Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Merasakan hal yang sama



"Ayang, aku mohon bantu aku," lirih Erick saat ini tengah menyatukan kedua telapak tangannya karena ingin meminta bantuan dari sosok gadis yang duduk di balik kursi kebesarannya tersebut.


Tadi ia langsung menuju ke perusahaan Zea setelah mendapatkan larangan dari sang ibu jika ia tidak boleh melanjutkan kuliah di Surabaya dan harus segera kembali ke Jakarta. Awalnya ia memutar otak untuk mencari ide untuk merubah pemikiran dari orang tuanya agar tidak melarang ia tinggal di Surabaya agar bisa bersama-sama dengan wanita yang dicintai.


Hingga ia mengetahui staf hotel yang mengirimkan sarapan untuknya dan merupakan dari Zea yang notabene adalah cucu dari pemilik hotel yang menjadi tempat menginapnya.


Hingga ia memiliki sebuah ide dan langsung berangkat menuju ke perusahaan Zea untuk mengungkapkan niatnya.


Sementara itu, Zea yang masih tidak paham dengan permintaan tolong dari pria di hadapannya tersebut, kini mengerutkan kening agar Erick menjelaskan lebih detail dan spesifik agar ia paham.


"Erick, aku tidak mungkin bisa mengubah pemikiran orang tuamu yang melarangmu untuk melanjutkan kuliah di sini. Lebih baik kamu kembali ke Jakarta saja dan menuruti perintah orang tua. Fokus pada pendidikanmu hingga mendapatkan gelar dan pemimpin perusahaan orang tua," ucapnya dengan menatap ke arah wajah murung Erick yang saat ini seperti mendung gelap yang sebentar lagi akan turun hujan.


Erick yang sadari tadi berdiri di hadapan meja kerja Zea, seketika menggelengkan kepala karena ia tidak ingin berpisah setelah mengetahui keberadaan gadis yang selama ini membuatnya tergila-gila.


"Tidak! Aku tetap ingin berada di sini agar bisa menjagamu dan selalu bersamamu. Jika aku pergi dari kota ini dan kembali ke Jakarta, Aaron dengan mudah merebut hatimu kembali." Erick bahkan hanya khawatir tentang satu poin itu saja daripada yang lain.


Meskipun mengetahui bahwa Zea menolak lamaran Aaron, tetap saja tidak membuatnya tenang jika pria itu berada di kota yang sama. Namun, berbeda jika Aaron ikut kembali bersamanya ke Jakarta dan tidak mengganggu gadis di hadapannya tersebut.


Khaysila saat ini merasa bingung menjelaskan pada Erick bahwa ia sama sekali tidak tertarik untuk menikah dengan Aaron. Namun, ia ingin mendengarkan apa yang diinginkan oleh pria di hadapannya tersebut dan memilih untuk mendengarkan.


"Aku ingin kamu membantuku untuk membuat orang tuaku setuju. Aku sudah mempunyai dua opsi dan kamu tinggal memilih salah satu diantara ide yang baru saja kupikirkan," ucap Erick saat ini ingin melihat respon dari gadis di depannya tersebut apakah mendengarkan ataupun tidak tertarik.


"Aku ingin tahu dua idemu itu bisa kulakukan atau tidak. Katakan saja apa idemu itu, Erick!" ucap Khaysila yang saat ini tidak bisa berkonsentrasi bekerja di pagi hari karena Erick sudah datang dengan wajah suram.


Tidak ingin bertele-tele karena berharap gadis di depannya memahami apa yang diinginkan saat ini, sehingga Erik langsung mengungkapkan poin penting yang dari tadi ada di kepalanya.


"Aku tahu jika ideku sedikit gila, tapi merupakan jalan satu-satunya agar aku bisa tetap di sini. Aku harap kamu tidak salah paham ataupun bisa mengerti perasaanku." Mengambil napas teratur karena merasa gugup mengungkapkan ide gila yang terpikirkan olehnya.


"Poin pertama adalah Aku ingin kamu mengakui bahwa telah memperkosamu, sehingga harus bertanggung jawab untuk menikahimu. Jadi, bisa tinggal di sini serta melanjutkan kuliah." Baru saja ia menutup mulut, mendengar suara teriakan penuh kekesalan yang ditunjukkan oleh Zea.


