Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Ingin mendengar jawaban jujur



Zea saat ini geleng-geleng kepala mendengar suara bersemangat dari pria di seberang yang baru saja mematikan sambungan telpon. Ia benar-benar tidak habis pikir pada Erick yang selalu bersikap berlebihan saat menghadapinya.


"Dasar lebay! Sebenarnya aku tahu bahwa Erick adalah seorang pria yang baik setelah lama mengenalnya. Hanya saja, ia mendapatkan kebencian dari beberapa mahasiswi di kampus karena dikira benar-benar kekasih Erick yang merupakan ketua senat.


"Kalau dipikir-pikir, para gadis di kampus sangat bodoh karena percaya jika aku adalah kekasih Erick. Padahal di antara kami bahkan tidak ada apapun dan hanya berpura-pura saja menjadi pasangan kekasih."


Zea yang saat ini merasa penampilan dengan rambut dikepang dua sudah terlihat rapi, kini berjalan menuju ke arah pintu keluar setelah mengambil tas dengan beberapa buku untuk mata kuliah hari ini.


Ini adalah hari pertama ia mengambil cuti karena musibah yang dialami oleh Aaron dan membuatnya tidak bersemangat untuk pergi kuliah. Namun, ia tetap belajar di rumah dengan mempelajari beberapa mata kuliah selanjutnya agar tidak merasa bingung saat nanti masuk.


Ia kini berjalan menuruni anak tangga dan mencari keberadaan pasangan suami istri paruh baya itu untuk berpamitan. Saat ketemu di ruangan tengah, langsung mencium punggung tangan pria dan wanita yang sudah dianggap sebagai orang tuanya sendiri tersebut.


"Aku berangkat bersama Erick, Tuan dan Nyonya." Zea bisa melihat tatapan aneh dari pria dan wanita di hadapannya.


"Sayang, kamu ke kampus dengan mengepang rambutmu seperti itu?" tanya Jennifer yang merasa heran dengan penampilan Anindya yang tidak biasanya seperti itu.


Begitu pun dengan Jonathan yang saat ini menatap penampilan Anindya. "Apa kamu tidak khawatir dikatain oleh beberapa teman kuliah? Apalagi selama ini aku tahu bahwa penampilan paling utama bagi anak kampus di sana."


Zea bisa mengerti kekhawatiran dari pasangan suami istri tersebut dan membuatnya ingin menjelaskan sebuah kebohongan yang dirancang agar tidak dicurigai.


"Aku sengaja berpenampilan seperti ini agar Erick tidak lagi mengaku-ngaku sebagai pacarku. Nanti dia akan ilfil padaku karena merasa malu memiliki pacar yang culun dan berpenampilan kampungan. Jadi, aku tidak akan dimusuhi lagi oleh para mahasiswa di kampus."


Zea mengakhiri kebohongannya dan berharap mendapatkan dukungan dari orang tua Aaron. "Oh ya, apa tuan Aaron sudah berangkat ke kantor?"


Kini, Jonathan dan Jennifer mengerti penyebab dari perubahan penampilan Anindya. Bahkan saat ini sangat mendukung itu karena memang mereka ingin menjodohkan gadis itu dengan putranya.


Meskipun akhir-akhir ini seperti tidak ada harapan untuk hubungan mereka karena sikap Aaron yang sangat arogan pada Anindya. Namun, tetap saja ingin hubungan mereka berjalan dengan baik di kemudian hari.


"Kamu lihat saja di depan karena tadi Aaron mengatakan ini memanasi mobil terlebih dahulu sebelum berangkat." Jennifer berharap Aaron bertemu dengan Anindya yang merubah penampilan demi membuat Erick merasa ilfil.


Berharap putranya mengetahui alasan Anindya mengubah penampilan menjadi culun. Bahwa gadis itu sama sekali tidak tertarik pada seorang Erick yang bahkan merupakan pria paling populer di kampus.


Ia berpikir jika gadis itu memiliki perasaan pada putranya, sehingga tidak tertarik pada pria manapun. 'Ya Allah, semoga Anindya menjadi menantuku suatu saat nanti dan bukakanlah pintu hati putraku agar mau menerima Anindya untuk mengobati luka di hatinya.'


