
Erick merasakan tenggorokannya panas karena tersedak minuman dengan rasa khas pedas jahe. Ia berusaha untuk menormalkan tenggorokannya dengan berdaun beberapa saat. Ia merasa sangat kecewa karena jauh-jauh datang dari Jakarta untuk bisa bersama dengan gadis yang disukai, malah akan pergi ke luar negeri.
"Pelan-pelan Erick! Kamu nggak baca basmalah dulu, kah tadi?" Anindya kini memanggil pelayan untuk membawakan air putih.
Sementara itu, Jennifer bisa melihat jika Erick sangat terkejut serta tidak suka dengan kabar itu. "Ya, Anindya besok pagi akan pergi ke New York selama dua hari. Jadi, kamu besok tidak bisa melihat Anindya. Itulah akibatnya jika tidak mendengarkan orang tua."
Erick yang baru saja menerima air putih dari pelayan, kini tidak langsung meminumnya karena kesal pada perkataan dari teman sang ibu.
"Issh ... Tante selalu saja membahas hal itu." Aku kan tadi sudah bilang jika ini adalah yang terakhir dan tidak akan mengulanginya. Ini hanya apes namanya." Kemudian langsung meneguk air mineral yang ada di tangannya untuk menetralkan rasa panas di tenggorokan akibat minuman dengan rasa khas jahe tersebut.
Ia melirik sekilas ke arah wanita paruh baya yang masih menunggu di sampingnya. "Bik, itu isiannya apa saja? Enak tapi sangat pekat di tenggorokan karena rasa jahenya."
Sang pelayan yang masih menunggu karena berpikir akan disuruh lagi untuk mengambilkan sesuatu, kini menatap ke arah wedang ronde yang merupakan minuman khas di rumah itu ketika hujan. Apalagi sang tuan rumah selalu menyukainya dan meminta untuk dibuatkan ketika turun hujan.
"Oh itu, terbuat dari tepung ketan yang dicampur sedikit air dan dibentuk menjadi bola, direbus dan disajikan dengan kuah manis serta jahe. Ukurannya bisa kecil atau besar, diberi isi maupun tidak."
"Sesuai bahasanya, wedang ronde adalah minuman yang terdapat ronde di dalamnya, yaitu adonan bulat yang terbuat dari tepung ketan itu. Tuan besar sangat menyukainya dan menjadi andalan wajib ketika turun hujan. Jadi, tadi langsung membuatnya karena mengingat tuan besar," ucap saat ini melihat raut wajah muram dari sang majikan dan membuatnya merasa bersalah.
"Maaf, Nona karena mengingatkan Anda pada tuan besar." Ia menyesal karena menyebut nama tuan rumah utama hingga menjadi aura sedih di ruang tamu tersebut karena jujur saja semua orang yang ada di sana juga merindukan pria paruh baya tersebut.
Khayra saat ini hanya menggelengkan kepala karena tidak ingin sang pelayan merasa bersalah. "Tidak, Bik. Justru aku sangat berterima kasih karena selama ini sudah menjaga kakek dengan baik. Bahkan sekarang memberikan minuman kesukaannya dan aku jadi bisa mencobanya." Ia seketika menoleh ke arah ibunya Aron begitu tangannya diusap dengan lembut.
"Sabar, Sayang. Kakekmu pasti akan sembuh. Kita berdoa saja dan berharap yang terbaik. Tuhan lebih tahu mana yang terbaik untuk umat-Nya. Kamu fokus aja untuk mengurus semuanya saat beliau di Rumah Sakit."
"Anggap saja, kakekmu sedang beristirahat karena lelah mengurus perusahaan sendirian bertahun-tahun lamanya." Jennifer berusaha bersikap bijak agar Anindya tidak berlarut-larut dalam kesedihan karena ia merasa bersalah.
Rasa bersalah itu dipicu oleh perbuatan putranya yang membuat gadis pemuda itu harus sudah merasakan menjadi seorang wanita seutuhnya dengan memiliki seorang putra yang sangat menggemaskan dan sangat disayanginya.
Ia ingin menebus kesalahan putranya dengan mendukung Anindya sampai sang kakek sembuh. Meskipun tidak tahu entah sampai kapan itu terjadi, tapi berusaha untuk selalu bersama dengan gadis yang sudah tidak memiliki seorang ibu semenjak remaja.
