Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Khawatir padamu



Aaron menepikan mobilnya ke area depan studio pemotretan sang kekasih. Tadinya ia berniat untuk mengantar sampai ke dalam dan menyapa beberapa orang di sana.


Bahkan niatnya adalah ingin melihat proses pemotretan, tapi Jasmine menolak dengan alasan tidak akan fokus bekerja jika nanti ditunggu olehnya. Akhirnya ia tidak jadi melakukannya agar sang kekasih fokus pada pekerjaan.


"Aku harus pergi sekarang sebelum terlambat," ucap Jasmine yang saat ini melepaskan sabuk pengaman dan beranjak mendekati sang kekasih untuk mencium pipi putih dengan rahang tegas itu.


Ia tadi benar-benar mengerahkan seluruh usaha untuk melarang sang kekasih agar tidak mengantarnya ke dalam karena khawatir akan mendengar sesuatu yang berhubungan dengan Paris.


Tentu saja ia tidak ingin Aaron mendengar tentang tawaran ke Paris dari beberapa rekannya karena itu akan menghancurkan rencananya yang sudah disusun dengan matang.


Aaron terpaksa menuruti sang kekasih dengan alasan fokus bekerja karena setelah menikah tidak akan bisa bebas bekerja sesuka hati.


Jadi, mencoba mengerti pada wanita yang menurutnya sudah banyak berubah dan menunjukkan semua hal yang berhubungan dengan kebaikan menuju rumah tangga yang ingin dibina.


"Baiklah. Aku akan mampir membeli ponsel dulu karena tidak bisa menghubungimu jika tidak punya ponsel." Aaron saat ini mengusap rambut panjang yang tergerai di bawah bahu dan tersenyum simpul.


"I love you." Mendekatkan bibirnya untuk menyambar bibir sensual sang kekasih.


Jasmine langsung membalas ciuman lembut tanpa nafsu dari sang kekasih dan beberapa saat kemudian mencubit lengan kekar pria yang menurutnya sangat nakal karena berani menciumnya di depan studio.


Ia bahkan sampai melihat ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada yang melihat perbuatan sang kekasih. Karena merasa aman tidak ada yang melihatnya, langsung mengusap dada dan menatap tajam pria yang malah terkekeh melihat ketakutannya.


"Dasar nakal!" umpat Jasmine yang saat ini mengerucutkan bibir.


Aaron menganggap sikap sang kekasih terlalu berlebihan. "Aku hanya mencium kekasihku, bukan berbuat mesum di dalam mobil yang biasa dilakukan oleh banyak orang."


Kemudian mencium punggung tangan wanita yang masih terlihat kesal padanya. "Jika ada yang melihat kita berciuman di dalam mobil, mereka akan mengerti. Apalagi kaki yang sudah punya pasangan, pasti akan menganggap seperti ini adalah hal yang biasa."


"Lagipula, sebentar lagi kita akan menikah, bukan? Jadi, katakan saja pada mereka bahwa sebentar lagi aku akan menjadi suamimu. Sudah bisa dipastikan bahwa nanti mereka akan sangat iri padamu."


Aaron bahkan merasa belum puas berduaan dengan sang kekasih yang selalu saja sibuk bekerja melebihi dirinya. Hingga ia kini memeluk erat sekali lagi tubuh sang kekasih yang selalu harum dan mempunyai wangi yang sangat khas dan disukainya.


Ia dulu pernah bertanya sang kekasih memakai parfum apa karena ingin membelikannya, hingga ia tahu selalu membeli dari luar negeri.


Jadi, ia pernah dua kali memesan untuk sang kekasih dan menyuruh untuk terus memakai merk itu karena sangat menyukai harum khasnya yang sangat berbeda dari merk lain.


Jasmine saat ini masih berada di pelukan Aaron, kini menatap ke arah jam tangan miliknya. "Sayang, kamu seperti anak kecil yang tidak ingin melepaskan ibunya bekerja."


Karena memang masih ada waktu beberapa menit, Jasmine membiarkan Aaron berbuat sesuka hati padanya karena ingin membuat pria itu senang.


'Aaron seperti mengetahui bahwa aku akan pergi jauh saja karena dari tadi seolah susah untuk pergi meninggalkanku di sini,' gumam Jasmine yang saat ini mengusap lembut punggung melebar pria yang memeluknya dengan erat.


