Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Lapor polisi



Pukul 8 malam, Erick baru saja tiba di rumah karena memang tadi Begitu tiba di Jakarta, langsung ke tempat sahabatnya yang membawa motornya dan menanyakan beberapa hal mengenai kegiatan Sunmori yang diadakan para geng motor.


Erick bahkan ingin mencari tahu siapa salah satu dari anggota anak motor yang menceritakan pada Aaron tentang keberadaannya di Jogja hingga membuat pria itu bisa mengetahui ia ada di sana.


Bahkan kecurigaannya diungkapkan pada salah satu teman baiknya yang saat ini tinggal di salah satu apartemen. Namun, masih belum menemukan siapa sosok pengkhianat yang ada di antara mereka.


Akhirnya ia pulang ke rumah dengan pikiran yang masih tidak tenang karena tidak bisa menemukan orang yang memberi tahu Aaron mengenai keberadaannya di Jogja.


Setengah jam kemudian, Erick yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri karena merasa tubuhnya sangat lengket setelah perjalanan jauh dan mengobrol cukup lama di tempat sahabat baiknya.


Ia tadi kehabisan baterai karena lupa mengecas di tempat sahabatnya. Itu semua karena asik ngobrol untuk membahas masalah pengkhianat yang belum ditemukan. Jadi, sampai rumah langsung mengisi daya dan pergi mandi.


Erick saat ini mendaratkan tubuhnya di atas ranjang dan menyalakan ponsel miliknya untuk melihat apakah ada pesan dan telpon. "Apa Zea bertanya padaku apakah sudah sampai di Jakarta dengan selamat atau tidak?"


Saat ia menunggu ponselnya menyala dan kemudian beberapa bunyi notifikasi dari ponsel yang mendapatkan pesan dari beberapa orang yang tak lain adalah teman-temannya serta yang paling ditunggu adalah Zea.


Sebenarnya ada pesan dari orang tuanya juga yang belum dibuka karena terlebih dahulu mengecek nomor gadis yang sudah dirindukannya. Ia seketika memicingkan mata karena melihat ada pesan yang dihapus dan belum sempat dibaca olehnya.


"Wah ... Zea sepertinya ingin mengerjaiku dengan menghapus pesannya agar aku merasa penasaran. Ini tidak bisa dibiarkan! Aku tidak akan bisa tidur jika terus-menerus memikirkan pesan darinya yang dihapus sebelum kubaca."


Kemudian ia langsung memencet tombol panggil karena ingin langsung berbicara dengan gadis yang membuatnya kesal. Namun, raut wajah yang tadinya bersemangat untuk berbicara dengan Zea, seketika berubah muram begitu nomor yang dihubungi tidak aktif.


Ia bahkan mencoba untuk mematikan panggilan dan mengulangi untuk menelpon. Namun, tetap saja hal yang sama dirasakan dan membuatnya benar-benar sangat kecewa.


"Nomornya tidak aktif? Kenapa Zea menonaktifkan ponselnya? Apa yang terjadi sebenarnya? Aku jadi khawatir dan berpikiran aneh-aneh kan jadinya." Erick saat ini memegang ponsel di tangan kanan dan berjalan mondar-mandir di dalam kamar.


Saat ia saat ini dipenuhi oleh kekhawatiran mengenai Zea yang tiba-tiba menonaktifkan ponsel, mendengar suara ketukan pintu dan menatap ke sana.


"Tuan Erick, ada tamu!" teriak sosok wanita paruh baya yang saat ini berdiri di depan pintu kamar majikan.


Erick yang saat ini menatap ke arah jam di dinding menunjukkan jika hari sudah cukup larut untuk bertamu, berpikir jika ada salah satu teman yang datang untuk menginap seperti biasa.


Ia kini berjalan menuju ke arah pintu dan membukanya. "Suruh saja langsung ke kamar. Temanku yang datang, kan?" Erick memicingkan mata begitu pelayan tertua di rumahnya menggelengkan kepala untuk tidak membenarkan pemikirannya saat ini.


