
Kini, Zea hanya fokus menatap ke arah jalanan ibukota dan memanjakan mata dengan lampu kelap-kelip yang menghiasi kota Jakarta.
'Aku baru pertama kali berkeliling kota Jakarta dengan naik motor sport mahal bersama dengan seorang pria tampan yang selama ini kusukai. Nikmat mana lagi yang Kau dustakan,' lirih Zea yang saat ini masih fokus menatap ke arah jalanan dipenuhi oleh banyaknya bangunan tinggi menjulang di kanan kiri.
'Aku tidak akan pernah bisa melupakan momen-momen bersama dengan Tuan Aaron. Meskipun sadar bahwa akan berakhir terluka saat melihatnya menikah dengan nona Jasmine.'
Zea tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bersama dengan pria yang disukainya tersebut, sehingga menikmati setiap momen. Hingga ia mengingat sesuatu tentang perkataan dari pria yang masih dipeluknya sangat.
"Tuan Aaron, hari Minggu kita jadi Sunmori, kan? Atau aku pergi bersama dengan Erick?" Zea sengaja ingin memancing respon dari Aaron karena sangat penasaran dengan apa tanggapan pria yang jelas-jelas tidak menyukai putra dari teman mama pria itu.
'Kira-kira tuan Aaron akan memberikan izin untukku pergi bersama dengan Erick atau melarang dan menyuruhnya pergi bersamanya? Kenapa aku merasa sikap tuan Aaron seperti cemburu pada seorang kekasih?'
'Padahal aku tahu bahwa saat ini tuan Aron hanya mengkhawatirkan jika sampai Erick berbuat macam-macam padaku,' gumam Zea ya saat ini masih menunggu jawaban dari Aaron.
Tepat saat berhenti di lampu merah, Aaron saat ini menanggapi pertanyaan dari Zea. "Bukankah sudah kubilang jika Erick adalah seorang Playboy di kampus dan memiliki track record buruk karena punya banyak wanita."
"Apa kamu tidak paham juga kenapa aku melarangnya mengajakmu pergi Sunmori? Kamu masih sangat muda dan gampang dimanfaatkan oleh laki-laki. Jadi, harus berhati-hati dan jika ingin menjalin hubungan dengan lawan jenis, pria yang tidak suka mempermainkan perasaan wanita."
Aaron sengaja berbicara panjang lebar untuk menasihati Anindya agar tidak jatuh dalam perangkap pria yang sering disebut buaya darat. Namun, ia yang baru saja menutup mulut, merasa sangat terkejut dengan tanggapan dari Anindya dan membuatnya seketika tersenyum simpul.
"Maksudnya, aku harus mencari seorang pria seperti tuan Aaron?" Zea sengaja mengatakan hal sesuai dengan isi hatinya tanpa berpikir jika pria yang disukainya tersebut mengetahui perasaannya
'Karena sejatinya aku hanya ingin bisa selalu bersama tuan Aaron, tapi sadar jika itu tidak mungkin terjadi,' gumam Zea yang saat ini melihat lampu hijau dan langsung menepuk lengan kekar pria itu agar tidak melamun dan kembali melanjutkan melajukan kendaraan.
Aaron yang tadinya merasa senang dengan perkataan dari Anindya, sampai tidak sadar jika lampu sudah berubah warna. Kemudian kembali melajukan kendaraan setelah disadarkan oleh gadis di belakangnya tersebut sambil berbicara sesuai dengan apa yang saat ini ada di otaknya.
"Iya, kamu benar. Jika ingin mencari pasangan, carilah pria sepertiku yang hanya setia pada satu wanita karena secara totalitas mencintai kekasih hingga berakhir serius untuk meminang dan menjadikan istri." Aaron saat ini sengaja melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang karena asik berbincang.
Apalagi pembahasan dengan Anindya sangat menarik dan membuatnya ingin menyadarkan gadis itu agar tidak gampang terbujuk rayuan pria yang kebanyakan suka mempermainkan perasaan wanita.
Jujur saja Zea sedikit merasa kecewa sekaligus senang dengan pembicaraan saat ini. Ia makin ingin tahu tanggapan Aaron saat ia membicarakan pria lain.
"Kalau menurut Tuan Aaron, sosok pak guru bagaimana? Apa dia adalah pria baik seperti Tuan Aaron? Sepertinya dia juga ingin mendekatiku karena tadi terlihat bersemangat saat aku mengatakan akan membayar utang dengan tidak menolak diajak pergi."
Zea saat ini menaruh dagunya pada pundak Aron karena berpikir pria itu akan bisa mendengar perkataannya dengan jelas. Hingga ia pun kembali mendapatkan respon buruk ketika membahas mengenai pria.
"Cari yang lain saja karena sandi terlalu tua untukmu. Aku yakin jika usiamu masih sekitar 20 tahunan, sedangkan sandi sudah 30 tahun. Apa kamu suka yang lebih tua?" sahut Aaron yang sengaja tidak menyukai sahabatnya mendekati Anindya.
Namun, ia juga tidak ingin Anindya dekat dengan Erick. "Tapi juga tidak boleh memilih pasangan yang terlalu muda seperti Erick karena hanya akan menang sendiri dan tidak mau mengalah jika terjadi perdebatan."
