
Pukul 7 malam, yang dijanjikan oleh Aaron yang ingin mengajak Anindya jalan-jalan keliling ibukota sambil mampir ke angkringan untuk sekedar minum kopi serta ngemil jajanan yang ditusuk seperti sate.
Kini, terlihat Aaron saat ini sudah bersiap dan melihat penampilannya di depan cermin yang memakai celana sobek seperti anak muda gaul karena ingin menyamakan dengan outfit naik motor.
Ia saat ini tertawa melihat penampilannya sendiri di depan cermin karena sudah lama tidak memakai celana sobek yang disimpannya di lemari. Semenjak disibukan dengan pekerjaan, jarang sekali keluar hanya untuk sekedar nongkrong di luar bersama beberapa teman.
Apalagi mempunyai kekasih yang tidak suka naik motor karena ingin menjaga kulit serta tubuhnya, sehingga ia pun tidak pernah mengajak Jasmine.
Apalagi bukan sang kekasih yang luar biasa dan membuatnya jarang berkencan, sehingga memutuskan untuk segera menikahi Jasmine agar bisa terus bersama wanita yang semakin sibuk dengan pekerjaan dan menyiksanya dengan kerinduan.
Dekat, tapi jarang bertemu karena kesibukan sang kekasih sebagai model dengan jadwal padat, menjadi salah satu alasan Aaron segera menikahi Jasmine. Ia tidak ingin putus dengan sebab apapun, sehingga memutuskan mengakhiri masa lajang dengan cara menggunakan orang tua Jasmine yang sangat menyukainya.
Kini, ia merasa penampilannya sudah sempurna dan berjalan keluar dari ruangan kamar. Kemudian mengetuk pintu ruangan kamar Anindya karena berpikir gadis itu belum keluar.
"Anindya! Apa kamu sudah siap?" tanya Aaron saat ini menunggu di depan pintu berwarna coklat yang masih tertutup itu.
Hingga ia mendengar suara dari dalam yang berteriak dan membuatnya menunggu sampai Anindya keluar dari kamar.
"Iya, Tuan! Sebentar!" teriak Zea yang saat ini tengah menyisir rambut dan berniat untuk menggelungnya ke atas karena tidak ingin terkena angin malam dan membuat rambutnya berantakan.
Ia sengaja tidak mengepang rambutnya karena mengetahui bahwa Aaron pasti akan malu jika bersama gadis yang terlihat sangat kampungan jika dikepang dua.
Zea hanya memakai bedak tipis dan liptint untuk membuat bibirnya tidak kering. Kemudian ambil tas selempang miliknya yang digunakan untuk memasukkan ponsel dan dompet kecil. tentu saja semuanya adalah pemberian dari sang nyonya rumah yang memperhatikan hal-hal kecil untuknya.
Ia bahkan sebelum keluar tengah sibuk mengambil napas teratur karena jujur saja sangat gugup ketika akan berjalan-jalan dengan pria yang diam-diam dicintainya.
Zea masih berdiri di depan pintu dan menormalkan perasaannya. 'Tenang ... tenang! Kamu akan baik-baik saja dan malah akan merasa senang bisa berkeliling kota bersama dengan pria yang kau sukai.'
Setelah beberapa saat menenangkan degup jantungnya yang berdetak kencang melebihi batas normal, kini ia mengembuskan napas sebelum membuka knop pintu.
Kemudian pintu yang dibukanya kini menampilkan sosok pria yang terlihat sangat keren ketika hanya memakai celana sobek-sobek berwarna hitam dengan atasan Hoodie lengan panjang yang sama seperti yang dikenakannya.
Namun, Hoodie miliknya berwarna putih karena tadi dipilihkan oleh ibu pria itu. Zea mencoba untuk menormalkan perasaannya yang semakin tidak karuan ketika melihat pria di hadapannya semakin rupawan dan seolah berterbangan kupu-kupu di perutnya karena terpesona.
"Aku sudah siap untuk berkeliling kota Jakarta." Zea berbicara untuk menyembunyikan perasaannya yang tidak karuan.
