
Aaron awalnya merasa sangat senang begitu melihat Anindya tersentuh dengan apa yang dilakukan oleh sang ibu.
'Semoga semua yang terjadi antara aku dan Anindya segera selesai dan ia mau menerima aku untuk menjadi suaminya dan sekaligus sosok ayah bagi putraku yang belum pernah merasakan kasih sayang dariku,' gumam Aaron yang saat ini tersenyum simpul dan merasa puas begitu Anindya hanya diam saat dipeluk oleh sang ibu.
Hingga ia mendengar suara dari Erick yang berbicara konyol dan membuatnya ingin sekali menghentikan perbuatan pria yang tidak disukainya tersebut saat ingin menelpon orang tuanya.
Sebenarnya ia ingin sekali mengumpat dan sekaligus melarang Erick melakukan hal yang sama karena tidak ingin usahanya dikacaukan. Namun, saat ia hendak membuka suara, tidak jadi melakukannya karena Anindya saat ini berbicara terlebih dahulu untuk menanggapi apa yang baru saja dikatakan Erick.
"Erick, hentikan!" sahut Khayra yang saat ini tidak ingin membuat Erick menjadi seorang anak yang tidak menuruti apa kata orang tua dan tentu saja membuatnya terlihat jelek di mata mereka.
'Aku sebenarnya sangat tidak peduli dengan pemikiran orang lain mengenai aku, tapi saat ini yang kupikirkan hanyalah Erick. Jika sampai ia melawan orang tuanya hanya gara-gara aku, akan membuatnya menjadi anak durhaka,' gumam Khayra yang saat ini berjalan mendekati Erick.
Kemudian langsung merebut ponsel yang ada di tangan Erick. Ia bahkan langsung mematikan panggilan telepon yang belum diangkat tersebut dan menonaktifkan ponsel. Ia kini menatap ke arah pria dengan raut wajah masam itu.
"Jangan melawan orang tua hanya demi seorang wanita! Ingat itu baik-baik! Aku tidak ingin semakin dipusingkan oleh kebencian orang tuamu jika sampai kamu tidak mendengarkan mereka dan akhirnya membenciku karena menganggap telah merubahmu menjadi seorang anak durhaka!" Ia saat ini masih memegang ponsel Erick.
Ia berencana untuk menyita benda pipih tersebut agar Erick yang sangat dikenalnya bandel itu tidak berbuat sesuka hati hanya karena masalah dinasihati oleh ibunya Aaron.
Tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman, akhirnya ia saat ini beralih menatap ke arah Jennifer dan juga Aaron. "Aku benar-benar sangat syok dengan kedatangan kalian tanpa sepengetahuanku."
"Namun, sepertinya nasi telah menjadi bubur dan tidak bisa diperbaiki lagi." Ia sengaja mengatakan kalimat ambigu karena ingin melihat respon dari ibu dan anak tersebut. Hingga ia bisa mendengar sosok pria yang dari tadi hanya diam saja di dekat putranya.
"Apa maksudmu tidak bisa diperbaiki lagi? Apa kamu ingin mengatakan bahwa aku tidak boleh menemui darah dagingku sendiri dan akan mengusir kami dari rumahmu?" tanya Aaron yang saat ini benar-benar tidak terima dengan keputusan dari Anindya yang dianggap sangat tidak berperikemanusiaan.
Namun, ia saat ini seketika merintis menahan rasa nyeri pada bagian pinggang karena dicubit sangat kuat oleh sang ibu.
"Diam dan jangan suka memotong pembicaraan dari orang lain yang tengah berbicara serius!" sarkas Jennifer yang saat ini menatap tajam ke arah putranya karena tadi serius mendengarkan perkataan dari Anindya yang dianggap akan mengeluarkan keputusan.
"Iya ... iya, Ma. Astaga!" Aaron benar-benar merasakan nyeri pada pinggangnya karena cubitan dari sang ibu sangat kuat dan meninggalkan rasa panas.
"Dasar pria arogan yang tidak punya etika!" sarkas Erick yang saat ini juga sangat kesal melihat tingkah Aaron.
Padahal ia dari tadi menahan diri untuk tidak meluapkan kekesalan gara-gara ponselnya direbut oleh Zea saat hendak menyuruh orang tuanya langsung melamar.
'Jika bukan Zea yang melarang, tidak akan pernah kuperdulikan, tapi aku tidak ingin membuatnya ilfil dan memilih untuk patuh karena posisiku sangat terancam gara-gara pria arogan ini,' gumamnya di dalam hati dan mendengar suara Zea.
"Aku sudah mengambil keputusan yang terbaik setelah memikirkan dengan matang. Jadi, dengarkan keputusanku dan jangan menyela," ucap Khayra yang saat ini tidak ingin melihat perdebatan antara dua pria yang seperti anjing dan kucing tersebut.
To be continued...