"Iya, Ma. Aku sekarang sudah terbiasa melaksanakan semua hal tanpa bantuan kakek. Mama benar, saat ini kakek sedang beristirahat karena mungkin sangat lelah. Jadi, aku sebagai cucu satu-satunya akan meneruskan perjuangannya dan berusaha yang terbaik." Kemudian ia beralih menatap ke arah Erick karena terlihat kecewa.
"Kamu besok pulang saja saat aku berangkat. Biar orang tuamu tidak merasa khawatir. Kapan-kapan bisa ke sini lagi, tapi dengan syarat harus meminta izin terlebih dahulu pada orang tuamu karena aku tidak akan membukakan pintu jika datang tanpa memberi kabar," ucapnya yang kini kembali menikmati wedang ronde karena sangat menyukai aroma khas serta rasanya yang sangat unik.
Berbeda dengan Erick yang kini memberikan botol pada pelayan. "Ini, Bik. Aku minta satu lagi wedang rondenya. Rasanya aku ingin membuat tubuhku memanas saat ini karena masih kedinginan."
"Baik, Tuan." Pelayan wanita paruh baya tersebut langsung bergerak meninggalkan ruang tamu dan melaksanakan perintah.
Sementara Erick seketika menatap ke arah Zea yang seolah mengusirnya. "Iya ... iya, aku pulang. Jadi, tidak perlu mengusirku seperti itu. Aku nanti juga akan meminta izin pada orang tuaku ketika akan datang ke sini. Kamu sama saja dengan Tante. Kalian seperti bersekongkol untuk menyerangku."
Kesal, ia pun menikmati kembali minuman hangat dengan isian bulatan dari tepung ketan yang diisi kacang tersebut. Ia memang pertama kali merasakannya, tapi sangat menyukainya dan tubuhnya menghangat seketika.
Hingga beberapa saat kemudian sudah menghabiskannya dan kini melihat pelayan datang. Ia kembali menikmatinya karena merasa sangat kesal saat mengetahui Zea akan pergi ke New York.
'Jika orang tuaku ada di New York, mungkin akan ikut bersama Zea ke sana dengan alasan merindukan mereka. Tapi orang tuaku berada di negara berbeda, jadi tidak bisa ikut bersama dengannya. Lagipula itu hanya dua hari, tapi bagaimana jika ia bertemu dengan bule dan jatuh cinta?' gumam Erick yang saat ini mengalihkan perhatian pada gadis yang masih menikmati minumannya.
Ia berpikir jika kharisma seorang wanita Indonesia sangatlah luar biasa dan bisa membuat para bule tergila-gila. 'Bagaimana jika apa yang aku takutkan benar? Ada seorang bule asing jatuh cinta padanya dan melakukan segala cara untuk memilikinya?'
Saat tidak ingin tersiksa dengan pikirannya sendiri, Erick saat ini memilih untuk mengungkapkan dan tentu saja memberikan pesan. "Kamu jangan terpesona pada para bule kulit pucat dengan rambut pirang itu. Awas saja!"
Khayra yang tadinya ingin membantah pemikiran Erick, tidak jadi membuka mulut karena malah ditanggapi oleh wanita di sebelah kanannya.
"Selera Anindya bukan pria bule karena Aaron lah yang dicintainya," sahut Jennifer yang merasa harus menguraikan pemikiran Erick yang dianggap sangat konyol.
Ia berbicara tanpa memandang Anindya karena khawatir jika gadis itu kesal padanya karena ia hanya mengarah pada Erick. Sekalian ingin mengerjai pria itu agar kesal.
"Tante ini bicara omong kosong! Jika Zea menyukai Aaron, pasti akan menerima lamarannya saat itu. Bukan malah menolaknya. Jadi, jangan kepedean dengan berpikir putra tante adalah selera Zea. Selera Ayank hanyalah aku." Iya, kan Ayank?" Erick tersenyum simpul sambil mengedipkan mata dan berharap gadis itu mau mengiyakan perkataannya.
Namun, jawaban gadis itu malah membuat ia bertambah kesal karena sama sekali tidak mendapatkan sebuah dukungan.