Anindya ini hanya menganggukkan kepala dan setelah berpamitan, berjalan menuju ke arah pintu keluar. Ia berharap bisa bertemu dengan Aaron dan melihat penampilan barunya untuk mendengar apa komentar pria tersebut.


'Kira-kira apa yang tanggapan tuan Aaron begitu melihat penampilanku? Apa ia ingat jika aku adalah pegawai restoran yang menumpahkan minuman ke bajunya hingga kotor?' gumam Zea mengedarkan pandangannya untuk melihat apakah Aaron sudah berangkat atau belum.


Ia memang mendengar suara deru mobil dan berpikir jika itu adalah milik Aaron yang tadi dikatakan oleh Jennifer tengah memanaskan mesin mobil.


'Sepertinya tuan Aaron memang masih berada di garasi dan belum berangkat. Lebih baik aku menunggu Erick di sini,' gumam Zea yang saat ini menunggu di teras rumah.


Ia saat ini duduk di kursi dan menunggu mobil milik Aaron keluar dari garasi ketika berangkat ke kantor. Sekalian menunggu kedatangan Erick yang mungkin sebentar lagi juga akan tiba.


'Kenapa lama sekali sih tuan Aaron keluar dari garasi? Apa ia memerlukan waktu lama untuk memanasi mesin mobilnya?' Zea sudah tidak sabar ingin melihat Aaron berkomentar pada penampilannya.


Bahkan saat ini berharap jika Aaron menertawakan penampilannya begitu melihatnya karena ia rindu dengan ejekan dari pria itu.


'Aku akan lebih suka diejek habis-habisan oleh tuan Aaron daripada mendapatkan tatapan penuh kebencian yang selama ini kudapatkan.' Saat Zea sibuk bergumam sendiri di dalam hati, kini ia melihat mobil berwarna hitam yang baru keluar dari garasi.


Tentu saja ia bisa melihat sosok pria di balik kemudi adalah Aaron dan di saat bersamaan pintu gerbang terbuka. Seseorang yang dari tadi ditunggu juga telah tiba. Ia langsung melampirkan tangannya pada Erick agar mendekat ketika ia berjalan ke halaman.


Tadi ia sekilas bersikap dengan Aaron yang menatap dari balik kemudi dan langsung memalingkan wajah begitu melihat Erick tiba. Ia bahkan ingin melihat respon dari Aaron yang biasanya selalu marah ketika ia berdekatan dengan Erick.


"Akhirnya kamu datang juga," ucap Zea motor sport milik Erick berhenti tepat di hadapannya dan melihat pria itu membuka kaca helm yang dikenakan.


Zea seketika salfok dengan kalimat terakhir dari Erick yang merupakan istilah dari wanita paling cantik di desa.


Hal itu membuatnya benar-benar heran pada pria itu karena sama sekali tidak ilfil seperti pemikirannya yang sempat berpikir jika Erick adalah pria berengsek. Refleks ia ketika tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perut.


"Apa kamu bilang? Bunga desa? Mana ada bunga desa culun seperti ini?" sarkas Zea yang kebetulan melihat mobil Aaron melintas dan saat lewat di depannya dan Erick, ia bisa melihat tatapan tajam dari pria yang saat ini sama sekali tidak menyapa dan melewati pintu gerbang tinggi menjulang itu.


'Fix, ada sesuatu yang aneh pada tuan Aaron, tapi apa? Aku ingin mengetahui seperti apa komentarnya mengenai penampilan baruku, malah tidak mendapatkan apapun karena berlalu pergi hanya dengan menatap tajam.'


Sementara itu, Erick yang saat ini merasa aneh melihat Aaron setelah lama tidak bertemu semenjak batalnya pernikahan dan membuatnya khawatir akan ada hubungan yang terjalin dengan Anindya.


"Apa Aaron masih patah hati karena ditinggal kabur calon istrinya? Sikapnya aneh dan terkesan cuek. Padahal biasanya ia selalu marah-marah padaku, sekarang sepertinya tidak perduli," ucap Erick yang saat ini berlari menatap ke arah Anindya begitu mobil berwarna hitam itu menghilang di balik pintu gerbang.


