
Sementara itu, Zea yang tadi langsung menatap ke arah bawah dan percobaan untuk mengambil sebuah amplop coklat yang dikatakan oleh pria paruh baya tersebut. Ia takkan bisa mendengar suara penuh penyesalan dan menyayat hati karena mengungkapkan sebuah rasa bersalah atas dosa-dosa yang dilakukan di masa lalu.
'Apa dia hanya ingin mencari perhatianku dengan mengarang sebuah cerita agar aku memaafkannya dan menerimanya sebagai seorang kakek?' Zea segera ingin memastikan apakah yang dikatakan oleh pria itu benar atau tidak.
Kemudian langsung membuka amplop coklat berisi laporan kesehatan dari salah satu rumah sakit yang ada di Surabaya karena ia melihat alamat lengkap di sana. Saat membaca dengan teliti semua yang tertulis di sana, Zea seketika membulatkan mata dan membekap mulutnya.
'Kanker hati? Pria itu mengidap kanker hati stadium akhir? Tidak, ini hanyalah sebuah tipu muslihat agar aku bisa memaafkan serta menerimanya, kan?' Zea masih belum bisa mempercayai apa yang baru saja dibaca olehnya dan ingin langsung bertanya pada pria itu.
Kemudian ia langsung membuka pintu untuk memastikan dan begitu melihat sosok pria yang saat ini baru saja jatuh terlentang di atas lantai sambil memejamkan mata, membuatnya seketika berteriak dan berjongkok untuk menyamakan posisi.
"Tuan, apa yang Anda lakukan?" Zea merasa sangat khawatir jika pria paruh baya tersebut mengalami sesuatu hal yang buruk akibat dari penyakit yang diderita.
Ia refleks memanggil dengan sebutan asal karena belum bisa menyebut kakek saat perasaannya tidak menentu. Hingga ia seketika merasa lega begitu melihat pria paruh baya tersebut membuka mata karena tadi berpikir jika pingsan akibat terjatuh.
Apalagi tidak ada siapa-siapa di sekitar dan menandakan jika pria paruh baya tersebut sendirian. Ia tak akan merasa heran karena tidak ada mobil mewah yang kemarin mengantarkan pria tersebut.
Sementara itu, Candra Kusuma yang tadinya merasa sangat pusing dan pandangan kabur, hingga terjatuh ke belakang sampai kepala membentur lantai. Ia yang perlahan merasa kembali baik karena berpikir bahwa obat yang baru saja diminum mulai bekerja, kini membuka mata dan berusaha tersenyum agar cucunya yang saat ini berjongkok di sebelahnya tidak merasa khawatir padanya.
"Aku tidak apa-apa," ucapnya yang saat ini berusaha untuk bangun dan merasa sangat senang karena cucunya membantu dan tidak tinggal diam karena terlihat mengkhawatirkannya.
"Hati-hati, Tuan." Zea tahu bahwa saat ini pria paruh baya tersebut Tengah mencoba untuk menyembunyikan apa yang dirasakan agar tidak membuatnya khawatir.
Ia memang tidak tahu seperti apa penyakit kanker hati, tapi sudah sering mendengar jika kanker merupakan penyakit yang paling mematikan dan tergolong kronis karena susah disembuhkan.
Apalagi berhubungan dengan hati yang merupakan organ vital dan membuatnya benar-benar khawatir jika apa yang dikatakan oleh pria paruh baya itu benar, bahwa nyawanya lama lagi di dunia ini.
"Lebih baik masuk ke dalam dan Anda duduk di sofa untuk beristirahat." Zea bahkan saat ini membantu pria yang merupakan kakeknya tersebut untuk bangkit berdiri dan berjalan masuk ke dalam.
Ia saat ini sudah tidak lagi merasa khawatir dan berpikiran buruk jika pria itu berbuat jahat padanya begitu mengetahui yang sebenarnya merupakan ayah dari sang ibu yang diusir karena mencintai ayahnya.
"Terima kasih, Cucuku." Candra Kusuma tidak memperdulikan panggilan cucunya yang tidak mau memanggil kakek dan memilih untuk menyebut tuan.
"Tunggu di sini! Aku akan mengambil air minum untuk Anda." Zea yang merasa sangat khawatir melihat wajah pucat dari pria paruh baya tersebut, mengambilkan air dari dapur.
'Apa benar nyawanya sudah tidak lama lagi di dunia ini? Aku adalah orang jahat jika tidak memperdulikannya,' gumam Zea yang saat ini berjalan kembali ke depan untuk menemui pria paruh baya yang duduk di sofa sambil menatapnya dengan tidak berkedip.
Hingga ia yang memberikan gelas berisi air putih, mendengar suara bariton dari pria paruh baya tersebut dan membuatnya merasa sangat bersalah.
"Terima kasih, Cucuku. Melihatmu, rasanya aku kembali melihat Amara hidup." Kemudian ia langsung meneguk minuman yang dibawa oleh cucunya sampai habis dan rasa kering di tenggorokan seketika hilang.
Ia yang hendak meletakkan gelas di atas meja, tidak bisa melakukannya karena direbut oleh cucunya yang seperti sangat mengkhawatirkan keadaannya dan tidak boleh melakukan apapun.
Zea tidak tega melihat pria paruh baya yang seperti kehilangan cahaya kehidupan karena saat ini sangat pucat dan menandakan tidak baik-baik saja karena mengidap penyakit kronis.
Sejujurnya ia masih belum bisa memaafkan semua perbuatan jahat dari sang kakek, tapi tetap saja tidak bisa berbuat jahat dengan mengabaikan pria paruh baya itu. Kini, ia mendaratkan tubuhnya di sebelah kiri sang kakek dan menatap intens setelah meletakkan gelas di atas meja.
"Memangnya sejak kapan mengetahui penyakit kanker hati yang diderita? Kenapa sekarang sudah stadium akhir dan tidak melakukan pengobatan di rumah sakit? Kenapa malah sibuk mencariku dan membuatku terbebani seperti ini?" Zea sebenarnya tidak tega mengatakan hal yang sangat kejam pada pria yang mungkin sudah tidak lama lagi hidup di dunia.
Namun, sebenarnya niatnya hanyalah ingin pria itu fokus berobat di rumah sakit tanpa memperdulikannya. "Seharusnya Anda fokus berobat di rumah sakit dan tidak mencariku agar kita sama-sama tidak saling mengetahui dan saling terbebani seperti ini."
"Lalu aku meninggal dengan rasa bersalah karena tidak bisa menemukan cucuku? Saat aku bertemu putriku nanti, pasti akan langsung dimarahi karena tidak berguna hidup di dunia. Tidak, bukan itu yang kuinginkan karena sebelum meninggal harus menebus dosa-dosaku di masa lalu dengan bertobat dan melakukan hal terbaik untukmu."
Candra Kusuma saat ini ingin cucunya mengerti apa yang ada di pikirannya. Bahwa ia berniat untuk menjadi seorang kakek yang baik dan memberikan kasih sayang yang belum pernah dirasakan oleh cucunya.
Zea saat ini hanya terdiam karena merasa bingung harus bagaimana. Antara marah, dendam serta rasa iba bercampur menjadi satu dan menjadi sebuah kesatuan yang membuat gejolak di hatinya berputar lepas kendali.
Ia tidak tega melihat wajah pucat pria paruh baya yang mungkin sudah tinggal menghitung hari berada di dunia ini. 'Ya Allah, apa yang harus kulakukan sekarang? Aku sangat membenci kakek karena menjadi penyebab penderitaan dari mama, tapi apa bedanya aku dengannya jika membenci dan tidak mau memaafkannya?'
To be continued...