
Saat jam istirahat, Zea memilih untuk tetap berada di dalam kelas. Ia ingin mempelajari tentang mata kuliah yang tadi dijelaskan oleh dua dosen agar lebih memahaminya. Apalagi ia tahu jika ke kantin hanya akan membuatnya merasa malu.
Pasti akan ada Erick dan para teman-temannya yang mempunyai sebuah hobi untuk menggodanya. Bahkan dari tadi ia seolah tidak perduli dengan tatapan tidak suka dari para mahasiswi di kelas.
Jika ia berharap bisa fokus kuliah tanpa ada yang mengganggu, tapi semuanya hanya angan semu semata karena yang terjadi adalah sebaliknya. Ia yang tengah menunduk ke arah buku, mendengar suara dari salah satu mahasiswi yang datang dan menggebrak mejanya.
"Hei, anak baru sok kegatelan!" teriak sosok wanita yang memakai rok sepaha dengan atasan lengan pendek berwarna merah. Ia menatap ke arah mahasiswi baru yang diketahui menjadi kekasih ketua senat incarannya.
Zea yang tadinya fokus pada bukunya, kini mengangkat pandangan dengan mendongak dan menatap gadis dengan kulit putih yang berdiri di hadapannya.
Kemudian Zea menunjuk ke arah diri sendiri karena tidak suka disebut gadis kegatelan. "Kau memanggilku?"
"Iyalah, memangnya siapa lagi di kelas ini gadis kegatelan selain kamu!" sarkas perempuan dengan rambut pirang yang menyahut dari samping kiri dan menatap penuh kebencian.
Zea yang sudah terbiasa dengan hinaan para murid-murid perempuan dulu di SMA ketika penampilannya masih cupu, sekarang tidak lagi merasa shock maupun terpuruk. Kini, ia bersikap biasa.
"Oh ...." Kemudian kembali menatap ke arah bukunya karena ingin fokus tanpa memperdulikan mereka.
Tentu saja empat perempuan yang saat ini berdiri di hadapan mahasiswi baru tersebut sangat marah dan saling bersitatap karena saking kesalnya saat dicueki.
Hingga perempuan bernama Stella yang menjadi ketua mereka dan mengincar Erick lama, tapi tidak pernah berhasil menaklukkannya, sehingga sangat marah begitu mengetahui jika ternyata gadis itulah yang menjadi kekasih pria incarannya.
'Sialan gadis sok cantik ini sangat berlagak dan seolah sama sekali tidak takut padaku. Menyebalkan sekali! Rasanya aku ingin menarik rambutnya itu sampai rontok!' lirih Stella yang saat ini tengah menatap tajam ke arah gadis itu.
"Sepertinya kau merasa menjadi mahasiswi paling populer di kampus ini karena menjadi kekasih Erick, ya! Jadi sekarang sangat berlagak dan tidak mau berbicara." Ia kembali menggebrak meja karena sangat kesal melihat gadis di hadapannya tersebut.
Zea yang sangat kesal karena tidak bisa belajar dengan tenang, kini kembali mengangkat pandangan dan bangkit berdiri dari kursi untuk menyamakan posisi dengan perempuan yang ditebaknya menyukai Erick.
"Apa yang kalian inginkan sebenarnya? Tidak perlu menggebrak meja karena itu hanya akan membuat tanganmu sakit sendiri. Apa ini berhubungan dengan Erick? Jadi, kalian ingin menginterogasiku?" Saat Zea memberanikan diri mengungkapkan pendapatnya, indra menangkap suara bariton dari seseorang yang sangat dihafalnya.
Bahkan telinganya serasa tergelitik saat mendengar panggilan sosok pria yang baru saja datang, yaitu Erick dan seketika memijat pelipis ketika menganggap biang masalah datang.
"Ayang! Aku dari tadi menunggumu di kantin, tapi tidak kunjung datang. Jadi, aku sekarang khusus menjemputmu." Erick tadinya bertanya pada salah satu teman sekelas Anindya, tapi karena mengetahui jika Stella mengganggu gadis incarannya tersebut, berjalan cepat masuk ke dalam kelas.
