Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Kekecewaan Jasmine



"Terima kasih semuanya!" ucap Jasmine yang saat ini berpamitan pada semua orang setelah ia menyelesaikan pemotretan mendadak hari ini di hari liburnya, serta harus mengorbankan fitting gaun pengantin pada jam 10 tadi.


Bahkan saat ini, ia bisa melihat semua orang mengucapkan terima kasih padanya. Ia pun langsung menuju ke arah mobil setelah keluar dari studio pemotretan dan melirik ke arah mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


Jasmine menepuk jidat karena jam sudah menunjukkan pukul setengah 1. Sementara ia tadi mengatakan akan berangkat ke butik pukul 12 siang karena diperkirakan jam segitu sudah selesai pemotretan, tapi ternyata semuanya tidak sesuai dengan ekspektasi karena melebihi dari jadwal.


"Pasti Aaron akan marah padaku dan mengomel dari A sampai Z. Ia pasti akan menasehatiku dari awal sampai akhir dan membuat telingaku terasa panas."


Jasmine bahkan mengomel saat masuk ke dalam mobil dan menyuruh sang sopir segera meninggalkan studio pemotretan menuju ke butik. Ia yang merasa sangat lelah, tapi sangat menikmati pekerjaannya karena tidak membuatnya menyesal ataupun mengeluh.


Apalagi menjadi model adalah hobinya semenjak kecil dan membuatnya merasa sangat senang bisa berhasil di dunia modeling dan dilirik oleh perusahaan asing.


'Biarkan saja Aaron mengomel dan lebih baik nanti aku mendengarkan saja tanpa menyela. Aku pasti akan menjadi bulan-bulanan Aaron hari ini karena membuatnya marah saat tiba-tiba membatalkan janji dan mengubah jadwal.'


Jasmine memang sengaja belum menyalakan ponsel karena khawatir jika sang kekasih menghubunginya dan ia merasa bingung harus mengatakan apa.


Ia memilih untuk langsung bertemu saja di butik dan meminta maaf serta mendengarkan omelan dari sang kekasih. Hingga setengah jam perjalanan menuju ke butik, kini Jasmine sudah tiba di tempat yang dituju.


Jasmine melepaskan sabuk pengaman dan kini beranjak turun, tapi sebelumnya sudah menyuruh sang sopir untuk menunggu karena ia akan ada jadwal pemotretan sore nanti.


Ia terkadang mengeluh kenapa saat karirnya meroket, malah sang kekasih melamarnya dan membuatnya tidak bisa berkutik karena sudah melibatkan pihak wedding organizer untuk mengatur pernikahan yang bahkan tidak ia ketahui sama sekali.


Jasmine yang saat ini baru saja mendorong pintu masuk butik, langsung disambut oleh salah satu pegawai wanita yang menyapanya.


"Selamat siang, Nona. Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu pegawai wanita berseragam hitam yang saat ini mengulas senyuman sebagai bentuk penghormatan pada customer yang baru saja datang.


Jasmine saat ini mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari keberadaan sang kekasih yang tadi dipikirkannya sudah berada di butik. Namun, ia memicingkan mata karena merasa tidak ada tanda-tanda sang kekasih di sana.


Akhirnya menatap ke arah wanita di hadapannya tersebut untuk bertanya. "Saya ingin fitting gaun pengantin yang dipesan oleh mertua. Apakah calon suami saya sudah datang?"


"Atas nama siapa, Nona?"


"Aaron Nadhif Jonathan," sahut Jasmine yang saat ini menatap ke arah pegawai wanita yang terlihat mengerutkan kening begitu mendengarnya memberikan jawaban. Namun, ia memicingkan mata begitu mendengar penjelasan dari wanita itu.


"Tuan Aaron tadi sudah datang ke butik pukul 10 bersama dengan nyonya Jenny serta ...." Ia merasa bingung harus menjelaskan mengenai gadis yang tadi memakai gaun pengantin.


'Ooh ... jadi ini calon istri yang membuat calon suaminya murka hingga menghancurkan benda mahal seharga puluhan juta itu. Wanita ini memang sangat cantik.'


'Pantas saja tuan Aaron memilihnya untuk dijadikan istri. Lalu, gadis yang tadi siapa? Padahal aku pikir tadi adalah calon istri tuan Aaron,' gumam pegawai wanita yang berjenggit kaget karena mendengar suara dari calon pengantin wanita tersebut.


"Mbak ... Mbak, kok malah melamun sih! Memangnya tadi calon suamiku sudah pergi ke sini bersama dengan calon mertuaku? Oh ya, memangnya ada siapa lagi yang datang bersama mereka ke sini." Jasmine merasa sangat curiga mendengar wanita itu tidak melanjutkan perkataannya.


Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres dan ingin diketahui. Namun, tidak mendapatkan jawaban karena saat ini malah disuruh untuk mencari tahu sendiri.


"Maaf, Nona. Lebih baik Anda menelpon calon suami Anda sedang berada di mana dan apakah akan ke sini untuk fitting gaun pengantin? Saya dan rekan akan segera bersiap untuk membantu Anda fitting gaun pengantin jika sudah siap."


Kemudian pegawai wanita tersebut membungkuk hormat sebelum berlalu pergi dari calon pengantin wanita yang sudah terlambat datang beberapa jam dan calon pengantin pria sudah pergi dari tadi bersama dengan keluarga.


Ia saat ini seolah bisa membaca hubungan antara customer yang sedang mengalami masalah menjelang hari pernikahan dan itu sudah biasa terjadi dan tidak pernah terkejut melihatnya.


Sementara itu, Jasmine yang saat ini sangat kesal pada pegawai wanita yang tidak mau menjelaskan seolah tengah menyembunyikan sebuah rahasia padanya, sehingga membuatnya berpikir bahwa ada sesuatu yang tidak ia ketahui.


Ia mencari tempat duduk dan segera menghubungi sang kekasih untuk menanyakan di mana keberadaannya karena ia sudah sampai di butik. Namun, seketika wajahnya berubah masam karena nomor yang dituju malah tidak aktif.


"Tidak aktif? Bagaimana bisa?" sarkas Jasmine yang saat ini merasa sangat heran karena ini adalah pertama kalinya nomor sang kekasih tidak aktif.


Padahal mengetahui bahwa sang kekasih adalah seorang pimpinan perusahaan yang pastinya akan mendapatkan banyak pesan serta panggilan dari beberapa rekan bisnis.


Jadi, tidak pernah menonaktifkan ponsel. Namun, ini adalah pertama kali ia mengetahui jika sang kekasih tidak bisa dihubungi dan membuatnya berpikir sesuatu.


"Apa Aaron menonaktifkan ponselnya karena kesal padaku saat tiba-tiba membatalkan fitting gaun pengantin?" Jasmine terdiam karena sebenarnya ia menyadari telah bersalah.


Apalagi tadi tidak ingin dihubungi oleh Aaron karena khawatir jika pria itu membuat mood-nya semakin buruk. Jadi, ia sengaja menonaktifkan ponselnya agar fokus bekerja dan bisa segera datang ke butik setelah menyelesaikan pekerjaan mendadak.


Jasmine saat ini merasa bingung apa yang harus dilakukan ketika tidak bisa menghubungi sang kekasih, sedangkan ia sudah berada di butik.


'Meskipun aku tidak akan pernah memakai gaun pengantin itu, tapi paling tidak masih berusaha untuk menyenangkan hati Aaron. Tapi apa yang kudapatkan sekarang? Ia malah tidak datang dan menonaktifkan ponselnya.'


To be continued...