Sementara itu, Aaron saat ini menganggukkan kepala dan mengarahkan dagunya untuk memberikan sebuah kode pada gadis yang terlihat sangat mungil itu memakai Hoodie kebesaran.
Ia bahkan seperti merasa jika Anindya benar-benar adiknya dan ingin terus menjaga agar tidak ada yang berbuat macam-macam. Saat menuruni anak tangga bersama dengan Anindya, bisa merasakan apa yang ibunya rasakan selama ini saat ini memiliki anak perempuan.
'Jadi, seperti ini rasanya memiliki adik perempuan yang tidak pernah kumiliki? Anindya membuat sesuatu yang tidak pernah kurasakan menjadi kenyataan. Aku sekarang seperti mendadak mempunyai adik perempuan yang ingin selalu kujaga agar tidak ada yang berani menyentuhnya.'
Saat menapaki anak tangga terakhir, Aaron baru mengingat sesuatu dan menoleh ke arah Anindya. "Aku lupa tidak punya helm untuk perempuan. Nanti, kita beli di toko. Jadi, nanti tidak akan membuatmu merasa tidak nyaman terkena angin malam."
Zea yang dari tadi sibuk menormalkan tekanan jantungnya, hanya menganggukan kepala dan merasa gugup bisa berjalan bersisian dengan Aaron.
Apalagi ini adalah pertama kalinya pria itu tidak lagi bersikap kesal padanya, sehingga membuatnya senang karena tidak lagi dimarahi seperti biasa.
'Tuan Aaron hari ini benar-benar sangat berbeda. Hari ini ia berubah sangat hangat padaku seperti menganggap aku adalah keluarga sendiri. Tidak seperti hari-hari sebelumnya yang selalu kesal dan berbicara dengan emosi,' gumam Zea yang saat ini berjalan menuju ke arah garasi.
Ia melihat pergerakan pria di hadapannya saat membuka sesuatu yang ditutupi penutup berwarna hitam dan seketika berbinar begitu melihat motor sport yang gandrungi oleh para cewek-cewek di sekolahnya dulu, yaitu yang sama dengan dimiliki oleh Erick, yaitu Kawasaki Ninja ZX25R.
Zea benar-benar tidak menyangka motor yang selama ini digemari oleh teman-teman SMA-nya dulu kini akan dinaiki olehnya. Bahkan dibonceng pria tampan yang disukai.
Wajah Zea benar-benar berbinar ketika membayangkan hal itu. Jika dulu ia selalu dihina cupu dan jelek, tapi sekarang malah bisa naik motor mahal dengan pria tampan yang ia cintai.
'Ya Allah, mimpi apa aku semalam? Hingga akan dibonceng oleh pria yang kusukai selama ini,' gumam Zea yang saat ini mencoba mencubit lengannya dan meringis menahan rasa nyeri.
'Aarrh ... ini bukan mimpi ternyata. Aku benar-benar akan berkeliling kota Jakarta bersama dengan tuan Aaron. Ya Allah, senang sekali rasanya. Bahkan rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata karena tidak akan cukup untuk menjelaskan kebahagiaanku saat ini.'
Zea merasa senang karena tadi Aaron sibuk dengan motornya yang dipanasi sebelum keluar. Jadi, tidak melihat perbuatannya yang konyol saat mencubit tangan sendiri untuk memastikan bahwa apa yang dialami bukanlah sebuah mimpi.
Ia bahkan tidak berkedip menatap setiap pergerakan dari pria yang dianggap sangat seksi dalam melakukan apapun.
'Ya Allah, tuan Aaron benar-benar sangat ganteng sekali. Kirimkan satu pria seperti ini untuk menjadi jodohku, ya Allah karena dia akan menikah dengan nona Jasmine dan bukanlah jodohku,' gumam Zea yang saat ini masih tidak berkedip menatap intens setiap pergerakan pria di hadapannya.
Hingga ia melihat Aaron sudah naik ke atas motor dan menyuruhnya melakukan hal sama dengan duduk di belakang. Zea nggak akan mengerjakan beberapa kali karena merasa bingung.
