
Zea awalnya sangat terkejut dengan perkataan Erick, tapi ia tidak mau kalah dan membuatnya langsung mengungkapkan segala hal yang ada di pikiran kaum wanita. Bahwa menikah itu tidak melulu soal cinta, tapi komitmen dan sebuah ikrar yang harus dipegang teguh seumur hidup.
Bahwa di dunia ini, para wanita menginginkan menikah satu kali seumur hidup, tapi sangat takut salah pilih dan harus benar-benar mempertimbangkan pria yang akan menjadi tempat ternyaman untuk membina biduk rumah tangga.
"Erick, jangan macam-macam! Gampang banget bilang menghalalkan. Memangnya menikah gampang, apa! Kuliah dulu yang benar dan cari kerja setelah lulus. Baru bisa menghalalkan anak orang. Memangnya anak orang mau kamu kasih makan apa jika tidak kerja? Mau ngandalin orang tua? Itu namanya tidak punya harga diri!"
Awalnya, Erick hanya asal ceplos gara-gara kesal pada Zea yang menyuruhnya untuk menginap di tempat lain saat tujuannya datang ke sana jauh-jauh karena ingin melepaskan rindu.
Hingga ia kini menggaruk tengkuknya dan terkekeh karena merasa tertampar dengan kalimat pedas gadis mungil di hadapannya. "Iya, Ayang. Aku akan melakukan apapun untuk memenuhi keinginanmu itu. Aku akan kuliah dengan baik dua tahun lagi dan langsung cari kerja biar bisa menafkahimu."
Zea hanya bisa memijat pelipis dan ia sebenarnya mengingat kuliahnya. Bahwa ia ingin fokus kuliah dan mengejar cita-citanya, tapi semua harus direlakan karena ulah Aaron yang meninggalkan luka di hatinya.
"Widih ... memangnya siapa yang mau dinafkahi olehmu? Aku kan hanya mengungkapkan semua pemikiran para wanita yang tiba-tiba mendengar kalimat seperti itu."
"Ya Allah, kejam sekali, Ayang ini. Bisa nggak sih sedikit saja iba padaku yang sudah jauh-jauh dari Jakarta ke Jogja hanya ingin bisa menemuimu. Jadi, paling tidak, sampai besok bersikaplah yang baik padaku." Saat Erick baru menutup mulut, ia mendengar suara notifikasi dari ponselnya.
Berpikir ada sesuatu informasi karena sebelum berangkat, beralasan Sunmori pada keluarga dan menyuruh beberapa anak motor lainnya ikut berbohong jika ada yang bertanya. Itu karena ia tahu jika sampai saat ini Aaron selalu mengawasinya.
Begitu membaca pesan yang dikirimkan oleh sahabatnya, seketika ia langsung berjalan mendekati gadis yang berada di hadapannya. "Lihat ini."
Zea yang tadinya merasa iba pada Erick yang memohon padanya dan berniat untuk meminta maaf, tapi kini mulai membaca sebuah pesan dari kontak bernama Andri.
"Bro, tadi ada beberapa orang mencurigakan menanyakan kegiatan di Club motor mengenai Sunmori, tapi sudah kuatasi dengan menyebarkan informasi palsu. Sepertinya para pria itu adalah suruhan Aaron yang kamu katakan tadi." Zea mengakhiri membaca pesan itu dengan perasaan berkecamuk.
"Sebenarnya apa mau pria itu? Dia tidak bisa melupakan nona Jasmine dan tidak membiarkan aku pergi darinya? Dasar berengsek! Semua cowok sama saja!" umpat Zea yang kini mengembalikan ponsel Erick yang tadi dipegangnya.
"Bahkan Tuhan selalu menciptakan perbedaan yang makin menghiasi indahnya dunia, tapi dengan gampangnya kamu bilang semua cowok sama saja. Padahal sebenarnya yang terjadi adalah semua cewek sama saja."
Erick yang teringat akan cinta pertamanya dulu selingkuh saat masih menjadi pacarnya, tiba-tiba sangat kesal dengan istilah yang selalu dijadikan senjata oleh para pria dan wanita. Karena tidak ingin merasa kesal pada Zea dan meluapkannya pada gadis yang hanya diam tak menjawab, kini ia pun berjalan keluar dari ruangan makan.
Zea saat ini sadar jika kata-katanya tadi memang salah dan hanya menatap kepergian Erick yang berteriak begitu di depan pintu.
"Aku ke rumah pak RT dulu. Tenang saja, aku tidak akan membawa penghulu, tapi meminta saran dari pak RT." Erick sebenarnya belum tahu rumah ketua RT di kampung, tapi berniat untuk bertanya pada tetangga sekitar yang cukup jauh dari rumah Zea.
Ia merasa sangat terkejut tadi ketika melihat rumah Zea berada di area sepi dan depannya pematang sawah. Bahkan cukup jauh dari jalan utama karena masuk beberapa gang lagi.
"Berani sekali Zea tinggal di kampung ini. Sebenarnya di sini sangat damai dan nyaman, serta udara bersih, tapi bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk padanya jika sampai ada orang jahat." Saat Erick berjalan sambil berbicara sendiri, ia menatap ke arah mobil berwarna hitam yang terparkir di seberang jalan.
Tentu saja di kampung yang notabene adalah orang-orang biasa, membuatnya merasa aneh melihat itu. 'Kenapa ada mobil mewah di kampung ini? Apa ada orang di dalamnya?'
Sementara itu di dalam mobil dengan kaca tidak tembus pandang tersebut, terlihat sosok pria yang berada di balik kemudi, menoleh ke arah belakang.
"Tuan, sepertinya pria itu merasa curiga pada mobil ini."
"Kita lihat apa yang akan dilakukannya," ucap sosok pria paruh baya yang duduk di kursi belakang sambil menatap ke arah sebuah foto keluarga di tangannya.
To be continued...