"Serahkan saja semuanya pada Tuhan karena mungkin saja jodohku adalah seorang pria bule yang kutemui di New York nanti." Khayra yang tidak ingin memihak salah satu di antara mereka dan akhirnya mau kecewa, sehingga asal berbicara.
Bahkan ia merasa senang karena perkataannya berhasil membuat mereka diam. Hingga akhirnya ia pun sangat lega karena sudah tidak ada perdebatan lagi yang membahas tentang jodoh untuknya.
"Sudahlah. Lupakan saja masalah itu, daripada bikin kesal." Jennifer kembali melanjutkan menikmati minuman serta memasukkan bulatan itu ke dalam mulut dan mengunyahnya.
Saat ia merasa kesal sambil mengunyah makanan, mendapatkan notifikasi yang diketahui dari putranya begitu membuka ponsel. Ia seketika mengerjapkan mata begitu membaca pesan dari putranya.
Ma, sepertinya Anindya memang adalah jodohku karena kebetulan besok papa menyuruhku ke New York. Berikan aku nomor ponsel Anindya agar bisa menghubunginya ketika di sana besok.
Bahkan ia sudah senyum-senyum sendiri karena merasa senang dan langsung membalas pesan dari putranya.
Setelah memencet tombol kirim, ia langsung mengirimkan nomor Anindya pada putranya. 'Akhirnya ada kesempatan untuk mereka bersama dan tidak ada yang mengganggu. Semoga Anindya mau membuka hati dan memaafkan putraku.'
Saat Jennifer larut dalam pikirannya, Erick merasa aneh ketika melihat wanita paruh baya tersebut seperti baru saja mendapatkan lotre karena berbinar wajahnya.
Ia memicingkan mata dan merasa curiga jika ada sesuatu hal yang terjadi hingga membuat wanita itu merasa senang. "Kenapa Tante senyum senyum sendiri seperti orang gila saja?"
Khayra yang tadinya fokus pada ponsel untuk mempelajari profil serta informasi dari investor, seketika menoleh dan merasa terganggu karena perkataan dari Erick. Benar saja, ia merasa aneh melihat wanita di sampingnya seperti sangat senang.
"Ada apa, Ma?"
Refleks Jennifer langsung menggelengkan kepala karena tidak ingin membuat satu orang pun tahu jika putranya juga besok pergi ke New York.
"Tidak. Tadi aku mendapatkan pesan dari papanya Aaron. Ia mengirimkan video lucu dan membuatku tertawa." Kemudian langsung memasukkan ponsel ke tempat semula agar tidak ada yang curiga.
"Video apa, Tan?" Erick yang masih tidak percaya arena berpikir jika itu bukanlah hal yang sebenarnya. Jadi, berpikir jika ingin mengorek informasi untuk mengetahui kejadian atau hal apa yang baru saja dilihat wanita itu.
"Video lucu orang Cina jatuh dari motor. Sudahlah, itu tidak penting. Aku mau melihat cucuku dulu. Sepertinya cuaca yang dingin membuatnya tidur dengan sangat pulas."
Kemudian bangkit berdiri dari kursi dan membiarkan Anindya fokus memeriksa informasi yang dikirimkan oleh sang asisten. Apalagi ia tidak ingin ketahuan oleh Erick yang seperti curiga padanya dan akan bingung jika diminta video yang ia karang.
"Nanti, tolong bawa ke sini saja jika putraku menangis, Ma. Aku mau memeriksa ini dulu." Khayra menunjukkan pesan dari sang asisten mengenai profil sang investor.
Jennifer hanya menganggukkan kepala dan berjalan menuju ke arah anak tangga. Hingga ia pun kini seolah bernapas lega karena bisa terbebas dari kecurigaan Erick yang dari tadi masih menatapnya dengan mengintimidasi.
Saat Erick mengikuti pergerakan dari teman mamanya hingga menghilang di balik anak tangga, ia beralih menatap ke arah Zea yang tengah fokus dan tidak ingin mengganggu konsentrasi.
'Kenapa aku merasa sikap tante Jennifer sangat aneh? Kenapa tiba-tiba seperti merasa senang? Itu pasti bukan video lucu dan hanyalah sebuah karangannya semata, kan? Tapi kira-kira apa yang membuatnya senang?' gumam Erick ya saat ini merasa pusing karena tidak menemukan apapun.
