
Setelah melakukan perjalanan selama lebih dari 20 jam di udara, Khayra saat ini sudah tiba di bandara dan berjalan dengan sang asisten menuju terminal kedatangan dengan menarik koper masing-masing.
Bahkan saat ini sudah ada orang yang menjemput mereka karena dari tadi sudah stand by menunggu sambil membawa papan nama bertuliskan Khayra. Itu adalah orang suruhan dari sang investor langsung karena memang ingin tahu seperti apa penerus dari Candra Kusuma.
"Apa kita langsung menemui wanita itu, Om?" Khayra saat ini sudah berada di dalam mobil yang melaju meninggalkan bandara.
Sementara itu, sang asisten saat ini menganggukkan kepala setelah melihat jadwal di tabletnya. "Anda sudah puas beristirahat di pesawat, kan Nona? Jadi, sekarang waktunya kita bertempur. Jangan gugup karena aku akan selalu mendukungmu dengan memberikan saran atau informasi yang tidak Anda ketahui."
Khayra memang memanfaatkan waktu di pesawat dengan tidur sepuasnya serta bangun ketika saatnya makan. Memang sekarang sama sekali tidak mengantuk, tapi yang dirasakan hanyalah kegugupan karena akan bertemu dengan seorang wanita yang sangat hebat karena memiliki kekuasaan.
Ia menatap ke arah penampilannya sendiri yang dianggap kurang rapi karena tidak memakai pakaian formal. "Jadi, aku harus menemui investor itu dengan berpakaian seperti ini?"
Sang asisten kini hanya terkekeh melihat ekspresi wajah penuh kebingungan dari atasannya yang memang merupakan kesalahannya karena tidak menjelaskan.
"Tentu saja tidak, Nona karena kita harus bersiap dulu di hotel. Ada sisa waktu 3 jam dari sekarang karena pertemuan dengan investor jam 10 siang. Jadi, kita masih ada waktu untuk bersiap di hotel. Meskipun sebenarnya kita menginap di hotel yang sama dengan investor itu.
"Tapi memang tidak mengadakan pertemuan secara pribadi, tapi berada di ruang meeting dan semuanya secara resmi." Ia saat ini menatap mesin waktu yang menunjukkan pukul tujuh dan tentu saja masih sangat awal jika berada di New York.
Seketika Khayra merasa sangat lega mendengarnya karena ia berpikir bahwa penampilan sangatlah penting sebagai kesan pertama untuk menarik hati orang lain.
Ia bahkan saat ini mengusap dadanya yang dipenuhi oleh kelegaan. "Syukurlah kalau begitu. Aku akan tampil semaksimal mungkin dan berpenampilan rapi untuk menarik perhatiannya."
Saat ia mengingat kalimat terakhir dari sang asisten, kini terdiam sesaat karena mengingat sesuatu. Bahwa Aaron juga pasti akan tiba di New York. Ia saat ini menoleh ke arah sang asisten untuk memastikan sesuatu.
"Apakah ada pengusaha lain yang berada di ruang meeting?" Ia seketika mengerjapkan mata begitu membenarkan perkataannya.
"Tentu saja ada, Nona. Saya sudah bilang kan kemarin jika saingan kita adalah dari Jonathan grup yang ada di Jakarta. Jadi, nanti investor itu akan memberikan kesempatan untuk dua kandidat memberikan progres perusahaan agar ia mau berinvestasi." Sang asisten memang lupa menjelaskan, sehingga sekarang meminta maaf atas kelalaiannya.
Ia lebih berfokus untuk membuat atasannya tersebut mempelajari mengenai progres perusahaan di tahun ini yang mentargetkan keuntungan lumayan tinggi dari penjualan.
Bahkan menggerakkan tim pemasaran dengan melakukan hal-hal yang bisa membuat penjualan naik dengan menggunakan beberapa influencer terkenal dan artis dari luar negeri yang sedang booming.
Memang saat semalam mempelajari semuanya, Khayra mengerti jika tim pemasaran sangat dibutuhkan untuk menaikkan keuntungan dalam penjualan produk yang dihasilkan oleh perusahaan Kusuma.
Awalnya ia merasa sangat syok karena harus berhadapan dengan Aaron secara langsung sebagai saingan bisnis. Namun, ia ingin berusaha semaksimal mungkin meskipun hanyalah seorang anak bawang di dalam dunia bisnis.
'Aku harus bisa mengalahkan tuan Aaron karena merupakan cucu dari Candra Kusuma yang hebat,' gumamnya yang kini mencoba untuk menata hati agar tidak merasa gugup di depan pria yang beberapa jam lagi akan ditemuinya.
