manager restoran agar gadis ceroboh itu dipecat karena membuatnya marah serta kesal. Mood-nya berubah buruk gara-gara pegawai cupu dan kampungan.


Nasib baik sang kekasih bilang akan terlambat karena ada pemotretan tambahan. Beberapa menit kemudian, ia yang mengganti pakaian setelah dibelikan yang baru, dengan sabar menunggu sang kekasih yang memang berprofesi sebagai seorang model.


Sebenarnya Aaron sudah berkali-kali mengatakan agar sang kekasih tidak memakai pakaian seksi saat di luar karena ia tidak rela keindahan wanita yang dicintainya dinikmati oleh para pria lain.


Namun, Jasmine selalu beralasan jika pekerjaan sebagai model membuatnya terbiasa dengan pakaian yang seksi karena merasa menjadi terlihat makin cantik. Akhirnya karena sangat mencintai sang kekasih, ia memilih mengalah dan berusaha mengerti agar tidak sampai terjadi pertengkaran.


"Hai, Sayang. Maaf aku terlambat," ucap Jasmine Soraya yang kini mencium pipi kiri sang kekasih dan mendaratkan tubuh di sebelahnya.


Sementara itu, Aaron hanya tersenyum simpul sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku baru datang, Baby."


"Syukurlah. Kamu belum memesan makanan? Kenapa tidak memesan terlebih dahulu agar aku bisa langsung makan begitu datang? Aku tidak bisa lama-lama karena harus kembali." Jasmine yang merasa sangat haus, kini meminum air milik sang kekasih dan meninggalkan bekas lipstik di gelas.


Sementara itu, Aaron yang sudah sangat hafal dengan mau sang kekasih, kini mencubit pipi putih tirus di sebelahnya. "Aku sudah memesannya, jadi seperti keinginanmu. Sebentar lagi pasti datang."


Karena tidak ingin membuang waktu, kini Aaron langsung menyerahkan buket bunga mawar yang tadi ia sembunyikan di bawah meja. "Untukmu. Baby."


"Wah ... indah sekali buketnya, Sayang," ucap Jasmine yang kini mencium harum bunga mawar di tangan.


Hingga ia pun membulatkan mata begitu sang kekasih kembali membuatnya sangat terkejut. "Aaron?"


"Menikahlah denganku, Baby! Aku tidak menerima penolakan," sahut Aaron yang kini langsung mengambil cincin dari kotak perhiasan dan langsung memakaikan di jemari lentik sang kekasih.


Hubungan mereka sudah berlangsung 2 tahun dan berpikir sudah cukup lama, sehingga memilih untuk mengakhiri masa lajang. Apalagi ia tidak ingin menunda pernikahan karena berpikir serius dan tidak main-main dalam menjalin hubungan.


Sementara itu, Jasmine yang saat ini tidak bisa berkomentar apapun atas lamaran tiba-tiba dari sang kekasih, masih kebingungan. Tentu saja ia merasa sangat bahagia karena pria yang sangat dicintai melamarnya dan serius padanya.


Hanya saja, ia kini tengah meniti karir dan mulai merangkak naik. Kini, ia berniat untuk meminta waktu pada sang kekasih agar tidak terburu-buru menikah setelah melamar secara tidak resmi karena bukan di depan orang tua.


"Sayang, aku sangat bahagia karena kamu memilihku untuk serius menjalin hubungan, tapi kita tidak menikah secepatnya, kan?"


"Aku sudah berbicara pada orang tuamu sebelum melamarmu, Baby. Bahwa aku akan menikahimu dan meminta mereka mengurus pernikahan. Semua biaya pernikahan akan ditanggung keluargaku, jadi keluargamu hanya sibuk mengurus dengan memakai konsep apa."


Kejutan yang sebenarnya baru saja disampaikan oleh Aaron pada sang kekasih dan ia sudah mendapatkan persetujuan dari orang tua sang kekasih karena menjadi calon menantu idaman.


Berasal dari keluarga konglomerat serta penerus perusahaan besar yang akan diwariskan padanya karena merupakan putra tunggal membuatnya percaya diri. Bahwa sang kekasih akan merasa paling bahagia mendapatkan suami sepertinya.


Hingga ia tidak menyangka jika sang kekasih tiba-tiba membahas hal lain. "Sayang, karir aku baru merangkak naik dan sebentar lagi impianku akan tercapai karena saat ini ada beberapa perusahaan yang tertarik untuk mengontrakku secara khusus."


"Jika aku menikah, mana laku aku di dunia modelling. Bagaimana jika kita hanya tunangan saja dulu? Setelah impianku tercapai, baru kita menikah." Masih berharap besar jika sosok pria yang sangat dicintai memahami dan tidak melarangnya.


Namun, Jasmine seketika membuatnya merasa lemas karena mendapatkan penolakan mentah-mentah dari Aaron.


"Tidak bisa, Sayang. Aku sudah menyuruh wedding organizer mengurusnya dan telah berbicara pada keluargamu. Kamu bisa tetap bekerja meskipun kita menikah nanti," sahut Aaron yang saat ini tengah menatap intens sosok wanita yang terlihat sangat terkejut dengan penjelasannya.


To be continued...