"Kamu bahkan belum menjawab tadi." Aaron yang tadi mengungkapkan cinta pada sang kekasih, tapi belum mendapatkan balasan, sehingga membuatnya tidak rela melihat wanita itu pergi sebelum mengatakannya.


"Menjawab apa?" Jasmine memicingkan mata dan mengingat-ingat apa yang dimaksud oleh sang kekasih dan seketika menepuk jidat karena melupakannya.


"I love you." Kamu belum menjawabku kan tadi?" Aaron menarik diri dan melepaskan pelukannya sambil menatap iris kecoklatan di hadapannya.


"Aaah ... sorry, Sayang. I love you too. Apa sekarang kamu senang?" ujar Jasmin yang saat ini tersenyum simpul dan menutupi kebutuhannya karena membuat Aaron kesal.


"Tentu saja senang. Baiklah. Kamu sekarang boleh pergi bekerja. Aku juga akan pulang." Aaron melambaikan tangan begitu sang kekasih menganggukkan kepala serta beranjak keluar dari mobil.


Sementara itu, Aaron masih menunggu sampai sang kekasih masuk ke studio pemotretan dan melambaikan tangan padanya.


Begitu sang kekasih sudah menghilang di balik pintu, ia pun langsung mengemudikan kendaraannya menuju ke arah sebuah pusat penjualan ponsel terbesar di Jakarta.


"Apa mama dan si bocil sudah pulang ke rumah?" tanya Aaron yang tadi mengetahui bahwa sang ibu pergi ke Mall untuk bertemu dengan teman serta berbelanja bersama dengan Anindya.


Karena merasa sangat penasaran, ia pun akhirnya memilih untuk membeli ponsel di salah satu Mall yang tadi disebutkan oleh sang ibu dan berharap bertemu dengan dua wanita itu.


Berpikir akan langsung menelpon Setelah membeli ponsel baru. Beberapa saat berlalu dan Aaron sudah tiba di pelataran mall terbesar di Jakarta dan langsung bergerak untuk menuju ke lantai yang menjual ponsel.


Hingga beberapa saat kemudian, ia kini sudah memiliki ponsel baru berwarna hitam seperti ponsel lamanya. Ia ingat saat membelikan ponsel untuk Anindya dengan merk sama, tapi berwarna ungu yang identik dengan kesukaan wanita.


Ia awalnya ingin membelikan warna pink seperti kesukaan Jasmine, tapi khawatir jika sampai sang kekasih melihat ada yang menyamainya, pasti akan kesal karena merasa tersaingi.


Apalagi sebentar lagi akan tinggal bersama dan pastinya mengetahui hal-hal kecil yang menurutnya tidak penting untuk dipermasalahkan. Namun, ia memilih untuk berjaga-jaga saja dan membelikan warna yang berbeda, meski dengan merk yang sama.


Aaron saat ini sudah berdiri di depan toko ponsel dan menghubungi sang ibu untuk bertanya apakah masih berada di dalam Mall. Hingga sambungan telepon tersambung dan suara wanita terdengar, tapi bukan ibunya.


"Halo, Tuan Aaron," sapa Zea dari seberang telpon.


Aaron mengerutkan kening karena heran saat ponsel sang ibu diangkat oleh Anindya.


"Kenapa kamu yang mengangkatnya? Memangnya di mana mama? Apa kalian sudah berada di rumah?" tanya Aaron yang saat ini mengedarkan pandangan ke area Mall untuk mencari keberadaan sang ibu.


Hingga ia semakin merasa aneh begitu mendengar suara seorang pria yang seperti berada dekat dengan Anindya.


"Kenapa mereka belum kembali juga, ya?" tanya seorang pria muda yang duduk di sebelah gadis dengan wajah imut yang merupakan keponakan dari sahabat mamanya.


Sementara itu, Zea mengangguk-anggukkan kepala dan menjawab singkat. "Mungkin lagi belanja sebentar."


Baru saja Zea menutup mulut, mendengar suara penuh dengan penekanan dari Aaron yang terlihat sangat penasaran.


"Cepat katakan kamu sekarang ada di mana, Anindya!" sarkas Aaron yang saat ini memilih untuk melangkahkan kaki panjangnya menuju ke sembarang arah sesuai dengan instingnya.