"Cepat naik!" seru Aaron yang saat ini memicingkan mata karena melihat Anindya malah melamun dan tidak langsung menuruti perintahnya.
Zea yang bahkan sibuk menormalkan detak jantungnya, merasa khawatir jika pria itu nanti bisa mendengarnya ketika duduk di belakang.
'Apa yang harus kulakukan sekarang? Bagaimana jika tuan Aaron mendengar jantungku yang serasa hampir meledak ini?' gumam Zea yang berusaha untuk menormalkan perasaannya dan berjalan menuju ke arah motor.
"Tinggi sekali?" Hanya kalimat konyol itulah yang lolos dari bibirnya karena merasa bingung untuk naik.
Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat wajahnya, apalagi jika mempraktekkannya secara langsung. Zea benar-benar sangat bingung harus bagaimana.
'Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa aku nanti berpegangan pada pinggir body motor saja agar tidak terlihat seperti menggoda tuan Aaron?' Lamunan Zea seketika buyar begitu mendengar suara bariton dari Aaron yang terlihat kesal karena ia tidak kunjung naik.
"Astaga! Cepat naik! Kenapa malah melamun dari tadi? Motor ini sama sekali tidak tinggi, kamulah yang harusnya berdiri bukan duduk seperti itu," ejek Aaron yang saat ini menggoda Anindya dan tertawa melihat wajah dengan bibir mengerucut yang sangat lucu itu.
"Tuan Aaron!" teriak Anindya saat ini refleks langsung mencubit lengan kekar pria itu karena merasa sangat tersinggung ketika diejek duduk padahal ia sudah berdiri tegak di dekat motor.
"Aku tidak sependek itu lah," seru Zea yang tidak ingin pria itu terus, sehingga langsung naik ke atas motor dengan berpegangan pada bagian pundak.
Hingga ia mendengar suara tawa dari Aaron yang tidak kunjung berhenti saat menertawakannya.
Aaron benar-benar merasa terhibur melihat Anindya yang sangat kesal ketika ia bercanda. "Memangnya berapa tinggimu? Aku ingin memastikannya apakah pendek atau tidak karena yang berhak menilai adalah orang lain bukan dirimu sendiri, bocil!"
Zea merasa tertampar dengan perkataan dari pria yang sudah ada di hadapannya dan merasa malu jika mengatakan tinggi badannya yang sebenarnya karena menyadari bahwa memang merupakan keturunan mungil dari ayah dan ibu.
"Aaah ... sudahlah. Lebih baik kita langsung berangkat berkeliling kota Jakarta, Tuan Aaron!" Zea memilih untuk mengalihkan pembicaraan karena benar-benar sangat malu dan tidak percaya diri menyebut tinggi badannya.
Namun, ia tidak melihat pergerakan sama sekali karena yang terjadi malah pria di hadapannya tersebut mematikan mesin motor dan menoleh ke arahnya.
"Katakan dulu, baru kita akan berangkat!" sarkas Aaron yang merasa sangat bersemangat untuk mengerjai Anindya.
Ia sebenarnya sudah bisa menduga berapa tinggi badan gadis mungil, tapi ingin Anindya menyadarinya agar tidak menyombongkan diri ketika diajaknya tadi.
"Mau jalan-jalan atau tidak?" tanya Aaron sekali lagi untuk mengancam Anindya agar segera mengatakannya.
Zea yang tidak ingin masuk perangkap Aaron, kini menggelengkan kepala dan langsung. "Namaku sendiri saja tidak ingat, Tuan Aaron. Lalu, bagaimana aku bisa tahu tinggi badanku berapa?"
Aaron yang lupa akan hal itu, seketika menepuk jidat saat menyadari kebodohannya. "Astaga! Benar juga! Buat apa aku membuang-buang waktu untuk bertanya padamu jika sudah bisa menebaknya. Tinggimu tidak lebih dari 150 sampai 152."
"Jadi, jangan berlagak seolah-olah kamu tinggi, oke! Bahkan berdiri tegak saja sama dengan aku duduk." Kemudian Aaron menyentil kening Anindya karena merasa gemas melihat bibir mengerucut gadis kecil itu.
