
Erick benar-benar merasa sangat penasaran dengan apa yang tengah dilakukan oleh Aaron dulu pada Zea. Jadi, kini memasang indra pendengaran lebar-lebar agar bisa mengetahui kejadian sebenarnya.
'Apa yang sebenarnya dilakukan oleh bajingan ini pada Zea? Apa tebakanmu benar? Bahwa Aaron dulu telah memperkosa Zea?' Erick masih sibuk bergumam sendiri di dalam hati dengan menebak-nebak apa yang dilakukan oleh Aaron hingga membuat Zea memilih kabur dan sangat membenci pria itu.
Sementara itu, di sisi lain, yaitu Khaysila yang sama sekali tidak merasa khawatir ataupun takut jika ketahuan oleh Erick bahwa ia dulu mengalami kejadian paling buruk saat Aaron memperkosanya, kini hanya diam dan membiarkan pria itu mengatakan hal yang sebenarnya.
Ia tidak mungkin menjelaskan sendiri karena ketika mengingat itu selalu merasa sakit hati dan terluka. Apalagi kata-kata pria itu yang memanggil wanita lain saat menembus tubuhnya, tidak pernah dilupakan sampai sekarang dan menjadi penyebab ia tidak mau menerima lamaran hari ini.
Selain itu, banyak beban yang saat ini tengah dipikulnya, tentu saja membuatnya tidak ingin menghabiskan waktu dengan memikirkan hal yang dianggap tidak penting, yaitu menerima lamaran pria yang sangat dibenci.
'Jika setelah mendengar semuanya, Erick merasa jijik padaku dan pergi, Aku sama sekali tidak keberatan ataupun terluka. Itu adalah hak Erick untuk melakukannya karena menyangkut masa depan,' gumamnya yang saat ini mendengar suara bariton Aaron.
Aaron saat ini berpikir bahwa hari ini adalah waktu yang tepat untuk membuat Erick sadar bahwa Anindya hanya miliknya. "Sebenarnya dulu aku telah memperkosa Anindya saat mabuk.
"Semenjak saat itu aku ingin bertanggung jawab dan benar-benar sangat menyesal atas perbuatanku padanya. Itulah kenapa aku terpuruk saat mengetahui ia pergi dan tidak bisa menemukannya. Aku akan menikahi Anindya karena itu merupakan sebuah kewajiban karena telah merenggut kesuciannya."
Baru saja Aaron menutup mulut dan berpikir bahwa Erick akan langsung mundur begitu mengetahui kenyataan, seketika tubuhnya terguyung ke belakang begitu wajahnya mendapatkan pukulan dari pria yang dianggap sebagai saingan untuk mendapatkan Anindya.
"Bangsat! Kau benar-benar sangat bajingan! Rasanya aku ingin membunuhmu sekarang karena telah membuat hidup Anindya menderita dan terluka!" sarkas Erick yang saat ini berniat untuk kembali memberikan bogem mentah dengan tangan yang mengepal.
Bahkan saat ini ia benar-benar sangat murka begitu apa yang dikhawatirkannya memang adalah faktanya. Namun, ia tidak bisa melakukannya karena tangannya ditahan oleh gadis yang selama ini sangat dijaga olehnya dengan baik.
"Erick, hentikan!" teriak Khaysila yang tidak ingin ada keributan di ruangan kerja dan membuat asisten pribadi sang kakek membawa para staf perusahaan untuk mengusir keduanya.
Ia masih tidak melepaskan tangannya dan menatap tajam ke arah Erick agar tidak berbuat sesuka hati untuk melampiaskan amarah pada Aaron meskipun itu adalah sebuah perhatian padanya.
"Aku membiarkanmu tahu semua hal yang terjadi padaku, bukan karena ingin kamu mengotori tanganmu dengan menghabisi pria ini. Aku ingin tahu apakah kau masih memujaku dan mau menerima saat faktanya aku bukanlah seorang wanita yang suci lagi." Ia yang baru saja menutup mulut, seketika merasakan tubuhnya terhempas di dada bidang Erick.
Ya, saat ini Erick benar-benar tidak kuasa untuk mengungkapkan perasaannya yang membuncah begitu mendengar pernyataan dari gadis yang selama ini hidup menderita karena perbuatan satu orang pria hanya gara-gara mabuk.
Jadi, seketika ia memeluk erat tubuh mungil gadis yang selama ini membuatnya tergila-gila dan tidak berubah meskipun sudah mengetahui kenyataan sebenarnya.
Ia bahkan sudah memeluk erat serta mengusap punggung Zea dan mengungkapkan semua yang saat ini ada di dalam hatinya. "Jangan pernah berbicara seperti itu karena hanya merendahkan harga diriku. Aku selama ini benar-benar tulus mencintaimu dan selalu menunggu bisa bertemu lagi."
"Cintaku terlalu besar dan tidak akan pernah hilang hanya karena hal sepele. Aku mencintaimu dan selama ini selalu menjagamu karena benar-benar sangat tulus padamu, Zea. Apa kamu tidak sadar jika rasa cintaku jauh lebih besar dari apa yang kamu pikirkan."