"Aku akan mendengarkan semua nasihat Om. Aku akan berusaha semaksimal mungkin dan semoga kakek bangga padaku saat berhasil mendapatkan hati investor itu." Khayra kini tertawa melihat pria yang selalu dihormatinya tersebut membuat gerakan dua ibu jari.
"Cucu tuan Kusuma memang sangat top dan terbaik. Bahkan dua ibu jari tidaklah cukup untuk mengapresiasi semangat Anda. Semangat dan semoga berhasil, Nona." Ia kini melihat ke arah sang sopir yang baru mengatakan jika sudah sampai di hotel menginap mereka.
"Kita bersiap sekarang, Nona." Sang asisten yang kini menerima koper yang diangkat oleh sopir, juga sekalian milik gadis di sampingnya.
Khayra saat ini menatap ke arah loby hotel yang sangat luas dan ada beberapa tempat duduk dengan desain unik yang menghiasi. Ia menarik koper miliknya bersama dengan asistennya setelah tadi mengucapkan terima kasih pada sopir yang mengantarkan mereka.
Hingga ia pun kini hanya melihat saat pria tersebut berbicara dengan resepsionis untuk menanyakan tentang booking hotel.
Ia diam sambil memikirkan sosok pria yang juga diketahui berada di New York. 'Apa tuan Aaron juga sudah tiba di sini? Ataukah ia juga akan menginap di hotel ini?'
Khayra bahkan saat ini mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari sosok pria yang tengah dipikirkan olehnya. Tentang saja tidaklah sulit mencari pria lokal karena di sana mayoritas dipenuhi oleh orang berkulit putih.
Saat tidak menemukan sosok yang dicari, padahal berharap jika saat ini Aaron diam-diam memperhatikannya dan langsung memberikan kejutan padanya dengan tiba-tiba muncul di hadapan.
'Tidak ada. Mungkin aku yang kepedean karena berharap mendapatkan kejutan begitu tiba di sini.' Lamunan Khayra seketika musnah begitu mendengar suara bariton dari sang asisten.
"Nona Khayra? Anda melamunkan apa?" tanya sang asisten yang saat ini tengah menatap ke arah sosok wanita di hadapannya yang melamun.
Tadi ia yang baru saja mendapatkan guest key dari resepsionis, ingin menyerahkan milik bosnya tersebut. Namun, ketika dipanggil tetap tidak menyahut, sehingga menggerakkan tangan di depan wajah gadis itu.
Refleks Khayra menggelengkan kepala karena tidak ingin ketahuan tengah mencari seseorang, yaitu Aaron. "Hanya sedikit gugup membayangkan pertemuan nanti dengan investor, Om."
"Aku ingin segera mandi untuk mendinginkan kepala agar lebih segar dan rasa gugup ini hilang," ucapnya dengan berpura-pura memijat pelipis setelah menerima guess key yang diberikan oleh sang asisten.
"Kalau begitu, sekarang kita ke kamar saja dan Anda bisa menenangkan pikiran terlebih dahulu sambil bersiap. Rileks saja karena investor itu juga manusia seperti kita, Nona. Jadi, anggap dia seperti teman Nona sendiri." Sang asisten berbicara sambil menatap beberapa pengunjung hotel yang keluar masuk.
Hingga tatapannya tertuju pada seseorang yang juga tengah menatapnya. "Nona, Anda masuk saja dulu. Saya ingin menyapa teman lama," ucapnya yang kini mengantarkan atasannya masuk ke dalam lift.
Khayra sebenarnya ingin bertanya mengenai teman lama yang dimaksud, tapi karena ia saat ini ingin segera mendinginkan kepala dengan mandi di bawah guyuran air shower, sehingga mengurungkannya dan melambaikan tangan.
Ia menatap ke arah angka digital yang kini bergerak menuju ke lantai 10, di mana ruangannya berada. "Kenapa aku sangat berharap jika keuanganku bersebelahan dengan ruangan tuan Aaron seperti film-film yang kutonton."
"Jika aku bisa merasakan menjadi tokoh utama di film yang tonton dengan diratukan oleh tokoh utama pria, pasti sangat bahagia." Saat ia baru saja menutup mulut, pintu lift terbuka dan membuatnya langsung berjalan keluar.
Ia menatap ke arah satu persatu pintu ruangan kamar hotel untuk mencari ruangan yang akan ditempati dan beberapa saat kemudian menemukannya.
Dengan menempelkan guest key pada pintu, kini ia langsung berjalan masuk begitu pintu terbuka. Namun, seketika ia membulatkan mata begitu melihat pemandangan di hadapannya.
"Apa ini?" ucapnya dengan membekap mulut karena tidak percaya atas apa yang dilihatnya saat ini.
To be continued...