Sementara itu, Zea yang memberikan kode pada pria di sebelahnya agar tidak berbicara karena ia ingin menjawab pertanyaan Aaron yang terlihat seperti sangat marah ketika mengetahui ia bersama dengan seorang pria.


"Aku masih ada di Mall bersama dengan tante Jenny. Tadi pergi sebentar bersama temannya untuk membeli sesuatu. Tante meninggalkan aku beserta putra temannya di salah satu foodcourt yang ada di lantai tiga."


Zea tidak ingin terjadi kesalahpahaman dan Aron berpikir macam macam padanya saat ia terdengar bersama dengan seorang pria, jadi menjelaskan semuanya tanpa ada yang ditutupi.


Namun, saat ingin mendengarkan tanggapan dari pria di seberang telpon tersebut, sambungan sudah terputus dan membuatnya mengerutkan kening sambil melihat layar ponsel milik wanita paruh baya yang tadi meninggalkan di atas meja karena lupa.


"Mati?" Zea saat ini merasa bingung dengan sikap Aaron, tapi tidak ingin mengambil pusing dan kembali menikmati makanan yang tadi dipesankan oleh pria di hadapannya.


Ia tadi bertemu dengan sahabat dari Jenny yang ternyata disuruh mengantarkan putranya. Hingga ia disuruh makan di food court dan mereka pergi berbelanja.


Sebenarnya ia tadi sudah mengetahui jika semuanya itu dilakukan secara sengaja. Seolah wanita itu ingin mengenalkannya pada putra dari temannya yang saat ini merupakan mahasiswa semester 4 di salah satu universitas negeri di Jakarta.


Ia akui sosok pria di hadapannya tersebut memiliki wajah cukup tampan dan tubuh proporsional. Namun, ia merasa tidak tertarik sama sekali karena hanya menyukai Aaron yang sebentar lagi akan menikah.


Hal yang membuatnya menyadari kebodohannya karena masih belum bisa melupakan rasa sukanya pada pria dengan paras rupawan yang ia temui pertama kali di restoran, sampai membuatnya dipecat.


Zea yang saat ini menyeruput minuman, kini mendapatkan pertanyaan dari pria yang dari tadi seolah ingin mengorek informasi mengenai dirinya. Namun, ia terpaksa berbohong.


"Apa yang dikatakan oleh Aaron?" tanya pria dengan kemeja berwarna hitam yang saat ini menatap ke arah gadis imut di depannya yang membuatnya merasa tertarik.


Zea langsung menghentikan bahu dan menceritakan bahwa tadi Aaron langsung mematikan sambungan telpon tanpa menjawab. "Sepertinya suasana hatinya sedang tidak baik."


Kemudian kembali menyuapkan menu mie aceh yang tadi dipesankan oleh Jenny. Sebenarnya ia juga merasa heran sekaligus penasaran kenapa Aron tiba-tiba bertanya dan langsung memutuskan sambungan telpon.


'Aneh sekali tingkah tuan Aaron yang tiba-tiba bertanya dan langsung mematikan tanpa menjawab. Apa ia masih bertengkar dengan nona Jasmine? Hingga terdengar marah-marah di telepon?' gumam Zea yang saat ini mengunyah makanan di dalam mulut.


Pria muda berusia 21 tahun bernama Erick itu kini semakin merasa penasaran dengan gadis muda di hadapannya dan ingin mencari tahu mengenai kesukaannya.


"Kamu menyukai apa? Tiba-tiba aku ingin membelikanmu sesuatu yang kamu sukai." Ia mengerutkan kening karena melihat jawaban dari gadis yang menurutnya sangat tertutup karena dari tadi ditanya seolah mengalihkan pembicaraan.


"Tidak perlu karena aku tidak menyukai apa-apa." Zea merasa bahwa pria dihadapannya tersebut terlalu berlebihan saat bersama dengannya karena pertama kali bertemu langsung bertanya banyak hal.


Mulai dari nama lengkap, umur, sekolah, makanan kesukaan, warna favorit dan yang lainnya. Seolah tengah berbicara dengan kekasih saja karena terlalu banyak bertanya hal-hal yang dianggapnya sangat tidak penting sama sekali.


Ia tadi bahkan beralasan ingin terlihat misterius dan tidak mau mengatakan apapun mengenai dirinya. Apalagi ia diketahui tengah hilang ingatan dan tidak ingin membuat curiga.


