
Aaron saat ini mengedarkan pandangan untuk mencari satu gaun pengantin yang dianggap sangat cocok digunakan oleh gadis yang memiliki tubuh mungil itu.
Jika Jasmine sangat cocok mengenakan gaun pengantin dengan desain seksi dan elegan, tapi ia berpikir bahwa yang cocok digunakan untuk Anindya sangat berbeda dan ini dicarinya sampai menemukannya.
Sementara itu, Zea yang masih menampilkan wajah masam dengan bibir mengerucut, hanya diam saja melihat Aaron saat ini berdiri diantara gaun pengantin berwarna putih yang menghiasi ruangan tersebut.
'Tuan Aaron sangat menyebalkan sekali! Paling tidak, sedikit saja menjaga perasaanku. Jangan terlalu jujur seperti itu karena membuatku seperti menjadi seorang wanita yang sama sekali tidak menarik di matanya,' umpat Zea yang saat ini merasakan sentuhan lembut di lengannya dan membuatnya menatap ke arah wanita yang terlihat seperti merasa bersalah padanya.
"Jangan diambil hati perkataan dari Aaron yang saat ini tengah dikuasai oleh angkara murka karena ulah Jasmine. Ia saat ini sedang marah dan tidak bisa menjaga mulutnya." Jenny berusaha untuk menghibur dan berharap gadis itu tidak tersinggung lagi atas perbuatan putranya.
"Ia melampiaskannya padamu, sehingga bisa berbicara seperti itu. Jangan diambil hati, ya?" ucap Jenny yang saat ini tersenyum simbol begitu melihat respon dari gadis di hadapannya tersebut menganggukkan kepala.
Namun, ia seketika menoleh ketika suara bariton dari putranya menggema saat memanggil salah satu dari pegawai wanita dan merasa heran apa yang dilakukan oleh Aaron saat ini.
"Mbak, tolong bantu dia memakai gaun yang ini!" seru Aaron yang saat ini mengarahkan jari telunjuk pada gaun pengantin pilihannya.
Ia sangat yakin jika gadis kecil itu akan terlihat lebih pantas memakai gaun pilihannya.
"Baik, Tuan." Meskipun merasa heran karena calon pengantin pria tidak suka dengan gaun yang di desain khusus itu, tapi dalam hati memang sangat setuju jika itu memang tidak cocok untuk sang calon pengantin wanita.
Ia pun segera melaksanakan perintah dengan memanggil dua rekannya agar membawa gaun pengantin pilihan mempelai pria.
"Pakai itu!" ucap Aaron yang saat ini sangat yakin jika Anindya akan sangat cocok memakai gaun pengantin pilihannya.
Zea hanya diam tanpa membuka mulut untuk berkomentar, tapi tetap berjalan mengikuti langkah kaki para pegawai wanita yang membawa gaun pengantin pilihan pria itu. Tentu saja dengan wajah masam ia mengumpat di dalam hati.
'Kenapa kamu bisa suka pada pria arogan sepertinya, Zea. Dasar bodoh!' Zea mengumpat diri sendiri untuk merutuki kebodohannya karena menyukai pria yang bahkan sama sekali tidak tertarik melihatnya sedikit pun.
Sementara itu, Aaron mengajak sang ibu kembali duduk dan mengingat sesuatu. Ia seketika menepuk jidat. "Astaga, aku lupa!"
"Mama masuk, gih! Bilang agar rambut Anindya jangan dikepang dua saat memakai gaun pengantin. Biar aku tidak sakit mata saat melihatnya. Bukankah Mama bilang jika ini adalah sebuah hiburan untukku?"
Refleks Jenny mengarahkan cubitan pada lengan kekar putranya. "Dasar! Tapi benar juga apa yang kamu katakan, Sayang. Mana ada pengantin dikepang dua?"
Kemudian ia berjalan menuju ke arah ruangan ganti untuk membantu mengurus rambut Anindya.
Sementara Aaron hanya diam di tempatnya dan tersenyum simpul melihat sang ibu yang sangat bersemangat. Ia menunggu selama beberapa menit.
Hingga beberapa saat kemudian, ia melihat jika ruangan ganti di hadapannya terbuka dan sosok gadis kecil yang tadi sudah berubah memakai gaun pengantin pilihannya.
Zea hanya diam saja dan tidak bersemangat karena malas mendengar ejekan dari pria yang dari tadi mengatainya.
Ia tadi hanya mendengarkan penjelasan dari perbedaan gaun yang pertama dengan kedua. Bahwa gaun yang sekarang dikenakannya adalah Flare and lace wedding dress yang merupakan gaun terbuat dari bahan lace berpotongan A line dengan model strapless.
Gaun itu dulu dipopulerkan oleh Eugene, seorang artis Korea di drama populernya yaitu Penthouse. Jadi, gaun itu pun langsung populer dan menjadi inspirasi oleh banyak calon pengantin di negeri asalnya Korea Selatan.
Zea tidak heran karena mengingat gaun yang ia kenakan saat ini sangat cantik dan terlihat mewah, tapi terkesan feminim dan sama sekali tidak terbuka seperti yang pertama tadi.
Aaron yang kini bangkit berdiri dari sofa, langsung berjalan mendekat untuk semakin jelas melihat sosok wanita di hadapannya. Bahkan ia tidak berkedip ketika menatap gadis itu berubah menjadi wanita elegan hanya dengan gaun pilihannya.
"Wah ... luar biasa. Ternyata bocil bisa terlihat cantik juga memakai gaun yang kupilihkan tadi." Kemudian ia mengarahkan jempolnya dengan mengungkapkan penilaiannya.
Sementara itu, Zea kini merasa sangat berbunga-bunga begitu mendengar pujian dari Aaron pertama kali. Bahkan ia bisa melihat jika pria di hadapannya tersebut bahkan tidak berkedip menatapnya.
'Benarkah aku terlihat cantik? Bahkan Tuan Aaron tidak berkedip menatapku hingga rasanya malu sekali. Seperti aku menjadi wanita paling cantik di muka bumi ini,' gumam Zea yang kali ini merasa sangat senang sekaligus bahagia mendapatkan pujian dari pria yang disukainya tersebut.
To be continued...