Erick benar-benar tidak tega membayangkan bagaimana perjuangan gadis yang berada dalam pelukannya tersebut selama hidup sendirian dengan menanggung luka mendalam karena perbuatan Aaron.
"Aku akan menikahimu saat kamu siap karena sekarang bukanlah waktu yang tepat. Apalagi ada banyak masalah yang terjadi dalam hidupmu semenjak kakekmu masuk Rumah Sakit. Apalagi kamu mendadak harus menggantikan posisinya dengan mengurus perusahaan ini."
"Jadi, katakan padaku saat kamu sudah siap untuk menikah karena aku akan langsung melamar dan menikahimu." Kini, Erick merasa sangat lega setelah mengungkapkan ketulusannya pada gadis yang hanya diam saja saat dipeluk olehnya.
Hingga ia bisa mendengar suara teriakan Aaron yang tidak terima dan membuatnya kembali murka.
"Selama aku hidup, tidak akan pernah membiarkan kau menikahi Anindya, Erick. Bahkan aku akan mengungkapkan semuanya di media jika sampai kalian menikah!" Aaron saat ini benar-benar frustasi dan tidak tahu apa yang harus dilakukan begitu melihat pemandangan yang menyesakkan dan melukai hatinya.
Mungkin orang lain akan merasa harga dirinya telah diinjak-injak saat mendapatkan penolakan dan melihat momen keintiman dari wanita yang dicintai dengan pria lain.
Namun, yang saat ini dipikirkan hanyalah sangat cemburu dan akan menghalalkan segala cara demi bisa mendapatkan gadis yang telah membuat hidupnya porak-poranda. Apalagi ia tidak pernah merasa tenang dalam hidupnya karena dibebani rasa berdosa pada gadis yang berada di pelukan Erick.
Jadi, yang terpikirkan olehnya saat ini hanyalah ancaman karena tidak tahu apa yang bisa menghentikan keinginan gila gadis yang dicintainya tersebut saat menolaknya dan memilih pria lain di depan matanya.
"Aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan maaf darimu, Anindya. Aku benar-benar sangat mencintaimu dan serius ingin menikahimu." Aaron bahkan saat ini terlihat memerah wajahnya karena dikuasai oleh kecemburuan sekaligus angkara murka.
"Selain sebagai bentuk pertanggungjawaban atas perbuatanku dulu yang telah memperkosamu, juga merupakan sebuah ketulusan karena sangat mencintaimu dan hanya menginginkanmu!" sarkas Aaron yang saat ini mengingat poin penting di pikiran Anindya.
"Aku tidak akan pernah kembali pada wanita pengkhianat itu meskipun menangis darah sekalipun di kakiku, Anindya. Aku sudah tidak mempunyai perasaan apapun pada Jasmine dan mengenai kesalahanku saat menyebut nama wanita sialan itu karena sangat membencinya ketika kepercayaan serta ketulusanku dianggap hanyalah sebuah permainan."
Berharap Anindya mempercayainya dan mau memaafkan serta memaklumi jika orang mabuk bisa berbuat gila karena tidak sadar saat dipengaruhi oleh minuman beralkohol.
Masih tidak terima melihat Erick tidak kunjung melepaskan pelukan pada Anindya, refleks ia menarik kerah kemeja belakang pria itu agar bergerak mundur. "Lepaskan tanganmu, berengsek! Kau hanya sedang mencari kesempatan dalam kesempitan untuk memeluk Anindya!"
Erick yang merasa sangat terganggu dengan perbuatan Aaron, sangat marah dan menatap tajam begitu berbalik badan setelah melepaskan pelukan.
"Apa apa mau mati di sini? Dasar pria tidak tahu malu dan tidak punya harga diri sama sekali! Kau itu bahkan sudah ditolak oleh ayangku, tapi masih berniat untuk mengemis dan tidak memperdulikan rasa malu setelah mendapatkan penolakan." Kemudian tersenyum menyaringai dan tidak peduli dengan perasaan Aaron.
Ia tahu bahwa hal paling menyakitkan bagi seorang pria adalah ditolak ketika mengungkapkan cinta yang tulus pada seorang wanita. Apalagi ia dulu pernah merasakannya ketika Zea menolaknya karena mencintai Aaron.
Jadi, ia sangat tahu bagaimana perasaan Aaron ketika ditolak. Bahkan sebenarnya ia merasa ragu dengan perkataan gadis itu yang tiba-tiba saja menerimanya di depan Aaron. Ia takut jika Zea hanya bersandiwara di depan pria yang dulu pernah sangat dicintai.
Namun, ia akan berusaha untuk mencari tahu dan jika itu benar terjadi, berniat untuk mencuri hati Zea dengan melakukan segala cara.
Saat ini, Khaysila yang tidak bisa menghentikan perdebatan antara dua pria yang sama-sama menginginkannya tersebut, seketika berjalan ke arah meja kerja dan langsung menelpon asisten pribadi sang kakek.
