
Suasana di pagi hari di salah satu desa kecil, terlihat sosok pria yang saat ini tengah bersandar di punggung ranjang dengan memeluk bantal. Aaron yang semalam tidur pagi buta, terbangun ketika bermimpi buruk.
Ia semalaman memang tidak bisa tidur karena memikirkan di mana keberadaan Zea yang ternyata sudah tidak menempati rumah keluarganya. Hingga lama kelamaan, matanya terpejam selama beberapa jam saja dan kembali terbangun ketika ia bermimpi jaya menangis tersedu-sedu dan berlari menjauh darinya meskipun sudah ia panggil dengan sangat keras.
Ia bahkan berlari untuk mengejar gadis yang makin menghilang di tengah gelapnya malam dan membuatnya seketika tersadar jika itu hanyalah sebuah mimpi.
Pukul lima pagi ia menatap ke arah jendela ruangan kamar yang ditempati oleh yea dan terlihat mentari yang masih malu-malu menunjukkan diri. Hingga ia terdiam dan melamun cukup lama karena memikirkan wanita yang selama ini tidak pernah hilang dari pikirannya.
"Zea, jadi sekarang aku harus memanggilmu itu, bukan Anindya lagi. Ya, nama Zea jauh lebih cantik daripada Anindya. Zea, lalu sekarang kamu berada di mana?" Aaron saat ini menatap kosong ke arah gorden berwarna putih yang menghiasi di sebelah kirinya.
Ia semalam mengirimkan pesan pada orang tuanya mengenai hasil dari menemui Erick. Namun, tidak mendapatkan balasan dan membuatnya berpikir jika orang tuanya sudah tidur dan tidak ingin mengganggu.
Kini, ia menatap ke arah ponsel miliknya dan menimbang-nimbang untuk menelpon orang tua. Namun, berpikir bahwa orang tuanya yang nanti akan menghubunginya untuk memberikan informasi mengenai Zea setelah bertanya pada Erick, sehingga tidak jadi melakukannya dan asyik melamun memikirkan gadis yang menghilang dari pandangan.
"Zea, kenapa kamu melakukan ini padaku saat aku ingin bertanggung jawab atas semua perbuatanku? Aku benar-benar sangat menyesal karena telah membuatmu kehilangan kesucian. Lalu, apakah kamu sudah mengetahui aku akan datang dan memilih untuk pergi jauh dariku?"
Berbagai macam pertanyaan yang saat ini menari-nari di kepala Aaron membuatnya benar-benar tersiksa. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk mencari keberadaan Zea.
Semalaman ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan kamar yang ditempati oleh Zea karena berpikir bahwa tempat itu meninggalkan aroma khas gadis yang tidak bisa lepas dari ingatan.
"Zea, kamu baik-baik saja, kan? Bagaimana jika terjadi sesuatu hal yang buruk padamu di tempat yang baru? Ini adalah rumahmu dan kamu pergi ke mana lagi?" ujar Aaron yang saat ini mendengar suara dari ponsel miliknya dan melihat jika sang ibu menelpon.
"Aah ... syukurlah mama menelpon. Semoga ada kabar baik mengenai Zea." Tanpa membuang waktu, ia dan mendengar suara dari sang ibu yang baru saja mengucapkan salam dan bertanya padanya.
"Apa kamu sudah bangun, Aaron?" tanya Jennifer yang saat ini tengah berbicara dengan nada khas bangun tidur.
"Aku sudah bangun dari tadi, Ma karena semalaman tidak bisa tidur dan baru saja tertidur sudah mimpi buruk. Aaah ... lupakan karena aku ingin segera mengetahui apa yang dikatakan oleh Erick tentang Zea?" tanya Aaron yang saat ini memasang telinga lebar-lebar untuk mendengar informasi dari sang ibu.
Kini, Jennifer menceritakan semua hal yang semalam disampaikan oleh Erick tanpa terkecuali. Namun, ia tidak bertanya mengenai apa yang dilakukan oleh putranya pada jaya hingga memilih kabur dari rumah dan lebih mempercayai Erick daripada keluarga mereka.
"Jadi, seperti itu ide dari papamu. Kamu harus membuat laporan setelah Zea menghilang selama 24 jam. Jadi, setelah itu baru kamu boleh kembali ke Jakarta dan meninggalkan nomor ponselmu agar dihubungi jika Zea ditemukan." Ia yang baru saja menutup mulut setelah berbicara panjang lebar, seketika menjauhkan ponsel dari telinga begitu mendengar putranya marah-marah.