Kemudian ia sekilas menoleh ke arah samping kanan begitu mendengar suara nada protes Anindya.
"Ini itu tidak boleh, lalu aku harus bagaimana?" Anindya sebenarnya merasa heran karena ada pria yang memiliki ketertarikan padanya.
Bahkan ia sempat menjadi pusat perhatian dari ketua OSIS yang dulu sangat dikagumi ketika duduk di kelas 10. Hal yang tidak pernah diduga olehnya karena bisa membuat pria itu mengingatnya.
'Kenapa belakangan ini aku dikelilingi oleh para cogan? Rasanya aku seperti bidadari turun dari kayangan saja karena menjadi pusat perhatian,' gumam Zea di dalam hati yang ingin sekali tertawa dengan apa yang ada di pikirannya saat ini.
Hingga ia mendengar saran dari pria yang disukainya dan membuatnya berpikir jika Aaron adalah seorang pria yang luar biasa baik.
"Kamu masih kecil dan tidak perlu berpikir tentang pria. Lebih baik kamu fokus pada pendidikan karena aku akan memasukkanmu ke Universitas swasta yang pemiliknya adalah rekan bisnis papa." Aaron merasa saat ini ia adalah seorang saudara laki-laki yang tengah menasehati adik perempuan.
"Nanti setelah kamu lulus dengan gelar sarjana, bisa mencari pekerjaan yang layak serta berpeluang menjadi wanita karir dengan penghasilan besar. Dengan begitu, akan ada banyak pria hebat yang mencoba untuk mendekatimu karena kamu memiliki sebuah value yang sangat tinggi."
Berharap apa yang disampaikannya bisa masuk ke otak Anindya dan membuat gadis itu tidak terburu-buru untuk mencari seorang pasangan karena berpikir jika gadis itu terlalu muda jika harus memikirkan hal-hal yang berhubungan dengan pernikahan.
Karena sejatinya pria dan wanita yang berhubungan lebih dari sekedar teman akan berakhir dengan dua kemungkinan, ya itu keseriusan ke jenjang pernikahan ataupun hanyalah ingin main-main untuk sekedar bersenang-senang.
"Aku tidak ingin kamu terjebak dalam lingkaran pergaulan bebas seperti anak zaman sekarang yang berpacaran tapi sudah seperti hubungan suami istri," ujar Aaron yang kini sudah tiba di rumah keluarganya dan masuk ke dalam begitu pintu gerbang dibuka oleh security.
Beberapa saat kemudian, Zea turun dari motor begitu kendaraan berhenti di garasi. Ia akan selalu mengingat petuah dari pria yang diam-diam dicintainya tersebut.
"Aku akan selalu mengingat nasehat tuan Aaron dan semoga kelak mendapatkan pasangan seperti Anda." Zea kemudian meletakkan helm yang dari tadi dipegangnya ke atas motor karena tidak tahu harus di letakkan di mana.
"Bagus. Aku harap kamu bisa menjadi seorang wanita dengan value tinggi dan dihormati oleh para pria yang segan untuk mendekatimu. Biarkan saja helmnya di situ karena nanti akan dibereskan oleh pelayan." Aaron kini juga meletakkan helm miliknya seperti yang dilakukan oleh Anindya.
"Sekarang beristirahatlah karena besok aku akan menyuruh sopir untuk mengantarmu ke Universitas setelah berbicara dengan teman papa." Kemudian ia mengibaskan tangan agar gadis itu segera masuk ke dalam terlebih dahulu.
Zea pun kini menganggukkan kepala dan langsung berjalan menuju ke arah pintu samping kanan garasi yang menghubungkan dengan ruang tengah.
"Baiklah. Selamat beristirahat, Tuan Aaron. Terima kasih karena sudah membuatku bisa merasakan bagaimana dunia kuliah meskipun aku tidak tahu dulu tamatan apa." Zea pun selalu pergi setelah Aaron menganggukkan kepala.
Padahal di dalam hati ingin sekali bersorak-sorai dan sekaligus berjingkrak jingkrak karena impiannya untuk bisa kuliah kini dipenuhi oleh pria yang disukainya.
'Alhamdulilah. Aku akhirnya bisa merasakan bagaimana kuliah di salah satu Universitas yang ada di Jakarta.' Zea bahkan terlihat berbinar dan merasa sangat senang karena impiannya tercapai tanpa harus bersusah payah untuk mengumpulkan uang hasil dari bekerja karena hanya terima beres.
'Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan dari tuan dan nyonya serta putranya,' gumam Zea yang saat ini menepuk jidat karena melupakan sesuatu hal penting.
Ia melangkah masuk ke dalam lift karena merasa malas naik tangga. "Kenapa aku tidak menanyakan Universitas mana tadi pada tuan Aaron? Jangan sampai aku kuliah di Universitas yang sama dengan putri dari iblis itu."
"Apa yang harus kukatakan pada tuan Aaron jika sampai Universitas yang merupakan pemilik dari teman tuan Jonathan adalah tempat yang sama dengan kak Aurora?" lirih Zea yang saat ini berpikir untuk tidak langsung masuk ke dalam kamar karena akan menunggu kedatangan Aaron masuk ke dalam kamarnya.
To be continued...