Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Kehilangan kesabaran



"Sialan! Kenapa kau memukulku? Bukannya berterima kasih malah tidak tahu diri. Jika aku tidak membuat keributan, mana mungkin bisa secepat ini bertemu dengan Zea." Erick yang merasa sangat kesal, berniat untuk membalas dengan meninju lengan Aaron.


Namun, suara dari dalam ruangan yang tentu saja sangat tidak asing, membuatnya menghentikan tangannya yang hendak mendarat dengan sempurna pada lengan Aaron.


"Cepat masuk sekarang atau aku sendiri yang akan menendang kalian dari kantor!" sarkas Khaysila yang saat ini sudah berdiri di hadapan dua pria itu.


Ia yang awalnya berniat untuk menatap lalu lalang kota Jakarta di bawah perusahaan, tidak jadi melakukannya karena mendengar suara Aaron dan Erick yang membuat keributan. Jadi, buru-buru menghampiri.


Hingga ia pun kini bisa melihat wajah dua pria yang terlihat sama-sama kesal karena menahan amarah. Bahkan ia seperti tengah mengulang scene di masa lalu saat Aaron dan Erick selalu bertengkar saat berada di hadapannya.


Namun, ia seketika mengalihkan perhatian dari sosok pria yang saat ini tengah menatapnya dan memilih untuk fokus pada Erick yang selalu seperti biasanya dan belum berubah sama sekali dari dulu. Tetap selengek'an dan menggodanya dengan tersenyum.


"Ayang, akhirnya aku bisa menemukanmu!" seru Erick yang saat ini berniat untuk menghambur memeluk Zea.


Namun, ia tidak bisa melakukannya kala kerah kemejanya ditarik oleh sosok pria yang saat ini ada di sebelahnya. "Sialan! Lepaskan, berengsek!"


"Tidak akan karena kau dan Zea bukan mahramnya! Jangan main peluk sembarangan! Apalagi di depanku!" sarkas Aaron yang saat ini memerah wajahnya kala melihat Erick hendak macam-macam pada Zea.


Ingin menghentikan perdebatan, akhirnya Zea langsung menjewer daun telinga Erick dan berjalan masuk ke dalam ruangan kerjanya. "Ikut aku!"


"Aaaarggghh ... sakit, Ayang! Jangan menganggapku anak kecil dengan menjewer telingaku!" Erick masih meringis menahan rasa nyeri pada daun telinganya.


Sementara itu, Aaron ikut berjalan masuk ke dalam sambil memikirkan gadis yang menghindar darinya. 'Dia bahkan seperti tidak mau menatapku tadi. Seperti jijik saat melihat wajahku. Apa Anindya masih tidak sudi bertemu denganku?'


Di sisi lain, Dery Farhan yang dari tadi hanya diam melihat aksi perdebatan dari dua pria itu membuatnya hanya geleng-geleng kepala. Apalagi melihat sikap berlebihan yang ditunjukkan oleh dua pria yang sama-sama arogan tersebut.


'Sepertinya dua pria itu sama-sama menyukai nona Khaysila karena itu terpancar jelas di wajah mereka,' gumamnya sambil menutup pintu agar tidak menggangu privasi.


'Kira-kira, siapa yang dipilih oleh nona Khaysila? Pria yang terlihat arogan ketika menghentikan aksi memeluk nona itu, sepertinya sangat protektif dan tidak rela melihat pelukan. Atau jangan-jangan ....'


Ia menghentikan perkataannya dan langsung memeriksa sebuah file yang dulu pernah dikirimkan olehnya pada presiden direktur. 'Wajah pria itu seperti tidak asing.'


Begitu apa yang dilihatnya sesuai dengan hal di pikirannya, yaitu pria tersebut adalah orang yang sama ketika dulu mencari informasi saat disuruh oleh bosnya.


'Benar. Pria inilah yang bernama Aaron Nadhif Jonathan dan sepertinya adalah ayah biologis dari bayi yang dilahirkan oleh nona Khaysila,' gumamnya yang kini kembali membaca seluruh informasi lengkap tentang pria itu.


Berbeda dengan di dalam ruangan kantor, Khaysila yang baru saja melepaskan tangannya dari daun telinga Erick, kini tidak memperdulikan raut wajah yang menunjukkan seolah penuh kesakitan itu.


"Jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi, Erick! Jika melakukannya lagi, aku tidak akan menemuimu lagi! Sekarang katakan apa yang kau inginkan?" seru Khaysila yang masih tidak memperdulikan Aaron karena hanya fokus pada Erick.


Bahkan ia tidak tertarik untuk melihat Aaron, tapi tahu jika pria yang telah meninggalkan luka di hatinya tersebut selalu menatapnya. Hingga beberapa saat kemudian melihat ekspresi yang sama dari Erick, yaitu sangat menggemaskan seperti anak kecil.


"Iya, Ayang, maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji." Erick saat ini tengah mengarahkan jarinya kepada Zea agar mau mengaitkannya.


Namun, ia sangat kecewa kala melihat Zea sama sekali tidak menanggapinya dan malah mendengar nada protes dari suara bariton Aaron.


"Di sini ada manusia yang menunggu untuk diajak bicara, Anindya. Apa kamu menganggapku adalah seekor binatang sekarang? Hingga tidak sudi melihat maupun berbicara denganku," ujar Aaron saat kehilangan kesabaran setipis tisu yang dimiliki.


Bahkan dari tadi ia tidak mengalihkan perhatian dari wanita yang bahkan sangat ingin ia peluk dan meminta maaf atas kesalahan di masa lalu. Namun, tidak bisa melakukannya di depan Erick.


To be continued....