"Apa kamu gila, Erick? Aku tidak mungkin bisa melakukan hal segila itu! Apalagi bukan kamu yang melakukannya, tapi Aaron! Lagipula Aku tidak ingin ada gosip buruk yang menyebar dan membuat kakekku yang sedang sakit semakin mendapatkan rasa malu karena berita itu." Khaysila sama sekali tidak berniat untuk menuruti ide gila Erick.


Namun, ia tadi mengetahui jika ada poin kedua dan mungkin akan membantu jika bukanlah sebuah hal gila seperti yang pertama. "Lalu, jelaskan poin kedua yang merupakan idemu itu! Siapa tahu aku bisa membantu."


Erick sebenarnya sudah menduga jika Zea akan menolak mentah-mentah ide pertamanya tersebut, tapi masih berusaha untuk mencoba. Meskipun berakhir dengan kekecewaan karena tidak ada gunanya mengatakan hal itu.


Kini, terpaksa iya mengungkapkan ide yang kedua yang sebenarnya tidak membuatnya senang, tapi paling tidak sedikit membuatnya tenang. "Jika aku tidak bisa berada di sisimu, Aaron pun harus demikian agar impas dan tidak berat sebelah."


"Jika aku harus kembali ke Jakarta, maka kamu pun juga harus menyuruh Aaron untuk kembali. Kami sudah berjanji untuk bersaing secara adil dan jika aku kembali ke Jakarta, sedangkan dia ada di Surabaya, Bukankah itu namanya tidak adil?"


"Jadi, lakukan apapun untuk membuatnya pergi dari kota ini jika aku tidak bisa melanjutkan kuliah di Surabaya!" Erick saat ini melihat gadis yang ada di hadapannya tidak langsung menjawab.


Ia saat ini merasa khawatir jika ia tidak mau menuruti permintaannya dan pastinya sudah bisa dipastikan jika akan kalah sebelum bertanding. Namun, sebelum Zea membuka suara untuk memberikan jawaban, masih diam menunggu karena berpikir bahwa gadis di hadapannya tersebut tengah mempertimbangkan.


"Apakah kamu mau mengusir Aaron agar kembali ke Jakarta?" tanya Erick yang saat ini merasa bahwa Zea terlalu lama memikirkan jawaban.


Khaysila yang dari tadi merasa bingung harus menjawab apa karena jujur saja ia tidak tahu bagaimana cara mengusir Aaron dari Surabaya. Apalagi mengetahui bahwa pria itu sangatlah arogan dan tidak pernah mendengarkan perintah dari orang lain.


"Aku bukan siapa-siapa baginya dan mana mungkin bisa memerintahkannya untuk pergi dari sini. Bukankah kamu tahu sendiri bagaimana sifat pria itu yang sangat arogan dan tidak pernah mau mendengarkan orang lain?" Bahkan ia seperti sudah mengetahui jawabannya sebelum melaksanakannya.


Jadi, tidak yakin bisa melakukan keinginan dari Erick. Namun, ia kembali membulatkan mata begitu mendengar ide dari pria di hadapannya tersebut.


Erick saat ini menganggukkan kepala karena sependapat dengan Zea. "Ya, aku tahu jika pria arogan itu tidak akan mendengarkan siapapun, Zea. Namun, aku tahu jika ia akan mendengarkanmu jika kamu membohonginya. Katakan padanya jika kamu ingin calon suami yang hebat dan bisa menandingi perusahaan kakekmu."


"Jadi, biar dia kembali fokus bekerja dan mengembangkan perusahaannya untuk menyaingi perusahaan yang sedang kamu pimpin ini. Sepertinya itu akan dengan mudah membuatnya pergi dari Surabaya, jadi aku pun akan merasa tenang dan fokus kuliah agar segera mendapatkan gelar, lalu melanjutkan perjuangan orang tuaku memimpin perusahaan."


Erick saat ini terdiam dan menatap intens sosok wanita di hadapannya tersebut. Bahkan berpikir jika akan membuat Zea bersikap adil dan tidak pilih kasih dengan memihak salah satu diantara mereka karena ingin berjuang secara imbang.


"Bagaimana? Kamu tidak akan memihak salah satu dari kami, bukan? Bukankah kamu harus bersikap adil pada kami?" tanya Erick yang saat ini masih menunggu jawaban dari Zea.


Merasa ragu serta bimbang mengenai jawabannya, Khaysila tidak langsung menjawab karena jujur saja iya saat ini tidak yakin bisa membuat Aaron percaya pada tipuannya agar pergi dari Jakarta. Apalagi jika melakukan hal itu, seperti memberikan harapan dan khawatir jika suatu saat ditagih oleh Aaron.


