
Beberapa saat lalu, Jennifer meminta izin untuk memandikan cucunya, tapi awalnya ditolak oleh sang baby sitter, sehingga ia merasa sangat kesal. Namun, Aaron meminta pengertian dengan berbicara pada wanita itu.
Akhirnya tidak keberatan dan ia sangat yakin jika wanita itu menyukai putranya. Tentu saja ia mengumpat dalam hati untuk melampiaskan kekesalannya pada wanita yang terlihat jelas mencari perhatian dari Aaron.
'Seandainya dia tahu jika aku adalah ibu dari Aaron, pasti dia sangat syok dan bisa stroke! Mana mungkin akan berani menatapku dan menyukai putraku lagi karena aku akan langsung mencolok matanya yang selalu curi-curi pandang. Aku pun tidak sudi punya menantu sepertinya!' gumamnya saat baru selesai memakaikan baju setelah memandikan cucunya.
Hingga ia mendengar suara kepala pelayan yang baru saja masuk dan memeriksa hasil pekerjaannya.
"Tuan Kenzie sudah ganteng dan wangi rupanya. Pasti sangat hangat setelah mandi dan dibedong. Biasanya langsung tertidur karena nyaman," ucap kepala pelayan yang saat ini mendengar suara mobil memasuki halaman.
"Nona muda sudah datang. Aku akan menyambutnya dulu di depan." Kemudian berlalu pergi meninggalkan semua orang yang ada di ruangan tersebut.
Aaron yang dari tadi menatap ke arah sang ibu ketika mengurus dengan baik putranya, merasa sangat senang sekaligus terharu. Ia benar-benar tidak pernah membayangkan bisa melihat momen paling bersejarah sepanjang hidupnya.
Bahwa ia sudah memiliki seorang putra yang sangat tampan dan menggemaskan dan akan menjadi penerus di keluarga besar Jonathan dan Kusuma.
Hingga ia pun bersitatap dengan sang ibu begitu sosok wanita yang akan memutuskan apakah mereka bisa terus bertemu dengan malaikat kecil menggemaskan tersebut telah tiba di rumah.
Mereka saat ini tengah bersiap untuk menghadapi hal yang seolah menjadi sebuah momentum penting atas keputusan yang diambil Anindya tentang bayi di atas ranjang tersebut.
Aaron bahkan saat ini bisa melihat kegelisahan dari sang ibu yang tengah menatapnya dan dia berusaha untuk menenangkan dengan kode mata. Bahwa semuanya akan baik-baik saja dan ia tidak akan pernah terpisahkan dengan darah dagingnya.
"Tenang saja dan tidak perlu khawatir karena aku yakin kita bisa tetap berada di sini untuk melihat baby." Aaron yang masih tidak ingin mengatakan siapa dirinya sebenarnya pada sosok wanita yang masih berdiri tak jauh dari tempatnya, yaitu sang baby sitter dari tadi menatap penuh kecurigaan.
Jennifer saat ini hanya menganggukkan kepala dan tidak bisa berkata-kata karena jujur saja ia benar-benar gugup karena harus bertemu dengan Anindya yang sudah dianggap sebagai Putri kandungnya sendiri dengan cara seperti ini.
Menyamar sebagai seorang terapis hanya demi bisa melihat cucunya dan merasa takut ketahuan oleh gadis itu. "Semoga saja seperti itu. Aku saat ini benar-benar sangat gugup."
Baru saja ia menutup mulut, kembali merasa kesal karena melihat respon dari wanita yang sangat tidak disukainya malah menyahut perkataannya.
"Pasti sangat takut dipecat oleh nona muda, kan? Takut berarti membuktikan jika bersalah." Sang baby sitter saat ini tersenyum menyeringai karena berpikir jika ia tidak akan melihat wanita itu lagi.
Bahwa ia yang akan tetap bertahan di rumah itu karena tuduhannya benar.
Merasa sangat malas menanggapi wanita yang dianggap tidak tahu apa-apa itu, Jennifer saat ini memilih untuk fokus pada cucunya. Ia mengalihkan perhatian pada bayi mungil yang sudah kembali tertidur pulas di atas ranjang.
'Apa yang akan dilakukan mamamu pada kami nanti, Sayang? Papa dan nenekmu sangat menyayangimu. Bagaimana jika nanti mamamu mengusir kami?' gumam Jennifer di detik-detik menjelang pertemuan dengan Anindya.
