Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Membayar berapapun



Satu minggu lalu, Aaron yang tadinya berniat untuk lembur karena pekerjaan di perusahaan hari ini sangat banyak, tiba-tiba mendapatkan telpon dari sang ibu. Ia bahkan bisa mendengar suara dari wanita yang sangat disayanginya itu dipenuhi oleh kekhawatiran.


Hingga ia pun akhirnya langsung pulang ke rumah dan meminta penjelasan dari sang ibu yang mengatakan jika Anindya belum pulang dari kampus.


"Ini sudah jam 7 malam, tapi Anindya belum pulang? Apa supir sudah bertanya pada pihak kampus tadi saat menjemput?" tanya Aaron yang kini menatap ke arah sang ibu yang dipenuhi oleh kekhawatiran.


Jujur saja ia pun juga merasa sangat khawatir jika terjadi sesuatu hal yang buruk pada Anindya. Meskipun ia tahu telah melakukan hal buruk pada gadis yang selalu dianggapnya anak kecil itu.


'Anindya, kamu ke mana? Apa kamu marah padaku dan ingin membuat seisi rumah mengkhawatirkanmu? Aku berniat untuk berbicara denganmu hari ini, tapi kamu malah belum pulang dan dikhawatirkan mama menghilang,' gumam Aaron yang kini tiba-tiba mengingat saat tadi Erick datang menjemput.


"Supir sudah bertanya, Aaron dan katanya tadi Anindya tidak masuk. Jadi, Mama tanya pada Erick, bagaimana bisa Anindya tidak masuk? Tapi Erick tidak tahu karena tadi bilang mengantar Anindya ke kampus dan berpisah di kantin." Jennifer kini tengah berada di pelukan sang suami yang terus mencoba untuk menenangkannya.


"Papa sudah menyuruh orang untuk mencari Anindya. Semoga sebentar lagi mendapatkan kabar baik." Jonathan yang saat ini baru saja menatap ke arah putranya, memicingkan mata begitu melihat pergerakan Aaron.


Aaron yang tadinya baru melepaskan jas di tubuhnya, seketika melipat lengan kemeja berwarna putih yang membalut tubuhnya. Entah mengapa ia sama sekali tidak percaya pada penjelasan dari Erick yang tadi datang menjemput Anindya.


"Aku pergi dulu, Pa, Ma. Aku akan bertanya secara langsung pada Erick. Siapa tahu ada sesuatu yang disembunyikannya. Aku curiga pada anak itu." Tanpa menunggu jawaban dari orang tuanya, Aaron buru-buru berjalan menuju ke arah pintu utama rumah.


Sambil beberapa kali mengumpat, ia pun masuk ke dalam mobil dan mengemudikannya meninggalkan rumah menuju ke rumah Erick.


"Aku yakin jika Anindya saat ini tengah meminta pertolongan Erick untuk bersembunyi. Aku akan menemukanmu, Anindya. Meskipun kamu bersembunyi di lubang semut sekalipun," sarkas Aaron yang fokus menatap ke arah jalanan ibu kota di malam yang dihiasi gemerlap bintang dan indahnya rembulan.


Setengah jam kemudian, ia sudah tiba di rumah keluarga Erick. Tanpa berniat untuk masuk, kini Aaron menelpon pria yang sangat dicurigainya itu agar keluar dari rumah.


Beberapa saat kemudian, ia bisa melihat Erick keluar dari pintu utama dan berjalan sangat santai ke arahnya. 'Santai sekali dia. Seolah tidak terjadi apa-apa pada Anindya. Jika dia benar-benar sangat menyukai Anindya, pasti akan gelisah dan tidak tenang begitu mengetahui kabar buruk ini.'


"Apa kamu mau menyalahkanku karena hilangnya Anindya saat tadi menjemputnya dan berangkat bersama ke kampus?" tanya Erick yang masih memasukkan satu tangan pada kantung celana sebelah kanan.