Benar saja apa yang dipikirkan, ia melihat Stella dan beberapa temannya tengah berdiri di hadapan Anindya. Ia pun menatap tajam ke arah Stella yang selama ini tidak disukainya karena selalu mengejar-ngejar dan menyatakan perasaan padanya.
"Jika kalian berani macam-macam pada pacarku, aku tidak akan segan-segan memberikan pelajaran. Jangan dekati kekasihku jika ingin hidup tenang di kampus," sarkas Erick dengan menatap tajam ke arah empat perempuan yang berani mengganggu Anindya.
Khususnya Stella yang selalu membuatnya risi karena ia tidak suka dikejar oleh wanita itu. Karena sejatinya para lelaki lebih suka mengejar daripada dikejar, sangat bersemangat ketika tidak kunjung mendapatkan sosok Anindya yang susah sekali ditaklukan.
Kini, Stella yang merasa sangat kesal sekaligus marah karena mendapatkan sebuah penghinaan dari pria yang disukai, kini tidak mengungkapkan apapun dan berlalu pergi dengan memberikan kode pada para sahabatnya agar keluar dari kelas.
'Aku benar-benar sangat muak melihat gadis yang sepertinya dipuja-puja oleh Erick. Awas saja nanti, aku akan memberikan pelajaran padanya saat tidak ada di kampus. Aku harus mencari tahu semua hal tentang gadis itu. Mungkin ada kelemahan yang dimiliki dan bisa kuhancurkan.'
Stella berjalan sambil mengepalkan tangan dengan wajah memerah dan mendapatkan support dari beberapa temannya agar tidak mengambil hati penghinaan dari Erick.
Ia yang biasanya makan di kantin, malas pergi ke sana karena pasti akan melihat interaksi antara pria yang dicintai dengan sang kekasih. Jadi, mengajak para sahabatnya ke taman.
Sementara itu, di sisi lain, yaitu ruangan kelas yang kini hanya ada Erick dan Zea, terlihat keduanya saling bersitatap.
Zea yang dari tadi sangat malas berbicara, kini seketika mengarahkan sebuah cubitan kuat pada lengan kekar dibalik kemeja berwarna hitam tersebut untuk melampiaskan amarah.
"Dasar menyebalkan! Kamu membuatku menjadi bahan guntingan dari para mahasiswi di kampus ini dan juga hari pertama sudah mendapatkan musuh dari perempuan yang menyukaimu." Mengarahkan tatapan tajam karena merasa sangat marah pada pria di hadapannya tersebut.
"Kenapa menyuruh teman-temanmu untuk melakukan hal konyol di kelas ketika aku sedang memperkenalkan diri?" Zea masih tidak melepaskan cubitan dari lengan kekar pria yang terlihat meringis kesakitan karena perbuatannya.
Erick yang saat ini masih menahan rasa panas pada lengannya, berusaha untuk menghentikan perbuatan Anindya. "Aduh! Ayang, sakit! Jangan mencubit di situ! Di tempat lain saja."
Kini, Erick menahan tangan Anindya agar tidak meneruskan perbuatannya karena benar-benar meninggalkan rasa nyeri sekaligus panas, hingga membuatnya meringis kesakitan.
Hingga ia pun kini berhasil melakukannya dan berusaha untuk membuat amarah Anindya reda. "Ayang, maafin aku karena sebenarnya mereka sendiri yang berinisiatif tanpa aku suruh. Bahkan tadi aku baru tahu jika mereka dari kelasmu untuk menyambutmu."
"Mungkin itu adalah cara seorang teman baik menghormati pacar dari sahabat mereka. Jadi, tanpa terlebih dahulu meminta izin padaku, mereka sudah bertindak. Bahkan tadi saat di kantin, mengatakan jika kamu akan datang ke sana." Sebuah kebohongan yang baru saja dilancarkan oleh Erick adalah cara jitu untuk membuat gadis di hadapannya tidak lagi kesal padanya.
Berharap dengan mengatasnamakan teman temannya untuk menyembunyikan kesalahan, Anindya mau memaafkan dan tidak menyalahkannya.
