
Zea yang saat ini masih berada di depan pintu, menatap ke arah siluet pria yang baru saja menghilang di balik anak tangga. "Setelah membuat perasaanku tidak menentu, senangnya sendiri ia pergi begitu saja."
Kemudian ia mengusap dadanya yang saat ini tengah berdebar kencang melebihi batas normal ketika mendapatkan sebuah hal sama sekali tidak terduga kala pria yang disukai berbicara asal, tapi malah memperlakukan hatinya.
"Aku tidak bisa membayangkan jika apa yang dikatakan oleh tuan Aaron benar-benar terjadi. Mungkin aku akan pingsan sebelum berciuman." Zea bahkan saat ini memegangi bibirnya saat mengingat pria yang disukai berbicara vulgar padanya.
Kemudian ia menepuk jidat berkali-kali untuk menyadarkan diri sendiri agar perasaannya jauh lebih tenang dan tidak memikirkan lagi masalah berciuman. "Tapi sialnya, tawaran tuan Aaron benar-benar sangat menggiurkan."
Karena merasa apa yang dikatakannya sangat konyol, seketika ia menarik rambutnya agar sadar dan tidak terus memikirkan perkataan dari Aaron. "Aku harus mengganti pakaian dulu. Daripada tuan Aaron sibuk protes dengan penampilanku, lebih baik menurutinya saja."
Kemudian Zea berjalan masuk ke dalam ruangan kamar dan menuju ruangan ganti. Ia saat ini berdiri di depan lemari kaca berisi pakaian yang dibelikan oleh wanita baik hati yang sudah dianggap seperti ibu kandung sendiri.
Ia mengerutkan kening karena melihat pakaian yang mayoritas dress selutut itu. Bahkan ia hanya memiliki beberapa lembar celana panjang dan Hoodie. Itu pun semua sudah diatur oleh ibu dari pria yang protes padanya beberapa saat lalu.
"Benar kan apa yang kukatakan pada tuan Aaron tadi. Semuanya sama dan tidak ada yang longgar lebih dari ini," rengut Zea dengan wajah masam dan akhirnya memilih untuk berjalan keluar.
"Percuma aku ganti pakaian jika sama dengan yang kupakai ini." Zea menatap ke arah celana jeans berwarna biru serta hoodie yang menurutnya sangatlah cocok di tubuhnya dan tidak menampilkan lekuk tubuh.
Kemudian berjalan keluar dari ruangan kamar. "Lebih baik nanti dengarkan saja omongan dari tuan Aaron."
Saat Zea menuruni anak tangga, ia bisa mendengar suara bariton dari pria yang baru saja mengomel padanya tengah memberikan sebuah ultimatum pada pria yang akan mengajaknya pergi.
Ia yang menuruni anak tangga terakhir dan berjalan menuju ke arah ruang tamu, kini bisa melihat pria dengan siluet bahu lebar tersebut tengah memunggunginya dan mendengarkan semua ocehannya pada Erick.
"Awas saja jika kau dan teman-temanmu berani macam-macam pada Anindya! Aku benar-benar akan membuat perhitungan denganmu. Jaga Anindya dan pulang tanpa kekurangan suatu apapun!" sarkas Aaron yang beberapa saat lalu menatap tajam ke arah Erick yang tengah berbincang dengan orang tuanya.
Ia dari dulu benar-benar tidak suka dengan Erick yang suka bergonta-ganti pasangan tersebut. Makanya ia berpikir bahwa mungkin akan menyakiti perasaan gadis polos yang tidak tahu apa-apa seperti Anindya.
"Anda tidak perlu merasa khawatir, Brother. Bukankah sudah beberapa kali kukatakan bahwa aku tidak akan pernah menyakiti Anindya sedikitpun karena hanya berniat untuk mengajaknya Sunmori." Erick bahkan tidak habis pikir dengan pemikiran Aaron yang selalu negatif padanya.
Padahal ia tahu bahwa pria itu salah paham padanya. Ia memang selama ini menjadi pria populer di kampus dan dikejar-kejar banyak wanita, tapi belum ada satupun wanita yang membuat hatinya bergetar.
Ia sebenarnya tengah mencari seseorang yang bisa membuat hatinya bergetar. Jadi, berpikir tidak ada salahnya jika ingin segera menemukan sesuatu yang dicari.
Saat Erick baru saja menutup mulut, melihat sosok wanita yang baru saja berjalan menuju ke arahnya dan ia langsung tersenyum serta melambaikan tangan.