Saat ini Aaron sama sekali tidak merasa khawatir jika sebentar lagi akan bertemu dengan Anindya. Ia sangat yakin jika ibu dari putranya tersebut tidak akan pernah melarangnya datang.
Ia saat ini malah mengingat tentang perbuatannya tadi ketika mencium bibir sensual berwarna merah jambu yang sudah menjadi candu untuknya. Bahkan sudah menyentuh bibirnya sambil membayangkan wajah memerah Anindya yang malu.
'Mamamu tidak akan bisa melarang papa datang mengunjungimu, Sayang. Memang mulut mamamu selalu bilang tidak pada papa, tapi dalam hati pasti iya karena terbukti tadi tidak bisa menolak dan pasrah,' gumam Aaron yang saat ini menatap ke arah pintu ruangan kamar tersebut dan merasa Iran kenapa Anindya tidak kunjung datang.
Ia berani menatap ke arah sang Ibu dan mendaratkan tubuhnya di sebelah putranya. "Kenapa lama sekali?"
Jennifer saat ini langsung mengendikkan bahu karena juga merasa heran kenapa Anindya lama sekali. "Apa yang sebenarnya dilakukannya di depan?"
"Anindya? Sebenarnya siapa yang kalian bicarakan?" tanya sang baby sitter yang merasa sangat penasaran dengan pembicaraan antara dua terapis itu.
"Lebih baik kau diam saja jika tidak diajak bicara!" sarkas Jennifer yang benar-benar sudah kehilangan kesabaran karena wanita yang sangat tidak disukainya tersebut selalu ikut campur dan menyahut.
Ia saat ini beralih menatap ke arah putranya. "Aku sudah tidak sabar ingin melihat wajahnya begitu mengetahui semuanya."
Aaron yang sebenarnya juga merasa sangat malas pada wanita itu, kini hanya menganggukkan kepala pada perkataan sang ibu dan terdiam sejenak karena seperti mendengar suara seseorang yang sangat dihafalnya.
"Suara itu?" Ia menatap ke arah sang ibu untuk meminta pendapat agar membenarkan pemikirannya.
Refleks Jennifer memasang indra pendengaran dan saat ini mengetahui jika suara yang didengarnya adalah suara pria yang merupakan saingan putranya. "Erick?"
Aaron menganggukkan kepala untuk membenarkan perkataan dari sang ibu karena jelas-jelas suara Erick yang saat ini terdengar menggema. "Sialan! Bahkan dia mengajak Erick datang ke sini. Awas saja ketika sampai berani merebut ...."
Bahkan sampai tidak bisa berkata-kata karena hanya diam sambil membekap mulut, sedangkan Erick langsung menyahut dan sama sekali tidak diperdulikannya.
"Kalian? Bagaimana mungkin ibu dan anak ini bisa berada di sini?" Erick yang sama sekali tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi di ruangan tersebut dan seketika menatap ke arah ranjang.
Di mana di sana ia melihat bayi yang tertidur pulas dan membuatnya seketika menatap ke arah gadis di sebelahnya. "Zea? Itu? Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi di sini? Apa kamu sengaja mengajakku di sini untuk menyadarkan tentang posisiku saat ini?"
Erick bahkan saat ini bisa melihat senyuman menyeringai dari pria yang sangat dibencinya. Seolah membuatnya seketika merasa kalah karena ada sesuatu yang terlintas di pikirannya saat ini.
Namun, ia berusaha untuk berpikir positif dan tidak membenarkan apa yang saat ini dikhawatirkan olehnya.
Hingga suara dari Zea membuatnya seketika merasakan bagai di hunus tombak tajam.
"Bukankah tadi kamu bertanya padaku seperti mendengar suara bayi?" Khayra saat ini menunjuk ke arah putranya di atas ranjang. "Ya, aku saat ini adalah seorang wanita berstatus anak satu."
Ia yang tadi merasa sangat syok melihat Aaron dan sang ibu berada di ranjang dekat putranya, masih mencoba untuk menormalkan perasaan dan berpikir jika saat ini hanya sedang berada di alam mimpi.
Namun, saat merasa jika yang berada di hadapannya benar-benar adalah Aaron dan sang ibu, sehingga membuatnya berpikir jika harus mengatakan semuanya pada mereka, termasuk Erick yang tidak tahu apapun.
Hanya saja, ia benar-benar tidak menyangka jika Aaron ternyata sudah mengetahui terlebih dahulu dibandingkan Erick. "Dari mana kalian mengetahui semua ini?"