Aaron yang makin yakin melihat Erick sangat tenang karena tidak mengkhawatirkan keadaan Anindya, refleks langsung mengepalkan tangan dan mengarahkan pukulan pada wajah sebelah kiri.


"Berengsek! Cepat katakan di mana kamu menyembunyikan Anindya? Aku sangat yakin jika kamu yang membawanya pergi tadi. Dia pasti meminta bantuanmu, kan?" sarkas Aaron dengan wajah memerah karena melihat Erick, pikirannya makin kacau.


Sementara itu, Erick yang kini mengusap sudut bibir sebelah kiri robek, seketika membuatnya merasa sangat marah. "Berengsek! Apa kau mau mati! Tiba-tiba datang ke rumah dan memukulku. Bukankah aku sudah bilang tadi pada tante dan om jika aku tidak tahu?"


"Bahkan aku tadi seharian sibuk dengan kegiatan kampus. Jadi, setelah sampai di kampus, Anindya bilang ingin membeli minuman di kantin. Sementara aku pergi ke ruangan untuk membahas acara yang akan diadakan di kampus.


Erick benar-benar bersikap sangat meyakinkan agar Aaron tidak mencurigainya. Bahkan ia benar-benar menahan rasa nyeri pada bibirnya yang sedikit berdarah.


"Begitu dikabari oleh tante jika Zea belum pulang, aku pun langsung mencarinya dari sore hingga malam dan ini baru pulang. Lalu, kau tiba-tiba datang dan memukulku?" sarkas Erick dengan menampilkan wajah penuh kemurkaan karena ingin menjiwai aktingnya.


Di sisi lain, Aaron yang masih belum bisa mempercayai perkataan dari Erick, kini langsung menghambur mendekat dan menarik kerah kaos casual yang dikenakan pria itu.


"Jangan pernah berpikir aku adalah orang bodoh, Erick! Aku sama sekali tidak mempercayaimu. Lihat saja, setiap hari aku akan datang untuk menghajarmu seperti ini jika tidak mengatakannya padaku." Aaron seketika terhuyung ke belakang begitu tubuhnya didorong sangat kuat oleh Erick.


"Terserah kau mau percaya atau tidak, Aaron! Tapi jika kau berani memukulku lagi, akan kupastikan kau berakhir di balik jeruji besi!" sarkas Erick yang kini sama sekali tidak merasa takut pada ancaman pria dengan tatapan tajam tersebut.


Aaron saat ini makin murka karena tidak bisa membuat Erick berbicara jujur padanya. "Baiklah jika itu maumu. Aku akan melaporkanmu pada polisi dengan tuduhan menyembunyikan Anindya. Aku pun akan mengatakan pada pihak kampus jika kamu sudah membawa kabur Anindya!"


Aaron yang seketika berbalik badan, kini menuju ke arah mobil dan melajukan kendaraan meninggalkan sosok pria yang diyakini adalah dalang dibalik hilangnya Anindya.


"Aku tidak bisa melapor pada polisi sebelum 2x24 jam, tapi bisa membuat Erick mengaku karena nama baiknya sebagai ketua senat akan hancur dengan kabar ini. Aku pun akan datang ke kampus setiap hari untuk membuatnya mengaku di mana menyembunyikan Anindya."


Kini, ia terdiam sambil memikirkan tentang gadis yang telah direnggut kesuciannya. "Maafkan aku, Anindya. Di mana kamu sekarang? Pasti kamu saat ini sangat terpukul karena perbuatanku."


"Apa yang harus kulakukan untuk bisa menemukanmu, Anindya." Aaron tiba-tiba mendapatkan sebuah ide dan memasang earphone.


Kemudian langsung menghubungi nomor seorang detektif yang ada di kontaknya. "Tolong cari gadis yang kukirim fotonya padamu. Aku akan membayar berapapun asal kau bisa menemukan gadis ini."


To be continued...