"Hai, Anindya."
Anindya yang tadinya masih menunggu menyapa sampai Aaron selesai memberikan sebuah ancaman, kini terpaksa menanggapi dengan hal yang sama.
"Hai," ucapnya sambil tersenyum serta melambaikan tangan dan melihat tatapan tajam dari Aaron padanya.
"Alasan saja!" sarkas Aaron yang saat ini merasa sangat kesal melihat Anindya tersenyum pada Erick. Seolah menunjukkan sebuah ketertarikan.
Sementara itu, Zea tidak ingin menanggapi kalimat bernada protes dari Aaron. Ia malah mendapatkan sebuah pembelaan dari wanita dengan paras cantik yang duduk di sebelah sang tuan besar.
"Memangnya kenapa harus ganti dengan yang lebih longgar? Memangnya ada yang salah dengan penampilan Anindya, Aaron? Bahkan semua pakaian yang dikenakan oleh Anindya, Mama yang memilih terlebih dahulu. Jadi, menurut Mama tidak ada yang tidak cocok," ucap wanita dengan mengerutkan kening melihat putranya.
Karena merasa kesal dan tidak ingin dipojokkan, kini Aaron mendaratkan tubuhnya di dekat sang ayah. "Baiklah. Terserah apa kata Mama saja. Padahal aku hanya ingin membuat Anindya tidak menjadi pusat perhatian dari para laki-laki."
Erick ingin meyakinkan pihak keluarga Anindya agar tidak berpikir macam-macam. "Tenang saja, Brother. Seperti janjiku tadi, aku akan selalu menjaga Anindya dengan baik dan tidak akan membiarkan para lelaki mengincarnya."
"Lagipula, para anak motor bukanlah pria hidung belang yang suka berbuat jahat pada lawan jenis." Erick benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran dari Aaron yang selalu negatif padanya serta para teman-temannya.
'Dasar sok alim! Aku malah merasa curiga padanya karena tatapannya pada Anindya sangat aneh. Rasanya seperti tatapan cemburu ketika melihat kekasih bersama dengan pria lain,' gumam Erick yang saat ini hanya bisa melampiaskan kekesalannya dengan mengumpat di dalam hati.
Sementara itu, Jonathan yang melihat suasana makin memanas karena kehadiran Aaron yang dianggap sangat berlebihan ketika mengkhawatirkan keadaan Anindya yang sudah dipercayakan pada Erick.
"Ya sudah, kalian berdua cepat berangkat agar tidak ketinggalan yang lainnya. Lagipula bukankah tadi kamu mengatakan harus pergi awal?" Menatap ke arah Erick yang langsung menganggukkan kepala padanya.
"Baik, Om." Kemudian Erick menatap ke arah gadis yang berdiri di hadapannya. "Ayo, Anindya. Kita berangkat sekarang."
Anindya yang tidak berani menatap ke arah Aaron karena khawatir dimarahi lagi seperti anak kecil, kini hanya menganggukkan kepala tanpa membuka suara.
Ia pun mencium punggung tangan Jonathan dan sang istri, tapi melewatkan Aaron karena menurutnya sangat aneh jika melakukan hal sama pada pria yang bahkan menurutnya masih muda.
"Aku berangkat dulu, Om dan Tante serta Tuan Aaron." Anindya tersenyum tipis begitu melihat pasangan suami istri tersebut mendukungnya.
"Baiklah. Hati-hati di jalan. Sekarang pergilah." Mengibaskan tangan agar Anindya segera pergi karena khawatir akan kembali mendapatkan kemurkaan dari Aaron.
Kemudian Anindya terlalu pergi meninggalkan orang tua dan anak yang dianggapnya adalah dewa penyelamat kemalangan baginya.
Ia berjalan bersisihan dengan Erick yang baru saja selesai berpamitan. Kemudian mendengar suara bariton dari pria yang sangat dihafalnya saat hendak melewati pintu utama.
"Nanti telpon mama jika sudah tiba di lokasi yang dituju." Aaron masih sangat susah menghilangkan kekesalannya.
Apalagi melihat wajah Erick yang selalu saja ingin ditinjunya. "Semoga Anindya selamat sampai di tujuan dan pulang dalam kondisi seperti semula."
"Sayang, kenapa berbicara seperti itu? Pikiranmu sangat naif sekali. Tidak semua laki-laki brengsek dan suka menyakiti wanita." Jonathan yang dari tadi diam, berpikir harus berbicara dengan putranya yang bersikap over thinking.
To be continued...