Namun, saat ini ia melihat Anindya belum membuka suara untuk menanggapi penjelasan yang baru saja diungkapkan. "Kamu masih marah padaku setelah aku menjelaskan semuanya?"
Zea yang merasa sangat malas berbicara karena hari ini cukup lelah dengan drama di pagi hari. Hanya embusan napas kasar yang mewakili perasaan Anindya saat ini.
"Pergilah! Aku ingin belajar. Tujuanku kuliah di sini adalah ingin meraih cita-cita tanpa berpikir pacaran. Namun, karena sudah terlanjur dan tidak bisa diperbaiki, biarkan saja apa adanya." Zea tidak ingin nama baik seorang ketua senat di kampus tercemar hanya karenanya.
"Lagipula tidak perlu menjelaskan apapun pada orang lain mengenai hubungan palsu yang malah akan mempermalukan nama baikmu," ucapnya yang kini melihat Erick mengeluarkan sesuatu dari dan menaruh di atas meja.
"Terima kasih karena masih memikirkan nama baikku di kampus. Kalau kamu tidak mau ke kantin, aku punya sesuatu untukmu. Kebetulan tadi aku melihatnya di kantin dan langsung membelinya karena mengingatmu." Erick menganggap coklat sama persis dengan Anindya.
Karena sama-sama manis dan selalu ketagihan jika merasakannya. "Kamu tahu persamaan coklat ini denganmu?"
"Tidak perlu membual karena aku bukan tipe wanita yang suka digombalin." Zea yang dari dulu sangat menyukai coklat, tentu saja tidak menolaknya dan langsung membuka, menggigit satu potong kecil dan rasa manis melumer di mulutnya.
"Terima kasih coklatnya." Zea kini masih menatap ke arah Erick dan mengingat kejadian kemarin yang hujan deras. "Oh ya, kemarin hujan deras, kamu menginap di hotel juga?"
Erick yang dari tadi memanjakan mata untuk melihat gadis manis menggemaskan ketika menikmati coklat darinya. "Iya, aku bersama dengan teman-teman menginap di hotel sampai hujan reda dan pulang pagi hari."
"Ternyata kamu juga menginap di hotel bersama dengan Aaron. Tadi aku kesal sekali saat menelponmu, yang menjawab malah pria arogan itu akan menceritakan jika kalian menginap di hotel. Kalian tidak berada dalam satu kamar, kan?" Erick tadi memang tidak berani bertanya pada Aaron karena khawatir jika pria itu hanya berbohong padanya untuk membuatnya cemburu sekaligus kesal.
Namun, ia sengaja bertanya pada Anindya karena mempercayai gadis itu tidak akan berbohong padanya. Hingga ia seketika merasa lega begitu melihat Anindya menggelengkan kepala.
"Tentu saja kami menginap di kamar yang berbeda karena bukan mahram." Zea berakting meyakinkan agar Erick percaya padanya. Apalagi tadi sudah diberitahu oleh Aaron agar menjaga rahasia bahwa mereka tidur di ranjang yang sama.
"Kamu tidak pergi ke kantin sana untuk makan siang. Aku akan melanjutkan belajar." Zea merasa tidak nyaman jika membicarakan mengenai sesuatu yang membuatnya harus berbohong.
Merasa jika Anindya mengusirnya karena tidak nyaman bersamanya, tentu saja membuat Erick merasa kecewa. Namun, ia tetap tidak mau pergi dari sana karena mempunyai kesempatan untuk berduaan hanya saat jam istirahat.
"Kamu belajar saja dan anggap aku tidak ada di sini. Aku akan diam dan tidak akan bersuara. Lagipula hanya bertemu denganmu saat jam istirahat saja karena pasti saat pulang nanti sudah ada sopir yang menjemputmu, kan?" Erick sudah bisa menebak karena melihat sikap Aaron yang sangat over protektif pada Anindya.
Hingga ia pun berpikiran bahwa Aaron menyukai Anindya, sehingga tidak mengizinkan laki-laki lain mendekatinya. Kini, ia menatap sosok wanita yang saat ini masih menikmati coklat darinya.
