
Satu bulan kemudian...
Aaron saat ini berada di ruangan kerja dan tengah berdiri di samping kaca raksasa sambil menatap ke arah jalanan ibukota yang berada di bawah perusahaan. Ia dari tadi terdiam di sana setelah mendapatkan informasi dari sang ayah yang mengabarkan jika tidak ada perkembangan sama sekali mengenai gadis yang telah direnggut kesuciannya.
Kini, ia mengeratkan rahang dan bunyi gemetar gigi terdengar sangat jelas mewakili amarah yang menguasai diri begitu mendengar apa yang baru saja disampaikan sang ayah melalui telpon.
Bahkan saat ini tangan kanan mengepal dan membuka sampai beberapa kali karena bingung harus bagaimana lagi mencari keberadaan Zea.
Ia pun beberapa saat kemudian mengacak frustasi rambutnya untuk mengungkapkan putus asa karena tidak bisa menemukan gadis yang ingin dinikahi untuk sebuah pertanggungjawaban atas perbuatan yang dilakukan.
"Zea, sebenarnya kamu di mana? Aku bahkan sudah berusaha keras untuk mencari keberadaanmu, tapi sudah satu bulan tidak ada perkembangan sama sekali. Bahkan polisi pun belum menemukanmu. Aku pun Ya sudah menyebarkan berita kehilangan, juga tidak mendapatkan informasi apapun."
Aaron yang sebenarnya saat ini tengah putus asa dan seperti ingin menyerah untuk mencari keberadaan Zea, tapi dalam hati menolak dan tetap ingin terus berjuang. "Apa yang harus kulakukan sekarang?"
Saat Aaron saat ini larut dalam pikirannya sendiri untuk memikirkan sosok gadis yang telah membuatnya tidak tenang selama beberapa bulan terakhir ini, indra pendengaran menangkap suara ketukan pintu yang membuatnya menoleh dan melihat asisten pribadinya masuk ke dalam.
"Tuan Aaron, ada orang yang ingin bertemu dengan Anda!" ucap seorang pria memakai setelan lengkap berwarna biru.
Sementara itu, Aaron yang saat ini merasa tidak ada janji dengan siapapun, memicingkan mata karena merasa penasaran dengan siapa yang ingin bertemu dengannya secara tiba-tiba.
"Siapa?" tanya Aaron yang saat ini sedang tidak mau diganggu karena benar-benar pusing dan tidak ingin bertemu dengan orang yang tidak penting.
"Aku sangat malas bertemu dengan orang tidak penting." Baru saja ia menutup mulut, seketika menoleh ke arah pintu yang tiba-tiba saja terbuka dan terlihat sosok pria yang sangat tidak disukainya sudah menghambur masuk ke dalam ruangannya.
Sang asisten yang tadinya berniat untuk membuka suara menjawab pertanyaan dari bosnya, tidak jadi melakukan begitu tamu yang dimaksud sudah masuk tanpa izin. "Tuan, Bukankah saya tadi suruh menunggu di depan ruangan?"
"Tidak perlu! Bosmu tidak akan keberatan bertemu denganku," ucap Erick yang saat ini tengah menatap dengan tajam penuh kebencian begitu melihat Aaron.
Ia benar-benar frustasi serta putus asa karena meskipun sudah menyewa detektif untuk mencari keberadaan Zea di kota Surabaya, tetap saja tidak menemukan. Bahkan merasa sangat heran bagaimana bisa tidak ada informasi apapun mengenai Zea melalui detektif yang diperkerjakannya.
Jadi, untuk melampiaskan amarahnya karena tidak bisa menemukan gadis yang selama ini dicintai menghilang tanpa jejak, sehingga langsung menuju ke perusahaan Aaron karena berpikir bahwa pria itulah yang membuat dia pergi dari kehidupannya.
Sementara itu, Aaron yang sudah tidak pernah menghubungi Erick begitu mengetahui bahwa Zea pergi bersama sang kakek, merasa heran dengan kedatangan pria itu ke perusahaannya.
Namun, ia saat ini ingin tahu apa yang ingin dilakukan oleh Erick, sehingga kini mengibaskan tangan untuk menyuruh asisten pribadinya keluar dari ruangan dan membiarkannya berbicara empat mata dengan pria yang sangat tidak disukainya.
"Baik, Presdir." Sang asisten yang tadinya merasa kesal melihat pria yang berusia lebih muda tersebut masuk tanpa izin dan tidak mendengarkan apa yang tadi diperintahkan.
'Siapa sebenarnya pria tidak tahu sopan santun ini? Apa ada hubungan dengan bos?' gumamnya saat berjalan melewati pria dengan celana sobek tersebut.