Saat ini, Jennifer menyuruh Aaron diam saja karena khawatir hanya akan membuat Anindya kesal ketika membuka suara, sehingga ia yang mewakili menjelaskan semua.
"Anindya, aku harap kamu tidak marah pada kami karena melakukan ini. Aaron hanya ingin dekat dengan darah dagingnya dan aku sebagai nenek juga ingin merasakan bagaimana menimang cucu. Jadi, aku harap kamu bisa memakluminya." Jennifer saat ini berjalan mendekati sosok gadis yang hanya diam saja karena tidak langsung menjawab apa yang baru saja dijelaskan.
Ia yang sangat merindukan gadis itu, kini mendekat dan memeluk erat tubuh mungil tersebut. "Mama benar-benar sangat, Sayang. Apa kamu sama sekali tidak menganggapku sebagai siapa-siapa?"
Anindya yang saat ini terdiam mematung karena merasa bingung harus bagaimana menanggapi kasih sayang dari wanita yang memang sudah dianggapnya seperti layaknya ibu kandung sendiri.
Ia bahkan berkaca-kaca ketika merasakan pelukan hangat seorang ibu yang sudah lama tidak dirasakan. Jujur saja ia sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu di saat seperti ini karena dituntut menjadi seorang wanita kuat di usianya yang masih menginjak 20 tahun.
Khayra mencoba untuk menahan agar tidak menangis dan terlihat lemah di hadapan semua orang. Ia saat ini membalas pelukan dari wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik tersebut.
"Ma, maafkan aku karena pergi tanpa pamit." Ia tidak bisa menjelaskan hal lebih dari itu karena jujur saja sangat sakit jika mengingat semua kejadian di masa lalu.
Bahkan saat ini ia kembali bersitatap dengan sosok pria yang berdiri tak jauh dari hadapannya. "Mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi jika putra Mama tidak berbuat jahat padaku."
Jennifer yang merasa sangat iba mendengar perkataan dari Anindya, kini menarik diri setelah melepaskan pelukannya. "Ya, Mama tahu itu, Sayang. Mama dan papa bahkan sudah memberikan hukuman sangat berat pada Aaron begitu mengetahui perbuatannya padamu."
Kemudian ia menceritakan semuanya dan tak terkecuali ketika Aaron pergi ke Jogja. "Dia selama ini mencarimu dan tidak hanya diam saja di rumah. Bahkan setiap hari hanya mabuk-mabukan karena didera rasa bersalah."
Aaron dari tadi hanya diam saja saat melihat sang ibu membelanya karena berpikir bisa meluluhkan hati Anindya. Ia bahkan saat ini berpikir jika semua yang dilakukan oleh sang ibu sangat berarti untuknya.
'Semoga hati Anindya luluh setelah berbicara dengan mama. Anindya adalah gadis yang sangat lembut dan pasti akan menyadari jika selama ini aku benar-benar sangat menyesali perbuatanku dan ingin bertanggung jawab dengan menikahinya.'
Saat Aaron fokus pada interaksi antara sang ibu dengan Anindya, merasa sangat terganggu dengan suara dari Erick yang baru saja mengungkapkan nada protes.
"Zea, jangan lemah hanya gara-gara dipeluk oleh Tante Jennifer!" Erick benar-benar merasa posisinya saat ini tersudut karena mengetahui jika gadis itu berhati lembut dan gampang luluh dengan ketulusan seorang ibu.
Apalagi ia mengetahui jika Zea adalah seorang gadis yang kurang kasih sayang dari orang tua. Jadi, saat ini benar-benar merasa sangat khawatir jika benar-benar kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hati wanita yang ternyata sudah melahirkan seorang anak.
'Aku nggak boleh tinggal diam hanya karena Aaron memiliki pendukung yang tak lain adalah mamanya sendiri. Apa perlu aku membawa mamaku ke sini untuk memberikan kasih sayang layaknya seperti yang dilakukan oleh tante Jennifer?' gumam Erick yang saat ini meraih ponsel di saku celananya karena ingin menghubungi sang ibu.
"Aku akan menyuruh orang tuaku untuk segera datang ke sini melamar Zea," ucap Erick yang saat ini memencet tombol panggil dan menunggu jawaban dari sang ibu.
Ia tidak mempedulikan ekspresi wajah terkejut dari semua orang yang ada di ruangan kamar tersebut karena satu-satunya yang saat ini dipikirkan hanyalah ingin meluluhkan hati Zea dengan menggunakan ibunya seperti yang dilakukan oleh Aaron.
To be continued...