Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Tidak boleh menunjukkan kegugupan



Beberapa saat yang lalu, ketika Khayra baru saja masuk ke dalam ruangan kamar hotel sambil menarik koper miliknya, seketika membulatkan mata begitu melihat kelopak bunga mawar yang menghiasi lantai membentuk seperti jalan lurus yang harus dilaluinya.


Ia bahkan masih membekap mulutnya dan membiarkan koper miliknya berada di belakang pintu dan berjalan menyusuri lantai dengan dihiasi bunga mawar. Bahkan ekspresi wajah yang dipenuhi rasa terkejut, lama-kelamaan kini berganti berbinar saat melangkah.


"Apa ini semua dilakukan tuan Aaron dengan menyuruh pihak hotel mengurusnya tanpa sepengetahuanku maupun paman? Ini bahkan benar-benar sangat indah," lirihnya dengan suara serak karena benar-benar sangat terharu melihat ribuan kelopak bunga mawar yang menghiasi tiap langkah kakinya.


Ia saking merasa terharu, bahkan bola mata saat ini berkaca-kaca dan membuatnya tidak bisa menahan bulir air mata yang sudah lolos tanpa seizinnya.


Air mata yang mewakili kebahagiaan kini juga didominasi dengan perasaan berbunga-bunga. Hingga langkah kakinya terhenti tepat di hiasan berbentuk hati yang cukup besar dan ia terdiam di sana.


Sebenarnya ia bisa saja masuk ke dalam tengah-tengahnya, tapi sengaja tidak mau melakukannya dan hanya diam sambil memanjakan mata melihat simbol hati tersebut.


Jika biasanya ia selalu melihat tulisan Will you marry me pada momen seperti itu, kini tengah memikirkan sesuatu di kepalanya karena tidak ada tulisan apapun di sana.


"Apakah ini adalah merupakan permulaan karena tidak ada tulisan seperti yang kulihat di televisi? Apakah nanti akan ada kejutan lagi dari tuan Aaron?" Ia saat ini melangkah masuk ke dalam simbol hati yang terbuat dari ratusan kelopak mawar tersebut.


Hingga ia terdiam di sana seperti merasa tengah terpenjara. "Aku saat ini terpenjara hatinya tuan Aaron. Ini adalah hatinya pria itu."


Ia bahkan saat ini seperti tengah bermain-main di dalamnya dengan beberapa kali melompat kecil agar tidak sampai keluar dari lingkaran cinta itu.


"Hati-hati, Khayra! Jangan sampai kamu keluar dari lingkaran ini karena ini adalah hati tuan Aaron. Jika kamu keluar dari hatinya, pasti dia akan murka dan memarahimu." Ia saat ini mencoba untuk mengingat-ingat seperti apa ekspresi Aaron ketika murka.


Ia mengingat ketika pria itu sangat marah saat ia dekat dengan Erick. "Lucu sekali. Dia pasti sangat cemburu ketika melihatku bersama dengan Erick. Padahal dari dulu aku benar-benar hanya menganggap Erick sebagai teman baik."


"Erick selalu berhasil membuat mood buruk menjadi baik. Ia selalu membuatku tersenyum dengan tingkah selengean yang khas dan hanya dimiliki olehnya. Aku memang sangat gemas pada Erick ketika bertingkah konyol padaku, tapi itu tidak membuat perasaanku luluh karena cinta," ucapnya yang saat ini berjongkok dan mengambil beberapa butir kelopak mawar.


Ia saat ini menatap telapak tangannya yang ingin dihitung. "Ada berapa ini? Mari kita hitung sekarang," ucapnya yang mulai mengambil satu persatu kelopak mawar dan membuangnya ke lantai.


"Terima ... Tidak ... Terima ... Tidak ... Terima ... Tidak ...." Ia seketika membulatkan kedua mata karena merasa kesal ketika hitungan terakhir malah tidak.


"Issh ... menyebalkan sekali. Itu salah dan tidak masuk hitungan." Dengan ekspresi wajah kesal, ia kembali mengambil beberapa kelopak bunga mawar tersebut dan menghitungnya.


"Tidak ... Terima ... Tidak ... Terima ... Tidak ... Terima ...." Seketika wajahnya kini berubah berbinar karena merasa sangat puas dengan hitungan terakhir.


"Nah ... ini baru benar. Hatiku tidaklah sekeras baja karena pada kenyataannya selemah ini dan dengan mudah ditaklukkan." Saat ia masih sibuk dengan pemikirannya, kini ada sesuatu hal yang membuatnya makin merasa penasaran.


Ia tidak sabar untuk menerima kejutan kedua dari pria yang melakukan segala cara untuk menaklukkan hatinya. "Lebih baik kita lihat saja nanti."