Sementara itu, Erick yang saat ini langsung mendaratkan tubuhnya di sofa dan mengembuskan napas kasar karena benar-benar frustasi memikirkan sosok gadis yang tidak ditemukan meskipun sudah berusaha untuk mencari.
Bahkan suara napas beratnya terdengar memenuhi ruangan kerja yang berukuran luas dan dipenuhi oleh beberapa furniture mahal yang makin melengkapi di sana.
Aaron saat ini masih berdiri menghadap Erick yang terlihat sama sepertinya. Jadi, ia tahu apa yang saat ini ada di pikiran pria itu sama dengan pikirannya saat ini. Namun, ia sengaja diam dan membiarkan Erick berbicara padanya.
'Aku sangat yakin jika dia pasti merasa frustasi karena tidak bisa menemukan Zea dan ingin marah padaku karena menjadi penyebab semua ini terjadi,' gumam Aaron yang saat ini bersedekap dada sambil tidak mengalihkan perhatian dari sosok pria muda di hadapan.
Erick yang saat ini menatap ke arah Aaron dengan wajah memerah karena mengingat saat Zea menangis ketika bertanya apa yang dilakukan pria itu. "Sekarang katakan padaku, apa yang sebenarnya kau lakukan pada Zea hingga memilih kabur dari rumah dan meminta pertolonganku?"
"Jika kau tidak melakukan sesuatu padanya, semua ini tidak mungkin terjadi dan dia masih berada di Jakarta." Ia benar-benar sangat marah sekaligus frustasi karena pria di hadapannya masih terlihat enggan untuk membuka suara untuk menjawab pertanyaannya.
Hingga beberapa saat kemudian mengepalkan tangan begitu mendengar suara bariton dari Aaron.
"Aku tidak bisa mengatakannya karena Zea sendiri tidak menceritakannya padamu. Bukankah sudah kubilang dari dulu? Apa kau datang ke sini hanya untuk bertanya hal itu?" Aaron yang masih bersikap tenang dan tidak seperti biasanya terpancing amarah saat berbicara dengan Erick.
Itu karena ia sudah cukup lelah dengan apa yang terjadi dan membuatnya seperti kehilangan tenaga untuk sekedar berdebat dengan pria yang kini terlihat memerah wajahnya karena marah saat pertanyaan yang tidak dijawab.
Erick seketika bangkit berdiri dan menatap tajam Aaron. "Berengsek! Kau benar-benar adalah bajingan, Aaron! Apa kau sama sekali tidak merasa bersalah pada gadis malang itu yang tidak punya siapa-siapa di dunia ini? Bagaimana jika ada orang jahat yang memanfaatkan kepolosannya di luar sana?"
Ia ingin pria di hadapannya tersebut mengakui apa yang telah dilakukan hingga membuat Zea pergi lagi dari Jogja. Berpikir bahwa penyebab Zea tiba-tiba pergi dari Jogja karena takut bertemu dengan Aaron.
Kemudian berjalan menghampiri Aron dan menarik kerah kemeja pria di hadapannya tersebut. "Jika kau tidak datang ke Jogja, pasti dia saat ini masih tinggal di sana dan hidup tenang di kampung halaman kakek neneknya."
"Kau hanya bisa menyusahkan dan membuat Zea kabur agar tidak bertemu denganmu yang datang ke sana." Ia masih belum melepaskan kuasa dan menatap tajam dengan wajah memerah.
Bahkan ingin sekali ia segera meninju wajah pria yang dianggap sangat menyebalkan itu.
Aaron yang tadinya malas untuk menanggapi Erick, saat ini berpikir bahwa apa yang baru saja dikatakan oleh pria itu hanyalah sebuah hal tidak berdasar dan omong kosong karena ia tahu bukan seperti itu yang sebenarnya terjadi.
Refleks ia tertawa terbahak karena berpikir jika Erick tidak tahu apapun yang diketahui olehnya dari pria paruh baya pemilik sawah di depan rumah Zea.
"Dasar bodoh!" Menatap Erick dengan tajam dan mendorong pria itu agar menjauh darinya dan melepaskan kuasa.
Tubuh Erick saat ini terwujud ke belakang dan amarahnya semakin bergejolak melihat tanggapan dari Aron yang tertawa terbahak-bahak.
"Sialan!" Kemudian langsung berjalan cepat dan mengarahkan tangan mengepal ke atas untuk meninju wajah Aaron.
Refleks Aaron dengan sikap menangkap tangan Erick untuk melindungi wajahnya. "Kau sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai Zea dan sekarang menyalahkanku? Tenanglah karena dia akan baik-baik saja. Aku sangat yakin jika kakeknya akan melindunginya maka tidak ada orang jahat yang menyakitinya."