Ia berpikir sudah saatnya mengakhiri semuanya karena kejadian di masa lalu telah terungkap dan tidak ada lagi yang bisa disembunyikan.
'Aku benar-benar pusing melihat mereka sibuk bertengkar dan tidak bisa pernah akur. Aku pikir pria itu akan langsung pergi begitu mengetahui keputusanku yang lebih memilih Erick daripada lamarannya. Namun, yang terjadi malah sebaliknya karena memilih untuk berbuat gila dan tidak menyerah,' gumam Khaysila yang saat ini melihat pintu terbuka.
Dery Farhan yang dari tadi berdiri tak jauh dari ruangan kerja presiden direktur tersebut, sudah berjalan masuk ke dalam dan menatap ke arah gadis yang dianggap telah diperebutkan oleh dua pria tampan itu. "Iya, Nona Khaysila. Apa Anda membutuhkan bantuan?"
Khaysila saat ini menganggukkan kepala dan memijat pelipis melihat perseteruan antara dua pria di hadapannya yang saling menarik kerah kemeja. "Pisahkan mereka, Om. Aku ingin pria dengan memakai kemeja putih itu pergi dari sini!"
Saat ia baru saja mengungkapkan keinginannya, seketika melihat Aaron melepaskan kuasa dari Erick dan beralih menatapnya tajam.
"Aku tidak akan pergi jika cecunguk ini masih juga berada di sini! Aku pun tidak akan menyerah untuk membuatmu berubah pikiran dengan memaafkanku dan menerima lamaranku. Aku akan bersaing dengan Erick sampai janur kuning melengkung!" Aaron berpikir bahwa ia sudah sejauh ini setelah lama terpuruk.
Jadi, tidak akan pernah berhenti ataupun menyerah setelah gadis yang selama ini dicari sudah ditemukan dan berada di hadapannya. Bahkan saat ini berpikir jika Anindya hanya ingin membuatnya pergi dengan memanfaatkan Erick.
Apalagi mengetahui bahwa dari dulu gadis itu menyukainya dan sama sekali tidak ada hubungan dengan Erick. Jadi, merasa curiga dan tidak percaya saat tiba-tiba Anindya memutuskan untuk menerima pria itu.
'Aku tidak akan mudah tertipu, Anindya. Jika memang kamu benar-benar mencintai Erick, pasti akan menghubunginya dan tidak menyembunyikan apapun darinya. Tapi kamu memperlakukan kami sama karena menghilang dan tidak memberi kabar sama sekali.'
Aaron yang saat ini mencoba untuk membesarkan hatinya agar tidak mudah percaya ataupun menyerah mendapatkan hati Anindya, sehingga saat ini menganggap jika apa yang dilihatnya barusan hanyalah sebuah sandiwara semata.
Kali ini, Erick tidak mau kalah dan memilih untuk mengejek habis-habisan pria yang dianggap tidak kunjung sadar setelah ditolak oleh Zea. "Kau benar-benar sudah gila, Aaron! Zea bahkan sudah menolakmu mentah-mentah, tapi masih berharap dia memilihmu? Dasar bodoh! Kau hanya membuang-buang waktu."
"Lebih baik kau kembali ke Jakarta dan melanjutkan memimpin perusahaan keluargamu daripada membawa waktu di sini!" sarkas Erick yang merasa kesal karena pria di hadapannya tersebut tidak menyerah setelah ditolak mentah-mentah.
"Jangan pernah bermimpi karena aku tidak akan menyerah dengan mudah hanya karena perkataan Anindya yang ingin menikah denganmu. Apalagi semuanya belum terbukti." Masih berusaha untuk menyadarkan Erick agar tidak terlalu percaya diri.
"Bahkan saat kalian menikah pun, aku akan menjadi orang pertama yang tidak setuju dengan mengungkapkan semuanya agar pernikahan kalian tidak sah!" Aaron saat ini menatap tajam Anindya agar sadar dan tidak mempermainkan Erick hanya demi membalas dendam padanya.
Hingga beberapa saat kemudian ia mendengar suara teriakan dari Anindya dan membuatnya beralih menatap pada gadis dengan wajah memerah tersebut.
"Berhenti berdebat dan saling menyerang di ruanganku! Atau aku akan menyuruh security untuk menyeretmu pergi dari sini!" Khaysila tahu bahwa puncak permasalahan ada pada diri Aaron, jadi saat ini berniat untuk menghentikan pria itu agar tidak berbuat sesuka hati.
Apalagi ia telah gagal membuatnya pergi dan menyerah untuk mengejarnya. Jadi, tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Padahal sudah memilih Erick dan mengungkapkan perasaannya.
'Apa yang bisa membuat pria itu pergi dan menyerah? Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk membuatnya tidak mengejarku lagi,' gumam Khaysila yang saat ini tengah memutar otak untuk mencari tahu cara mengubah pemikiran pria di hadapannya tersebut.
To be continued...