Zea yang juga merasa bingung harus berkomentar apa karena ia tidak tahu jawaban dari pertanyaan Erick, sehingga hanya mengendikkan bahu. "Aku juga tidak tahu karena sikapnya padaku juga berubah. Sepertinya ia membenci para wanita semenjak ditinggal kabur oleh wanita iblis itu."


Erick ketika merasa senang karena berpikir jika Aaron tidak akan menjadi saingannya lagi. "Jadi, Aaron juga membencimu?"


Zea menganggukkan kepala dan berjalan mendekati belakang jok motor Erick, lalu naik ke atasnya setelah memakai helm.


"Lupakan itu karena aku pun tidak tahu kenapa dia membenciku. Ayo, kita berangkat sekarang karena aku ingin kamu mengantarkanku ke suatu tempat."


"Ke mana?" Erick semakin penasaran karena jarang-jarang gadis itu mengajaknya pergi dan selalu saja ada alasan dibalik ajakannya.


"Aku ingin membeli kacamata agar mataku tidak kelilipan terkena debu. Ayo, jalan. Nanti kita terlambat!" seru Anindya yang sudah berpegangan pada pinggang kokoh Erick.


Sementara itu, Erick yang kini menuruti perintah Anindya, padahal yang mengganggu pikirannya karena selama ini mengetahui bahwa gadis itu selalu diantarkan naik mobil saat kuliah.


Namun, hari ini bersikap aneh dengan berpenampilan berbeda serta ingin membeli kacamata. 'Apa yang sebenarnya direncanakan oleh Anindya? Aku sangat yakin ada sesuatu yang dipikirkannya saat ini, tapi apa?'


Erick kini melajukan kendaraan meninggalkan rumah megah keluarga Jonathan tersebut membelah kota Jakarta.


Bahkan saat ini tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya dan berniat untuk bertanya pada gadis itu saat nanti tiba di tempat yang menjual kacamata.


Beberapa menit kemudian, Erick sudah memarkirkan motornya tepat di depan toko helm serta kacamata. "Di sini komplit. Kamu pilih saja kacamatanya, biar aku yang bayar."


Zea yang sama sekali tidak benar untuk meminta dibayari, kini turun dari motor dan menggelengkan kepala. "Aku baju rumah untuk mengantarku bukan untuk membayarnya. Aku nanti dimarahi jika uang sakuku tidak berkurang."


"Iiish ... lebay! Mana ada dimarahi jika uang saku tidak berkurang, yang ada malah dipuji hemat." Erick berjalan mengikuti Anindya dan ingin bertanya sesuatu hal yang membuatnya dari tadi sibuk memikirkan keanehan gadis itu.


Keduanya langsung disapa oleh pegawai yang berjaga di toko dan mempersilakan memilih. Zea sudah berdiri di balik beranekaragam kaca mata dan memilih yang sama persis digunakan ketika SMA dulu.


Ia pun tersenyum begitu menemukannya dan langsung memakainya. Hingga ia mendengar suara bariton dari Erick dan membuatnya menoleh.


"Anindya, kenapa sikapmu dan Aaron hari ini sangat aneh? Apa yang sebenarnya terjadi? Kamu tiba-tiba pergi ke kampus dengan lampu di depan 2 dan ingin memakai kacamata besar seperti itu. Apa kamu ingin mencari perhatian Aaron dengan berpenampilan seperti itu?" tanya Erick yang saat ini menatap para gadis dengan penampilan berbeda dari biasanya tersebut.


Sementara itu, Zea yang tidak bisa berbohong di hadapan Erick, seketika mengangukkan kepala. "Ya, aku ingin membuat tuan Aaron sadar bahwa di dunia ini wanita jelek dan buruk rupa bukan berarti memiliki hati yang busuk seperti nona Jasmine yang sangat cantik itu."


Seketika Erick makin ingin menggali perasaan dari Anindya begitu gadis itu mau berbicara panjang lebar dengannya. Apalagi jarang-jarang ia bisa membuat gadis itu mau terbuka padanya.


"Lalu, apa maksudmu melakukan ini semua? Apa kamu menyukai Aaron?" tanya Erick yang saat ini ingin mendengar jawaban jujur dari Anindya karena baginya itu sangatlah penting untuknya.


To be continued...