"Bukan, Tuan karena yang datang adalah teman dari nyonya besar dan suaminya dan katanya ingin berbicara serius dengan Anda. Saat ini mereka sudah menunggu di ruang tamu." Kemudian sang pelayan menunggu perintah selanjutnya dari majikan paling muda di rumah.


Saat ini, Erick yang tengah menebak siapa yang datang, langsung mengarah pada orang tua Aaron dan tujuan mereka datang ke sini karena berhubungan dengan Zea.


"Apa yang datang adalah tante Jennifer?" tanya Erick yang saat ini merasa yakin jika tebakannya benar dan begitu pelayan menganggukkan kepala, seketika memijat pelipis karena tidak mungkin bisa berbohong pada para orang tua itu setelah ia pergi ke Jogja.


'Aaarhh ... sial! Jadi, Aaron saat ini memanfaatkan orang tuanya untuk menyerangku karena mengakui kalah dariku? Dasar pengecut!' sarkas Erick yang saat ini terpaksa berjalan menuju ke arah anak tangga meninggalkan pelayan yang akhirnya mengekor di belakangnya.


Saat ini, ia ingin mengetahui apa yang akan dikatakan oleh pasangan suami istri tersebut. 'Apa mereka mau mengancamku untuk mengatakan keberadaan Zea saat ini?'


Saat Erick sudah menuruni anak tangga terakhir dan berjalan menuju ke arah ruang tamu, di mana orang tua dari Aaron seketika menatapnya dengan tatapan tajam seperti tidak menyukainya.


Namun, ia saat ini masih berakting sangat tenang dengan tangan kanan dimasukkan ke dalam saku celana pendek yang dikenakan. "Malam, Om, Tante. Tumben malam-malam begini datang saat papa dan mama tidak ada."


"Berarti Om dan Tante ada urusan denganku." Erick langsung mendaratkan tubuhnya di atas sofa yang berada di hadapan pasangan suami istri paruh baya tersebut.


Hingga ia seketika mendapatkan omelan dari sosok wanita paruh baya yang merupakan teman baik dari sang ibu tengah menatapnya sangat tajam seperti hendak menerkamnya.


"Erick, lebih baik katakan di mana kamu menyembunyikan Zea saat ini! Juga ceritakan tentang siapa sebenarnya Anindya yang amnesia. Aah ... sepertinya Anindya tidak amnesia dan menipu kami serta memanfaatkan kebaikan kami yang menganggapnya seperti putri sendiri." Jenifer sebenarnya sangat ingin menjewer telinga Erick karena merasa sangat kesal.


Namun, ia sadar tidak bisa melakukannya karena pria itu adalah anak dari sahabatnya yang mungkin tidak pernah dikasari oleh orang tua. Bahkan ia tahu bahwa sahabatnya selalu memanjakan Erick seperti tidak pernah memarahi.


Kini, Erick yang merasa ada sesuatu hal yang sudah membuat rahasia Zea terbongkar bahwa ia saat ini tidak mengalami amnesia. Namun, ia masih berpura-pura tidak tahu apapun untuk makin mengorek informasi mengenai dari mana wanita paruh gaya tersebut mengetahui nama asli Anindya adalah Zea.


"Sebenarnya apa maksud Tante? Aku benar-benar tidak mengerti dan siapa itu Zea?" Saat ia baru saja menutup mulut, malah melihat ibu dari pria yang sangat tidak disukainya tersebut bangkit berdiri dari sofa dan berjalan cepat mendekat.


Hingga ia yang sama sekali tidak pernah menyangka akan mendapatkan sebuah kekasaran dari teman baik sang ibu yang menjewer telinganya dan membuatnya meringis kesakitan.


"Dasar anak nakal! Setelah berani membawa kabur Anindya secara diam-diam ke Jogja, kamu masih berpura-pura tidak tahu apapun? Jika kamu tidak mau menceritakan semuanya padaku, aku akan melaporkan perbuatanmu pada polisi!"