"Jadi, Mama dan papa percaya pada si berengsek itu yang pastinya kembali berbohong pada kita. Aku benar-benar tidak percaya jika Erik tidak mengetahui di mana keberadaan Zea saat ini." Raut wajah Aaron berubah memerah karena dikuasai oleh angkara murka begitu membayangkan jika Erick menipu orang tuanya serta membawa kabur Zea ke tempat lain agar tidak bisa ditemukan olehnya.
"Diam! Jangan selalu mengambil asumsi sendiri dengan bersikap egois menurut pikiranmu sendiri, Aaron. Apa kamu menganggap orang tuamu adalah orang-orang bodoh yang bisa ditipu oleh Erick begitu saja. Jika Mama bisa ditipu oleh Erick, mungkin bisa dibilang wajar karena perempuan, tapi itu tidak berlaku bagi papamu, bukan?"
Jennifer yang saat ini ikut merasa kesal pada putranya karena tidak mempercayai perkataan orang tua, memilih untuk memarahi habis-habisan agar Aaron sadar dan tidak mengandalkan emosi dalam menanggapi masalah tentang Zea.
Sementara itu, Aaron yang sebenarnya dari tadi sangat kesal begitu nama Erick disebut karena telah membantu Zea yang ternyata memilih untuk pergi diam-diam setelah ia perkosa.
Merasa jika apa yang dikatakan oleh sang ibu benar karena mengetahui jika sang ayah merupakan pria bijaksana yang selalu mengambil keputusan dengan kepala dingin dan tidak dikuasai oleh Angkara murka sepertinya, kini ia berpikir bahwa Erick mengatakan yang sebenarnya.
"Baiklah. Jika memang papa percaya pada perkataan Erick, sepertinya aku juga harus mempercayainya. Aku akan ke Jakarta nanti malam setelah lapor pada polisi mengenai Zea. Semoga Zea bisa segera ditemukan dan kembali ke rumah." Aaron saat ini terdiam karena tengah memikirkan mengenai penyebab dia kabur dari rumah.
Ia merasa bingung untuk menceritakan apa yang dilakukannya pada Zea. 'Apa aku ceritakan pada mama saja mengenai perbuatanku pada Zea di malam itu? Tapi kenapa mama tidak bertanya apapun setelah Erick menceritakan apa yang dikatakan oleh Zea?'
Saat Aaron tengah sibuk menimbang-nimbang apakah ia akan menceritakan perbuatannya yang memperkosa Zea pada sang ibu, tidak jadi melakukannya karena wanita di seberang telpon mengakhiri panggilan.
"Baiklah. Jaga dirimu baik-baik dan pulanglah dengan selamat. Kita bicara di rumah!" Jennifer yang saat ini tengah menahan diri agar tidak bertanya pada putranya mengenai penyebab Zea pergi dari rumah, langsung mematikan sambungan telpon tanpa menunggu tanggapan dari putranya.
Sementara itu, Aaron yang tadinya ingin bilang iya pada sang ibu, tidak jadi melakukannya begitu bunyi sambungan telpon terputus sepihak. Ia bahkan saat ini menatap ke arah layar ponselnya karena merasa heran pada sang ibu.
"Tumben mama tidak mengatakan untuk jangan telat makan. Biasanya selalu mengomel jika aku telat makan." Aaron yang saat ini merasa aneh pada sikap sang ibu, menggelengkan kepala untuk berpikir positif.
Hingga ia yang ingin memastikan sesuatu, kini mencari daftar kontak di ponselnya. "Semoga si brengsek Erick sudah tidak memblokirku."
Kemudian ia memencet tombol panggil dan menunggu apakah tersambung atau tidak. Hingga panggilan berdering dan membuatnya seketika langsung membulatkan mata karena tidak percaya jika Erick sudah membuka blokiran.
"Ternyata si berengsek itu sudah tidak memblokir nomorku," ucap Aaron yang saat ini masih menunggu panggilan telepon diangkat oleh Erick yang dipastikan masih tertidur pulas karena memang masih terlalu awal untuk bangun.
Ia sudah tidak sabar ingin mengumpat pria itu untuk meluapkan amarah yang membuncah di dalam hati. "Cepat angkat, berengsek!"
To be continued...