Kemudian ia bangkit berdiri dari lingkaran cinta tersebut dan bergerak keluar. "Aku harus bersiap dan tampil secantik mungkin agar pria itu makin tergila-gila padaku."


Setelah mengungkapkan hal yang dirasanya sangat lebay, tapi membuatnya sangat senang dan bahagia, sehingga saat berjalan menuju ke arah kamar mandi, senyuman tidak pernah lepas dari bibirnya.


Seolah hari ini hanya kebahagiaan yang memenuhi dirinya dan akan berlanjut hingga beberapa kali. Bahkan ia membersihkan diri dengan sesekali bersenandung ria.


Setelah berhati-hati menarik kopernya semakin masuk ke dalam, ia pun mengambil pakaian yang disiapkan khusus untuk bertemu dengan investor yang memiliki selera berbeda dari kaum wanita pada umumnya.


Ia kini sudah memakai setelan formal dengan warna hitam dan berharap kesan pertama bisa membuat wanita itu tertarik padanya. "Tunjukkan jika kamu memiliki sisi menarik yang tidak dimiliki oleh orang lain, sehingga membuat siapapun yang melihatnya akan tertarik."


Merasa sangat percaya diri karena lebih sering bertemu dengan orang yang menyukainya begitu pertama kali melihatnya. Ia berharap sang investor juga merasakan hal itu.


Setelah berpakaian, ia sudah duduk di depan meja rias dan langsung mengaplikasikan make up di wajahnya. Jika ia dulu sangat malas memakai riasan, tapi semenjak ibunya Aaron tinggal bersamanya, selalu mendandaninya sebelum berangkat ke kantor.


Jadi, ia sudah sangat hafal dengan apa saja yang dipakai agar membuat tampilan semakin memesona. Setengah jam berlalu dan ia saat ini sudah selesai merias wajahnya dan tersenyum menatap hasil karyanya sendiri untuk pertama kali tidak mengecewakan.


Hingga beberapa saat kemudian ia sudah siap dan menatap penampilannya di depan cermin. "Ternyata aku pintar juga merias diri. Sempurna."


Saat ia merasa sudah tidak ada lagi yang kurang, di saat bersamaan mendengar suara ketukan pintu dari luar dan membuatnya mengerti siapa yang datang.


Ia kini langsung bergerak mengambil dokumen yang ia simpan di dalam koper. Dokumen yang sudah sedikit ia rubah isinya agar jauh lebih menarik dan juga menambahkan poin penting agar bisa membuat sang investor tertarik berinvestasi di perusahaan.


Ia pun kini berjalan menuju ke arah pintu dan berniat untuk menutupi agar sang asisten tidak mengetahui hiasan bunga mawar yang dibuat oleh Aaron untuknya.


Dengan membuka sedikit dan bergerak keluar tanpa mempedulikan tatapan aneh dari pria paruh baya tersebut yang sudah berdiri di depan ruangan kamarnya.


"Kita berangkat sekarang, Om."


"Kenapa Anda terlihat sangat aneh? Atau ini hanya perasaanku saja?" ucap sang asisten ketika pertama kali melihat gadis itu keluar seperti seorang pencuri.


Sementara itu, Khayra saat ini berakting pertama dan mengungkapkan sebuah kebohongan yang dikarang untuk mengelabui pria paruh baya tersebut.


"Hanya sedang mencoba menjadi seorang wanita yang seksi karena bisa masuk ke manapun dengan mudah jika tempatnya sempit." Ia mengingat jika Jasmine memiliki tubuh yang sangat seksi sebagai seorang model dan membuatnya sangat iri.


Bahkan merasa jika ia dan Jasmine bagaikan bumi dengan langit Karena wanita itu sangat tinggi dan seksi. Sangat berbanding terbalik dengan dirinya yang memiliki tubuh mungil dan jauh dari kata seksi.


Ia berharap pria paruh baya tersebut mempercayai perkataannya karena tidak tahu harus beralasan apa lagi yang membuatnya bisa meyakinkan sang asisten.


"Nona ada-ada saja," ucap sang asisten yang saat ini masih perasaannya pada sikap gadis muda itu, tapi tidak memperdulikannya karena ada sesuatu yang jauh lebih penting. "Baiklah. Kita berangkat sekarang karena lebih baik menunggu daripada datang terlambat dan itu sangat dibenci oleh wanita itu."


"Iya, Om." Khayra jam berapa surga karena kebohongannya tidak dicurigai dan saat ini ia tengah menormalkan perasaannya yang tidak karuan karena beberapa saat lagi akan bertemu dengan pelaku yang berhasil membuatnya shock sekaligus bahagia.


'Tenang, Khayra. Kamu tidak boleh menunjukkan kegugupanmu pada pelaku yang membuat hatimu berbunga-bunga,' gumam Khayra yang saat ini berjalan di sebelah pria paruh baya menuju ke arah lift.


To be continued...