"Kenapa kau marah membuatku bertambah pusing dengan masalahmu itu, Erick. Aku sudah banyak mengalami masalah dan ingin fokus mengurus perusahaan, kuliah serta kakekku yang sedang sakit.


Namun, kamu menambah masalah dengan membuatku bertambah pusing seperti ini," kesal Khaysila yang saat ini menatap tajam sosok pria di hadapannya yang malah menyatukan kedua tangan.


"Maafkan aku, Ayang karena membuatmu semakin bertambah pusing. Kamu tahu bukan ini yang kuinginkan karena hanya berharap bisa selalu bersamamu. Apalagi sudah 1 tahun lebih kita tidak bertemu dan baru beberapa hari di sini, tapi sudah harus kembali ke Jakarta dan itu membuatku benar-benar sangat frustasi."


Erick saat ini berharap jika gadis yang terlihat memijat pipis tersebut bisa mengerti perasaannya dan juga ketulusannya dalam mencintai. "Padahal aku sudah berniat untuk tidak mengganggumu dan membiarkanmu fokus pada semua masalahmu, baru akan melamarmu."


Ia saat ini meraih gelas berisi teh hangat yang tadi diantar oleh OB dan menekuknya hingga tersisa separuh karena tenggorokannya terasa kering setelah berbicara panjang lebar mengenai keluh kesahnya.


Tadi ia merasa sangat frustasi begitu sang ibu menelpon dengan menyuruhnya untuk kembali ke Jakarta dan melarang melanjutkan kuliah di Surabaya.


Saat ini, Khaysila yang merasa iba pada Erick dan baru kali ini memohon pertolongannya, sedangkan dari dulu iya selalu menyusahkan pria itu. Kini, ia terdiam dan akhirnya menganggukkan kepala sebagai persetujuan.


"Baiklah. Aku akan berbicara dengan pria itu agar segera pergi dari Jakarta. Aku akan menyuruhnya datang ke sini karena tidak mungkin berbicara di telepon karena dia pasti tidak akan mau mendengarkanku." Ia kini meraih ponsel miliknya di atas meja yang berada di dekat laptop.


Namun, belum sempat ia mencari kontak nomor Aaron yang memang dari dulu selalu disimpan di ponselnya untuk berjaga-jaga agar mengetahui pria itu menghubungi dan tidak akan diangkat olehnya.


Ia tidak jadi menelpon Aaron karena kepala pelayan menghubungi. Kini, ia langsung menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara dari wanita paruh baya di seberang telepon.


"Maaf mengganggu waktu Anda, Nona. Ada satu hal penting yang ingin saya katakan pada Anda dan ingin meminta izin."


Khaysila yang saat ini mengerutkan kening karena merasa heran sekaligus khawatir ada sesuatu hal buruk terjadi di rumah. "Meminta izin tentang apa, Bik? Katakan saja dan jangan membuatku bertanya-tanya seperti ini?"


Kemudian kepala pelayan langsung menjelaskan semua hal yang tadi diputuskan olehnya ketika terapis meminta izin padanya untuk mengajak rekan datang ke rumah dan khawatir melakukan kesalahan karena memberikan izin.


Sementara itu, Khaysila yang sebenarnya tidak mempermasalahkan hal itu, tetapi khawatir jika ada banyak orang yang mengetahui tentang bayinya dan membuat keluarga besar Kusuma malu karena ia melahirkan tanpa mempunyai suami.


Bahkan mungkin nasib perusahaan juga di ujung tanduk karena harga saham pasti turun drastis setelah mengetahui jika pemimpin perusahaan adalah seorang wanita yang tidak benar karena memiliki anak tanpa suami.


Ia saat ini menatap ke arah Erick karena tidak ingin pria itu mengetahui tentang bayinya, sehingga kini menjawab dengan kalimat ambigu agar pria itu tidak paham.


"Aku ingin langsung menemui mereka dan menilai sendiri seperti apa dua orang itu. Jadi, suruh mereka menunggu sampai aku pulang ke rumah. Aku sedang banyak pekerjaan dan harus melanjutkannya, Bik. Sampai jumpa di rumah." Kemudian ia langsung mematikan telepon setelah kepala pelayan mengiyakan.


Saat ia berniat untuk menelpon Aaron, mendengar suara bariton Erick dan berpura-pura mengiyakan perkataan pria itu.


