
Zea dan Erick baru pulang jalan-jalan keliling kota Jakarta dan berbelanja banyak barang. Meskipun Erick hanya membeli sedikit untuk dirinya dan tidak berniat untuk membeli oleh-oleh karena memang orang tuanya sedang berada di luar negeri.
Ia hari ini membelikan apapun yang dipilih oleh Zea dan membantu membawa turun dari motor. Saat berjalan masuk ke dalam rumah Setelah dia membuka pintu, langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa untuk meluruskan kakinya yang terasa pegal.
"Aaah ... capek juga rupanya berkeliling seharian. Ternyata Ayang kuat juga berjalan dan bisa-bisanya tidak merasa capek sepertiku. Ayang, bisa ambilkan aku minum? Aku benar-benar sangat haus. Padahal tadi kita sudah minum es teler, tapi masih tetap haus." Erick seketika tersenyum begitu jawaban iya Zea yang baru saja melepaskan jaket.
Awalnya Zea niat untuk memeriksa barang belanjaan yang cukup hanya hari ini karena berhasil menguras kantong Erick. Namun, ia yang merasa iba pada anak muda yang dianggap sangat lemah karena sudah mengeluh capek itu, akhirnya berjalan menuju ke arah dapur untuk mengambil air minum.
Ia sengaja mengambil air hangat dan diberikan pada Erick. "Ini minum! Es tidak akan mengobati rasa haus karena minyak akan malah menambah dahaga. Minum air hangat jauh lebih baik dan akan menghilangkan rasa hausmu."
Kemudian ia menunjukkan gelasnya dan memberikan contoh untuk minum air hangat yang biasa dilakukan. "Ini adalah contoh gaya hidup sehat yang harus kamu terapkan mulai hari ini, Erick. Jangan terlalu banyak minum es karena itu tidak baik untuk jantung."
Erick yang patuh pada semua yang dikatakan oleh Zea, kini perlahan meneguk air hangat yang diletakkan di atas meja oleh gadis itu. "Iya, Ayang. Aku akan selalu mengingat nasihatmu."
"Aku biasanya selalu minum es setelah makan bakso atau mie ayam, tapi mulai sekarang akan mengubah kebiasaan itu. Aku makan minum jeruk hangat atau teh hangat saja." Ia kini sudah menghabiskan satu gelas air hangat dan meletakkan kembali di atas meja.
Saat menatap ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 2 siang, membuatnya mengembuskan napas kasar. "Waktuku tinggal 2 jam lagi bersamamu di sini."
"Kenapa waktu berlalu sangat cepat, Ayang. Rasanya aku ingin pindah ke sini saja dan hidup bersamamu. Tersiksa dengan rasa kangen itu sangat menyesakkan." Erick sebenarnya sangat kecewa melihat sikap gadis di hadapannya yang lebih sibuk memeriksa barang belanjaan.
Bahkan meskipun sudah berbicara seperti itu, tidak membuat Zea mengalihkan pandangan dari barang belanjaan, sehingga membuatnya sengaja menyindir gadis itu agar mau beralih menatapnya.
"Sepertinya aku tidak lebih berharga dari barang belanjaan kamu lebih fokus pada itu daripada memanfaatkan waktu yang tersisa hanya 2 jam saja." Erick seketika merasa senang saat berhasil membuat dia memalingkan wajah dari pakaian dan beberapa make up serta camilan itu.
"Jangan lebay, Erick! Aku aku sangat yakin jika kamu setiap minggu akan datang ke sini karena punya cukup banyak uang untuk membeli tiket dari Jakarta ke Jogja. Pakai bawa-bawa kangen segala, padahal hanya berpisah satu minggu sekali. Iya, kan?" Meskipun mengetahui apa yang ada di pikiran Erick karena sudah hafal dengan pria itu, tetap saja Zea tidak ingin membuat kecewa.
Kini, ia hanya mengambil kantong plastik berisi makanan dan menaruh di atas meja. Ada banyak camilan yang tadi dibelikan oleh Erick untuknya saat berbelanja di supermarket.
Tadi ia disuruh memenuhi kebutuhan dapur, tapi tidak ingin melakukannya karena kulkas masih penuh dengan stok makanan yang dibeli secara online. Akhirnya ia hanya mengambil snack untuk ngemil saja.