"Mana mungkin aku menganggap kamu tidak ada saat jelas-jelas berada di hadapanku seperti ini. Aku pun tidak bisa fokus belajar jika kamu memandangku terus seperti sangat mengagumi kecantikanku." Zea yang merasa perkataannya sangat lebay, kini terkekeh geli dan mengingat hinaan dari perempuan tadi.
"Oh ya, tadi aku dicap sebagai gadis kecentilan yang sok cantik. Sepertinya benar apa yang dikatakan perempuan itu. Hingga aku bisa berbicara seperti itu padamu." Kemudian Zea mengambil botol air di dalam tasnya dan meneguk hingga tersisa separuh.
Erick saat ini hanya diam mengamati semua pergerakan Anindya. "Karena kamu memang cantik. Tidak perlu mendengarkan ocehan mereka karena itu tidaklah penting."
"Stella adalah junior paling arogan dan sok cantik di kampus ini yang mengejar-ngejarku. Jadi, aku merasa ilfil dan risi. Apa kamu sudah kenyang hanya dengan makan coklat dan minum air putih?"
Anindya sebenarnya lapar, tapi bersikap seolah ia sudah kenyang. "Aku jarang makan siang, jadi sudah kenyang hanya dengan makan coklat dan air putih. Kalau kamu? Sana makan di kantin. Aku tidak ingin menjadi penyebab kamu kelaparan."
Erick seketika menggelengkan kepala. "Tidak! Aku sudah kenyang."
Zea benar-benar tidak bisa berkonsentrasi belajar karena ada Erik yang dari tadi mengajaknya berbicara dan akhirnya memilih untuk menutup bukunya.
"Aku belajar di rumah saja." Kemudian ia tidak tega melihat Erick menahan lapar karenanya, sehingga kini bangkit berdiri dari posisinya. "Ayo, aku tidak mau membuat anak orang kelaparan. Kita ke kantin sekarang."
Raut wajah Erick seketika berbinar kala melihat Anindya mengajaknya ke kantin karena tidak tega melihatnya kelaparan. Tanpa pikir panjang, ia langsung bangkit berdiri dari posisinya.
"Wah ... Ayang emang yang terbaik." Erick seketika tertawa kala melihat respon Anindya. Refleks ia mengarahkan kedua tangan ke atas sebagai tanda menyerah.
"Mau ini!" Anindya mengarahkan kepalan tangan dengan wajah kesal karena saat tidak ada orang pun masih dipanggil seperti itu dan membuatnya merasa geli.
"Ayang ... ayang, yang ada, kepalamu peyang!" sarkas Zea yang kini kembali mencubit lengan yang meninggalkan bekas memerah di kulit putih itu. "Rasakan ini!"
"Iiish ... sakit sekali. Ampun ... ampun!" Erick kini melihat bekas memerah yang ditebaknya akan berubah membiru nanti. "Semoga mamaku tidak melihat ini karena nanti akan bertanya dan jika mengetahui putra kesayangannya disakiti olehmu, pasti akan memarahimu." Erick yang berjalan di sebelah Anindya, kini bisa melihat tatapan dari para anak kampus.
Bahkan beberapa mahasiswa menyapanya dan ia hanya tersenyum sambil berbisik di dekat daun telinga Anindya.
"Santai saja dan jangan gugup karena selama ada aku bersamamu, tidak akan ada yang berani menyakitimu." Erick seolah menjadi pelindung untuk Anindya agar merasa tenang dan tidak takut jika ada para mahasiswi yang kesal padanya.
Merasa jika pria di sebelahnya seperti pahlawan kesiangan yang menganggapnya lemah, Anindya saat ini langsung menanggapi dengan kalimat skakmat.
"Aku tidak takut siapapun kecuali Allah. Jadi, tidak perlu berpikir menjadi pahlawan untukku " Kemudian ia tersenyum simpul saat melihat raut wajah Erick yang seperti malu karena kalah darinya.
"Baiklah. Aku tidak akan lagi berusaha untuk menjadi pahlawan untukmu. Ternyata susah sekali terlihat romantis di depan Ayang." Erick sengaja berbicara dengan tegas dan menaikkan nada suaranya agar para mahasiswa mendengarnya ketukan memasuki area kantin.
To be continued...