
"Semoga selamat sampai di tempat tujuan, Erick," ucap Zea yang kini lihat mengantarkan pria yang dua hari ini menemaninya.
Sebenarnya ia merasa sangat senang ada teman yang bisa diajak ngobrol dan menemaninya hingga tidak membuatnya kesepian berada di rumah sendirian. Namun, waktu yang semakin berjalan dan mengharuskan Erick berangkat ke bandara tidak ketinggalan pesawat yang satu jam lagi terbang ke Jakarta.
Sementara itu, Erick sebenarnya masih merasa betah bersama dengan gadis yang beberapa saat lalu membuat gejolak di hatinya tidak karuan. Bahkan karena masih sangat merindukan Zea, tadi sempat mengatakan akan menunda kepulangan agar bisa lebih lama bersama dengan gadis itu.
Namun, tidak disetujui oleh Zea yang menyuruhnya untuk fokus kuliah dan tidak ingin menjadi penyebab ia bermalas-malasan.
"Ayang, kenapa waktu begitu cepat berlalu saat bersamamu, sih! Padahal kangenku belum sepenuhnya terobati, tapi sudah harus pulang ke Jakarta. Apa aku bilang saja pada papa dan mama untuk pindah kuliah ke Jogja?" Erick yang mencoba untuk mengungkapkan ide di kepalanya, seketika mengerucutkan bibir dengan wajah masam karena mendapatkan kepalan tangan dari Zea.
"Nih! Awas saja kalau berani berbuat seperti itu dan membuat orang tuamu berpikir jika aku menjadi penyebab semuanya. Jangan lebay dan bersikap berlebihan, Erick. Kapan-kapan kamu bisa ke sini lagi, bukan? Tapi jangan setiap minggu karena aku tidak akan membukakan pintu."
Zea tahu bahwa Erick punya banyak uang karena berasal dari keluarga yang mampu, tapi tidak ingin pria itu membuang-buang uang untuk seminggu sekali datang ke Jogja mengunjunginya.
Memang ia merasa senang karena ada temannya, tapi tidak ingin membuat Erick boros dalam hal keuangan. Apalagi ia tahu bahwa mencari uang sangat susah dan tidak ingin jika pria itu menghamburkan uang hanya untuk bisa bertemu dengannya.
Sementara itu, Erick yang mau tidak mau harus patuh pada Zea agar bisa tetap bertemu, seperti tidak punya tenaga untuk membantah. "Iya, Ayang. Aku akan patuh pada perintah Ayang."
Ia terdiam beberapa saat karena ingin mengungkapkan sesuatu hal, tapi merasa ragu. 'Kira-kira ia marah tidak, ya jika aku mengatakan itu?'
Saat merasa aneh melihat Erick yang tiba-tiba diam, Zea memicingkan mata dan bertanya, "Ada apa? Seperti sedang memikirkan sesuatu."
Erick kini berdiam sejenak untuk menormalkan perasaannya sebelum mengungkapkan sesuatu yang hendak diungkapkan pada gadis cantik nan mungil itu. "Ehm ... apa tidak ada salam perpisahan darimu, Ayang?"
"Salam perpisahan? Bukankah tadi aku sudah mengatakannya?" Zea tidak paham apa yang dimaksud oleh Erik Erick. Kemudian ia baru paham begitu melihat pria di hadapannya tersebut membuat gerakan.
"Salam perpisahan seperti ini." Erick merasa sangat kesal karena Zea tidak peka dan membuatnya harus menunjukkan gerakan memeluk sebagai salam perpisahan. "Apa tidak boleh memelukmu sekali-kali?"
"Dari sekali-kali itu akan menjadi berkali-kali, Erick." Zea yang tidak ingin membuat Erick semakin berharap padanya, kini hanya menepuk pundak pria itu. "Cepat berangkat sana dan hati-hati di jalan."
Kemudian Zea berbalik badan dan masuk ke dalam rumah setelah melambaikan tangan pada pria yang seolah enggan pergi dari rumahnya.
Ia merasa tidak enak pada supir taksi yang beberapa saat lalu sudah tiba. Jadi, memilih untuk masuk ke dalam rumah agar Erick segera berangkat. Perpisahan adalah hal yang paling tidak disukainya karena melihat orang yang disayangi perlahan menghilang dari pandangan, jadi ia memilih untuk masuk ke dalam rumah.