Sementara itu, Erick yang tadinya berbaring di atas sofa, seketika bangkit dari posisinya dan terkekeh geli dengan apa yang dikatakan oleh Zea. "Wah ... ternyata Ayang sudah sangat hafal denganku luar dalam."
"Aku jadi terharu dan merasa tersanjung." Erick sebenarnya merasa sangat khawatir jika gadis yang terlihat mengerucutkan bibir tersebut akan lemah ketika Aaron datang dan mengajak kembali ke Jakarta.
Jika sampai itu terjadi, ia merasa dunianya akan runtuh karena sudah tidak akan memiliki harapan untuk bisa kembali bersama dengan gadis itu. Kini, ia memilih untuk menyembunyikan perasaan yang dipenuhi kekhawatiran dengan mengambil satu Snack keripik kentang.
"Terima kasih, Ayang karena sudah menerimaku di sini dengan baik. Aku jadi makin semangat seminggu sekali ke sini." Erick seketika menepuk jidat ketika mengingat sesuatu hal. "Aaarh ... sial!"
Zea yang tadinya tidak ingin menanggapi sifat lebih dari Erick, mengerutkan kening dan merasa heran apa yang ditunjukkan oleh pria itu. "Ada apa? Apa ada sesuatu yang terlupa?"
Seketika Erick mengangguk lemah dan mengungkapkan apa yang saat ini ada di pikirannya. "Aku sampai lupa dengan gadis kecentilan itu. Jika satu minggu sekali datang ke sini dan harus menginap di tempat pak RT, pasti dia berpikir aku menyukainya."
Saat Zea tertawa mendengar itu, ia makin terbahak melihat Erick yang pergi saat membayangkan putri pak RT. "Baru kali ini aku melihat seorang pria berlagak tidak menyukai seorang wanita yang seksi dan cantik. Laki-laki itu sejatinya seperti seekor kucing yang tetap akan memakan ikan yang diberikan."
"Astaga, Ayang! Tega sekali menyamakanku dengan seekor kucing. Menyebalkan! Aku adalah pria sejati yang masih normal dan tidak menyukai wanita kecentilan atau tipe penggoda seperti itu. Aku lebih menyukai gadis polos seperti Ayang yang tidak munafik dan bersikap apa adanya."
"Hal yang tidak dimiliki oleh wanita lain dan akhirnya membuatku klepek-klepek." Erick yang baru saja menutup mulut untuk mengungkapkan isi hatinya, sangat terkejut karena mendapatkan lemparan bantal dari Zea.
"Gombal lagi!" Zea yang terbahak melihat Erick terkejut karena ulahnya, seketika bangkit berdiri dari kursi karena berniat untuk mengambil sisir yang ada di dalam kamar.
Karena naik motor membuat rambutnya kusut, sehingga berniat untuk menyisir dan mengendarai rambutnya yang tadi diikat ke atas. Saat ia tiba di kamar, mengerutkan kening karena merasa jika sisirnya pindah tempat.
"Aneh sekali. Apa aku yang lupa, ya? Perasaan tadi aku menaruh sisir ini di dekat parfum, tapi kenapa bisa tiba-tiba pindah di dekat bedak?" Ia kemudian menatap ke arah sisir yang terlihat bersih tanpa ada bekas rambutnya.
"Tadi aku kalau membersihkan sisa rambut di sisir ini, tapi kenapa sekarang bersih?" Bulu kuduk Zea seketika meremang ketika membayangkan ada orang jahat yang baru saja masuk ke dalam kamar.
Refleks ia berjalan menuju ke arah pria yang masih berada di ruang tamu. "Erick?"
Erick yang masih mengunyah keripik kentang di dalam mulutnya, merasa heran melihat sikap Zea yang tiba-tiba berteriak memanggil namanya. "Ada apa, Ayang?"
Zea seketika menunjukkan sisir di tangannya. "Sepertinya tadi ada orang yang masuk ke dalam kamarku. Sepertinya dia melihat kunci yang kuletakkan di bawah pot bunga."