Akhirnya ia memilih untuk menyibukkan diri dengan menikmati wedang ronde di mangkok kedua. Ia sangat menyukai minuman hangat tersebut dan berniat untuk membeli jika berada di Jakarta.
Meskipun ia tidak tahu apakah di Jakarta ada atau tidak, akan mencari jika sewaktu-waktu menginginkannya.
Di lantai atas, Jennifer yang dari tadi tidak berhenti tersenyum karena membayangkan sebentar lagi dua insan yang diharapkannya bersatu tersebut akan menjadi kenyataan, ia masuk ke dalam ruangan kamar dan terlihat cucunya masih tertidur dengan pulas ditemani baby sitter.
Tentu saja sudah mengganti baby sitter karena tidak menyukai yang lama. Jadi, menyuruh Anindya untuk memecat karena menuduhnya sebagai seorang wanita suka daun muda.
Akhirnya kini baby sitter benar-benar berpengalaman yang menjaga sang cucu. Meskipun sesekali ia yang menjaganya. "Kamu keluar saja karena aku ingin bersama dengan cucuku."
"Baik, Nyonya," ucap baby sitter yang saat ini bangkit dari ranjang dan membungkuk hormat sebelum keluar dari ruangan.
Jennifer seketika mengeluarkan ponselnya karena ingin melakukan video call pada putranya agar melihat sang cucu yang tengah tertidur pulas.
Begitu panggilan langsung diangkat oleh putranya, ia mengarahkan pada malaikat kecil yang tengah tertidur pulas tersebut.
"Jangan keras-keras jika berbicara agar putramu tidak terbangun." Ia mengurangi volume suara agar tidak membuat bising di dalam ruangan kamar.
"Iya, Ma. Aah ... aku sangat merindukan putraku. Terima kasih karena mama sudah mengobati rinduku," ucap Aaron di seberang telepon yang tidak berkedip menatap ke arah layar yang menunjukkan putranya masih menutup kelopak mata.
"Oh iya, apa Anindya saat ini sedang bersama dengan Erick, Ma?"
"Ya. Mereka sedang berada di ruang tamu, tapi Anindya sibuk pada pekerjaannya, sedangkan Erick tengah menikmati wedang ronde. Oh ya, kenapa bisa kebetulan besok kalian bersama-sama pergi ke New York. Sepertinya memang kalian adalah jodoh." Saat ia berbicara dengan sangat lirih, tapi tetap saja membuat cucunya terbangun karena suaranya.
Refleks ia langsung menepuk tubuh cucunya agar kembali tertidur.
Aaron saat ini memilih diam karena ingin putranya kembali tertidur dan tidak mendengar suaranya yang bising. Ia kita akan mengarahkan tangannya pada layar untuk bisa menyentuh putranya secara tidak langsung.
'Putraku, Papa kangen. Tunggu sebentar lagi karena kita pasti akan bersatu menjadi keluarga yang bahagia saat mamamu menerima Papa,' gumam Aaron yang saat ini berkaca-kaca karena selalu merasa terharu melihat wajah mungil darah dagingnya yang selalu saja menggemaskan.
Hingga kini terlihat putranya sudah kembali tertidur setelah ditenangkan oleh sang ibu. "Aku berjanji akan pulang dari New York dengan merebut hati Anindya dan menerimaku sebagai suaminya, Ma."
"Aamiin. Semoga kalian segera bersatu dan hidup sebagai pasangan yang berbahagia." Jennifer kini menceritakan tentang apa yang didengarnya tadi.
Hingga Aaron yang mendengar semuanya, merasa jika itu sama dengan apa yang dikatakan oleh sang ayah. Kini, pikiran buruk mulai menghantuinya.
'Jangan-jangan, apa yang ku kejar sama dengan apa yang dikejar Anindya? Kali ini takdir apa lagi yang kami alami? Apa kami harus bersaing dalam masalah pekerjaan?' gumam Aaron yang tiba-tiba kebahagiaannya seketika runtuh begitu mengetahui cerita dari sang ibu.
Ia awalnya merasa sangat senang bisa bertemu dengan Anindya di New, tapi kini merasa bingung serta ragu apa yang harus dilakukan. 'Apakah aku harus mengalah demi Anindya agar bisa mendapatkannya?'
To be continued...