Sementara itu, Erick yang merasa sangat kecewa karena keinginannya tidak dipenuhi oleh Zea, masih berdiri di tempat dan melihat pintu ditutup dari dalam.
"Tega sekali dia tidak memberikan pelukan perpisahan untukku. Memangnya apa kurangnya aku dibandingkan si arogan itu? Mengingat Aaron membuatku kesal. Untung tadi aku sudah memblokirnya karena mengganggu kebersamaanku dengan Zea." Erick yang menggendong tas di punggungnya, saat ini berbalik badan dan menuju ke arah taksi.
Kemudian ia masuk ke dalam taksi dan menyuruh sang supir untuk segera meninggalkan rumah dengan pelataran luas tersebut menuju bandara karena satu jam lagi penerbangannya. Kebetulan jarak antara rumah Zea dan bandara tidak terlalu jauh.
'Aku bakal kangen sama kamu, Zea. Rasanya benar-benar sangat menyesakkan dada,' gumam Erick yang saat ini menatap ke arah ponsel miliknya ada fotonya dengan Zea tadi ketika meminta tolong pada orang untuk mengabadikan momen di Keraton.
Di dalam rumah, Zea yang saat ini melongok ke jendela untuk melihat Erick yang baru saja pergi dan membuatnya membuka pintu, selalu berjalan ke depan. Tentu saja untuk melihat mobil yang membawa Erick pergi.
Bahkan ia kini melambaikan tangan dan berbicara sangat lirih. "Terima kasih, Erick karena dua hari ini membuatku senang. Apalagi tadi kamu membelikanku banyak makanan serta pakaian ganti."
Kemudian ia menghembuskan nafas kasar begitu menyadari kembali kesepian karena tinggal seorang diri di dalam rumah yang cukup luas peninggalan kakek neneknya.
"Kembali sendiri dan kesepian." Zea saat ini berjalan menuju ke arah pintu masuk. Ia tadi belum sempat membereskan barang belanjaan karena sibuk mengobrol dengan Erick.
Apalagi pria itu tidak ingin ditinggalkan dengan alasan menghabiskan waktu tinggal beberapa jam sebelum pergi, sehingga ingin menghabiskan waktu dengan mengobrol.
Ia saat ini menatap ke arah kantong plastik berisi makanan serta paper bag yang berisi pakaian. "Aku malah seperti memanfaatkan Erick dengan memberikanku banyak barang. Tapi orang kaya memang bebas karena tidak susah mendapatkan uang."
Karena merasa sangat risi dengan rumah yang berantakan karena dipenuhi oleh banyak kantong plastik itu, Zea pun mulai bergerak cekatan untuk memindahkan ke tempat yang tersedia.
Selama satu jam ia sibuk berputar dengan pekerjaannya dan begitu selesai semuanya, merasa sangat lega. Ia berniat untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan meluruskan kakinya yang terasa penat.
Sebenarnya tadi ia juga merasakan kakinya seperti mau patah saja ketika berjalan-jalan, tapi berakting sok kuat di depan Erick. Kini, ia sudah meluruskan kakinya sambil menatap langit-langit kamar.
"Apakah aku akan terus seperti ini? Sendirian lagi tanpa siapapun yang menemani? Tidak ada keluarga, teman ataupun orang tersayang. Miris sekali nasibmu, Zea." Ia pertama miris ketika mengingat semua hal yang terjadi padanya.
"Dulu aku kabur dari pria tua yang membeliku dari Kak Aurora, tapi tetap saja berakhir kehilangan kesucian." Zea berniat untuk memecahkan mata dan memilih tidur 1 jam. "Lelah sekali rasanya."
Hingga ia memejamkan mata dan berharap bisa segera larut dalam alam bawah sadar agar tidak tersiksa kesepian berada di rumah sendiri tanpa ada panggilan Ayang dari Erick seperti dua hari ini.
Namun, ia mengerutkan kening dan seketika membuka mata begitu mendengar suara ketukan pintu. "Siapa yang datang? Tidak mungkin Erick kembali, kan karena bisa-bisa ia ketinggalan pesawat jika melakukannya."
Zea buru-buru turun dari ranjang dan ingin segera melihat siapa yang mengetuk pintu dan mengganggu tidurnya. "Awas saja kalau Erick kembali, aku akan menarik rambutnya jika benar."
Saat dibayangi oleh rasa penasaran siapa yang datang, sehingga tidak membuang waktu langsung berjalan menuju ke arah pintu utama dan membukanya.
To be continued...