Sementara itu, Erick yang saat ini masih meringis kesakitan karena telinganya sangat panas dan belum dilepaskan oleh wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu.


"Ampun, Tante. Sakit, ini! Ya ampun! Kejam banget Tante menjewer anak orang. Bahkan mama saja jarang melakukannya karena aku adalah anak yang penurut dan baik hati."


Erick yang masih berusaha untuk meminta ampunan dan belum berniat untuk menceritakan tentang Zea, seketika terdiam begitu mendengar suara bariton dari sosok pria paruh baya yang selalu terlihat berwibawa itu menggema di ruang tamu.


Jonathan tidak ingin kemurkaan sang istri berlanjut karena menghukum anak orang yang nanti malah akan mendapatkan masalah, sehingga memilih melerai dengan menceritakan semuanya pada Erick.


"Lebih baik kamu jujur pada kami, Erick karena Aaron saat ini sudah menginap di rumah Zea yang ada di Jogja. Zea sudah pergi dari sana sore tadi menurut kata tetangga yang disuruh menjaga rumahnya. Sekarang, katakan di mana kamu menyembunyikan Zea!" Bahkan Jonathan kali ini berbicara dengan tegas untuk membuat Erick segera berbicara jujur.


Sementara itu, Erick yang saat ini merasa sangat lega begitu telinganya sudah dilepaskan. Ia kini mengerti bagaimana bisa mereka mengetahui sesuatu mengenai nama asli Anindya adalah Zea.


Bahkan kembali mendapatkan tatapan tajam dari wanita yang dari tadi benar-benar membuat telinganya serasa putus.


"Sudah, jangan banyak berpikir lagi, Erick! Sekarang katakan apa yang terjadi pada Anindya yang sebenarnya adalah Zea?" sarkas Jennifer yang saat ini tidak bisa menahan diri untuk tidak meluapkan amarah pada Erick yang berusaha untuk menyembunyikan semua kenyataan mengenai gadis yang sudah dianggap seperti putri sendiri.


Saat ini, Erick yang sebenarnya juga merasa kebingungan memikirkan bagaimana keadaan Zea karena tiba-tiba menonaktifkan ponsel. Kini, ia mulai menceritakan semua hal yang dulu dikatakan oleh Zea padanya sebelum meminta tolong membawa kabur dari rumah.


"Jadi, seperti itu ceritanya, Om, Tante. Hari ini pun aku juga benar-benar bingung karena nomor Zea tidak aktif. Aku pun merasa penasaran pesan apa yang tadi dikirimkan, tapi sudah dihapus sebelum kubaca." Erick yang saat ini terlihat murung karena memikirkan bagaimana keadaan Zea, kembali mendapatkan umpatan dari wanita yang masih berdiri di hadapannya.


"Kau bohong, kan? Aku sangat yakin jika kau sengaja menyembunyikan Zea dengan mengarang cerita sedetail ini." Masih tidak bisa mempercayai sosok pria yang telah menipu mereka, Jenifer masih berusaha untuk mencari kebenaran atas apa yang baru saja diucapkan oleh Erick.


Namun, ia mendapatkan perintah dari sang suami agar jauh lebih tenang dan duduk saat berbicara.


"Kita harus memakai kepala dingin agar masalah ini tidak makin rumit, Sayang," ucap Jonathan yang berusaha bersikap bijak dan menepuk sebelah kiri tempat duduknya agar sang istri mau patuh padanya.


Meski kekesalannya pada Erick belum hilang, kini Jenifer masih berusaha untuk menahan diri dan tidak mengandalkan emosi. Hingga ia pun kini merasa tertarik dengan apa yang disampaikan oleh Erick.


"Kalau tidak percaya, Tante bisa mengecek ponselku dan membaca semua pesan dari Zea yang memilih untuk membuang nomor lama dan membeli nomor baru yang hanya aku mengetahuinya." Kemudian Erick seketika bangkit dari posisi dan mengulurkan ponsel miliknya pada wanita dengan raut wajah penuh kekesalan itu.