"Benarkah? Apa ada barang-barang yang hilang, Ayang? Sepertinya kamu harus memasang CCTV di sekitar area rumah agar mengetahui jika ada orang jahat yang berusaha untuk masuk ke dalam. Apalagi kamu tinggal sendiri. Tadi kan aku sudah bilang, jangan meninggalkan kunci di bawah pot bunga." Erick yang saat ini bangkit berdiri dari sofa, berjalan mendekat ke arah Zea.
Ia ingin memastikan apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu ketika menunjukkan sisir di tangan. "Memangnya kenapa dengan sisir itu?"
Zea masih tidak mengalihkan perhatian dari sisir yang dibawanya. "Tadi aku menyisir dengan ini dan ada sisa rambut di sini."
"Ya ampun, Ayang. Aku pikir apa tadi. Mungkin kamu tadi sudah membersihkan helaian rambut yang ada di sana dan lupa. Memangnya apa pentingnya mencuri helaian rambutmu di sisir itu?" Erick yang tidak mempedulikan apa yang baru saja dikatakan oleh Zea, memilih fokus pada yang lain.
Kini, ia memeriksa setiap ruangan untuk memastikan tidak ada barang yang hilang. "Periksa sekali lagi apakah ada barang yang hilang dari rumah ini, Ayang."
Zea yang membenarkan perkataan Erick bahwa helaian rambutnya sama sekali tidak penting untuk dipikirkan. Kini, ia mengikuti kemanapun Erick memeriksa.
"Sepertinya tidak ada yang hilang. Apa ini hanya perasaanku saja karena senang bisa terlalu banyak berbelanja hari ini?" Masih berdiri di belakang pria dengan bahu lebar tersebut dan mengantarkan pandangan ke sekeliling ruangan kamar.
Erick yang baru pertama kali masuk ke dalam ruangan kamar Zea, tiba-tiba pikirannya dipenuhi dengan sesuatu yang bersifat intim ketika menatap ke arah ranjang yang selama ini menjadi tempat tidur gadis itu.
'Aaarh ... sial. Aku kita akan membayangkan bisa tidur di atas ranjang itu bersama dengan ayang dan memeluknya erat sambil menciumnya,' gumam Erick yang saat ini memilih untuk segera keluar dari ruangan kamar yang membuat otaknya traveling kemana-mana.
Zea yang tidak mendapatkan tanggapan dari pria yang baru saja keluar dari ruangan kamarnya, kini kembali berjalan mengekor menuju ke ruang depan. "Sepertinya aku memang perlu memasang CCTV untuk memastikan apakah ada orang jahat yang mencoba untuk masuk ke dalam rumahku."
Ia yang saat ini menatap ke arah sofa, mengerutkan kening melihat wajah Erick yang memerah. "Kenapa dengan wajahmu? Apa kamu sakit?"
Karena khawatir jika pria itu demam, Zea langsung berjalan mendekat dan menyentuh kening Erick untuk memastikan dan menyamakan dengan keningnya. "Tidak panas, tapi kenapa wajahmu berubah memerah seperti ini?"
Erick yang merasa sangat malu wajahnya memerah, tidak ingin ketahuan oleh Zea berpikiran mesum, berpura-pura menggilingkan kepala dan berdaun sejenak untuk menormalkan perasaannya.
"Aku baik-baik saja, Ayang. Ini hanya kelelahan. Nanti juga kembali seperti semula. Oh ya, nanti aku akan berbicara pada Pak RT agar membantu mencarikan orang yang bisa mengurus memasang CCTV." Kemudian kembali mengunyah keripik kentang di tangan.
Namun, ia merasa sangat terkejut ketika tiba-tiba dia duduk di sebelahnya dan membuat bulu kuduknya meremang saat mengingat sesuatu yang tadi sempat traveling di otaknya.
'Kenapa tiba-tiba Zea duduk di sebelahku, sih! Bikin aku salting saja,' gumam Erick yang saat ini merasa cukup jantungnya pendeta melebihi batas normal karena bisa duduk berduaan seperti pasangan kekasih.
Berbeda dengan yang saat ini dirasakan oleh Zea karena fokus pada sisir yang masih berada di atas meja. 'Aku pasangan yakin jika sisir itu tadi pindah dari tempatnya dan ada hal yang rambutku di sana.'