Aaron pun kembali menghadap ke depan dan menyalakan mesin motor dan melajukannya melewati pintu gerbang yang langsung dibuka oleh security.
Awalnya ia hanya menggunakan kecepatan rendah, tapi begitu berada di jalan raya, langsung melajukan dengan kecepatan tinggi. Ia tertawa begitu merasakan Anindya langsung memeluk perutnya dengan sangat kuat.
Anindya yang beberapa saat lalu merasa kesal karena sering diejek memiliki tubuh pendek, tadinya tidak ingin berpegangan pada pria itu. Jadi, hanya berpegangan pada body motor bagian samping kanan dan.
Namun, lama-kelamaan motor melaju dengan sangat kencang dan membuatnya ketakutan jika sampai terpelanting jatuh ke aspal. Apalagi bisa mengingat kecelakaan yang membuatnya bisa mengenal pria paruh baya yang merupakan ayah dari Aaron tersebut.
Refleks ia langsung berteriak setelah berpegangan erat pada perut sixpack pria yang melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi.
"Tuan Aaron, jangan kencang-kencang. Aku nanti jatuh!" teriaknya dengan sangat kuat agar pria di balik helm tersebut mendengar suaranya.
Sementara itu, Aaron yang saat ini membuka penutup helm, hanya berbicara singkat. "Kita beli helm dulu! Baru nanti berkeliling dengan kecepatan sedang."
Zea yang saat ini merasa percuma mengungkapkan nada protes pada pria yang masih melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi, terpaksa semakin mengeratkan pegangan karena benar-benar sangat takut jika jatuh terpelanting ke aspal dan nyawanya melayang.
Akhirnya ia hanya diam saja dan membuatnya membiarkan pria itu berbuat sesuka hati. Jika awal-awal ia merasa takut saat pertama kali naik motor dengan kecepatan tinggi, tapi lama-lama merasa sangat senang dan bersemangat.
Hingga ia seketika berteriak dengan sangat kencang untuk mengungkapkan rasa senangnya bisa naik motor sport mahal.
"Aaaarrrhhhh! Rasanya sangat asyik sekali!" teriak Zea yang merasa beban terangkat dari pundaknya seolah ia tidak punya masalah hidup saat naik motor bersama pria yang disukai sekaligus menjadi pujaan hati.
'Seandainya waktu bisa berhenti sampai di sini dan aku bisa bersama tuan Aaron selamanya, pasti akan sangat bahagia,' gumam Zea yang saat ini merasa sangat senang dan bersemangat.
Sementara itu, Aaron hanya tertawa saat melihat gadis di boncengannya merasa senang. 'Sederhana sekali membuat bocil ini senang. Jika mama melihatnya, pasti akan ikut bahagia.'
Aaron saat ini menambah kecepatan menuju ke area pertokoan dan beberapa saat kemudian, sudah berhenti di salah satu toko helm.
"Ayo, kamu pilih helm kesukaanmu dulu!" ucap Aaron yang kini mematikan mesin motor.
"Iya," ucap Zea yang saat ini terlihat berbinar begitu melihat banyak helm di toko.
Zea saat ini mengedarkan pandangannya pada etalase dengan banyak pilihan helm yang akan digunakan untuk berkeliling kota Jakarta hari ini.
Karena merasa sangat pusing memilih karena saking banyaknya pilihan, ia menatap ke arah pria yang berdiri di sampingnya. "Anda saja yang pilihkan helmnya karena aku bingung. Yang penting nyaman di kepala dan tidak berat."
Sementara itu, Aaron yang dulu punya impian untuk mengajak Jasmine ke toko helm tapi belum bisa dilakukan, sehingga saat ini menunjuk ke arah helm yang dulu ingin dibelikan untuk sang kekasih.
"Yang itu, Pak!" seru Aaron menuju ke arah helm dengan warna pink dan berniat untuk menghiasi dengan penutup seperti kelinci karena berpikir akan sangat lucu jika digunakan oleh Anindya yang pendek dan menggemaskan.
To be continued...