Tanpa pikir panjang, kini Jenifer langsung merebut ponsel milik Erik dan membaca satu persatu pesan yang dikirimkan dengan nama Zea. Ia tidak menyalahkan gadis itu karena tidak mau jujur demi kabur dari ibu tiri dan kakak tirinya yang telah menjual demi uang.


Ia justru makin khawatir pada gadis malang itu dan ingin segera menemukan dia agar bisa kembali tinggal bersama keluarganya. Memang dari chat yang dibaca, menjelaskan bahwa tidak ada paksaan apapun karena Zea berbicara santai ketika membalas pesan dari Erick yang lebih banyak mengirimkannya.


Ia yang tidak tahu harus berbuat apa, kini menatap ke arah sang suami dan meminta sebuah solusi setelah memberikan ponsel Erick agar dibaca oleh pria itu.


"Bagaimana ini, Sayang? Zea benar-benar menghilang dan kita tidak tahu ke mana perginya. Erick yang menjadi keyakinan kita ternyata juga tidak mengetahuinya." Saat ia baru saja menutup mulut, kini mendengar suara bariton dari sang suami yang baru saja memikirkan jalan keluar."


"Jika Erick saat ini tidak tahu keberadaan Zea, lebih baik kita lapor polisi," ucap Jonathan yang kini beralih menatap ke arah Erick. "Apa kamu foto terbaru dari Zea? Aku pun akan memasang fotonya di beberapa media sosial serta surat kabar agar bisa segera ditemukan."


Erick yang saat ini seketika menganggukkan kepala karena pernah mencuri gambar saat Zea tidak sadar. Karena gadis itu paling tidak suka jika ia sengaja terang-terangan mengambil foto dan selalu saja menutupi wajahnya.


"Iya, Om. Kebetulan aku tadi mendapatkan fotonya secara diam-diam ketika ia tengah berbincang dengan penjual makanan ringan di salah satu tempat jajanan di Jogja. Ada di ponsel itu." Erick menuju ke arah ponsel yang saat ini masih dipegang oleh wanita paruh baya di hadapannya.


Tanpa membuang waktu, Jennifer ketika membuka galeri ponsel milik Erick dan mencari gambar Zea. Ia mengerutkan kening karena melihat ada banyak foto-foto yang tidak jelas, tapi masih disimpan oleh Erick.


Hingga ia menemukan foto yang jelas menunjukkan wajah Zea dan langsung mengirimkan pada nomornya. Kemudian ia juga mengirimkan pada nomor sang suami dan mengembalikan ponsel milik Erick setelah merasa tidak membutuhkannya.


"Baiklah. Sekarang kita langsung ke kantor polisi untuk melaporkan kehilangan," ucap Jennifer yang saat ini bangkit berdiri dan menunggu sang suami melakukan hal sama.


"Besok karena ini belum 24 jam Zea hilang dari rumahnya di Jogja." Jonathan kini bangkit berdiri dari posisinya dan berpamitan pada Erick setelah menepuk bahu pria itu.


"Maafkan ulah istriku yang membuat telingamu panas karena menghukummu. Lain kali saat ingin melakukan sesuatu, harus mengatakan pada orang yang lebih tua dan tidak bersikap egois dengan menuruti keinginan orang lain." Menatap Erick dengan tatapan mengintimidasi agar pria muda itu sadar akan kesalahannya.


Sementara itu, Erick yang saat ini menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena merasa sangat malu atas perbuatannya hanya demi menuruti keinginan Zea yang berniat kabur.


"Iya, Om. Aku tidak akan mengulanginya lagi dan sangat berharap dia segera ditemukan." Erick benar-benar sangat menyesal karena saat ini tidak mengetahui di mana keberadaan saya yang tiba-tiba menghilang.


To be continued...