"Sepertinya kamu adalah tipe gadis misterius yang tidak ingin diketahui oleh para pria." Erick selama ini adalah seorang pria dengan banyak wanita yang memujanya.


Karena menjadi salah satu pria populer di kampus, ia sangat penasaran karena gadis dengan wajah manis serta imut itu sangat sulit didekati. Bahkan seolah tidak menunjukkan ketertarikan sama sekali begitu melihatnya.


Padahal ada banyak mahasiswi di kampus yang berharap bisa menjadi kekasihnya atau sekedar naik di mobilnya. Namun, melihat gadis kecil itu, membuatnya ingin semakin lebih dekat dan mengetahui semua hal.


'Gadis ini benar-benar sangat arogan karena berani menolakku. Aku yang akan menyuruh mama untuk mencari tahu mengenai dirinya,' gumam Erick yang saat ini ingin membanggakan diri agar gadis itu tertarik padanya.


"Kalau kamu belum kuliah dan sedang mencari tempat, lebih baik ke Universitas yang sama denganku agar tidak merasa asing saat berada di tempat yang baru." Erick masih berusaha untuk membujuk sampai gadis itu mau.


"Aku pun adalah salah satu anggota senat di kampus yang sangat dihormati oleh para mahasiswa dan mahasiswi, jadi nanti akan melindungimu jika sampai ada yang macam-macam." Ia bahkan saat ini seperti merasa berbicara dengan wanita yang sama sekali tidak respect padanya..


Hingga merasa harga dirinya terluka karena sikap cuek gadis kecil itu. 'Bisa-bisanya ada gadis yang berani cuek padaku.'


Zea yang tadinya fokus pada makanan yang berada di dalam mulut, merasa semua hal yang dikatakan oleh pria di hadapannya tersebut sangatlah lebay karena menonjolkan sebuah kesombongan.


Ia yang dari dulu tidak pernah tertarik dengan pria sombong, kini kembali menggelengkan kepala. "Aku malas kuliah karena otakku tidak bisa digunakan untuk berpikir."


"Tidak bisa berpikir? Mana ada di dunia ini otak yang tidak bisa digunakan untuk berpikir? Astaga, jawabanmu dari tadi membuatku sadar bahwa kamu tidak suka berbicara denganku." Erick yang baru saja menutup mulut, seketika menolehkan kepala ke arah sebelah kiri begitu mendengar suara bariton dari pria yang sangat tidak asing.


"Ternyata kamu di sini, Anindya?" tanya Aaron yang dari tadi sibuk mencari keberadaan Anindya karena khawatir didekati oleh pria yang berniat untuk macam-macam padanya.


Ia akan berpikir ada banyak pria yang ingin memanfaatkan kepolosan gadis kecil itu. Jadi, dari tadi ingin segera menemui Anindya agar tidak jatuh dalam perangkap para buaya.


Apalagi ia tahu bahwa Anindya mengalami amnesia dan berpikir akan mudah dimanfaatkan.


"Tuan Aaron?" Erick yang selama ini tidak suka dengan sosok pria di hadapannya tersebut, makin bertambah kesal karena kebersamaannya dengan Anindya terganggu.


'Kenapa ia datang ke sini? Mengganggu saja!' umpatnya sambil berakting tersenyum pada pria yang menurutnya terlalu sempurna selain sikap arogan yang dimiliki.


Sementara itu, Zea yang merasa sangat terkejut karena kedatangan Aaron, mengerjakan mata karena tadinya berpikir pria itu masih bersama dengan sang kekasih. karena tidak ingin dicurigai oleh Erick, sehingga berbicara non formal dan terasa kaku di lidahnya.


"Kenapa ke sini? Apa mencari tante Jenny? Tadi tante dan temannya ke sana!" ucap Zea sambil menunjuk ke arah sebelah kanan.


Berbeda dengan Aaron yang saat ini merasa kesal karena gadis yang dikhawatirkannya sama sekali tidak merasa.


'Aku buru-buru datang karena khawatir padamu, bocil! Dasar gadis bodoh!' umpat Aaron di dalam hati dan memilih untuk mendaratkan tubuhnya di atas kursi sebelah Anindya dan menatap Erick yang ia ketahui adalah anak motor dan punya banyak cewek.


To be continued...