Zea saat ini menoleh ke arah pria yang berada di sebelahnya untuk meminta pendapat. "Erick, kira-kira jika ada orang yang mencuri rambut, memangnya itu buat apa?"
Saat ini, Erick yang masih memegang snack di tangan, ketika menelan ludah ketika melihat Zea dengan jarak sangat dekat. Ia bahkan saat ini fokus pada bibir merah jambu gadis yang hanya berjarak beberapa centi darinya.
'Rasanya aku ingin sekali mencium bibir Zea saat ini,' gumam Erick yang seketika memalingkan wajah untuk menormalkan perasaannya yang tidak karuan.
"Ehm ... sebentar, sepertinya aku perlu menguras otakku terlebih dahulu agar bisa menjawab pertanyaanmu, Ayang." Berpura-pura memegang pelipis untuk berpikir demi menghilangkan kegugupannya.
Zea yang saat ini masih tidak mengalihkan pandangannya dari Erick, hanya terkekeh geli melihat pria itu yang seperti benar-benar berpikir keras untuk menjawab pertanyaannya.
Hingga ia bisa melihat pria itu beralih menatapnya dan memberikan jawaban yang tidak pernah ada di pikirannya.
"Aku pernah melihat film yang memakai rambut untuk sampel dilakukan tes DNA demi mengetahui apakah benar-benar merupakan keturunannya. Atau mungkin untuk dijual ke salon yang membutuhkan rambut palsu. Kalau menurutku hanya itu, sih, Ayang." Erick kini melihat respon dari Zea yang masih terdiam.
Ia bahkan beberapa kali mengerjakan mata karena merasa terpesona melihat gadis yang seperti tengah memikirkan sesuatu. 'Ya ampun, kenapa Zea terlihat makin cantik hari ini. Cintaku jadi makin bertambah besar kan jadinya.'
Saat mendengar tes DNA, Zea hanya menggelengkan kepala karena tidak berpikir seperti itu. "Sepertinya rambutku besar kemungkinan akan dijual di salon. Mungkin lagi mahal harga rambut sekarang. Kalau tes DNA tidak mungkin karena aku adalah anak kandung dari ayah dan ibuku."
"Memangnya sinetron, apa sampai anak adopsi menemukan keluarga aslinya," ucap Zea saat ini memilih untuk membuka kotak makanan berisi pisang coklat yang tadi dibelinya. "Lebih baik makan sesuatu yang manis untuk menghilangkan stres di pikiran gara-gara memikirkan pencuri."
Saat mengunyah pisang coklat di mulut, Zea merasa sangat terkejut ketika tiba-tiba bibirnya disentuh oleh Erick. Refleks ia sedikit mundur karena khawatir jika pria itu berbuat macam-macam padanya.
Erick yang dari tadi tidak mengalihkan perhatian dari Zea, bisa melihat bagian bawah bibir gadis itu ada coklatnya. Refleks ia langsung membersihkan dengan ibu jari dan menunjukkan pada Zea.
"Ayang, kalau makan jangan belepotan dong." Kemudian memasukkan ibu jari yang ada coklatnya ke dalam mulut. "Jangan sampai kubersihkan dengan mulutku." Erick berbicara dengan debaran jantung yang tidak menentu dan memilih untuk memalingkan wajah.
Bahkan ia bisa mendengar suara dari Zea yang mengejeknya dan tidak diperdulikan karena telah menormalkan perasaan yang tidak menentu gara-gara menyentuh bibir sensual berwarna merah jambu yang dari tadi ingin diciumnya.
'Tahan, Erick. Jika sampai kamu tidak bisa menahan diri dan menyerang Zea, yang ada malah kamu akan kehilangan dia selamanya,' gumam Erick dengan perasaan berkecamuk dan berusaha untuk menormalkan perasaannya.
"Dasar mesum!" sarkas Zea yang saat ini memilih bangkit dari kursi dan duduk menjauh dari Erick.
Ia baru menyadari jika tadi duduk terlalu dekat dengan gara-gara membahas tentang pencuri, jadi ingin kembali menjaga jarak.
To be continued...