
Zea yang tadi sengaja berbohong pada pasangan suami istri yang menolongnya, hanya melihat kepergian kelihatan wanita paruh baya tersebut begitu mengetahui bahwa ia mengatakan tidak bisa mengingat siapa namanya.
'Mereka pasti sangat terkejut karena perkataanku barusan. Aku terpaksa berbohong karena tidak ingin kembali pada orang-orang jahat itu yang sama sekali tidak punya perasaan saat menjualku demi uang.'
'Papa, seandainya tahu ulah wanita yang sangat kau cintai, apakah akan terus mempertahankan pernikahan? Tidak, apa pasti akan memilihku karena sangat menyayangiku dan akan membuang wanita jahat itu.'
Zea yang semalam sadar, hal pertama yang terpikirkan adalah akan tinggal di mana begitu keluar dari rumah sakit. Ia sama sekali tidak punya tempat tujuan dan tidak ingin kembali ke rumah yang dianggap menjadi sebuah neraka setelah sang ayah meninggal.
Jadi, begitu mendapatkan pertanyaan dari wanita paruh baya yang merupakan istri dari pria yang menabraknya, memilih untuk berbohong karena mempunyai harapan bahwa pasangan suami istri tersebut merasa iba dan mau menolong memberikan tempat untuk berteduh sementara waktu.
Baru ia akan memikirkan rencana selanjutnya karena saat ini masih merasa sangat terpukul dan bersedih atas takdir hidupnya yang malang setelah kehilangan sang ayah.
'Aku nanti akan menjadi pekerjaan setelah sembuh untuk mengumpulkan uang agar bisa mencari tempat tinggal,' gumam Zea yang saat ini melihat pintu ruangan terbuka dan sosok wanita paruh baya berjalan mendekat ke arahnya.
Ia kembali berakting seperti orang linglung yang sama sekali tidak ingat apapun agar pasangan suami istri tersebut percaya pada kebohongannya.
"Nak, kami meminta maaf karena telah membuatmu menjadi kehilangan ingatan seperti ini. Kami akan bertanggungjawab dengan menjagamu dan memberikan perawatan terbaik hingga sembuh dan ingatanmu kembali."
Jenny sebenarnya merasa sangat khawatir jika gadis malang itu marah dan tidak bisa terima dengan kenyataan yang menimpa, sehingga kini mengusap lembut punggung tangan dengan jemari lentik itu.
Sebenarnya ada banyak hal yang ingin disampaikan, tapi berhenti sejenak karena berpikir bisa mendengar tanggapan pertama dari gadis yang tidak tahu nama sendiri itu.
Zea awalnya merasa gugup jika wanita paruh baya di hadapannya tersebut menyerahkannya pada polisi dan ingin beralasan logis untuk menolak. Namun, begitu mengetahui pemikirannya salah, akhirnya bisa bernapas lega dan membuatnya memilih untuk menerima kebaikan wanita itu.
"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang karena tidak ingat apapun." Zea sebenarnya merasa bersyukur mengalami kecelakaan karena untuk sementara ada tempat tinggal sementara, meskipun itu adalah rumah sakit dan sama sekali tidak memikirkan biayanya.
Ia sama sekali tidak punya uang karena saat ditabrak, sekilas melihat ada yang menarik pelan tas miliknya ketika banyak orang datang dan mengetahui bahwa itu bukan membantunya, tapi mencurinya.
Sementara itu, Jonathan yang tadi sudah menghubungi detektif, tidak ingin mengatakan pada gadis muda itu sebelum mengetahui semuanya. Kini, ia menatap ke arah sosok gadis dengan perban di kepala tersebut.
"Aku akan bertanggungjawab padamu dan jika nanti kamu belum mengingat semuanya, untuk sementara, tinggal di rumah keluarga kami. Kamu tidak keberatan, kan?"
Zea seperti mendapatkan jalan keluar dari masalahnya dan kali ini langsung mengangguk perlahan. "Terima kasih, Tuan."
'Syukurlah. Aku punya tempat berlindung untuk sementara waktu,' gumam Zea yang kini mendengar suara dari wanita paruh baya di sebelahnya.
"Kami tidak mungkin memanggilmu tanpa nama. Bagaimana jika untuk sementara nama kamu adalah Anindya? Aku punya anak laki-laki yang bernama Aaron dan dari dulu ingin punya anak perempuan yang ingin kuberi nama Anindya." Jenny menatap intens wajah pucat di hadapannya dan menunggu persetujuan.
"Anindya?" tanya Zea yang kini merasa seperti dilahirkan kembali jika memakai nama pemberian wanita paruh baya tersebut dan berharap bisa melanjutkan perjalanan hidupnya tanpa masalah seperti yang dialaminya.
To be continued...