"Aku baru saja mengirimkan nomor Aaron. Telpon dia sekarang agar datang ke sini. Aku juga ingin melihat bagaimana ia menanggapi ketika kamu mengusirnya dengan cara memberikan sebuah harapan palsu," ucap Erick yang saat ini tidak sabar ingin melihat ekspresi dari pria yang merupakan saingan utama untuk mendapatkan gadis pujaan hati.


Sementara itu, Khaysila yang berpura-pura untuk mengiyakan perkataan dari Erick saat memberikan nomor Aaron, padahal ia dari dulu sudah menyimpannya.


"Baiklah. Aku akan menelponnya sekarang juga," ucap Khaysila yang saat ini berpura-pura menyimpan nomor yang baru saja dikirimkan oleh Erick dan memencet tombol hijau.


Hingga ia pun saat ini menunggu panggilan diangkat oleh Aaron, tapi tidak langsung mendapatkan jawaban dan membuatnya mengerutkan kening. "Sepertinya dia tidak suka mengangkat telepon dari nomor tidak terdaftar. Makanya tidak mau mengangkat teleponku."


Sementara itu, Erick yang saat ini berpikir hal yang sama, apalagi Aaron tidak mengetahui nomor Zea karena Ia memang tidak memberikannya. "Kalau begitu, biar aku yang menelponnya. Meskipun ia kesal padaku, tetap akan mengangkat teleponku."


Kemudian Erick mengambil ponsel miliknya dari saku celana setelah Anindya menganggukan kepala dan tidak lagi menelpon Aaron. Tanpa membuang waktu karena ingin segera melihat seperti apa keputusan Aaron ketika diusir oleh Zea.


Ia pun menunggu sampai panggilan diangkat oleh Aaron, tapi hal yang sama dirasakan karena pria itu tidak kunjung mengangkat telepon darinya. "Sebenarnya apa yang dilakukannya saat ini? Kenapa tidak mengangkat telepon dari tadi?"


Saat baru saja menutup mulut, panggilannya diangkat jangan mendengar suara bariton dari seberang telepon.


"Apa? Mengganggu saja! Aku sedang sibuk dan tidak bisa diganggu," sarkas Aaron yang saat ini baru saja berbicara dengan kepala pelayan dan membuatnya pusing tujuh keliling.


Jadi, biasanya pada Erick yang kebetulan menelponnya.


Erick ya saat ini semakin bertambah kesal, seketika mengaktifkan loudspeaker agar Zea berbicara langsung. "Ayang, cepat katakan agar dia paham."


Khaysila akhirnya terpaksa membuka suara karena ponsel sudah ditaruh di hadapannya. "Aku ingin berbicara denganmu sekarang. Ada hal penting yang ingin kusampaikan, jadi datanglah ke perusahaan sekarang juga!"


Kemudian Erick langsung mematikan sambungan telepon karena tidak ingin mendengar nada protes dari Aaron yang dianggapnya Tengah berbohong padanya dengan mengatakan sibuk.


"Sibuk ... sibuk. Memangnya apa yang dilakukannya saat ini? Sampai mengatakan jika tidak bisa diganggu. Aku sangat yakin jika dia sebentar lagi akan segera datang ke perusahaan karena kamu yang menghubunginya," seru Erick dengan raut wajah masam dan kesal mengingat perkataan dari Aaron.


Ia yang tadinya berdiri di depan meja kerja, kini memilih untuk mendaratkan tubuhnya di kursi karena merasa sangat kesal sekaligus lelah. "Sekarang kita tunggu pria arogan itu datang."


Khaysila saat ini hanya menganggukkan kepala dan kembali fokus pada beberapa dokumen di atas meja yang harusnya diperiksa dan segera diselesaikan. Ia pun menuju ke arah sofa.


"Lebih baik kamu beristirahat di sana saja karena aku tidak bisa berkonsentrasi ketika kamu berada di hadapanmu seperti ini." Kemudian mengibaskan tangan agar pria yang ada di hadapannya tersebut segera bangkit berdiri dari kursi.


Erick akhirnya terpaksa menuruti perintah dari Zea dan melangkah gontai menuju ke arah sofa. "Ya ... ya, aku tidak akan mengganggu konsentrasi mu bekerja, Ayang."


Kemudian Erick ketika mengempaskan tubuhnya di atas sofa dan menatap sosok gadis yang saat ini sudah kembali fokus bekerja. 'Jika aku tidak bisa berada di dekatmu, Aaron pun harus merasakan hal yang sama.'


To be continued...