Aaron awalnya tidak ingin mengungkapkan apa yang diketahuinya pada Erick, tapi melihat pria itu benar-benar mengkhawatirkan keadaan Zea seperti dirinya, sehingga mengatakan hal yang sebenarnya.
Meskipun mungkin Erick yang sedang murka padanya tidak percaya apa yang baru saja dikatakan, sama sekali tidak diperdulikan.
Saat ini, Erick yang masih berdiri tepat di hadapan Aaron, memicingkan mata begitu mendengar apa yang baru saja diungkapkan oleh pria yang sangat dibencinya tersebut.
"Apa katamu? Kakek?" Ia refleks mengempaskan tangannya yang dari tadi berada dalam kuasa Aaron. Kemudian tertawa terbahak karena berpikir bahwa pria di hadapannya tersebut tengah berbicara omong kosong.
"Omong kosong apa lagi yang saat ini sedang kau bicarakan? Bahkan aku saja yang sudah berusaha untuk mencari Zea dengan menyewa detektif tidak menemukannya sampai sekarang. Padahal aku tahu saat ini dia berada di kota mana, tapi tetap tidak bisa menemukannya."
Erick yang keceplosan menjelaskan apa yang diketahui, kini melihat Aaron membulatkan mata dan sama persis dengan reaksinya beberapa saat lalu ketika pria itu menyebutkan bahwa Zea tinggal bersama kakeknya dan dianggap hanyalah omong kosong semata.
Aaron merasa sangat terkejut karena mendengar informasi penting yang selama ini tidak diketahui dari pria itu yang dianggap menyembunyikan hal sebenarnya darinya dan keluarganya.
Ia kini melakukan hal sama seperti yang dilakukan Erick beberapa saat lalu dengan mencengkeram kaos casual berwarna putih yang dikenakan pria itu. "Apa katamu? Kau mengetahui Zea tinggal di kota lain? Dari mana kau mengetahuinya? Apa Zea menghubungimu?"
"Lepas, berengsek!" Erick yang saat ini merasa ada yang aneh di antara mereka karena berpikir bahwa Aaron tidak mungkin berbohong dan mengarang cerita mengenai Zea, kini mendorong tubuh kekar itu agar menjauh darinya dan bisa berbicara dengan leluasa.
"Tunggu! Kau pun tahu dari mana jika Zea tinggal bersama dengan kakeknya? Apa yang kau sembunyikan dariku? Setelah kau menjelaskan padaku, aku akan mengatakan dari mana mengetahui kota tempat tinggal Zea." Erick berpikir bahwa ia harus membuang ibunya demi bisa menemukan Zea.
Berpikir bahwa mencocokkan informasi yang didapatkan, berharap bisa bekerja sama untuk mencari keberadaan gadis yang membuatnya tidak tenang selama beberapa bulan terakhir ini.
Saat ini, Aaron terdiam untuk memikirkan keputusannya setelah Erick berbicara. 'Jika benar Erick mengetahui dia tinggal di kota mana, sedangkan aku tahu jika Zea pergi bersama kakeknya, mungkin informasi ini bisa disatukan dan membuatku bisa menemukannya.'
Namun, Aaron masih sedikit merasa ragu karena khawatir jika pria itu berbohong padanya dan hanya akan membuatnya kesal. Kini, ia menatap tajam ke arah Erick.
"Kau tidak sedang berbohong padaku mengenai di mana kota tempat tinggal Zea, kan?" tanyanya dengan tatapan menyelidik dan kini menunggu sampai pria di hadapannya meyakinkannya.
"Aku punya buktinya, bodoh! Lalu, bagaimana denganmu? Apa aku punya bukti atas apa yang baru saja kau katakan padaku mengenai Zea yang tinggal bersama kakeknya?" Erick tak kalah tajam menatap penuh sering karena masih belum merasa yakin ada apa yang baru saja didengarnya dari Aaron.
Namun, ia tidak punya pilihan selain mengalah dan mengetahui apa yang ingin didengarnya. 'Semoga ada titik terang yang kudapatkan setelah mendengar informasi dari Aaron yang ternyata diam-diam mengetahui tentang Zea.'
"Aku memang tidak punya bukti atas apa yang ku ketahui mengenai Zea, tapi yang jelas aku mendapatkan informasi dari tetangganya yang berbicara dengan kakeknya di rumah sebelum pergi." Aaron akhirnya memilih mengalah dan menceritakan pembicaraannya dengan pria paruh baya itu ketika hendak jogging.
To be continued...